Elaine seorang mahasiswi kedokteran memiliki perasaan yang mendalam pada seorang pria adi kuasa, Killian. Salah satu pria dari kaum elite global. Yang bekerja sama dengan para mafia untuk menjalankan bisnis kotornya.
Damian. Kakaknya bekerja di interpol untuk menyelidiki masa lalu kematian orang tua mereka. Saat ia mengetahui adiknya memiliki hubungan khusus dengan anggota elite global dan mafia. Elaine harus memutuskan akan berdiri melindungi kekasihnya atau kakaknya, keluarga satu-satunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 : Pencarian
El seorang diri menunggu diruang kerja kakaknya. Ini kali ketiga untuknya berada diruangan itu. Besok dia sudah harus kembali ke Malice.
Matanya tertuju pada sebuah laci. Kuncinya tergantung di sana dengan sebuah bandulan yang tak asing baginya. Ia membuka laci tersebut, penasaran akan isi didalamnya. Hanya sebuah map dengan banyak biodata pribadi. Beberapa data nama dengan keterangan suspect dan unsuspect.
Sorot matanya terpaku pada nama yang tak asing baginya, terdapat juga photo pria itu. Lyxander Valeraine, usia 29 tahun. Pekerjaan CEO konstruksi dan profesi legal hukum. Ia makin terperanjat pada sosok wajah lainnya. Pria yang bersamanya saat kebakaran juga ada didalam berkas tersebut. Killian Vane, usia 29 tahun. Pekerjaan CEO Vane Group.
“Namamu Killian.” Ucap El mengusap photo pria tersebut.
El kembali membaca semua berkas tersebut. Setidaknya ada lebih dari 50 data pribadi di dalam dokumen tersebut. Dari data pekerjaan, dapat dipastikan bahwa mereka semua adalah golongan orang kaya dan adikuasa di suatu wilayah.
CKLEEEKK
El bergegas menaruh berkas itu dan mengunci kembali lacinya.
“Maaf kau menunggu lama.” Sapa Damian.
El hanya tersenyum, “Ternyata masih kau simpan?” Sahut El mengayunkan bandul kunci laci tadi.
“Kado pertama dari mu. Mana mungkin aku menghilangkannya.” Sahut Damian dan meraih kunci laci itu, “Dimana Glenn?”
“Dia dirumah. Aku menyetir mobil sendiri kesini.” Jawab El, “Besok aku akan kembali ke Malice kak. Ada beberapa barang yang aku butuhkan dan aku mau menghabiskan waktu bersama mu.” Lanjut El saat sang kakak ingin menegur adiknya yang mengendarai mobil seorang diri untuk kekantor nya.
...****************...
“Namanya Elaine Eloise usia 23 tahun. Dua bersaudara yang bersamanya tadi adalah kakaknya Glenn Eloise.” Jelas Hansen pada Lian dengan menyerahkan Tablet.
Hansen mendapat perintah dari Lian saat dirumah sakit tadi untuk mengikuti wanita itu. Sangat mudah bagi mereka mendapatkan informasi tersebut. Namun mereka jelas tidak mengetahui fakta mengenai Damian Eloise adalah salah satu keluarga mereka terlebih kakak kandung Elaine. Identitas Damian sebagai agen rahasia sudah dihapuskan oleh negara.
Data kependudukan menginformasikan bahwa Glenn Eloise adalah kakak dari Elaine Eloise. Semua sudah diatur oleh Damian demi keamanan sang adik.
“Malice. Jadi dia sekarang menetap di Malice.” Ucap Lian, menatap photo diri Elaine di layar Tablet itu.
“Ya… dia kuliah disana, kau mengincar seorang dokter Lian. Dia adalah pasien dan kolega dokter Daniel tadi.”
Lian tersenyum miring. Tak menyangka dunia ini terlalu sempit. Sebelumnya ia tak yakin akan dapat menemukan wanita itu. Hanya bermodalkan sorot mata dan aroma tubuh, tak disangka ia dapat menemukan keberadaan wanita itu bahkan dengan mudahnya meski memakan waktu.
“Jam berapa kita kembali?” Tanya Hansen kembali.
“Sekarang.” Ucap Lian beranjak berdiri dan menyerahkan Tablet itu kembali.
(Apartemen Elaine di Malice)
“Aah… lelah nya.” Ucap El saat itu merenggangkan punggungnya diatas sofa.
“Aku yang menyetir selama 4 jam El.” Balas Glenn dengan mengambil sekaleng bir di dalam kulkas, “Apa besok kau sudah mulai masuk kuliah?”
“Ya…” Jawal El pelan, ia sudah mengantuk. Saat itu sudah tengah malam. Perlahan matanya terpejam.
“Tidurlah dikamar mu. Aku tidak mau mengangkat mu nanti.” Glenn menggoyang pelan kaki wanita itu.
“Sebentar…” Rengeknya.
Glenn tak mengganggunya lagi. Ia berlalu menuju kamar tamu dan bergegas mandi untuk melepaskan penatnya.
Satu jam lebih sudah berlalu. Glenn kembali keluar dari kamar tidur dan wanita itu masih tertidur disofa itu. Lengkap dengan sepatunya. Glenn tahu selama di Amber city wanita itu disibukkan dengan tugas kuliah hingga mengabaikan waktu tidurnya.
Glenn menunduk untuk melepas sepatu El. Pada akhirnya ia akan menggendong El kembali kekamarnya.
Di samping tempat tidur mata Glenn tertuju pada tempat sampah. Semua photo dirinya bersama Samiel, kekasihnya dulu sudah ia buang. Terlihat sudut bibir Glenn tersenyum kecil. Sejujurnya pria itu senang jika Elaine berpisah dari Samiel. Hubungan mereka kandas setelah satu tahun lebih berlangsung.
Glenn menyelimuti tubuh El. Mematikan lampu kamar itu dan berlalu kembali ke kamar tidurnya.
“Gleeenn bangun.” El berteriak heboh dan langsung masuk begitu saja kedalam kamar tamu, “Aku kesiangan. Antar aku cepat.” Buru El kembali dengan mengguncang lengan pria itu.
“El… kau masuk begitu saja ke kamar seorang pria. Apa tidak takut? Sopan lah sedikit.” Tegur Glenn yang masih berat membuka matanya.
“Takut? Sopan? Padamu?” El tertawa, “Kau… banguuuun… cepat…” El menarik lengan pria itu lagi yang justru Glenn menarik kencang lengan El dan memeluknya berbaring.
“Jadi kau tidak takut padaku?” Ujar Glenn menindih tubuh wanita itu dibawahnya.
“Ka-kau mau apa?” Gugup El.
Glenn terdiam cukup lama menatap wanita itu. Ia mencintainya sebagai wanita, bukan sebagai adik. Namun ia tak mungkin mengungkapkan itu semua setelah kehidupan lama yang mereka lalui bersama. Degup jantungnya berdetak tak karuan.
“Kenapa aku harus mengantar mu?” Glenn melepas El dan kini duduk dipinggir kasurnya,
“SIM ku ditahan.” Ujarnya mengeluh.
“Bagaimana bisa?”
“Aku beberapa kali menerobos lampu merah. Dan menghindari kejaran polisi.”
“A-apa?” Glenn tak percaya mendengarnya.
“Aku tidak tahu mereka ternyata mengejar ku sampai kerumah sakit dan apartemen. Mencari ku dan menahan SIM ku.”
Glenn takjub menggelengkan kepalanya, “Kau luar biasa. Aku rasa kakakmu belum tahu.”
“Kakak ku sekarang kau.” Senyum El, “Kau yang paling baik sedunia tidak tega melihatku dimarahi pria kejam itu.” El melompat untuk memeluk Glenn, “Sekarang antar aku kakak ku sayang, aku sudah telat. Pakai baju mu. Dan jangan lupa tolong urus SIM ku nanti ya kakak ku tertampan didunia.”
Begitulah. Pada akhirnya setiap El membuat masalah maka Glenn yang akan menyelesaikannya. El selalu terbuka pada Glenn. Bahkan untuk dekat dengan pria sekalipun, ia akan memberitahukannya pada Glenn. Termasuk saat putus dari Samiel, ia menghabiskan air matanya didepan Glenn, kakak tersayangnya.