Elena adalah seorang tunangan dari pria bernama Marcus Leonhardt, dia adalah asisten di perusahaan pria itu. Suatu ketika Marcus membawa seorang perempuan bernama Selena Vaughn yang seorang konsultan komunikasi. Di suatu malam mobil yang di kendarai Elena ada yang mengikuti dan terjadilah BRUUKKK , kecelakaan…dimana Elena akhirnya sadar dan dia membuat keputusan berpura - pura buta. Apakah semua akan terungkap? Siapakah yang mengikuti Elena? Dan bagaimanakah kisah Elena selanjutnya?
On going || Tayang setiap senin, rabu & jumat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 01 Mereka Mengira Aku Buta
*****
Elena Rowena tidak percaya pada cinta yang datang terlalu mudah.
Itulah sebabnya, ketika cincin pertunangan itu melingkar di jarinya, ia tidak merasa mabuk bahagia , hanya tenang. Terlalu tenang untuk seorang perempuan yang akan menikah dengan Marcus, pewaris Lucien Group.
Tenang karena Elena tidak pernah menyerahkan hidupnya pada satu orang. Bahkan pada pria yang akan menjadi suaminya.
Ruang rapat lantai tertinggi dipenuhi cahaya kaca dan ambisi. Di ujung meja, Marcus berbicara dengan suara yang terbiasa didengar tegas, yakin dan memerintah tanpa perlu meninggi.
“Kita lanjutkan akuisisi. Risiko bisa dikendalikan.” ujar Marcus.
Elena duduk di sisi kanan Marcus. Bukan sebagai hiasan. Bukan sebagai calon istri yang diam. Tablet di tangannya menampilkan data yang belum dilihat siapa pun di ruangan itu. Data yang bisa membalikkan strategi Marcus jika salah langkah.
Para direktur mengangguk. Tidak ada yang membantah.
“Risiko bisa dikendalikan,” katanya akhirnya, memotong alur rapat tanpa meminta izin, “Jika kita tidak menutup mata pada utang tersembunyi di anak perusahaan timur.”
Beberapa orang menoleh. Ada yang terkejut. Ada yang tidak suka.
Marcus berhenti bicara.
Ia menatap Elena bukan marah, bukan tersinggung. Tatapan seorang pria yang terbiasa mengukur lawan.
“Jelaskan,” katanya singkat.
Elena menggeser tablet ke layar utama. Angka - angka muncul. Bersih. Tajam. Tidak terbantahkan.
“Jika akuisisi dilakukan bulan ini kita menanggung beban itu. Jika ditunda tiga bulan, mereka akan runtuh sendiri.”
Hening jatuh.
Salah satu direktur berdehem, mencoba menutupi kegugupan.
“Kenapa data ini tidak ada di laporan kami?” tanyanya.
Elena menjawab tanpa emosi.
“Karena seseorang menyaringnya.”
Tatapan Marcus menyipit tipis. Hanya sepersekian detik. Cukup untuk menyimpan informasi itu bukan menunjukkannya.
“Kita tunda.” putusnya akhirnya.”Rapatnya selesai.”
Tidak ada yang membantah.
****
Di lorong kaca setelah rapat, Marcus berjalan sejajar dengannya.
“Kau membuatku terlihat ragu,” katanya pelan.
“Kau membuat keputusan.”Elena membalas tanpa menoleh.”Aku memberimu fakta.”
Marcus tersenyum samar. Senyum pria yang tidak terbiasa dipatahkan, tapi cukup cerdas untuk menghargai kekuatan.
“Itulah alasan aku memilihmu,” katanya.”Kau tidak takut padaku.”
Elena berhenti melangkah.
Menatapnya lurus.
“Aku tidak pernah takut pada orang yang bisa jatuh,” ujarnya tenang.
Marcus tertawa kecil. Bukan tersinggung. Tertarik.
****
Malamnya di apartemen tinggi yang akan mereka tempati setelah menikah, Elena berdiri di depan jendela. Kota menyala di bawah, indah dan kejam.
Ia mendengar suara langkah tanpa menoleh.
“Kau tidak terlihat seperti perempuan yang menunggu pernikahan,” ujar Marcus.
“Aku tidak menunggu,” Elena menjawab.”Aku melangkah.”
Marcus mendekat. Berdiri di sampingnya. Dua sosok kuat menatap kota yang sama dengan tujuan berbeda.
“Kau percaya padaku?” tanya Marcus tiba - tiba.
Elena menoleh. Menatap mata pria yang akan menjadi suaminya.
“Aku percaya pada apa yang kau lakukan,” katanya jujur.
“Bukan pada apa yang kau katakan.”
Marcus terdiam sesaat. Lalu mengangguk.
Jika saja ia tahu…
Bahwa perempuan di sampingnya sedang mencatat segalanya.
Termasuk jeda kecil di napasnya. Tatapan yang terlalu cepat berpaling, dan bayangan seseorang bernama Selene yang belum ia perkenalkan secara resmi.
Elena kembali menatap kota.
Ia tidak tahu bahwa sebuah kecelakaan akan segera mengubah hidupnya. Ia tidak tahu bahwa suatu hari, ia akan berpura - pura buta.
Namun satu hal sudah pasti sejak awal : Elena Rowena bukan perempuan yang akan dihancurkan. Ia adalah perempuan yang akan bertahan dan membalas dengan tenang.
****
Halo, para pembaca ^_\~
kenalkan aku penulis pemula..
masih author baru hehehe
jangan lupa dukung aku ya teman - teman dengan cara : like, favorit, komen dan hadiah nya 🥰🥰🥰🥰
dukung aku ya untuk karya - karyaku selanjutnya 🫶🫶🫶🫶
dukungan yanng membangun dari teman - teman sangat berarti bagi author 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
semoga kalian suka dengan ceritaku 🥰🥰🥰🥰
salam author \~