Lanjutan dari Novel Pendekar Naga Bintang
Gao Rui hanyalah murid lemah di Sekte Bukit Bintang, bocah yatim berusia tiga belas tahun tanpa latar belakang, tanpa pelindung, dan tanpa bakat mencolok. Setelah gurunya, Tetua Ciang Mu, gugur dalam sebuah misi, hidup Gao Rui berubah menjadi rangkaian hinaan dan penyingkiran. Hingga suatu hari, ia hampir mati dikhianati oleh kakak seperguruannya sendiri. Dari ambang kematian, Gao Rui diselamatkan oleh Boqin Changing, pendekar misterius yang melihat potensi tersembunyi dalam dirinya.
Di bawah tempaan kejam Boqin Changing di dunia khusus tempat waktu mengalir berbeda, Gao Rui ditempa bukan untuk cepat menjadi kuat, melainkan untuk tidak runtuh. Ketika kembali, ia mengejutkan sekte dengan menjuarai kompetisi bela diri dan mendapat julukan Pendekar Naga Bintang. Namun perpisahan dengan gurunya kembali memaksanya berjalan sendiri. Kali ini, Gao Rui siap menghadapi dunia persilatan yang kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Dua Pilar Sekte
Gao Rui dan Tetua Peng Bei melanjutkan perjalanan mereka menyusuri pasar. Kali ini, langkah Gao Rui tak lagi secepat tadi. Setiap kali ia berhenti di sebuah lapak dan pedagang menyebutkan harga, ia akan menoleh lebih dulu ke arah Tetua Peng Bei, seolah mencari konfirmasi diam-diam. Tatapan kecil itu tak pernah luput dari perhatian sang tetua. Kadang Peng Bei hanya mengangguk tipis, kadang menggeleng pelan, dan sesekali mengernyitkan dahi hingga Gao Rui langsung meletakkan kembali barang yang sempat ia pegang.
Pemandangan itu membuat beberapa pedagang jadi jauh lebih berhati-hati. Nama Peng Bei rupanya menyebar cepat. Harga-harga yang disebutkan menjadi jauh lebih “jujur”, bahkan ada yang tergesa-gesa menambahkan, “Harga pasar, Tuan Muda. Tidak dinaikkan.” Gao Rui membeli kain sutra sederhana, beberapa manisan khas Yanjing, kotak kayu berukir, dan beberapa benda kecil lain. Tanpa terasa, cincin ruangnya sudah terisi cukup penuh.
Saat matahari mulai condong dan mereka meninggalkan pasar, Tetua Peng Bei melirik Gao Rui sambil berjalan santai.
“Rui’er,” katanya, “oleh-oleh itu untuk siapa saja?”
Langkah Gao Rui sedikit melambat. Ia terdiam sesaat, wajahnya tampak gugup. Dalam benaknya, ia sadar… ia tidak punya banyak teman di sekte. Setelah ragu sejenak, ia menjawab pelan.
“Untuk… Bibi Ya. Lalu Tetua Agung. Dan… Patriark.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan cepat, “Oh, dan… untuk Tetua Bei juga.”
Tetua Peng Bei tertawa lepas.
“Untuk apa kau membelikan oleh-oleh untukku?” katanya sambil menggeleng. “Kita saja berada di kota yang sama sekarang.”
Wajah Gao Rui langsung memerah.
“A-aku hanya…,” katanya terbata, jelas menyesal telah salah bicara.
Namun Tetua Peng Bei tidak memperpanjang soal itu. Ingatannya justru tertuju pada suatu benda.
“Tadi kau membeli sebuah boneka,” katanya ringan. “Itu untuk siapa? Jangan bilang untukmu sendiri.”
Gao Rui tersentak, lalu menggeleng cepat.
“Bukan,” jawabnya. “Itu… untuk temanku. Xue Yi.”
Tetua Peng Bei tersenyum kecil, senyum penuh makna.
“Oh?” katanya sambil melirik Gao Rui dari ujung mata. “Kalau begitu… apa kau tertarik padanya?”
Langkah Gao Rui langsung tersandung kecil. Wajahnya makin merah, dan ia buru-buru menunduk, tidak tahu harus menjawab apa. Tetua Peng Bei hanya tertawa pelan, langkahnya tetap tenang, sementara senyum tipis di wajahnya tak kunjung hilang.
Gao Rui buru-buru menggeleng, cukup cepat.
“Ti-tidak,” katanya tergesa. “Aku tidak tertarik pada Xue Yi.”
Ucapannya keluar begitu saja, disertai nada penolakan yang jelas. Ia lalu menarik napas, seolah menyadari reaksinya sendiri terlalu berlebihan.
“Hanya saja… belakangan ini kami berteman,” lanjutnya, suaranya lebih pelan. “Memberikan oleh-oleh pada teman… bukan hal yang aneh, bukan?”
Tetua Peng Bei tertawa kecil mendengar itu. Tawanya ringan, tanpa niat menggoda lebih jauh.
“Baik, baik,” katanya sambil mengangkat tangan. “Aku tidak mengatakan apa-apa lagi.”
Ucapan itu justru membuat Gao Rui semakin merasa lega. Langkah mereka kembali tenang, menyusuri jalan batu kota Yanjing yang mulai sepi seiring matahari kian merendah. Tak lama kemudian, gerbang kediaman Keluarga Nao tampak di hadapan mereka.
Setelah memasuki halaman, Gao Rui tidak langsung beristirahat. Ia lebih dulu menemui Nao Jiang. Keadaan pria paruh baya itu sudah jauh lebih baik dibandingkan beberapa hari lalu. Wajahnya tidak lagi pucat, napasnya lebih teratur. Gao Rui mengecek aliran energi dalamnya sejenak, memastikan tidak ada gejolak aneh, lalu mengangguk puas.
“Beristirahatlah dengan baik,” katanya singkat sebelum kembali ke kamarnya sendiri.
Malam itu berlalu dengan tenang. Gao Rui dan Tetua Peng Bei beristirahat dengan baik. Rencananya besok mereka akan kembali ke sekte.
...******...
Pagi berikutnya, suasana kediaman Keluarga Nao terasa berbeda. Nao Jiang sudah mampu bangun dan berjalan perlahan di halaman, meski masih dibantu tongkat sederhana. Ia bahkan melakukan beberapa aktivitas ringan, sesuatu yang sebelumnya terasa mustahil.
Putrinya berdiri tak jauh darinya. Saat melihat ayahnya bisa berjalan dengan kakinya sendiri, air mata mengalir tanpa bisa ditahan. Semua yang terjadi dalam beberapa hari terakhir terasa seperti mimpi baginya.
Sebelum pergi, Gao Rui menyerahkan beberapa botol pil giok.
“Ini untuk pengobatan lanjutan,” katanya tenang. “Konsumsi sesuai urutannya. Jika semua pil ini habis, kondisi Paman Nao akan pulih sepenuhnya, seperti sediakala.”
Nao Jiang menatap botol-botol itu dengan mata bergetar, lalu menangkupkan tangan dalam-dalam. Putrinya ikut membungkuk, menahan tangis haru.
Tak lama setelah itu, Tetua Peng Bei dan Gao Rui pun bersiap pergi. Mereka berpamitan di depan gerbang kediaman. Tetua Peng Bei memandang sahabat lamanya, matanya menyiratkan kelegaan yang tulus.
“Pulihlah dengan baik,” katanya. “Aku ingin mendengar kabar bahwa kau kembali sehat sepenuhnya.”
Nao Jiang mengangguk mantap.
Dengan itu, Tetua Peng Bei dan Gao Rui meninggalkan kediaman Keluarga Nao, melangkah menuju jalan pulang ke sekte, meninggalkan sebuah rumah yang kini dipenuhi harapan baru.
Peng Bei dan Gao Rui meninggalkan kota Yanjing tanpa menunda waktu. Begitu menjauh dari gerbang kota, keduanya langsung mengaktifkan ilmu meringankan tubuh. Langkah mereka menjadi ringan, seolah hanya menyentuh permukaan tanah sebelum melayang kembali ke depan. Pepohonan, sungai kecil, dan jalan pegunungan berlalu cepat di belakang mereka.
Dengan kecepatan seperti itu, perjalanan mereka bisa ditempuh hanya dalam waktu kurang lebih satu hari penuh. Jika tidak ada halanganti, dak ada pertempuran, tidak ada insiden, mereka akan tiba di sekte pada keesokan harinya.
Memang, perjalanan berlangsung tenang. Tak ada penyergapan. Tak ada aura mencurigakan. Bahkan cuaca seolah berpihak pada mereka. Malam hari mereka bergantian beristirahat singkat, lalu kembali melanjutkan perjalanan sebelum fajar menyingsing.
Ketika matahari keesokan harinya naik perlahan di balik pegunungan, gerbang besar sekte akhirnya tampak di kejauhan. Gao Rui menghela napas lega tanpa sadar. Perjalanan ini berjalan terlalu mulus.
Tak lama kemudian, mereka memasuki wilayah sekte dan langsung menuju kediaman Tetua Bei Para murid yang berpapasan memberi hormat, tak menyadari apa pun yang aneh.
Namun langkah Gao Rui mendadak pelan. Di depan kediaman Tetua Bei, dua sosok berdiri dengan tenang. Patriark Li Xuang, dengan jubah panjangnya yang sederhana namun berwibawa, berdiri tegak di halaman. Di sampingnya, Tetua Agung Xu Qung berdiri dengan tangan di belakang punggung, ekspresinya tenang, terlalu tenang.
Gao Rui tertegun. Tetua Peng Bei pun mengurangi kecepatannya, alisnya sedikit terangkat. Keduanya saling pandang sejenak, lalu kembali menatap ke depan. Kehadiran dua tokoh tertinggi sekte itu jelas bukan kebetulan.
Langkah Tetua Peng Bei terhenti sepenuhnya. Senyum santai yang biasanya melekat di wajahnya menghilang tanpa sisa. Matanya menajam, namun di balik ketenangan luar itu, ada getaran halus yang tak bisa sepenuhnya ia sembunyikan.
Dua pilar sekte. Patriark Li Xuang dan Tetua Agung Xu Qung datang bersamaan, berdiri tepat di depan kediamannya.
Peng Bei menarik napas perlahan. Dalam ingatannya, kejadian seperti ini hampir tak pernah terjadi. Jika hanya Patriark, mungkin masih bisa dianggap kunjungan biasa. Jika hanya Tetua Agung, bisa jadi urusan internal. Namun keduanya datang bersama… itu menandakan satu hal. Ada sesuatu yang serius.
Sesuatu yang tidak bisa disampaikan lewat perintah lisan. Sesuatu yang menuntut kehadiran langsung.
Pandangan Peng Bei sempat beralih sekilas ke arah Gao Rui. Wajah pemuda itu masih tampak terkejut, bahkan sedikit tegang, jelas menyadari bahwa situasi di hadapan mereka jauh dari normal.
Naluri Peng Bei langsung bekerja. Ia tahu, jika ada alasan yang cukup besar untuk membuat dua tokoh tertinggi sekte menunggunya di halaman rumah sendiri, maka kemungkinan besar… alasan itu tidak sepenuhnya terpisah dari Gao Rui.