NovelToon NovelToon
Luka Sang Pengganti

Luka Sang Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Pengganti / Dosen
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Zahra mencintai Akhsan, kakak kandungnya yang juga menjadi dosen di kampusnya. Menyadari perasaan tak wajar adiknya, Akhsan membangun benteng tinggi dan memilih untuk meminang Gea guna memutus harapan Zahra.
Namun, tragedi berdarah terjadi tepat malam hari saat mereka akan menikah. Kecelakaan hebat merenggut nyawa Gea dan mengungkap fakta mengejutkan—Akhsan ternyata bukan anak kandung Papa Hermawan. Demi menjaga nama baik keluarga dari undangan yang telah tersebar, Papa Hermawan mengambil keputusan ekstrem: Zahra harus menggantikan posisi Gea di pelaminan.
Pernikahan yang dahulu menjadi dambaannya kini berubah menjadi mimpi buruk bagi Zahra. Akhsan yang hancur karena kehilangan Gea berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam. Ia menuduh Zahra sebagai dalang di balik kecelakaan maut tersebut, menjebak Zahra dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan kebencian dan air mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Sisilia menyeka sudut matanya yang kering, berpura-pura terisak seolah-olah ia sedang menanggung beban rahasia yang sangat berat.

Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Akhsan, suaranya merendah, penuh dengan manipulasi yang mematikan.

"Sebenarnya aku nggak mau bilang ini, Mas. Aku nggak mau nambah beban pikiran Mas Akhsan. Tapi aku nggak tahan melihat Mas terus-terusan ditipu oleh wajah polos Zahra," ucap Sisilia dengan nada yang dibuat sedu sedan.

Akhsan menoleh, sorot matanya yang tajam kini dipenuhi rasa ingin tahu yang gelap.

"Apa maksudmu, Sisil? Bicara yang jelas."

"Sebelum kecelakaan itu terjadi, Kak Gea sering menangis padaku, Mas. Dia bilang Zahra sering menerornya lewat telepon. Zahra mengancam akan membuat Kak Gea menderita kalau tetap nekat menikah dengan Mas Akhsan. Bahkan..." Sisilia menggantung kalimatnya, memberikan efek dramatis.

"Bahkan apa?!" bentak Akhsan yang mulai tersulut emosi.

"Bahkan satu minggu sebelum pernikahan, Zahra mendatangi Kak Gea dan menamparnya di depan umum. Zahra bilang Mas Akhsan itu miliknya dan nggak ada yang boleh memilikimu. Kak Gea merahasiakan ini karena dia nggak mau Mas Akhsan benci sama adik sendiri. Tapi sekarang, lihat apa yang terjadi? Kak Gea mati, dan Zahra dengan senangnya mengambil posisi itu," bohong Sisilia dengan sangat lancar.

Setiap kata yang keluar dari mulut Sisilia adalah racun yang meresap sempurna ke dalam hati Akhsan yang sudah penuh dengan luka dan prasangka.

Akhsan tidak meragukan Sisilia sedikit pun, karena baginya, pengakuan ini adalah potongan puzzle yang menjelaskan mengapa kecelakaan itu bisa terjadi.

BRAK!

Akhsan menghantam meja kerjanya dengan kepalan tangan.

Rahangnya mengeras, dan urat-urat di lehernya menegang hebat.

Ia mencengkeram erat kedua tangannya hingga buku-bukunya memutih dan bergetar karena amarah yang meluap-luap.

"Jadi benar, dia memang iblis," desis Akhsan dengan suara yang terdengar seperti geraman binatang buas.

"Dia menyiksa Gea di belakangku, dan sekarang dia berakting seolah-olah dia adalah korban paling menderita di dunia."

Sisilia tersenyum tipis di balik telapak tangan yang menutupi wajahnya.

Ia berhasil menghidupkan api kebencian di mata Akhsan dan kini api itu menyala lebih besar dari sebelumnya.

"Sabar, Mas. Mungkin memang takdirnya begini," ucap Sisilia, mencoba menyentuh lengan Akhsan dengan lembut untuk memberikan ketenangan.

"Tidak ada kata sabar untuk pembunuh seperti dia," sahut Akhsan dingin.

Kemudian Akhsan menyambar kunci mobilnya di atas meja.

"Dia ingin perhatian? Dia ingin panggung di rumah sakit? Akan aku berikan panggung yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya."

Akhsan melangkah keluar ruangan dengan langkah yang menggelegar, menuju rumah sakit bukan untuk menjenguk istrinya yang sekarat, melainkan untuk meluapkan murka yang sudah mencapai puncaknya.

Sementara itu di tempat lain diman dikamar rawat kelas satu tempat Zahra dibaringkan, suasana terasa begitu sunyi, hanya menyisakan bunyi detak jantung dari monitor yang terpasang di jari Zahra.

Dokter baru saja selesai menyuntikkan obat penurun panas dan antibiotik ke dalam selang infus Zahra yang kini digantung dengan cairan baru.

"Kondisinya cukup mengkhawatirkan. Tubuhnya sangat lemah, seperti tidak ada asupan nutrisi selama berhari-hari. Kita harus pantau terus demamnya," ujar dokter sebelum melangkah keluar.

Seorang perawat kemudian mendekati Christian yang sejak tadi berdiri kaku di samping ranjang Zahra.

"Permisi, Mas. Karena pasien belum terdaftar di sistem kami, mohon segera ke bagian administrasi untuk melunasi biaya pendaftaran dan uang muka rawat inap agar penanganan bisa terus berlanjut," ucap perawat itu dengan sopan.

Christian meraba dompet di saku celananya, ia tahu biaya rumah sakit ini tidak akan murah, tapi ia tidak peduli.

Ia lebih memilih uang tabungannya habis daripada melihat Zahra terlunta-lunta tanpa pertolongan.

"Bentar ya, Ndri. Kamu tunggu di sini dulu. Jaga Zahra, jangan sampai dia sendirian," ucap Christian pada Indri.

Indri menganggukkan kepalanya dengan cepat. Wajahnya masih sembap karena tangis.

"Iya, Chris. Kamu tenang saja. Aku nggak akan ke mana-mana sampai kamu kembali."

Christian segera melangkah keluar kamar menuju lantai dasar untuk menyelesaikan urusan administrasi.

Ia berjalan dengan langkah terburu-buru, melewati lorong-lorong rumah sakit yang dingin.

Namun, di saat yang bersamaan, di lobi utama rumah sakit, sebuah mobil sedan hitam berhenti dengan kasar tepat di depan pintu drop-off.

Akhsan keluar dari mobil dengan bantingan pintu yang sangat keras.

Tatapannya liar, rahangnya terkatup rapat menahan amarah yang sudah di ubung-ubun akibat hasutan Sisilia.

Akhsan melangkah masuk ke dalam rumah sakit dengan aura yang begitu menakutkan.

Setiap orang yang berpapasan dengannya secara refleks menepi, merasakan energi kemarahan yang terpancar dari pria itu.

Di kepalanya hanya ada satu tujuan: menyeret Zahra keluar dan menuntut penjelasan atas "penyiksaan" yang dituduhkan pada Gea.

Ia tidak peduli jika istrinya sedang sekarat, baginya, Zahra adalah monster yang harus segera menerima balasannya.

Langkah Akhsan terhenti sejenak di depan papan informasi bangsal.

"Zahra Adistia," desisnya saat menemukan nomor kamar istrinya.

Ia menuju lift, tidak menyadari bahwa beberapa saat yang lalu, Christian baru saja melewatinya di area tangga darurat untuk menuju bagian kasir.

Dua pria yang memiliki perasaan bertolak belakang terhadap Zahra itu kini berada di gedung yang sama, menunggu sebuah ledakan konflik yang tak terelakkan.

BRAK!

Pintu kamar rawat itu terhantam ke dinding dengan keras.

Akhsan berdiri di ambang pintu dengan napas memburu dan mata yang merah padam oleh amarah.

Indri yang sedang duduk di samping ranjang tersentak kaget hingga hampir terjatuh dari kursinya.

"Keluar!" bentak Akhsan tanpa basa-basi.

"Tapi Pak, Zahra baru saja tenang, kondisinya—"

"SAYA BILANG KELUAR!" Akhsan menggeram, langkahnya mendekat dengan intimidasi yang nyata.

Indri yang ketakutan akhirnya terpaksa melangkah keluar dengan tubuh gemetar.

Begitu Indri keluar, Akhsan segera memutar kunci pintu.

Ceklek!

Suara pintu yang fikunuterdengar seperti lonceng kematian bagi Zahra yang mulai membuka matanya secara perlahan akibat suara gaduh tersebut.

"Mas Akhsan?" bisik Zahra lirih.

Kesadarannya belum pulih sepenuhnya, namun rasa sakit di hatinya langsung terasa saat melihat wajah suaminya yang penuh kebencian.

Akhsan mendekat ke sisi ranjang, ia mencengkeram rahang Zahra dengan tangan kirinya, memaksa gadis itu menatapnya.

"Berapa banyak lagi topeng yang kamu punya, Zahra? Sisil sudah menceritakan semuanya! Kamu meneror Gea? Kamu menamparnya? Kamu mengancamnya sebelum pernikahan?"

"Demi Allah, Mas. Aku tidak pernah melakukannya. Sisil bohong. Aku tidak mungkin menyakiti Kak Gea..."

"JANGAN SEBUT NAMA TUHAN DENGAN MULUT KOTORMU!" bentak Akhsan.

Tanpa perasaan, ia merenggut selang infus di tangan Zahra hingga darah segar merembes keluar dari bekas tusukan jarum tersebut.

Zahra memekik kesakitan, namun Akhsan tidak peduli.

Ia menarik tubuh Zahra yang lemas agar turun dari ranjang.

Di luar, Christian yang baru saja selesai dari administrasi berlari kencang setelah melihat Indri menangis di depan pintu yang terkunci.

Tepat saat itu, pintu terbuka. Akhsan keluar dengan menyeret Zahra yang bertelanjang kaki dan hanya mengenakan pakaian rumah sakit yang tipis.

"Pak Akhsan! Berhenti! Anda bisa membunuhnya! Zahra harus dirawat!" teriak Christian yang mencoba menghalangi jalan Akhsan.

Akhsan menatap Christian dengan pandangan menghina.

"Dia adikku dan keluargaku! Kamu jangan ikut campur masalah keluargaku!" ucap Akhsan dengan penekanan yang sangat tajam, mengingatkan Christian pada batasan status sosial dan keluarga mereka.

Akhsan terus menyeret Zahra menuju lift dan sampai ke parkiran.

Sesampainya di mobil, Akhsan mendorong tubuh Zahra yang lunglai ke kursi penumpang dengan kasar hingga kepala Zahra membentur dasbor.

"Duduk dan diam! Kita belum selesai!" ancam Akhsan sebelum ia memutar ke kursi pengemudi dan melesat pergi meninggalkan area rumah sakit.

Christian berdiri di pelataran parkir, napasnya tersengal.

Ia menggenggam erat kedua tangannya hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri.

Ia hanya bisa melihat lampu belakang mobil Akhsan yang menjauh di antara hiruk-pikuk jalanan.

"Ada apa dengan mereka?" gumam Christian dengan suara parau.

"Kenapa kakak adik seperti itu? Itu bukan cara seorang kakak memperlakukan adiknya, Ndri. Itu seperti dendam kesumat."

"Chris, aku takut. Zahra dalam bahaya. Pak Akhsan benar-benar seperti orang kesurupan tadi."

Christian tidak menjawab, namun matanya menatap tajam ke arah perginya mobil itu.

Di dalam otaknya, ia mulai menyusun kepingan-kepingan kecurigaan.

Ada rahasia besar di balik keluarga Hermawan, dan ia bersumpah akan membongkarnya demi menyelamatkan Zahra.

1
Fatma
jangan bilang nanti aruna malah balikan sama akhsan, suaminya gmn?
Masha 235
lha terus christian kepiye aruna ...mau diapain ..
my name is pho: sabar kak 🤭
total 1 replies
Piyah
,masa begitu, arunany
Dwi Winarni Wina
balas dendam siap dimulai tunggu kehancuranmu akhsan...
Dwi Winarni Wina
siulet bulu sisil kayak cacing kepanasan🤣🤭
Dwi Winarni Wina
Akhsan merindukan zahra pret tega sekali menyiksa zahra, siap2 aruna cristian akan balas dendam🤣
Dwi Winarni Wina
Zahra akan ganti identitas dengan barunya, siap2 balas dendam...
Dwi Winarni Wina
Zahra adiknya cristian akan membalas dendam sm keluarga hermawan dan akhsan akan melakukan operasi plastik
Dwi Winarni Wina
Zahra balas dendam telah orang2 yg menyakitinya...
Dwi Winarni Wina
bagus cristian selamatkan zahra dari para iblis itu...
Dwi Winarni Wina
zahra bertahan balas org2 telah menyakitimu, jadi zara yg kuat tanggung jangan jadi zahra yg lemah yg mudah ditindas....
Dwi Winarni Wina
Zahra pergi yg jauh akhsan dan orgtua sendiri aja gak peduli sm kamu, ngapain juga bertahan yg ada dapat siksaan aja
Dwi Winarni Wina
cristian bawa zahra pergi jauh daripada disakiti sm akhsan terus...
Dwi Winarni Wina
muncul ulet bulu kegatelan ini🤣🤭
Dwi Winarni Wina
akhsan gak punya hati apa, menyiksa zahra...
Dwi Winarni Wina
sebaiknya pergi yg jauh aja zahra, daripada diperlakukan kayak tahanan...
Dwi Winarni Wina
kejam sekali akhsan sm zahra, zahra istri kamu perlakukan dengan baik..zahra juga tidak bersalah bukan penyebab kematian gea...
𝑸𝒖𝒊𝒏𝒂
klo akhsan disusui mama'y zahra itu sma aja akhsan & zahra saudara sepersusuan & itu hukum'y haram jika mereka brdua menikah
my name is pho: Zahra bukan anak dari mama Hermawan
total 1 replies
Dwi Winarni Wina
Lagian bukan zahra juga penyebab kematian gea kali, seharusnya sadar akhsan menyalahkan zahra teru...
Dwi Winarni Wina
akhsan kejam bingit menuduh zahra penyebab kematian gea, kecelakaan yg menimpa gea karena takdir...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!