NovelToon NovelToon
Ambisi & Dendam : Ikatan Yang Tak Diinginkan

Ambisi & Dendam : Ikatan Yang Tak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Dark Romance
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dira Lee

PERINGATAN : Harap bijak dalam memilih bacaan.!!! Area khusus dewasa ⚠️⚠️

Jihan dari keluarga konglomerat Alvarezh, yang terpaksa menjadi korban konspirasi intrik dan ambisi kekuasaan keluarganya.

Meski sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya bernama Zeiran Jihan dipaksa menikah dengan William Marculles, CEO dingin dan penguasa korporasi paling ditakuti di dunia.

Pernikahan ini hanyalah alat bagi kakak Jihan, yaitu Rahez, untuk mengamankan ambisi besarnya. sementara bagi William, Jihan hanyalah alat untuk melahirkan pewaris nya demi kelangsungan dinasti Marculles.

Jihan terjebak dalam situasi tragis di mana ia harus memilih antara masa lalu yang penuh cinta bersama Zeiran namun mustahil untuk kembali, atau masa depan yang penuh tekanan di samping William.

Lalu, bagaimana Jihan menghadapi pernikahannya yang tanpa cinta ?

Akankah bayang-bayang Zeiran terus menghantuinya?

Akan kah Jihan membalas dendam kepada kakaknya rahez atas hidupnya yang dirampas?

Ikuti kisah selengkapnya dalam perjalanan penuh air mata dan ambisi ini!

Halo semuanya! 😊
Ini adalah karya pertama yang saya buat. Saya baru belajar menulis novel, jadi mohon maaf jika masih ada kekurangan dalam pemilihan kata atau penulisan.😇

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dira Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 - Batas Kesabaran dalam mobil

Jihan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. matanya mulai terasa berat karena mengantuk. Ia melirik jam di pergelangan tangannya.

"Kenapa lama sekali sih? Seperti tidak ada hari lain saja untuk bermesraan dengan kekasihnya. Aku benar-benar mengantuk," keluh Jihan bergumam pelan, hampir menyerupai bisikan.

Rafael, yang memiliki pendengaran sangat tajam, menangkap setiap kata itu. Ia sedikit terkejut di kursi pengemudi.

Nyonya Jihan menganggap Olivia kekasih Tuan William? Dan dia tidak marah, nona Olivia hanyalah wanita bayaran, dan nyonya Jihan hanya mengeluh mengantuk? batin Rafael bingung.

Jihan kemudian menegakkan duduknya dan menatap Rafael melalui spion tengah. "Rafael? Bisakah kita pulang sekarang? Aku mengantuk sekali, dan di sini banyak kendaraan lain yang menunggu. William bisa menyusul dengan mobil lain, bukan?"

"Maaf, Nyonya. Perintah Tuan William adalah kita harus menunggu" jawab Rafael datar dan tegas.

Jihan mendengus kesal, kembali menyandarkan tubuhnya.

Setelah menunggu waktu yang lama, Jihan melihat pintu restoran terbuka. William akhirnya keluar dari restoran itu.

“Akhirnya. Aku sudah sangat mengantuk.”Jihan bergumam pelan, ekspresinya sangat lega

Pintu mobil terbuka dengan sentakan kasar. William masuk, membawa aroma parfum wanita yang sangat menyengat.

William duduk di samping Jihan, auranya masih gelap dan penuh amarah. "Rafael, jalan sekarang!" perintahnya dingin.

"Baik, Tuan."

Jihan langsung mengernyitkan hidung saat aroma parfum itu menusuk indra penciumannya.

Baunya sangat menyengat. Jelas sekali ini parfum Olivia. Mereka pasti berciuman dan bermesraan setelah aku pergi tadi, batin Jihan sinis.

"Rafael, soal proyek Paris itu. Aku tidak ingin ada penundaan. Pastikan tim audit memeriksa kembali pengeluaran untuk logistik di pelabuhan utara. Aku merasa ada yang tidak beres dengan laporan bulanan mereka. Jika ditemukan kecurangan, pecat semua yang terlibat."

"Baik, Tuan. Saya akan segera menghubungi tim audit di Paris setelah kita sampai di kediaman ," jawab Rafael sigap.

"Bagus. Dan pastikan jadwal keberangkatan jet pribadiku sudah siap besok malam . Aku harus memantau ini secara langsung saat lusa," tambah William

Saat William bergerak mencondongkan tubuhnya untuk mengambil tablet, kerah kemeja putihnya terlihat dengan jelas di bawah lampu mobil yang remang.

Jihan, yang secara tidak sengaja menoleh, terdiam.di kerah putih yang itu, terdapat bekas lipstik merah menyala bekas bibir yang sangat jelas.

Ya Tuhan... Dia bahkan tidak membersihkan bekas ciumannya sebelum masuk ke mobil. Benar-benar menjijikkan.

batin Jihan bergidik ngeri.

Rasa jijik itu membuat Jihan refleks menggeser duduknya lebih merapat ke pintu mobil, menjauh dari William.

Aku benar-benar berharap kau tidak menyentuhku malam ini. Jangan bawa kuman dari wanita itu ke tempat tidurku, pikirnya tajam.

Jihan memalingkan wajahnya sepenuhnya ke arah jendela, menatap kegelapan malam sambil kembali menyalakan ponselnya, mencoba menenggelamkan diri dalam dunia digital.

Sementara itu, William tetap fokus pada tabletnya, jari-jarinya dengan cepat bergerak di atas layar, sama sekali tidak menyadari tanda yang ia bawa di kerahnya.

Setelah menyelesaikan pengecekan singkat di tabletnya, William mematikan layar perangkat itu. Sisa pekerjaan akan ia selesaikan di ruang kerjanya nanti.

Pikirannya kini beralih pada aduan Olivia. Ia tidak suka jika status atau namanya disalahgunakan, apalagi oleh Jihan yang ia anggap hanya sebagai wanita kontrak dan alat pelampiasan dendamnya. Ia tidak ingin Jihan menjadi Olivia kedua yang obsesi padanya ataupun menuntut perasaan yang lebih membuat dirinya pusing.

William melirik tajam ke arah Jihan yang masih asyik dengan ponselnya. "Jihan, dengarkan baik-baik. Apa pun yang terjadi hari ini, besok, dan seterusnya yang berkaitan denganku, itu bukan urusanmu," ucap William dingin.

Jihan tidak menoleh sedikit pun. Matanya tetap fokus pada layar ponsel, jemarinya bergerak cepat.

"Pernikahan ini hanyalah kontrak. Tidak ada tuntutan perasaan ataupun emosional apa pun di dalamnya," tegas William lagi, suaranya memberat.

"Aku tahu," jawab Jihan singkat, masih tanpa menoleh.

Reaksi acuh tak acuh Jihan memicu amarah William. Dengan gerakan kilat, William menyambar ponsel itu dari tangan Jihan.

“Dengarkan jika aku bicara!" bentak William dengan nada tinggi. "Dan kau! Jangan pernah lancang menggunakan status dan namaku untuk menindas orang lain!"

Jihan tersentak, tangannya yang kosong kini mengepal. Ia menatap William dengan tatapan kesal. "Kembalikan ponselku. Aku bilang aku tahu! Aku tidak pernah menggunakan statusmu, namamu, apalagi menindas orang lain."

William mendengus kasar. "Cih, pembohong! Kau pikir aku tidak tahu kau mengancam Olivia? Kau menindasnya dan menyuruhnya merapikan gaunmu dengan membawa-bawa namaku. Kau ternyata sedang mencoba mempertahankan posisimu, padahal kau tahu kau hanyalah alat di sini."

Jihan merasa darahnya mendidih, menahan emosi. Ia menduga Olivia akan mengadu dengan cerita yang dilebih-lebihkan, dan tentu saja William akan membela wanita itu. “Jika orang yang kau maksud adalah Olivia, aku tidak tahu apa yang dia ceritakan padamu. Tapi aku tidak mengancamnya atau menindasnya!"

"Kau menyuruhnya mengurus gaunmu menggunakan namaku!" William menekan kalimatnya. Ia sebenarnya tidak berniat membela Olivia, ia hanya muak jika Jihan merasa memiliki kuasa atas namanya.

Jihan terdiam sesaat, menatap William dengan sinis. Ia yakin William hanya tidak terima kekasihnya diperintah olehnya. "Dia yang mencoba merendahkanku terlebih dahulu. Aku hanya membalasnya," sahut Jihan tajam.

William semakin kesal. Baginya, Jihan tidak punya hak untuk melibatkan dirinya dalam drama apa pun yang menyeret namanya. Ia tidak ingin ada perasaan atau keterlibatan yang lebih dalam.

Jihan tiba-tiba mengulurkan tangannya dan merebut ponselnya kembali sekuat tenaga dari genggaman William. "Jika dia tidak ingin disinggung, katakan padanya jangan menyenggolku terlebih dahulu! Aku tidak akan mengganggu hubungan kalian, tapi pastikan wanita itu tidak menggangguku!"

William mengernyitkan dahi sejenak, bingung karena Jihan menduga Olivia adalah kekasihnya. Namun, ia segera menepis pikiran itu. Yang penting baginya Jihan harus tau posisinya.

"Jaga bicaramu! Jangan kurang ajar dan ikuti aturanku!" desis William sambil menunjuk wajah Jihan. "Ingat Jihan, jangan pernah membawa masalah yang menyeretku atau mengganggu stabilitas pekerjaanku. Kau tidak lebih dari sekadar alat yang bisa kuhancurkan kapan saja."

Jihan tertawa sinis. Ia menatap William dengan berani, tidak lagi menunjukkan ketakutan yang biasanya diharapkan pria itu.

"Aku sudah mengikuti semua aturanmu, William. Aku bahkan dipaksa mempelajari aturan-aturan konyol Marculles itu selama berhari-hari. Itu membuatku harus menunda semua pekerjaanku di luar sana!" ucap Jihan dengan nada menantang.

Mendengar kata konyol keluar dari mulut Jihan, William murka. Matanya berkilat penuh amarah, ia mencengkeram lengan kursi mobil hingga buku jarinya memutih.

"BERANINYA KAU!!… meremehkan aturan Marculles dan menganggapnya konyol!" bentak William, suaranya menggelegar hingga membuat Rafael di kursi depan sedikit tersentak. "Aku yang memiliki hak atas hidupmu! Aku yang mengatur setiap langkahmu! Dan ingat, pekerjaan utamamu bukanlah yang kau lakukan di luar sana, tapi mengandung anakku! Itulah alasannya kenapa kau berada disini"

Jihan tidak mau kalah. Rasa sesak karena hidupnya dikendalikan olehnya membuatnya meledak. "Aku hanya ingin melakukan pekerjaanku! Di dalam aturan tertulis yang kau berikan, tidak ada larangan untuk itu! Aku sudah mempelajari setiap poinnya, aku melakukan apa yang kau mau, dan besok aku akan pergi melakukannya!"

William menyeringai kejam. Keberanian Jihan yang terus-menerus menjawabnya alih-alih menunduk ketakutan membuat harga dirinya terusik. "Kau tidak mendapatkan izin dariku. Besok, kau tetap di mansion. Kau tidak akan pergi ke mana pun."

Jihan menoleh dengan tajam, matanya memancarkan api kemarahan. "Apa maksudmu? Itu tidak tertulis dalam aturan! …“

William tiba-tiba memegang keningnya, tampak sangat lelah sekaligus muak dengan perdebatan ini.

Jihan masih tidak terima, Suaranya melengking.“ Kau tidak bisa melarangku tanpa alasan yang jelas! Dan aku akan —“

"Aku memiliki hak atas dirimu!" potong William dengan suara tinggi yang mengancam. "Aku adalah aturan hidup yang harus kau patuhi, Jihan. Jika aku bilang tidak, maka jawabannya adalah tidak!"

Jihan baru saja akan membuka mulut untuk membalas, namun William tiba-tiba menatap Jihan dengan pandangan mematikan.

"Satu kata lagi keluar dari mulut kurang ajarmu itu, Jihan... aku bersumpah akan menghukummu dengan cara yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu," ancam William, suaranya bergetar karena menahan emosi yang hampir meledak.

William memalingkan wajah, pikirannya berputar mencari cara untuk menekan mental Jihan lebih dalam lagi. Ia harus memastikan wanita ini tidak lagi memiliki keberanian untuk bicara kurang ajar atau melawan dirinya. Di matanya, Jihan harus dihancurkan secara mental hingga ia hanya menjadi wanita penurut yang tidak memiliki suara.

Jihan diam sejenak tapi tetap pada pendiriannya. Ketakutan akan kondisi Jinan yang sedang berjuang antara hidup dan mati jauh lebih besar daripada ketakutannya pada ancaman William. Ia tidak bisa lagi hanya diam menjadi tawanan di bawah aturan yang mencekik lehernya.

"Terserah! Aku akan tetap melakukan apa yang kuinginkan besok tanpa izin dari siapa pun! Aku akan kembali satu jam sebelum matahari terbenam, itu yang tertulis di aturanmu!" seru Jihan sambil menyilangkan tangan di dada dan membuang muka ke arah jendela, mencoba menegaskan bahwa ia masih memiliki kendali atas hidupnya sendiri.

Mendengar itu, wajah William mengeras. Urat-urat di leher dan keningnya menonjol, menunjukkan emosi yang sudah di puncak ubun-ubun. Egonya setinggi langit tersentil hebat, selama ini tidak ada satu pun orang yang berani membantah perintahnya, apalagi meremehkan otoritasnya secara terang-terangan.

1
Eva Rosita
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!