NovelToon NovelToon
One Piece: Legenda Spider Fruit

One Piece: Legenda Spider Fruit

Status: sedang berlangsung
Genre:One Piece / Kelahiran kembali menjadi kuat / Reinkarnasi
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Kenji Arashi terbangun di dunia One Piece setelah kematian yang tak masuk akal.
Tanpa sistem, tanpa takdir istimewa, ia justru mendapatkan Buah Iblis Web Web no Mi—kekuatan jaring laba-laba yang memberinya refleks, insting, dan mobilitas layaknya Spiderman.
Di lautan penuh monster, bajak laut, dan pemerintah dunia, Kenji memilih jalan berbahaya: bergabung sebagai kru resmi Topi Jerami, bertarung di garis depan, dan tumbuh bersama Luffy dari awal hingga akhir perjalanan.
Di antara jaring, Haki, dan takdir laut, satu hal pasti—
legenda baru saja di mulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Menuju Alubarna

Kami berlari sekuat tenaga melintasi gurun pasir yang panas. Matahari Alabasta menyengat kulit, tapi tidak ada yang peduli. Ledakan demi ledakan terdengar dari arah Alubarna, semakin keras seiring kami mendekat.

"Lebih cepat! Lebih cepat!" Vivi terus berteriak sambil berlari, air mata mengalir di pipinya. "Kumohon... jangan sampai terlambat..."

Luffy berlari paling depan dengan ekspresi serius yang jarang terlihat. "Kita akan sampai tepat waktu, Vivi! Aku janji!"

Setelah berlari hampir tiga puluh menit, kami akhirnya melihat siluet kota Alubarna di kejauhan.

Dan pemandangan yang kami lihat... mengerikan.

Alubarna dalam kekacauan total.

Ribuan orang bertarung di jalanan—pemberontak melawan tentara kerajaan. Suara teriakan, jeritan, dan dentuman senjata memenuhi udara. Bangunan terbakar. Asap hitam mengepul di mana-mana.

"TIDAK!" Vivi jatuh berlutut, menatap kota dengan horror. "Mereka... mereka saling membunuh..."

Ini persis seperti yang Crocodile inginkan. Perang saudara yang akan melemahkan Alabasta dari dalam.

"Vivi..." Nami berlutut di samping Vivi, memeluknya.

Tapi Vivi tiba-tiba berdiri, mengepalkan tinjunya. "Aku... aku harus menghentikan ini! Aku harus bilang ke semua orang bahwa ini semua salah paham! Bahwa Crocodile adalah musuh sebenarnya!"

Dia mulai berlari ke arah medan pertempuran!

"Vivi! Tunggu!" Usopp berteriak. "Itu terlalu berbahaya!"

Tapi Vivi tidak peduli. Dia terus berlari dengan air mata mengalir.

"BERHENTI! KALIAN SEMUA BERHENTI!" teriaknya sekeras mungkin.

Tapi suaranya tenggelam dalam kekacauan pertempuran. Tidak ada yang mendengarnya.

Seorang pemberontak mengayunkan pedang ke arah tentara kerajaan—

"BERHENTI!" Vivi berlari ke tengah mereka!

"VIVI!" kami semua berteriak bersamaan.

Spider Sense ku berdering keras! Vivi dalam bahaya!

Tanpa berpikir, aku menembakkan web dengan kecepatan penuh!

THWIP!

Web mengenai Vivi dan menariknya mundur tepat sebelum pedang pemberontak mengenainya!

Vivi tersandung mundur, jatuh ke pasir sambil terengah-engah.

"Vivi!" Nami dan Chopper langsung berlari ke arahnya.

Luffy berdiri di depan Vivi, membelakangi medan pertempuran. Dia menatap Vivi dengan serius.

"Vivi," katanya dengan suara rendah. "Kau tidak bisa menghentikan mereka sendirian."

"Tapi... tapi aku harus mencoba!" Vivi menangis. "Mereka rakyatku! Aku tidak bisa membiarkan mereka saling membunuh!"

"Aku tahu," Luffy mengangguk. "Tapi berteriak di tengah pertempuran tidak akan mengubah apapun. Mereka tidak akan dengar."

Vivi terdiam, air mata terus mengalir.

Luffy berjongkok, menatap mata Vivi. "Kau bilang Crocodile ada di istana, kan?"

Vivi mengangguk pelan.

"Kalau begitu, kita harus kalahkan dia," kata Luffy dengan mantap. "Selama Crocodile masih hidup, pertempuran ini tidak akan berhenti. Dia yang membuat semua ini terjadi. Jadi kita harus hentikan dia dulu."

"Tapi... rakyatku..."

"Percaya pada rakyatmu," kata Luffy sambil tersenyum. "Mereka kuat. Mereka akan bertahan. Dan setelah kita kalahkan Crocodile, kau bisa jelaskan semuanya pada mereka."

Vivi menatap Luffy dengan mata berkaca-kaca. Perlahan, dia mengangguk.

"...Baiklah. Kita kalahkan Crocodile."

"Itu baru semangatnya!" Luffy tersenyum lebar.

Zoro melangkah maju, menatap kota yang kacau. "Jadi rencana kita apa? Kita tidak bisa menembus medan pertempuran itu dengan mudah."

"Aku punya ide," kataku sambil menatap bangunan-bangunan tinggi di Alubarna. "Kita tidak perlu melewati jalanan. Kita bisa lewat atap."

"Atap?" Usopp mengikuti pandanganku. "Oh! Spider-Man style!"

"Exactly," aku mengangguk. "Aku bisa bawa kalian berayun dari gedung ke gedung sampai ke istana. Lebih cepat dan menghindari pertempuran di bawah."

Sanji menyalakan rokok. "Ide bagus. Tapi ada masalah—kita berdelapan. Kau bisa bawa semua orang sekaligus?"

Aku berpikir sejenak. "...Mungkin tidak sekaligus. Tapi dua-tiga orang dalam satu trip seharusnya bisa."

"Kalau begitu kita bagi kelompok," Zoro mengusulkan. "Luffy, Vivi, dan Kenji grup pertama. Kalian yang paling harus cepat sampai ke Crocodile."

Nami mengangguk. "Aku, Sanji, dan Usopp grup kedua. Chopper dan Zoro grup ketiga."

"Tunggu, kenapa aku sama Zoro?!" Chopper protes.

"Karena Zoro paling berat," Sanji nyengir. "Kau ringan jadi bisa balance beratnya."

"SIAPA YANG KAU BILANG BERAT?!" Zoro menggeram.

"Sudah sudah!" Luffy memotong pertengkaran mereka. "Kita tidak punya waktu! Kenji, ayo mulai!"

Aku mengangguk. "Luffy, Vivi, pegang erat-erat!"

Luffy langsung merentangkan tangannya jadi panjang dan melilit pinggangku. Vivi memeluk punggungku dengan erat—wajahnya sedikit memerah.

"Si-siap," katanya pelan.

Aku mengambil napas dalam-dalam, fokus pada gedung tertinggi di kejauhan.

"Hang on tight!"

THWIP!

Aku menembakkan web ke menara jam di tengah kota!

Web menempel kuat!

"Here we go!"

Aku menarik web dengan kekuatan penuh—dan kami meluncur ke udara!

"WOOOOHOOO!" Luffy berteriak excited sementara Vivi berteriak ketakutan.

Angin menerpa wajah kami saat kami berayun tinggi di atas kota!

Di bawah, pertempuran masih berlangsung—tapi dari ketinggian ini, kami bisa hindari semua itu!

Aku melepas web pertama dan langsung menembak web kedua ke gedung berikutnya!

THWIP! SWING! THWIP! SWING!

Kami berayun dari gedung ke gedung dengan kecepatan tinggi!

"Ini keren!" Luffy tertawa. "Kenji! Bisa lebih cepat?!"

"Luffy! Ini sudah cukup cepat!" Vivi berteriak sambil memeluk lebih erat.

Setelah beberapa kali swing, kami mendarat di atap gedung dekat istana.

"Sampai!" aku berkata sambil menurunkan mereka berdua.

Vivi langsung jatuh duduk dengan kaki gemetar. "Aku... aku tidak akan pernah terbiasa dengan itu..."

Luffy tertawa. "Ayo Vivi! Masih ada jarak lagi ke istana!"

Sementara Luffy dan Vivi menunggu, aku langsung melompat kembali untuk menjemput grup kedua.

Tiga kali trip bolak-balik, akhirnya semua orang sampai di atap dekat istana.

"Hah... hah..." aku terengah-engah. Membawa semua orang berayun berkali-kali menguras banyak stamina.

"Kau tidak apa-apa, Kenji?" Chopper khawatir.

"Aku baik... hanya perlu... napas sebentar..."

Nami memberiku air. "Minum dulu."

Aku meneguk air dengan cepat, merasa sedikit lebih baik.

Dari atap ini, kami bisa melihat istana kerajaan dengan jelas. Bangunan megah dengan kubah emas—tapi sekarang terlihat suram dengan asap di sekitarnya.

"Di situlah Crocodile," Vivi berkata dengan tegang. "Dia pasti ada di ruangan takhta. Di sanalah... ayahku."

"Kalau begitu kita serbu sekarang!" Luffy sudah siap melompat.

Tapi Spider Sense ku tiba-tiba berdering!

"Tunggu! Ada sesuatu—"

WHOOOOSH!

Angin kencang tiba-tiba menerpa kami dari samping!

"Apa itu?!" Usopp berteriak.

Dari arah istana, muncul sosok yang terbang—tidak, bukan terbang. Dia berdiri di atas pasir yang melayang di udara!

Sosok dengan coat bergambar buaya. Wajah dengan bekas luka horizontal. Memegang cerutu dan hook emas di tangan kiri.

Crocodile.

Dan di sebelahnya, Robin—Nico Robin—dengan ekspresi tenang.

"Jadi kalian akhirnya sampai juga," kata Crocodile dengan senyum dingin. "Straw Hat Luffy dan kawan-kawan. Dan... Putri Vivi."

Vivi mengepalkan tinjunya, menatap Crocodile dengan mata penuh kebencian. "CROCODILE! Di mana ayahku?! Apa yang kau lakukan padanya?!"

Crocodile tertawa—suara yang membuat bulu kuduk berdiri. "Raja kalian? Oh, dia masih hidup... untuk saat ini. Aku masih membutuhkannya untuk sesuatu."

"Bajingan!" Sanji mengeram.

"Tapi sayangnya," Crocodile melanjutkan sambil menatap kami satu per satu, "kalian tidak akan pernah sampai ke istana. Karena..."

Pasir di sekitar kami mulai bergerak!

Tanah di bawah kaki kami berubah jadi pasir!

"Ini kemampuan Suna Suna no Mi ku," Crocodile tersenyum jahat. "Di negara gurun ini, aku tidak terkalahkan!"

Pasir tiba-tiba menarik kami ke bawah seperti quicksand!

"Apa?!" Zoro mencoba melompat tapi kakinya tersangkut!

Kami semua tenggelam perlahan!

"Sabil!" (Desert Spada!)

Crocodile mengayunkan tangannya—dan pisau pasir raksasa melesat ke arah kami!

Pertarungan melawan Crocodile... dimulai sekarang!

1
Bayu Setiawan
awal mula yang cukup bagus👍
Tiara Fani
cerita nya bagus
Tiara Fani
aku suka kok
Wahyu🐊
Oy kok Sepiii
Wahyu🐊
Semoga Kalian Suka Sama Karya ku ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!