Nara Amelinda dan Arga Wiratama dipaksa menikah demi janji lama keluarga, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Namun hidup serumah yang penuh pertengkaran konyol justru menumbuhkan perasaan tak terduga—membuat mereka bertanya, apakah pernikahan ini akan tetap sekadar paksaan atau berubah menjadi cinta sungguhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Invasi Barang Random dan Diplomasi Estetika
Jika apartemen Arga Wiratama dulunya adalah sebuah kuil minimalis yang melambangkan ketertiban dunia, maka hari ini tempat itu resmi dinyatakan sebagai zona bencana oleh pemiliknya sendiri.
Tiga jam setelah insiden "Pagi yang Canggung", tiga truk pindahan berhenti di depan lobi. Nara Amelinda tidak hanya pindah membawa baju tapi ia membawa seluruh peradaban hidupnya yang penuh warna, bulu-bulu sintetis, dan benda-benda yang menurut Arga tidak memiliki fungsi mekanis apa pun.
"Nara," panggil Arga yang berdiri di tengah ruang tamu dengan tangan bersedekap.
"Bisa jelaskan secara logis kenapa kita butuh bantal berbentuk paha ayam goreng berukuran satu meter di dalam ruangan yang mengusung tema industrial-modern?"
Nara, yang sedang berusaha menyeret koper merah mudanya, mendongak.
"Itu namanya 'Poultry Pillow', Arga! Itu bantal penenang. Kalau aku lagi stres dikultum sama kamu, aku butuh meluk paha ayam itu buat ngerasain kehangatan dunia."
"Itu polusi visual," sahut Arga datar.
"Dan apa ini?" Arga menunjuk sebuah benda plastik berwarna kuning mencolok yang berbentuk bebek.
"Itu dispenser tisu!"
"Kita sudah punya dispenser tisu dari baja antikarat di dinding."
"Tapi itu nggak bisa bunyi 'kwek' kalau ditarik! Yang ini bisa! Hidup itu butuh hiburan, Pak Audit, bukan cuma butuh baja antikarat!"
Proses pindahan berubah menjadi negosiasi sengketa wilayah. Arga bersikeras bahwa setiap barang yang masuk harus melewati
"Audit Kegunaan".
"Poin nomor 14," ujar Arga sambil memegang buku catatannya.
"Koleksi mug bergambar kucing dengan ekspresi menghakimi ini... jumlahnya dua belas. Kita hanya dua orang. Secara statistik, kita hanya butuh empat mug maksimal. Sisanya adalah pemborosan ruang."
Nara merebut mug tersebut.
"Ini koleksi terbatas! Setiap kucing punya nama! Ini Si Belang, ini Si Oyen, dan yang ini namanya Arga Kecil karena mukanya mirip kamu kalau lagi marah!"
Arga menatap mug bergambar kucing pemarah itu.
"Saya tidak merasa memiliki kemiripan anatomi dengan kucing ini."
"Mirip! Lihat tuh, alisnya ngerutin satu, matanya tajam, terus mulutnya garis lurus kayak penggaris besi. Fix, ini kamu versi anabul!"
Nara kemudian mulai mengeluarkan koleksi skincare-nya yang berjumlah puluhan botol. Ia menjajarkannya di atas meja wastafel kamar mandi Arga yang tadinya hanya berisi satu botol sabun wajah, satu botol parfum, dan sikat gigi.
"Nara, wastafel ini dirancang untuk ergonomi satu orang. Sekarang tempat ini terlihat seperti toko obat di pasar tradisional," keluh Arga yang muncul di ambang pintu kamar mandi.
"Ini namanya investasi masa depan, Arga! Kalau muka aku glowing, kamu juga yang seneng kan pas foto-foto buat pamer ke keluarga?" Nara membalikkan badan, memegang dua botol serum.
"Coba pegang deh, ini teksturnya enak banget."
Nara mencoba menjangkau rak paling atas di kamar mandi untuk menaruh koleksi maskernya, namun kakinya berjinjit dan ia kehilangan keseimbangan karena lantai yang sedikit licin.
"Aduh!"
Nara tergelincir ke belakang. Ia sudah siap merasakan kerasnya lantai porselen, namun alih-alih lantai, ia merasakan sepasang lengan yang kokoh menangkap pinggangnya.
Arga berada tepat di belakangnya. Refleks sang auditor ternyata jauh lebih cepat daripada kalkulasinya. Nara terjatuh tepat di pelukan Arga, punggungnya menempel rapat di dada bidang suaminya.
Suasana mendadak senyap hanya ada suara tetesan air dari keran dan deru napas Arga di dekat telinga Nara.
"Secara gravitasi," bisik Arga, suaranya rendah dan dalam, membuat bulu kuduk Nara meremang,
"kamu seharusnya memastikan titik tumpu kaki kamu stabil sebelum mencoba mencapai ketinggian yang melebihi jangkauan lenganmu."
Nara menelan ludah. Ia tidak berbalik, tapi ia bisa merasakan panas tubuh Arga menembus piyamanya. Tangan Arga yang melingkar di pinggangnya tidak segera dilepaskan. Justru, Arga sedikit mempererat pegangannya untuk memastikan Nara benar-benar stabil.
"Makasih," cicit Nara pelan.
"Lain kali aku pakai tangga."
"Lain kali, panggil saya," sahut Arga.
Ia memutar tubuh Nara agar menghadapnya. Jarak mereka sangat dekat di dalam kamar mandi yang sempit itu. Arga menunduk, menatap mata Nara, lalu tangannya terangkat untuk menyelipkan helai rambut Nara yang keluar dari jepitan ke belakang telinga.
Jari Arga yang dingin menyentuh kulit leher Nara, menimbulkan sensasi kejut yang aneh. Nara merasa jantungnya mulai melakukan overclocking lagi.
"Kamu... kamu mau ngapain?" tanya Nara gugup, matanya melirik ke bibir Arga.
Arga menatap mata Nara dalam-dalam, lalu perlahan ia mendekatkan wajahnya. Nara memejamkan mata, mengira akan ada momen "lanjutan" dari malam tadi.
Namun, Arga justru melewati wajah Nara dan mengambil botol pembersih lantai di rak belakangnya.
"Saya mau menyingkirkan botol ini. Menghalangi akses," ujar Arga dengan wajah paling lempeng sedunia.
Nara membuka mata dan langsung mendorong dada Arga.
"ARGA!!! KAMU BENER-BENER YA! Ngerusak suasana lagi!"
Arga menaikkan sebelah alisnya, meski ada kilatan jenaka di matanya yang ia sembunyikan.
"Suasana apa? Kita sedang dalam misi pindahan, Nara. Fokus pada target."
Keluar dari kamar mandi, Nara memutuskan untuk melakukan "balas dendam" estetika. Ia membentangkan karpet bulu berwarna merah muda mencolok di tengah ruang tamu Arga yang bernuansa abu-abu monokrom.
"Nara, karpet itu merusak skema warna ruangan ini," protes Arga yang baru saja keluar membawa sapu.
"Ini namanya Pop of Color, Arga! Biar apartemen ini nggak kelihatan kayak set film horor tahun 40-an. Dan lihat ini!"
Nara memasang stiker bintang-bintang yang bisa menyala dalam gelap (glow in the dark) di langit-langit ruang tamu.
Arga memijat pangkal hidungnya.
"Kenapa saya merasa sedang tinggal di kamar anak TK?"
"Karena kamu terlalu serius! Sini, duduk." Nara menarik tangan Arga untuk duduk di atas karpet bulu yang baru ia pasang.
"Saya punya kursi ergonomis seharga dua puluh juta, kenapa saya harus duduk di lantai yang ditutupi bulu domba palsu?"
"Duduk aja!"
Arga akhirnya duduk dengan kaku, punggungnya tegak seolah sedang disidang. Nara duduk di sampingnya, lalu menyalakan sebuah lampu proyektor kecil yang mengeluarkan gambar planet-planet ke seluruh ruangan.
"Lihat, Arga. Bagus, kan? Kalau malem kita bisa lihat bintang tanpa harus keluar."
Arga menatap langit-langit yang kini dipenuhi proyeksi galaksi. Untuk pertama kalinya, ia tidak mengeluarkan rumus astronomi atau membicarakan polusi cahaya. Ia hanya diam, melihat bagaimana cahaya biru dan ungu itu memantul di mata Nara yang berbinar.
"Ini... tidak terlalu tidak efisien," gumam Arga pelan.
Malam itu, apartemen Arga sudah berubah drastis. Ada bantal paha ayam di sofa, dispenser bebek di meja makan, dan aroma stroberi yang kini secara resmi mengalahkan aroma "rumah sakit" Arga.
Arga berdiri di balkon, melihat Nara yang tertidur pulas di sofa karena kelelahan pindahan, memeluk bantal kucing pemarah yang katanya mirip dirinya.
Arga berjalan masuk, lalu menyelimuti Nara dengan selimut wol miliknya. Ia menatap dispenser bebek di meja makan, lalu menarik tisunya satu kali.
"Kwek!"
Arga terdiam, menatap bebek plastik itu dengan ekspresi serius. Ia menariknya sekali lagi.
"Kwek!"
"Menarik secara akustik," gumamnya pelan.
Ia kemudian duduk di kursi kerjanya, membuka laptop, dan mengetik sebuah dokumen baru. Bukannya laporan keuangan, judul dokumen itu adalah:
PROTOKOL HIDUP BERSAMA NARA VOL.1
Poin 1: Biarkan karpet merah muda itu tetap di sana. Secara psikologis, warna tersebut meningkatkan hormon kebahagiaan subjek (Nara).
Poin 2: Terima keberadaan bantal paha ayam. Berguna sebagai bantalan tambahan saat subjek tidur tidak beraturan.
Poin 3: Jangan mencoba melakukan kontak fisik di kamar mandi jika tidak siap dengan kenaikan detak jantung yang tidak terduga.
Arga melirik ke arah Nara yang sedang mengigau pelan, lalu ia tersenyum tipis, kali ini tanpa ada kamera yang melihat. Sepertinya, invasi barang-barang random Nara tidak hanya menjajah apartemennya, tapi juga mulai menjajah sistem logika di kepalanya.