Shanaya berdiri di tepi taman halaman rumahnya, angin malam membelai sayap-sayap keabadiannya yang tersembunyi. Bintang mendekatinya, matanya memancarkan cinta yang tak terbantahkan. "Shanaya, aku tahu kita berbeda, tapi aku tidak peduli. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu," katanya dengan suara lembut.
Shanaya menoleh, mencoba menyembunyikan air matanya "Bintang, kamu tidak tahu apa yang kamu katakan. Aku...aku bukan seperti kamu. Aku memiliki rahasia yang tidak bisa kamu terima..." Shanaya mengangkat tangan, menghentikan Bintang yang ingin mendekat. "Tolong, jangan membuat ini lebih sulit daripada yang seharusnya. Aku tidak bisa menjadi yang kamu inginkan..."
Bintang terlihat hancur, tapi dia tidak menyerah. "Aku tidak peduli dengan apa yang kamu sembunyikan, Shanaya. Aku hanya ingin kamu..."
Apakah Shanaya akan membuka hatinya untuk Bintang atau justru pergi ke langit ketujuh dan meninggalkan Bintang seorang diri di malam yang sunyi ini? Ikuti terus kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Wilis , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9. "Pembahasan Pesta Balapan Tahunan"
Hari ini, kampus Universitas Trisakti kembali ramai dengan mahasiswa yang sibuk dengan kegiatan perkuliahan. Bintang, Shanaya, Joe, Felix, dan Thalia duduk di kantin, sambil menikmati sarapan pagi bersama.
"Gak sabar, pertandingan balapan tahunan tinggal satu hari lagi..." ucap Joe, sambil mengunyah sandwichnya.
Bintang tersenyum usai meneguk ice coffee ditangannya, "Gue tahu, gue juga udah latihan sejak seminggu lalu..."
Shanaya yang duduk di sebelah Bintang, menatapnya dengan sedikit kekhawatiran. "Bintang, loe harus hati-hati, ya. Jangan sampai cedera pas balapan nanti," ucapnya, sambil meletakkan tangan di atas tangan Bintang
Bintang tersenyum membalas sentuhan tangan Shanaya dengan lembut, "Gak apa-apa, Shan. Gue udah siap semuanya aman aja..."
Thalia yang duduk di seberang mereka, menggelakkan kepala ke arah Bintang dan Shanaya, "Gue gak percaya, kalian berdua udah kayak pasangan beneran ya?"
Joe yang duduk di sebelah Thalia, tersenyum sambil meminum ice greentea nya, "Gue gak tahu, tapi gue seneng ngelihat mereka berdua begitu..."
Felix yang duduk di sebelah Joe sembari bermain game onlinenya, menatap ke arah mereka, "Gue juga seneng, mereka berdua cocok..."
Nathaniel yang baru saja datang, duduk di sebelah Shanaya, "Apa yang lagi kalian bahas?" tanyanya, sambil memesan minuman
Bintang tersenyum ke arah Nathaniel, "Pertandingan balapan tahunan, Nat. Loe ikut, kan?"
Nathaniel tersenyum, "Gue udah siap, gue bakal bantu tim kita buat menang..."
Shanaya tersenyum, "Gue sama Thalia bakal dateng untuk nonton sekaligus jadi suporter buat kalian, jadi jangan sampai kalah, ya?"
Bintang tersenyum ke arah Shanaya, "Gue yakin kita pasti menang, Shan. gue akan berusaha jadi yang terbaik, lagi pula dari dulu geng kita selalu yang terunggul dalam pesta balapan tahunan. Ya gak guys..."
Thalia yang duduk di seberang mereka, menggelakkan kepalanya ke kanan sembari mengunyah dessert nya, "Gue gak sabar pengen ngelihat kalian semua lomba balapan, siapa yang bakalan menang?"
Joe tersenyum sembari mengelus lembut puncak kepala Thalia, "Gue yakin tim kita bakal bmenang, kita sudah latihan keras tiap malam soalnya..."
Nathaniel yang duduk di sebelah Shanaya, menatap ke arah Joe, "Gue gak yakin, Joe. Tim lawan kali ini juga gak bisa dianggap remeh, apalagi geng Alaska..."
Felix yang duduk di sebelah Joe, menambahkan, "Gue udah ngelihat latihan tim lawan, mereka kuat banget..."
Bintang yang mendengar itu, tersenyum hangat, "Gue tahu, tapi kita gak akan menyerah gitu aja kan. Kita harus berjuang sampai akhir..."
Shanaya yang mendengar percakapan mereka itu pun tersenyum, "Gue percaya sama kalian semua, kalian bisa melakukannya..."
Bintang menatap Shanaya begitu lekat, "Makasih, Shan. Gue akan berusaha buat jadi yang terbaik..."
Tiba-tiba, pengumuman dari speaker kampus mengumumkan bahwa pertandingan balapan tahunan akan diadakan dalam waktu dekat, dan semua tim harus mempersiapkan diri. Semua orang di kantin mulai berteriak dan bersemangat, termasuk Bintang dan teman-temannya.
Suasana di kantin menjadi semakin riuh, semua orang berteriak dan bersemangat mendengar pengumuman pertandingan balapan tahunan. Bintang dan teman-temannya juga tidak terkecuali, mereka semua tersenyum dan berteriak bersama-sama.
"Yess! Gue gak sabar!" seru Thalia, sambil melompat dari tempat duduknya
Joe yang duduk di sebelahnya, tersenyum namun berusaha membuat gadis itu untuk duduk kembali ke posisinya semula, "Gak usah lompat-lompat juga ayyy ntar keseleo gimana stay calm babe... Gue tahu, kita bakal tunjukin ke mereka kalo tim kita geng Garuda pasti bakal jadi yang terbaik..."
Ya, nama geng Bintang memang diberi nama garuda dikarenakan terinspirasi dari simbol negara kita Indonesia, juga mengambil makna dimana sosok garuda yang begitu kokoh dan tak pernah menyerah dalam menumpas kejahatan sebagai tunggangan dewa Wisnu juga tentunya.
Shanaya yang duduk di sebelah Bintang, menatapnya dengan mata yang bersemangat, "Gue bakal dateng untuk nonton sekaligus jadi suporter, jadi jangan sampai kalah, ya semangat pokoknya..."
Bintang tersenyum penuh cinta, "Ok Shan, makasih banyak. Gue bakal memenangkan pertandingan ini buat loe..."
...****************...
Mata kuliah Sastra Indonesia dimulai, dan Bu Anita memasuki ruangan dengan senyum yang ramah. Ya dosen muda satu ini memang selalu terlihat energik saat sedang mengajar.
"Selamat pagi, anak-anak! Hari ini kita akan membahas tentang puisi modern Indonesia. Siapa yang bisa memberitahu saya tentang ciri-ciri puisi modern?"
Ruangan menjadi sunyi sejenak, lalu Bintang mengangkat tangannya.
"Buk, puisi modern memiliki ciri-ciri seperti penggunaan bahasa yang lebih bebas, tidak terikat oleh aturan-aturan puisi klasik, dan lebih menekankan pada ekspresi perasaan penulis..."
Bu Anita tersenyum hangat, "Benar, Bintang. Puisi modern memang memiliki kebebasan dalam penggunaan bahasa dan ekspresi. Shanaya, apa pendapatmu tentang peran puisi modern dalam masyarakat?"
Shanaya berpikir sejenak, lalu menjawab, "Ok buk, puisi modern dapat menjadi sarana untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran masyarakat, serta menjadi kritik sosial yang lebih efektif..."
Bu Anita mengangguk, "Benar, Shanaya. Puisi modern dapat menjadi suara masyarakat. Joe, apa yang kamu pikir tentang pengaruh Barat dalam puisi modern Indonesia? Pertanyaan khusus ya buat kamu Jonathan yang bule blasteran..."
Joe menjawab, "Ok siap buk aman, pengaruh Barat memang ada, tapi puisi modern Indonesia juga memiliki ciri khas sendiri yang membedakannya dari puisi Barat..."
Tiba-tiba, Ray, si pemuda cupu, mengangkat tangannya. "Buk, saya ingin menambahkan bahwa puisi modern Indonesia juga dipengaruhi oleh gerakan-gerakan sastra seperti Pujangga Baru dan Angkatan '45..."
Bu Anita tersenyum, "Benar, Ray. Kamu sangat rajin membaca, ya? IPK mu memang sangat unggul dari yang lainnya, Bintang dan Shanaya pun masih berada di bawahmu..."
Ray tersenyum dengan wajahnya yang sebenarnya tampan hanya saja terhalang oleh kacamata bulat yang berukuran besar, "Terima kasih, bu Anita..."
Thalia yang duduk di sebelah Joe, berbisik, "Gak heran IPK nya tinggi, dia kayak kamus hidup lebih tepatnya kutu buku, gak pernah bergaul sama orang cuma buku aja yang di pegang..."
Joe tersenyum salut pada Ray, "Tapi kita harus akui, dia memang pintar tapi sayangnya dia cupu..."
Bu Anita tersenyum, "Baik, sekarang Zaneta, apa pendapatmu tentang tema yang diangkat dalam puisi 'Aku' karya Chairil Anwar?"
Zaneta berpikir sejenak, lalu menjawab, "Ok buk, saya merasa bahwa tema yang diangkat adalah tentang eksistensi diri dan kebebasan..."
Bu Anita mengangguk, "Benar, Zaneta. Puisi itu memang tentang eksistensi diri. Olivia, apa yang kamu ketahui tentang penggunaan metafora dalam puisi itu?"
Olivia menjawab tapi perasaannya agak panik, "Ok buk, saya merasa bahwa metafora dalam puisi itu sangat kuat dan membuat puisi itu lebih dalam maknanya..."
Bu Anita tersenyum, "Benar, Olivia. Metafora memang sangat efektif dalam puisi. Firly, apa pendapatmu tentang peran Chairil Anwar dalam sastra Indonesia?"
Firly menjawab agak ragu, "Ok buk, saya merasa bahwa Chairil Anwar adalah salah satu tokoh penting dalam sastra Indonesia, dia membawa perubahan besar dalam puisi modern Indonesia..."
Bu Anita mengangguk, "Benar, Firly. Chairil Anwar memang sangat berpengaruh. Dion, apa yang kamu pikir tentang struktur puisi 'Aku'?"
Dion menjawab dengan tenang, "Ok buk, saya merasa bahwa struktur puisi itu sangat sederhana tapi efektif, Chairil Anwar menggunakan struktur yang tidak terlalu kompleks tapi sangat kuat..."
Bu Anita tersenyum, "Benar, Dion. Struktur puisi itu memang sangat efektif. Leon, apa pendapatmu tentang penggunaan kata-kata dalam puisi itu?"
Leon menjawab dengan antusias, "Ok buk, saya merasa bahwa penggunaan kata-kata dalam puisi itu sangat tepat, Chairil Anwar menggunakan kata-kata yang sederhana tapi sangat kuat dan mendalam..."
Bu Anita mengangguk, "Benar, Leon. Penggunaan kata-kata memang sangat penting dalam puisi. Ray, kamu sudah menjawab sebelumnya, tapi aku ingin tahu pendapat Amanda tentang puisi itu. sendiri..."
Amanda menjawab dengan penuh semangat, "Ok buk, saya merasa bahwa puisi itu sangat ekspresif dan kuat, Chairil Anwar berhasil mengungkapkan perasaannya dengan sangat baik..."
Bu Anita tersenyum, "Benar, Amanda. Puisi itu memang sangat kuat. Camelia, apa pendapatmu tentang pengaruh puisi 'Aku' dalam sastra Indonesia?"
Camelia menjawab dengan tenang, "Ok buk,saya merasa bahwa puisi 'Aku' sangat berpengaruh dalam sastra Indonesia, dia membawa perubahan besar dalam puisi modern Indonesia..."
Bu Anita mengangguk, "Benar, Camelia. Puisi itu memang sangat berpengaruh..."
Bu Anita tersenyum, "Baik, sekarang Farhan, apa pendapatmu tentang perbandingan antara puisi 'Aku' karya Chairil Anwar dengan puisi modern lainnya?"
Farhan berpikir sejenak, lalu menjawab, "Menurut saya, saya merasa bahwa puisi 'Aku' memiliki gaya yang lebih ekspresif dan kuat dibandingkan dengan puisi modern lainnya, Chairil Anwar memiliki cara penulisan yang sangat unik..."
Bu Anita mengangguk, "Benar, Farhan. Puisi 'Aku' memang memiliki gaya yang sangat khas. Dandy, apa yang kamu pikir tentang tema cinta dalam puisi modern Indonesia?"
Dandy menjawab sesuai apa yang ia ketahui, "Ok buk, saya merasa bahwa tema cinta dalam puisi modern Indonesia seringkali diungkapkan dengan cara yang lebih bebas dan ekspresif, tidak seperti puisi klasik yang lebih formal..."
Bu Anita tersenyum, "Benar, Dandy. Tema cinta dalam puisi modern Indonesia memang lebih bebas. Fahrul, apa pendapatmu tentang peran simbolisme dalam puisi modern Indonesia?"
Fahrul menjawab sesuai dengan apa yang dia baca di internet, "Ok buk, menurut saya merasa bahwa simbolisme sangat penting dalam puisi modern Indonesia, karena dapat menambah kedalaman makna dan membuat puisi lebih menarik..."
Bu Anita mengangguk, "Benar, Fahrul. Simbolisme memang sangat efektif dalam puisi. Fahmi, apa yang kamu pikir tentang perbedaan antara puisi modern dan puisi klasik?"
Fahmi menjawab dengan percaya diri, "Ok buk, menurut saya puisi modern lebih bebas dalam penggunaan bahasa dan struktur, sedangkan puisi klasik lebih terikat oleh aturan-aturan yang ketat..."
Bu Anita tersenyum, "Benar, Fahmi. Puisi modern memang lebih bebas. ok jika begitu sekarang coba kalian buat puisi modern dengan isi hati kalian sendiri, saya beri waktu 30 menit untuk membuatnya..."
Seluruh mahasiswa mahasiswi di kelas sastra A1 itu pun bergegas menorehkan setiap isi hati mereka ke dalam secarik kertas pada buku mereka dan membiarkan pena mereka menari-nari diatasnya. Bintang mengekspresikan perasaan hatinya pada Shanaya ke dalam bentuk syair yang indah. Sementara Shanaya mengekspresikan perasaannya yang rindu akan kasih sayang seorang ibu ke dalam sebuah puisi.
Bersambung...