Menjadi guru tampan dan memiliki karisma over power memang tidak mudah. Dialah Adimas Aditiya, guru muda yang menjadi wali kelas sebuah kelas yang anehnya terlalu hidup untuk disebut biasa.
Dan di sanalah Rani Jaya Almaira berada. Murid tengil, manis, jujur, dan heater abadi matematika. Setiap ucapannya terasa ringan, tapi pikirannya terlalu tajam untuk diabaikan. Tanpa sadar, justru dari gadis itulah Adimas belajar banyak hal yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah keguruan.
Namun karena Rani pula, Adimas menemukan jalannya rumahnya dan makna cinta yang sebenarnya. Muridnya menjadi cintanya, lalu bagaimana dengan Elin, kekasih yang lebih dulu ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Pesan dari David
"Masih nanya kenapa?" gertak lagi Adimas, Rani terdengar menghela napas kasar.
"Saya kesiangan, pintu gerbang udah ditutup tadi jadi saya balik lagi aja ke warnet." jawab Rani, Adimas memijit pelipisnya.
"Kamu tau bohong itu dosa?" tanya balik Adimas, Rani terdiam.
"Dan Pak Adimas juga tau siapa yang membuat aku gak bisa masuk sekolah hari ini?" kesal lagi Rani, Adimas langsung berdiri dari duduknya dan sontak saja tingkahnya itu berhasil memancing beberapa guru yang memperhatikannya.
Adimas yang sadar bila dirinya jadi pusat perhatian para guru akhirnya berjalan keluar dengan langkah cepat. Dia sampai di depan mobilnya dan langsung melaju dengan mobilnya ke arah warnet yang jadi markas besar Rani.
"Rani, turun!" perintah Adimas dari telepon. Rani melihat ke arah jendela dari lantai tiga dan tampak Adimas di bawah tengah menunggunya.
"Baik," ucap Rani berjalan menyusuri anak tangga dan membuka pintu depan warnet itu. Tampak Adimas dengan wajah marahnya menatap Rani.
Tanpa kata apa pun, Adimas langsung masuk ke dalam warnet dan menutup pintu itu lagi. Suasana sunyi sejenak, suara napas Adimas yang terdengar kasar membuat hawa mencekam di ruangan itu.
"Kamu sebenarnya kenapa, Ran?" tanya Adimas, Rani terdiam tanpa kata untuk menjawab pertanyaan ambigu itu.
"Kamu itu pelajar, kewajiban kamu ya sekolah. Kamu harus belajar dan ujian sudah tinggal menghitung bulan, kamu tau itu kan?" Rani sejenak mengangguk. Di rumahnya dia tidak memiliki sosok ayah. Sejak kecil ayahnya sudah tinggal jadi TKI dan tidak pernah pulang, dia hanya memberi kabar sesekali atau memberi uang bulanan pada sang Mamah. Tak ada yang memarahinya seperti itu, tak ada yang mengkhawatirkan nilainya selama ini. Karena sang Mamah sendiri tak pernah mempedulikan bagaimana nilai Rani di sekolah. Asal Rani dapat menjaga diri dan menjaga pergaulan, serta tidak ketinggalan salat lima waktu, itu sudah cukup bagi Mamahnya Rani.
"Pak, saya minta maaf," ucap Rani, Adimas tertegun sejenak.
"Kenapa minta maaf?" tanya lagi Adimas. Rani menundukkan pandangannya, sifatnya yang semula berani kini menunduk di hadapan Adimas. Menunduknya bukan menunduk takut, namun menghormati Adimas sebagai gurunya.
Memang kesalahannya, karena tadi bila Rani berniat sekolah dia bisa saja terus berlari ke sekolah dan bisa datang tepat waktu. Tapi Rani justru bolos dan itu kesalahannya.
"Saya tanya, kenapa minta maaf!" satu sentakan dari Adimas. Sontak saja tubuh Rani bergetar mendengar sentakan kasar itu. Adimas juga terkejut dengan nada suaranya yang tiba-tiba meninggi, tak ada niat di hatinya untuk menyentak Rani hingga tubuh gadis itu bergetar. Sejujurnya Rani tidak takut, namun matanya justru memancarkan hal lain, air matanya keluar namun dia tidak sakit hati.
"Maaf, Pak, hiks..." isak Rani, Adimas menyesali perbuatannya sendiri. Dia menarik lengan Rani hingga kening Rani membentur dada Adimas. Adimas sungguh tak sengaja menyentak Rani.
"Kenapa kamu minta maaf?" tanya lagi Adimas. "Ini bukan salahmu, maafkan saya, Rani," ucap Adimas mengelus rambut cokelat Rani dengan hati-hati.
Rani masih dalam pelukan Adimas dalam waktu sepuluh menit, hingga akhirnya dia sendiri mundur dan duduk di kursi kasir yang biasanya diduduki olehnya. Jujur, dia nyaman dalam pelukan itu. Namun, kenyamanan itu justru membuat Rani menarik batas sendiri.
"Besok sekolah ya? Ayo kita ambil motornya sekarang," pinta Adimas, Rani mengangguk pelan. Rani ingin menerima pelukan lagi, tapi sepertinya dia mencoba sadar diri, perasaannya yakin bila hatinya menginginkan Adimas, namun bagaimana dengan Adimas?
"Ran, tolong lebih serius lagi untuk belajar ke depannya. Begini, saya bisa janjikan satu hal apa pun itu. Bila kamu bisa masuk peringkat sepuluh besar di kelas, saya akan berikan apa pun keinginanmu," ucap Adimas, Rani nampak mengangkat wajahnya.
"Beneran, Pak?" tanya Rani, Adimas mengangguk pasti.
"Saya ingin ke pantai, melihat matahari tenggelam," ucap Rani lagi, Adimas nampak tersenyum lembut.
"Oke, sepakat," ucap Adimas lagi, Rani mengangguk dengan mata berbinar seolah baru saja menemukan harta karun.
"Sekarang, sudah merasa lebih baik?" tanya lagi Adimas, Rani mengangguk pelan.
"Ayo ambil motornya," ajak Adimas, Rani tersenyum dan berdiri dari duduknya. Mereka berjalan keluar dari warnet itu dan mengunci pintu warnet itu.
Sebuah bengkel besar yang sangat luas, Rani melongo melihat semua benda yang tertata rapi dan para pekerja yang sibuk dengan mesin dan kesibukan masing-masing. Mata Rani langsung berbinar menyaksikan banyak alat otomotif di sana.
"Bos, mau ambil motor ya?" tanya salah satu pekerja di sana, Rani sejenak memalingkan pandangannya ke arah Adimas.
"Iya," jawab Adimas, pekerja itu nampak mempersilakan dan motor Rani nampak sedang diperbaiki di sana.
"Belum selesai, Bos, ini GPS dan kuncinya sudah dimodifikasi pakai sidik jari, Bos," ucap seorang pekerja yang sedang memperbaiki bagian depan motor Rani.
"Oh iya, sebenarnya bukan di situ penyakitnya si Jali, Mang. Sini aku tunjukin," Rani berjalan dengan riang mendekat ke arah pekerja itu, dia juga mengaktifkan sidik jarinya dan memberikan arahan.
Dia juga memberi sedikit pelajaran tentang alat yang dipakai pada motornya, memang motor Rani sudah level up kelasnya. Meski produknya masih produk motor jadul, namun modifikasinya sudah melebihi standar motor zaman sekarang.
"Wah, pinter urusan otomotif ya?" ungkap pekerja itu kagum, bahkan beberapa orang juga ikut mendekat, memperhatikan bagaimana Rani bergelut dengan motornya sendiri, meminjam alat dan perlengkapan di bengkel itu.
"Lumayan, Mang," jawab Rani santai, Adimas memperhatikan arloji yang melingkar di tangannya.
"Sepertinya saya harus kembali ke sekolah, kamu mau di sini dulu juga tidak apa-apa," ucap Adimas, Rani mengangkat jempolnya membiarkan Adimas pergi dan dirinya bergelut dengan motornya sendiri.
Rani menikmati momennya bersama para montir di sana, membagikan pengalaman mereka satu sama lain dan menceritakan beberapa pelanggan yang banyak maunya.
Rani tertawa bersama para pria yang nampak kasar dari luar itu, candaan mereka membuat Rani sejenak lupa pada apa yang tadi terjadi padanya, pada sentakan Adimas yang berhasil menggores hatinya. Dan ya, kini Adimas kembali berutang setengah nyawa lagi pada Rani, jadi totalnya Adimas sudah berutang dua nyawa dari yang sebelum-sebelumnya.
Sedangkan Adimas siang itu kembali ke sekolah, wajahnya dipenuhi rasa bersalah pada Rani, namun dari luar tak tampak ekspresi itu dengan jelas.
Sebuah pesan sampai pada ponselnya, itu dari Elin, kekasihnya.
"Sayang, besok kita ketemu ya?" Adimas mengangkat alisnya, tumben sekali, pikir Adimas.
"Oke, di tempat biasa?" tanya Adimas, tak ada jawaban dari Elin. Hingga sepuluh menit berlalu dan baru pesan jawaban singkat sampai pada ponsel Adimas.
"Iya," jawab Elin, Adimas menghela napas kasar. Dia menutup matanya sejenak, hingga wajah Rani terlihat di pelupuk matanya.
"Ah, ini salah," ungkap Adimas dalam hati, dia mencoba meluruskan kembali perasaannya. Mencoba menata hatinya kembali dan mencoba untuk tidak menumbuhkan perasaan liar yang menggerogoti hatinya.
Ting!
Sebuah pesan sampai pada ponselnya, itu dari kakaknya, David Anggara.
Ting
Ting
Ting
Dua puluh pesan beruntun kembali terdengar, masih dari David. Adimas membelalakkan matanya melihat semua foto yang diberikan oleh David.
Deg!
Deg!
Deg!
Jantungnya berpacu cepat. "A-apa ini?" gumam Adimas pelan.
Ya Allah malam² ngajak ditahan sambil batuk² 🤣🤣🤣
dasar Aryaaaaa astaghfirullah 🤣
pingin denger cerita Rani, yg ayah nya menjodohkan Rani sampai nangis gitu.
apa ibu nya Rani gak cerai dan jadi satu sama istri muda suaminya, kalau benar gak rela bgt aku.
dah 3 bab tapi masih kurang rasanya 😁
tetap ngakak walaupun mirip Gilang, tapi ngakak nya di tahan sampe perut sakit, mlm² di kira mba Kunti kalau ngakak 🫢
kayaknya banyak mengandung bawang