NovelToon NovelToon
Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Status: sedang berlangsung
Genre:Naruto / Action / Fantasi Isekai / Anime / Menjadi NPC / Jujutsu Kaisen
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Di tengah dendam, pengkhianatan, dan calamity yang tak terbayangkan, Raito menjadi “cahaya kecil” yang tak pernah padam. penyeimbang yang selalu ada saat dunia paling gelap.

Sebuah kisah survival, pertumbuhan, dan pencarian makna di dunia Hunter x Hunter

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cahaya di Tengah Kegelapan Troupe

Aula lelang bawah tanah tiba-tiba terasa lebih sempit meski ruangannya luas. Sorak penonton yang tadinya riuh seketika mereda menjadi bisik-bisik tegang. Lampu sorot di panggung utama masih menyala, tapi sekarang semua mata tertuju ke tengah aula—ke tempat Raito dan Mira berdiri menghadapi Chrollo Lucilfer dan tiga anggota Phantom Troupe yang maju perlahan dari sudut gelap: Feitan, Machi, dan Nobunaga.

Chrollo menutup bukunya dengan pelan, senyum tipis tetap terukir di wajahnya yang tenang. “Kalian datang ke sini untuk melindungi batu itu… atau untuk melindungi satu sama lain?”

Raito tidak langsung jawab. Embun cahaya tipis sudah mengelilingi tubuhnya dan Mira—sekarang lebih tebal dari sebelumnya, seperti jubah fajar yang hangat tapi siap membentuk benteng kapan saja. Yuna disembunyikan di belakang Mira, tangan kecilnya memegang lengan Mira erat-erat, mata besar penuh ketakutan tapi tidak menangis.

“Kami nggak mau masalah,” kata Raito dengan suara tenang tapi tegas. “Kami cuma mau pastikan Eclipse Stone nggak jatuh ke tangan yang akan menyalahgunakannya.”

Chrollo memiringkan kepala. “Menyalahgunakan? Menurutmu apa yang kami lakukan dengan kekuatan? Kami hanya mengambil apa yang kami inginkan. Seperti kamu mengambil keputusan untuk tetap di dunia ini.”

Feitan melangkah maju pertama—tubuh kecilnya bergerak seperti bayang yang hidup. Matanya menyipit penuh dendam dingin. “Ngomong banyak. Aku benci orang yang sok bijak.”

Tanpa peringatan, Feitan menghilang—gerakannya terlalu cepat untuk mata biasa. Dalam sekejap, dia sudah berada di belakang Raito, pisau di tangan kanan mengarah ke punggung leher.

Raito tidak menoleh. Embun cahaya di tubuhnya berdenyut sekali—gelombang hangat menyebar seperti riak air, menyentuh Feitan tepat sebelum pisau menyentuh kulit. Ada suara hiss kecil. Pisau Feitan terhenti di udara, seperti terjebak dalam kabut tak terlihat. Aura Feitan yang dingin dan tajam mulai retak pelan—bukan karena kekuatan fisik, tapi karena tiba-tiba dia merasa… kosong.

Feitan terhuyung mundur satu langkah. Matanya melebar. “Apa… ini?”

Raito berbalik pelan. “Aku nggak mau lukai kamu. Aku cuma mau kamu lihat… bahwa bertarung nggak selalu harus sampai akhir.”

Machi maju dari sisi kiri, benang aura merah mudanya sudah melingkar seperti jaring laba-laba. “Jangan sok bijak. Benangku bisa potong kamu jadi serpihan sebelum kamu berkedip.”

Benang itu melesat—lima helai sekaligus, tajam seperti pisau bedah, mengarah ke Raito dan Mira dari berbagai sudut.

Mira langsung bertindak—pisau di tangannya berputar cepat, memotong dua helai benang. Tapi tiga helai lain masih meluncur.

Raito angkat tangan kiri. Embun cahaya berubah bentuk—bukan gelombang besar, tapi lingkaran kecil yang mengorbit di sekitar tubuhnya dan Mira. Benang Machi menyentuh lingkaran itu—dan berhenti. Aura merah muda Machi bertabrakan dengan cahaya Raito—ada suara crack kecil seperti kaca retak. Benang itu tidak putus, tapi melambat, seperti terperangkap dalam waktu yang hangat.

Machi berhenti. Matanya menyipit. “Benangku… nggak bisa maju.”

Nobunaga maju dari sisi kanan—pedangnya sudah terhunus, aura Enhancement membuat bilahnya bergetar penuh kekuatan. “Cukup main-main. Aku potong kalian sekarang.”

Pedangnya meluncur cepat—tebasan horizontal yang bisa memotong dua orang sekaligus.

Raito maju setengah langkah. Dia tidak menghindar. Dia angkat tangan kanan—cahaya dari dadanya mengalir ke telapak, membentuk “cincin” kecil yang berputar pelan. Tebasan Nobunaga menyentuh cincin itu—ada suara clang keras seperti besi bertemu besi tak terlihat. Pedang terhenti di udara, getarannya mereda seperti api yang ditiup angin hangat.

Nobunaga terkejut. “Apa… ini?”

Raito bicara dengan suara yang tetap tenang meski napasnya mulai berat. “Aku nggak potong pedangmu. Aku cuma… terima kekuatannya. Dan kembalikan ke kamu sendiri.”

Cahaya dari cincin itu berdenyut sekali—getaran pedang Nobunaga kembali ke tangannya sendiri, membuat lengannya gemetar. Nobunaga mundur satu langkah, mata penuh keterkejutan.

Chrollo menutup bukunya dengan pelan. “Menarik. Kamu tidak menyerang. Kamu hanya… mencerminkan. Dan mereka menyerah karena mereka sendiri yang merasa sia-sia.”

Dia maju satu langkah. Buku di tangannya terbuka lagi—halaman-halaman berputar cepat.

“Skill Hunter. Aku sudah kumpulkan banyak Nen menarik. Mungkin cahaya-mu bisa jadi koleksi baru.”

Raito menatap Chrollo. “Aku nggak mau jadi koleksi. Aku mau kalian lihat… bahwa kekuatan nggak harus diambil dari orang lain.”

Chrollo tersenyum tipis. “Kita lihat saja.”

Dia angkat tangan. Aura-nya meledak pelan—buku itu bercahaya hitam samar. Dua kemampuan Nen yang sudah dicuri muncul sekaligus: satu adalah aura api hitam yang membakar segalanya, satu lagi adalah rantai aura yang bisa mengikat dan menyeret.

Api hitam meluncur ke Raito. Rantai aura mengarah ke Mira dan Yuna.

Raito bergerak.

Dia tidak memanggil Dawn Pulse seperti biasa. Dia biarkan retak di dadanya terbuka sepenuhnya—cahaya mengalir keluar seperti air yang menemukan celah. Bukan gelombang besar, bukan sinar tajam. Cahaya itu menyebar seperti embun pagi yang menyelimuti seluruh aula—hangat, lembut, tapi tak terbendung.

Api hitam Chrollo bertabrakan dengan embun itu—api tidak padam, tapi melambat, seperti terperangkap dalam waktu yang hangat. Rantai aura yang mengarah ke Mira dan Yuna terhenti di udara, berputar-putar seperti terjebak dalam pusaran lembut.

Feitan, Machi, dan Nobunaga berhenti bergerak. Aura mereka retak pelan—bukan karena kekuatan fisik, tapi karena tiba-tiba mereka merasa… kosong. Seperti semua dendam, semua ambisi, semua alasan bertarung tiba-tiba terasa sia-sia di hadapan cahaya yang tidak menghakimi, hanya menerima.

Chrollo berhenti. Buku di tangannya berhenti berputar. Matanya menyipit—bukan marah, tapi kagum yang dingin.

“Kamu… tidak menyerang kami. Kamu hanya… membuat kami melihat diri kami sendiri.”

Raito bicara dengan suara yang tetap tenang meski napasnya berat. “Aku nggak mau kalian mati. Aku nggak mau kalian kalah. Aku cuma mau kalian lihat… bahwa kekuatan kalian nggak harus diambil dari orang lain. Kalian bisa berhenti. Kalian bisa pilih jalan lain.”

Ruangan hening. Penonton lelang sudah mundur ke dinding, takut dan kagum.

Chrollo menutup bukunya. “Menarik sekali. Cahaya yang bisa membuat Phantom Troupe ragu… itu sesuatu yang baru.”

Dia mengangkat tangan—gerakan menandakan mundur. Anggota Troupe lain menurunkan senjata pelan, meski mata mereka masih penuh kewaspadaan.

“Kami mundur malam ini,” kata Chrollo. “Tapi kami tidak menyerah. Eclipse Stone… akan jadi milik kami suatu hari. Dan cahaya-mu… mungkin akan jadi milikku juga.”

Raito menatapnya. “Kalian bisa coba. Tapi aku nggak akan biarkan kalian ambil apa yang bukan milik kalian.”

Chrollo tersenyum tipis. “Kita lihat saja.”

Phantom Troupe menghilang ke bayang-bayang aula—seperti asap yang tersedot kegelapan.

Ruangan kembali hening. Portal kecil di atas Eclipse Stone masih mengambang—cahaya lembut, stabil.

Raito menoleh ke Mira dan Yuna.

“Kita pulang,” katanya pelan.

Mira mengangguk. “Kita pulang.”

Yuna memeluk Raito erat-erat. “Kak Raito… kamu bikin mereka pergi tanpa darah.”

Raito mengangkat Yuna. “Bukan aku. Cahaya ini yang bicara.”

Mereka bertiga berjalan keluar aula lelang.

Di luar, Yorknew terus bernapas—gelap, berisik, penuh ancaman.

Tapi malam ini, cahaya Raito sudah membuktikan satu hal:

Kegelapan terbesar pun bisa ragu—kalau diterangi dengan cara yang tepat.

Dan retak di dada Raito bukan lagi tempat luka.

Ia adalah jendela.

Jendela yang sekarang terbuka lebar, menerima dunia apa pun yang datang selanjutnya.

1
Cucu 23
Ini semakin menarik ☠️💀☠️🥶🥶
Kashvatama: terimakasih supportnya 💪💪💪
total 1 replies
Cucu 23
Let's go!!!!!☠️💀🥶😎👍🔥
Cucu 23
Kerja bagus 😎😎👍👍🔥
Adibhamad Alshunaybir
mantap author lanjutkan up nya
Adibhamad Alshunaybir: karya nya bagus bagus ya kak minta saran dan ajaran nya kak author☺🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!