NovelToon NovelToon
Gadis Pembawa Kemalangan

Gadis Pembawa Kemalangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Kerajaan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: VanGenZ

Siapa bilang setiap manusia diberi kesempatan merasakan kebahagiaan? Tidak semua orang seberuntung itu—dan gadis ini adalah buktinya. Dia dikenal banyak orang, bukan karena status, kecerdasan, atau keahliannya, melainkan karena kemalangannya yang seakan tak berujung. Hidupnya penuh caci maki, dan di setiap langkahnya, dia terus mengutuk dunia serta takdir yang menjeratnya.

Hingga suatu hari, seseorang muncul mengaku berasal dari dunia lain dan menawarkan bantuan untuk menghapus takdir terkutuknya. Namun, benarkah kebahagiaan masih mungkin untuknya? Ataukah ini hanya awal dari penderitaan baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejadian

Ketukan pelan terdengar di balik pintu balkon.

Satu kali. Lalu jeda singkat, seolah orang di baliknya ragu apakah Elenna ingin diganggu. Pintu kaca dibuka perlahan. Seorang pelayan wanita masuk dan menunduk sopan.

“Nona Elenna,” sapanya dengan suara rendah, nyaris tenggelam oleh musik dari dalam aula.

Elenna menoleh, wajahnya tetap tenang, meski matanya menyimpan kelelahan.

“Kenapa?” tanyanya pelan.

Pelayan itu mengangkat kepala sedikit. “Tuan Alberto meminta Anda menemuinya di taman belakang.”

Elenna terkejut. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.

“Sekarang?” tanyanya ragu.

Pelayan itu mengangguk. “Ya, Nona.”

Tidak ada alasan untuk menolak. Nama Alberto, satu-satunya yang terdengar seperti jangkar, membuat Elenna menurut tanpa banyak berpikir. Ia mengangguk kecil, lalu mengikuti pelayan itu melewati lorong samping yang lebih sepi, menjauh dari aula penuh cahaya dan suara.

Taman belakang mansion sunyi, diterangi lampu-lampu kecil yang berjajar di sepanjang jalan setapak. Bayangan pepohonan membentang panjang, menciptakan sudut-sudut gelap yang terasa asing. Begitu mereka tiba, pelayan itu berhenti.

“Tuan muda akan segera datang,” katanya singkat.

Elenna menoleh. “Tapi—”

Kalimatnya terhenti. Pelayan itu sudah berbalik dan pergi, langkahnya cepat menghilang di balik lengkungan lorong. Elenna berdiri sendiri di taman yang terlalu luas untuk seorang diri.

Ia menunggu.

Lima menit berlalu.

Lima belas menit telah berlalu, tetapi Alberto tak kunjung tiba.

Angin malam menggerakkan daun-daun. Gaunnya terasa tipis. Elenna mulai merasa ada yang tidak beres. Ia melangkah beberapa langkah ke depan, hendak memanggil pelayan itu kembali. Namun, suara langkah lain terdengar dari belakang.

Berat. Terseret.

Sebelum ia sempat berbalik, tangan kasar mencengkeram lengannya dan menariknya ke belakang. Bau alkohol menyengat.

“Jangan berteriak,” suara pria itu parau, nafasnya panas di telinganya. “Aku lihat kau sejak tadi. Berpura-pura suci di depan orang-orang.”

Elenna tersentak. “Lepaskan aku!”

Ia meronta, menendang, mencoba melepaskan diri. Tangannya terayun liar, kukunya mencakar lengan pria itu. Ia berusaha mengingat cara bernapas, cara bergerak, cara bertahan. Namun, tubuhnya gemetar.

“Jangan sok—!”

Dorongan itu terjadi begitu saja.

Bukan direncanakan. Bukan disengaja.

Tubuh pria itu terhuyung ke belakang, menabrak meja batu di taman. Suara benturan terdengar tumpul. Ia jatuh, kepalanya menghantam sudut keras. Darah langsung mengalir, membasahi rambut dan tanah di bawahnya.

Elenna terdiam.

Dunia seolah berhenti bergerak.

Tangannya gemetar, napasnya terputus-putus. Ia mundur selangkah, lalu dua, menatap pria itu yang terbaring tak bergerak.

“A-aku…” bibirnya bergetar. “Aku hanya—”

Suara-suara mendekat.

Lampu-lampu taman mendadak lebih terang. Langkah kaki tergesa. Seruan kaget. Dalam hitungan detik, taman yang tadi sunyi dipenuhi orang-orang.

“Ya Tuhan—!” “Ada apa ini?” “Dia berdarah!”

Para bangsawan berbondong-bondong mengelilingi pria itu. Seseorang berlutut, menekan luka di kepalanya. Yang lain memanggil tabib. Tidak ada satu pun yang bertanya pada Elenna lebih dulu.

“Count—! Count, Anda mendengar saya?”

Count.

Kaki Elenna terasa lemas.

“Dia… dia yang menyerangku,” Elenna mencoba bicara, suaranya tenggelam di antara hiruk-pikuk. “Aku hanya membela diri—”

“Cukup.”

Nada itu tajam.

Beberapa pasang mata kini menoleh padanya. Tatapan mereka berubah, dari panik menjadi menilai, dari cemas menjadi curiga.

“Kenapa kau sendirian dengan suamiku?” suara seorang wanita terdengar, melengking. Istri Count itu melangkah maju, wajahnya pucat oleh amarah. “Apa yang kau lakukan padanya?”

“Aku tidak—” Elenna menggeleng cepat. “Aku dipanggil ke sini oleh kakak.”

Nama itu membuat suasana membeku sesaat. Seseorang segera memanggil Alberto. Ia datang dari kerumunan dengan langkah cepat, wajahnya terkejut saat melihat kekacauan di taman.

“Alberto,” seseorang berkata tegas, “apakah kau memanggil Elenna ke sini?”

Alberto terdiam sejenak. Hanya sejenak.

Lalu ia menggeleng. “Tidak. Aku tidak pernah memintanya datang ke taman.”

Elenna menatapnya, matanya melebar. “Tapi-aku diberitahu-"

“Aku tidak tahu apa yang kau maksud,” lanjut Alberto, suaranya tenang, bahkan bingung. “Aku berada di aula sepanjang waktu.”

“Jadi dia berbohong?” “Memancing pria yang sudah menikah?” “Tak tahu malu.”

Elenna menggeleng keras, napasnya tersengal. “Tidak! Aku bersumpah, dia yang menyerangku! Aku hanya mendorongnya karena takut!”

“Cukup alasan!” teriak istri Count, air mata mengalir di wajahnya. “Kau menggoda suamiku! Sekarang lihat apa yang kau lakukan padanya!”

Ia menoleh pada Marquess, yang baru saja tiba. “Tuan Marquess, Anda tidak bisa membiarkan ini. Suami saya terluka karena gadis ini!”

Tatapan Marquess bukan marah, bukan pula sedih. Itu tatapan seseorang yang sedang menghitung kerugian, dan Elenna mengerti. Ia bukan anak. Ia bukan keluarga. Ia adalah masalah.

“Elenna,” katanya pelan tapi tegas. “Apa yang sebenarnya terjadi?”

Elenna menatapnya, mencari, apa pun. Perlindungan. Kepercayaan. Sedikit saja.

“Aku tidak berbohong,” katanya, hampir memohon. “Aku tidak akan pernah—”

Saat Lilith melangkah maju sambil menangis, suasana langsung berubah.

“Aku benar-benar tidak menyangka…,” suara Lilith bergetar, rapuh, nyaris menyentuh. “Aku selalu menganggapmu seperti adikku sendiri walaupun kita tidak sedarah."

Beberapa tamu terisak pelan. Beberapa lainnya menghela napas penuh simpati.

“Kasihan Nona Lilith…” “Dia terlalu lembut.” “Hatinya benar-benar dari kapas.”

Elenna menatap Lilith. Air mata itu jatuh sempurna. Tidak berlebihan. Tidak kurang. Seperti latihan yang dilakukan bertahun-tahun.

“Kak Lilith…” Elenna berbisik tanpa sadar, suaranya tenggelam. Panggilan itu keluar begitu saja, panggilan yang dulu diminta Lilith untuk ia gunakan, agar terlihat akrab di depan Marquess dan Alberto.

Kini panggilan itu terdengar memalukan.

“Aku salah karena terlalu memanjakanmu,” lanjut Lilith sambil terisak. “Mungkin aku terlalu percaya. Aku hanya ingin melindungimu.”

Melindungimu. Kata itu terdengar seperti ejekan.

“Lihat?” bisik seorang bangsawan muda pada temannya. “Bahkan setelah dikhianati, dia masih memikirkan Elenna.” “Gadis sebaik itu pantas mendapat kebahagiaan.”

Elenna tidak tahu ia ingin tertawa, atau menangis, atau berteriak bahwa semua ini salah. Namun, tidak satu pun kata keluar dari mulutnya. Seakan tenggorokannya telah mengering.

Marquess menutup mata sejenak, lalu membukanya kembali. Keputusan telah diambil bahkan sebelum ia bicara.

“Karena Count terluka di wilayah rumahku,” katanya akhirnya, “dan semua bangsawan menyaksikan kejadian ini… aku tidak punya pilihan.”

Elenna membeku.

“Elenna akan dihukum.”

Kerumunan mengangguk setuju. Ada yang puas. Ada yang mencemooh terang-terangan.

Saat Marquess menggenggam lengannya, Elenna hampir terjatuh. Sentuhan itu membuatnya sadar betapa dinginnya malam ini. Serta betapa rapuh dirinya.

Ketika ia dibawa pergi, suara-suara itu mengikutinya seperti bayangan.

“Dasar gadis tak tahu diri.” “Sudah diberi tempat, masih ingin lebih.” “Pantas saja dia selalu sendirian.”

Langkahnya melewati lorong terasa panjang. Sangat panjang.

Ia tidak menoleh ke belakang. Ia tahu, bahkan jika Ia menoleh, tidak ada satu pun wajah yang akan menyesal melihatnya pergi.

Namun, tepat sebelum pintu taman tertutup sepenuhnya, Elenna merasakan satu tatapan masih melekat padanya.

Putra kedua Duke yang bisu.

Ia tidak berkata apa-apa. Tidak menghakimi. Tidak membela.

Tatapan itu membuat dada Elenna semakin sakit, karena untuk pertama kalinya malam itu, ada seseorang yang benar-benar melihatnya.

Tawa kembali terdengar. Nama Elenna perlahan berubah menjadi bisikan, lalu gosip, lalu cerita yang akan diceritakan ulang tanpa dirinya.

1
Ran
up thorr
Ran
cie elena mulai suka 🤭
Ran
Lilith ini keknya punya gangguan jiwa atau kelainan berpikir ya/Speechless/, stress banget jadi orang
Ran
ayo berlayar kapal elena dan tuan pengawal
Anonymous
semangat thor
VanGenZ: Terima kasih atas dukungannya🙏
total 1 replies
Ran
Lilith play victim jir
Ran
up thorr
Ran
itu mah akal akalan Lilith aja
Ran
sakit banget jadi elena
Ran
Lilith sok gatel lagi sama Kael
Ran
yahh, ayang beb udah mau pergi
Ran
mampus dimarahin ga tuh
Ran
kill aja tuh count
Ran
curiga sama lilith
Ran
buat apa dikasih tau kalau sejak awal udh ditentuin perannya, dasar marquess ga punya hati
Ran
semua gada yang bisa dipercaya kecuali elenna sendiri jir
Ran
Lilith sok baik/Panic//Pooh-pooh/
Ran
lumayan sih. walaupun minim dialog, tetap berkarya thor
Ran: sama-sama thor
total 2 replies
Ran
pengen deh bejek2 Lilith manusia ular itu/Panic/
Ran
kasian banget jadi Elenna/Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!