Bijaklah dalam memilih bacaan.
Cerita ini hanya fiksi belaka!
-------------------------
Megan Ford, seorang agen elit CIA, mengira ia memiliki kendali penuh saat menodongkan pistol ke pelipis Bradley Brown, bos mafia berdarah dingin yang licin.
Namun, dalam hitungan detik, keadaan berbalik. Bradley,seorang manipulatif yang cerdas menaklukkan Megan dalam sebuah One Night Stand yang bukan didasari gairah, melainkan dominasi dan penghancuran harga diri.
Malam itu berakhir dengan kehancuran total bagi harga diri Megan.
Bradley memiliki bukti video yang bisa mengakhiri karier Megan di Langley kapan saja. Terjebak dalam pemerasan, Megan dipaksa hidup dalam "sangkar emas" Bradley.
Mampukah Megan dengan jiwa intelnya melarikan diri dari tahanan Bradley Brown?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririnamaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
AREA DEWASA, TIDAK UNTUK DI BAWAH 18 TAHUN !!!
Suara desing peluru dan kekacauan di lantai bawah hanyalah musik latar yang membosankan bagi Bradley Brown. Di kamar penthouse kedap suara miliknya, Brad duduk santai bersandar di ranjang king size, tablet di tangan. Seolah menikmati setiap kekacauan yang ia ciptakan, ia sedang menonton drama yang ia sutradarai sendiri. Di tangan kirinya, gelas kristal dengan cairan ungu pekat tinggal separuh.
BRAAAAKKK….
Pintu kayu ek kokoh itu terbuka. Brad tak bergeming ketika moncong Glock bertengger di pelipisnya.
“Jangan bergerak, Brown. Permainanmu sudah berakhir. Atau hancurkan kepalamu, dan d4rahmu akan mengotori ranjang mahalmu.”
Seorang wanita cantik bergaun sutra zamrud dengan belahan panjang hingga paha bersuara tegas itu siap menjemput nyawa Bradley. Jari telunjuknya sudah menegang di pelatuk.
Namun Bradley seolah tak mendengar suara ancaman. Dengan gerakan yang menghina maut, ia justru menandaskan sisa wine di gelasnya, membiarkan tenggorokannya hangat sebelum meletakkan gelas itu kembali ke atas nakas.
“Kau terlambat lima menit dari prediksiku, Nona.” Dalam satu kedipan mata, kecepatan yang melampaui nalar manusia Bradley bergerak. Tangan besarnya menyambar pergelangan tangan wanita itu dan memelintirnya. Logam hitam itu jatuh dan terpental ke sudut kamar mewahnya.
“Lepaskan aku, sialan!” desis Megan.
Bradley mendorong tubuh wanita itu. Hingga punggungnya membentur dinding. Kedua pergelangan tangannya kini terkunci di atas kepalanya, disatukan oleh satu tangan Bradley yang besar. Jarak mereka begitu dekat hingga aroma parfum maskulin mahal menyeruak, menusuk hidung Megan.
“Megan Ford. Agen CIA terbaik yang dikirim dari Langley jauh-jauh ke London untuk menangkapku. Tapi justru menyerahkan diri ke kandang singa?” desis Bradley dengan suara rendah, tepat di telinga Megan.
“Waktumu tidak akan lama lagi, Brad. Markasmu sudah dikepung,” Megan berbicara lantang, tatapannya menghunus tepat di depan mata Bradley.
Tawa Bradley pecah. Tawa yang membuat bulu kuduk Megan meremang, sebuah peringatan insting bahwa ia bukan lagi seorang pemburu, melainkan mangsa yang baru saja menyerahkan diri. “Oh ya? Mengerikan sekali. Dan aku juga tidak berencana lari, Nona.”
Jemari Bradley perlahan menelusuri garis rahang Megan, memaksa wanita itu mendongak. "Tapi malam ini, kau akan belajar bahwa lencana di dadamu itu tidak lebih dari sekadar mainan yang tidak berharga di hadapanku." Bradley mendekat, mematikan rokoknya di dinding tepat di samping kepala Megan. Ia meniup asap abu-abu pekat itu di depan wajah Megan. Suasana seketika berubah dari medan perang menjadi arena pengkhianatan yang paling gelap.
Megan meronta, mencoba menendang dengan lututnya, tapi Brad menggunakan berat tubuhnya untuk menghimpit tubuh Megan tanpa jarak. Napas Megan memburu, matanya menyiratkan amarah bercampur frustrasi. Fisiknya yang terlatih di militer seolah tak berarti di hadapan monster ini.
Dengan sisa tenaga dan martabat terakhirnya, Megan mengumpulkan ludah.
Cuiih.
Cairan itu membasahi wajah Bradley. Suasana hening, hanya terdengar desisan pendingin ruangan. Bradley memejamkan mata sesaat sebelum membukanya kembali. Ia mengusap pipinya dengan ibu jari, lalu menjilat sisa ludah itu, dan tersenyum sinis menatap wajah Megan, tatapan pr*dator yang siap me nerkam mangsanya.
Tawa Bradley memenuhi ruangan, seolah memberikan sinyal bahaya ke seluruh saraf Megan. Ia mendekatkan wajahnya, membiarkan ujung hidung mereka bersentuhan.
"Lihat dirimu sekarang. Agen CIA pilihan, kebanggaan negara, sedang terjepit di bawah kakiku. Di mana lencanamu sekarang? Apakah benda logam itu bisa menolongmu saat tubuhmu mulai merespons sentuhanku?”
Megan mencoba memalingkan wajah, tapi cengkeraman Bradley pada rahangnya memaksanya untuk menatap mata kelam itu.
"Kau bukan sedang menjalankan misi, Megan. Kau sedang menikmati ini," Brad melontarkan kata yang menghancurkan harga diri Megan. "Aku bisa merasakan detak jantungmu. Itu bukan detak jantung orang yang ketakutan. Itu detak jantung orang yang haus akan kehancuran."
Bradley mulai menelusuri leher Megan dengan bibirnya, bukan dengan kelembutan, melainkan dengan klaim kepemilikan. "Malam ini, aku tidak akan hanya mengambil informasimu. Aku akan mengambil jiwamu. Besok saat kau kembali ke markasmu, kau hanya akan melihat seorang pengkhianat di cermin."
Saat Megan merasakan pertahanannya runtuh dan tubuhnya mulai mengkhianati perintah otaknya, Bradley tersenyum miring di balik lehernya. Ia tahu ia telah menang. Ia tidak perlu mematahkan tulang Megan, ia hanya perlu mematahkan harga dirinya.
Bradley meraih pinggang ramping Megan, lalu mendorongnya hingga jatuh di atas ranjang mewahnya.
“Jangan berani sentuh aku, Brown. Atau kau akan menyesalinya seumur hidupmu.”
SREEEKKK
Gaun sutra itu robek dengan sekali tarikan. Bradley melemparnya ke lantai. Megan menutup tubuhnya dengan kedua tangannya dan menendang Brad sekuat tenaganya, namun Bradley bahkan tak bergerak.
“Semakin kau memberontak, semakin menyenangkan bagiku, Meg. Aku sudah lama menantikan malam ini.”
Megan meronta saat Brad memegang dagunya dan mencium bibirnya dengan kasar. Dengan gerakan spontan, Megan berhasil menggigit bibir Bradley hingga mengeluarkan cairan merah.
Bradley melepaskannya. Ia menyeka darahnya lalu mengusapkannya ke bibir Megan. “Cukup menyenangkan, Ford. Keberanianmu luar biasa.”
Kini Brad benar-benar menguasai permainannya malam itu. Megan tak berdaya melawan tubuh Brad yang kekar. Meski sekuat tenaga ia mempertahankan harga dirinya,
Megan mencengkeram sprei itu sekuat tenaganya saat Brad dengan kasar menembus pertahanan Megan dengan miliknya, tubuhnya yang tidak siap merasakan sakit yang menjalar ke seluruh persendiannya.
“Lepas Brad, sakit,” rintih Megan.
Namun Brad tak menghiraukan permintaan Meg, tubuhnya maju mundur di atas tubuh Megan, tangannya memegang kasar dagu Megan hingga mata mereka bertemu, Brad mencium wajah Megan yang basah seolah sedang mengelap satu benda yang basah oleh air hujan.
“Bahkan aku bisa merasakan jika kau juga menikmati permainanku, Meg. Kau menolakku, tapi sayang tubuh tidak bisa berbohong.”
Kalimat penghinaan itu meluncur begitu saja dari mulut Brad dengan napasnya yang memburu dan tubuh yang semakin liar menari di atas tubuh Megan.
Megan memejamkan mata, sekuat tenaga ia memberontak, ia mencengkeram rambut Brad saat, Brad menyusuri setiap inci tubuhnya dengan tanda kepemilikan bukan dengan kelembutan.
“Uuhhh…Kau memang brengek Brad” lenguh Megan.
Brad menyeringai puas saat ia mendengar suara yang tak seharusnya dari mulut Megan yang di susul dengan makian lolos begitu saja dari mulut Megan. Brad kembali menyusuri leher jenjang Meg untuk membungkam makian itu dan d*sahannya simbol pengkhianatan penuh pada pekerjaan adalah kemenangan bagi Brad malam ini.
Megan menyadari jika ia bukan sedang menghadapi musuh negara, tapi monster yang kelaparan dan sialnya ia sudah lama menjadi target seorang Bradley Brown.
Air mata mengalir di pipi Megan, menyesali apa yang terjadi malam ini. Tapi Brad seolah tak mendengar. Baginya, menaklukkan musuhnya adalah kemenangan. Ia menunjukkan jiwa psikopatnya, tak peduli jika malam ini menyisakan trauma bagi Megan. Rintihan ataupun d*sahan yang lolos dari mulut Megan malam ini adalah simbol kekalahan yang terdengar merdu di telinga Bradley Brown.
😔
Megan hamil ✅
🤭🤭