Pernikahan yang diawali dengan perjodohan, tanpa adanya rasa cinta membuat Zayn dan Raras merasa kaku, bahkan terkesan formal layaknya rekan kerja. Tapi seiring berjalannya waktu, Raras mampu mencairkan gunung es dengan kesabarannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Athariz271, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kumpul bersama
Setelah pulang kerja, Raras langsung pergi membersihkan diri. Sedari tadi wanita itu dipusingkan temannya yang terus saja mengirimkan link film.
“Dih, gue bilang gak suka ya gak suka.” Gerutu Raras.
“Dah lah terserah, mending mandi dulu biar seger.” Raras beranjak tanpa mematikan ponselnya lebih dulu.
Saat bersamaan Zayn masuk dengan langkah pelan, pria itu terlihat sangat kelelahan dengan baju yang terlihat berantakan dan kusut.
Zayn menoleh saat ponsel istrinya di berdenting. Awanya dia ingin abai, tapi berondongan notifikasi dan juga miscall sedikit menganggunya.
Zayn beranjak, meraih ponsel Raras yang tidak terkunci, lalu menoleh ke pintu kamar mandi yang masih tertutup.
Zayn melihat deretan pesan masuk dari Selina, keningnya berkerut membaca kalimat-kalimat yang tak semua ia pahami.
“Video apa memangnya..” Gumam Zayn sedikit penasaran.
Zayn kembali menoleh ke arah kamar mandi yang masih tertutup dan suara air dari dalam yang masih mengalir.
Menuruti rasa penasarannya Zayn membuka satu video paling bawah yang Selina kirim. Seketika matanya membola melihat adegan panas itu.
Zayn sampai lupa ngedipin mata begitu adegan panas itu terlihat jelas, dimana dua sejoli dengan beraninya berhubungan badan di balkon kamar.
“Gila sih ini, berani banget main di balkon.” Batin Zayn menggelengkan kepala.
“Mas?” Tanpa Zayn sadari Raras tengah berdiri di sampingnya dengan bertanya-tanya.
Meski terkejut, Zayn berusaha menguasai diri lalu menoleh ke arah istrinya dengan alis terangkat.
“Ada apa mas? Apa ada yang telpon?” Tanya Raras heran dengan sikap suaminya.
Tanpa aba-aba Zayn memperlihatkan layar ponsel, “Kamu suka adegan di ruangan terbuka?” Tanyanya polos.
Raras melotot tajam, buru-buru mengambil ponselnya. Menatapnya sekilas lalu buru-buru menggeleng ribut.
“Nggak, nggak. Bukan aku, tadi tuh Selina yang kirim.” Elak Raras.
“Dari tadi Selina kirim link drakor katanya, tapi aku lagi males buka. Dia bilang banyak adegan panasnya.”
“Tapi dia tetep maksa aku untuk lihat, gak tau udah berapa link yang dia kirim, dan ternyata dia sampai download videonya langsung dan mengirimnya. Jelas Raras menghapus video yang Selina kirim dan menghapus semua room chatnya.
“Aku berani sumpah mas, beneran aku gak lihat satupun.” Raras mengangkat dua jarinya sungguh-sungguh.
“Sungguh aku beneran gak lihat, makanya aku tinggal mandi aja. Taunya dia kirim video langsung. Aku gak bohong mas.” papar Raras berusaha meyakinkan suaminya.
Zayn tersenyum tipis, “Gak apa-apa, kamu gak perlu jelasin, kamu juga sudah dewasa bukan hal tabu lagi untuk ditonton.”
Raras melongo mendengar jawaban Zayn, bukan itu yang Raras maksud, tapi…
“Iih, mas! Aku beneran gak lihat, aku gak tau apa-apa.”
“Iya gapapa, tapi.. Posisi itu cukup menantang, lain kali boleh kita coba.” Seringainya membuat Raras ketar-ketir
“A-apaaa?”
Zayn menghilang dibalik tembok kamar mandi, sementara Raras terjatuh lemas keatas kasur.
“Hancur sudah! Padahal bukan itu maksud gue, arghh…”
Raras menjambak rambutnya sendiri, merasa kesal. “Dah lah, udah gak bisa klarifikasi lagi, pasti mas Zayn ngiranya aku beneran nonton itu.” keluh Raras.
Raras menelungkupkan wajahnya dibawah bantal, “Hilang sudah image baikku didepan mas Zayn.” ucapnya pelan sangat kesal.
“Selina! Awas ya lo, gue tampol juga lo lama-lama.” Gemas Raras.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam ini Zayn tengah berkumpul bersama teman-temannya. Club malam adalah tempat yang mereka tuju.
“Wah-wah, tuan muda ZARS group datang. Zayn gimana kabar lo, bro?” Sapa salah satu sahabat Zayn langsung memeluknya.
Zayn hanya mengangkat alis, balas memeluk sahabatnya yang lama tak bertemu. “Kapan balik lu?”
“Gue balik tadi siang, spesial banget nih ketemu kalian.” Jawabnya terkekeh.
“Lebay.” Cibir teman lainnya.
“Lo beneran udah sembuh?” Tanya Zayn meneliti penampilan Gama.
“Hm, seperti yang lo lihat. Gue juga gak nyangka bakal bisa jalan normal kayak dulu.”
Revan menepuk bahu sahabatnya. “Bersyukur Gam, gak semua orang memiliki kesempatan kedua.”
Semuanya mengangguk setuju, lalu duduk di sofa yang sudah disediakan. Mereka semua duduk berkumpul, kembali antusias membicarakan hal lainnya.
“Gimana pernikahan lo Zay?” Tanya Gama.
Zayn menatap Gama datar, memangnya harus gimana?” Tanyanya balik.
Gama menatap Revan yang terkekeh, “Lo kayak gak tau si kulkas aja.”
Gama menggaruk kepalanya bingung. “Ya gue kira lo udah mau punya anak,”
Zayn balas menatap tajam sahabatnya. Sementara Revan terus terkekeh melihat kedua sahabatnya.
“Udah, udah. Ayo, buruan minum.” Sela Revan menuang minuman ke dalam dua cangkir.
Ketiganya minum bersama, telah lama mereka tak berkumpul seperti itu, dari semenjak Gama kecelakaan dan menetap diluar negeri.
“Tapi ngomong-ngomong, gue belum pernah ketemu istri lo Zay, gue penasaran secantik apa dia lo sampe mau dijodohin?”
Revan tersenyum, sementara Zayn hanya diam mengingat hubungannya dengan Raras, yang tak sesempurna itu.
“Pernikahan ini didasari perjodohan, dan kita sudah sepakat untuk tidak mencampuri urusan masing-masing. Mana mungkin Raras mau dikenalin sama teman-temanku.” batin Zayn berisik.
“Lo gak perlu tau, lah.” Jawab Zayn cuek.
“Lah, kok? Emang sejelek itu ya?” Celoteh Gama membuat tawa Revan semakin keras.
“Beneran jelek Zay? Hanya karena warisan lo mau aja dinikahin sama cewek jelek?” Tanya Gama lagi, seolah tak percaya. Dia tau sahabatnya yang satu ini sangat anti dengan wanita dan itu cukup membuatnya terus penasaran apa yang membuat Zayn menerima pernikahannya.
“Lo gak usah sembarangan Gam, istri si Zay cantik banget tau.” sela Revan.
“Lo serius?”
Revan mengangguk yakin, “Beuh, apalagi auranya itu. Cantik, baik, elegan, mantep pokoknya.” Seloroh Revan antusias.
“Pokoknya lo Zay sangat beruntung bisa nikahin cewek itu.” Lanjutnya menepuk lengan Zayn.
“Gue makin penasaran, besok deh gue main ke rumah lo.” sahut Gama kembali meneguk minumannya.
“Gak usah.” Jawab Zayn cepat.
Dahi Gama mengerut dalam, dan Revan kembali tertawa.
“Kayaknya masih ada yang belum sadar juga nih. Kalau gue sih punya istri secantik itu gak bakalan gue anggurin, gue kurung di kamar terus.” Sindir Revan.
Gama ikut terkekeh. “Lo masih dingin Zay? Lo gak takut istri lo kabur?”
Zayn mengangkat bahu acuh,
“Lo udah setahun nikah, tapi masih kayak gini? Zay, jangan-jangan lo..”
“Apaan?” Sahut Zayn ketus.
“Jangan-jangan lo pisah ranjang? Lo gak belok kan, Zay? Gak mungkin selama ini lo anggurin istri lo, kan? Kalian udah…” Gama sampai bingung sendiri mengungkapkan kata-katanya, terlalu heran dengan sikap sahabatnya.
Revan terbahak. “Setahun nikah, masa iya lo belum pernah ngerasain surganya dunia Zay.” Revan menepuk-nepuk bahu Zay kencang. “Ya kali punya lo gak pernah ganti oli Zay.”
Gama dan Revan tertawa bersama, sementara Zayn hanya diam mengingat wajah Raras yang memang cantik.
Bersambung…