NovelToon NovelToon
A.M.R.A

A.M.R.A

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cerai / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Seorang Wanita Kuat-Amara. setelah hampir 15 th pernikahan ternyata suaminya ketahuan Selingkuh.

Semenjak itu Kehidupan Amara dan kehidupan rumah tangga nya berubah.

Masih Mencinta namun tak dapat bersama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luna

Minggu pagi itu, matahari bersinar terlalu cerah, terlalu riang, untuk apa yang akan mereka lakukan. Amara bangun dengan perut bergejolak. Dia memilih pakaian yang lembut: sweater katun berwarna krem dan celana legging. Dia ingin terasa seperti pelukan bagi Luna.

Rafa, yang setuju untuk datang ke lantai atas untuk percakapan ini, tampak di ambang pintu kamar Luna dengan kaos abu-abu dan celana training. Matanya bengkak, mungkin juga tidak tidur.

Mereka telah menyiapkan segalanya seperti sebuah misi. Di atas tempat tidur Luna yang penuh boneka, sudah terbaring sebuah buku bergambar dengan sampul kartun dua beruang di dua rumah terpisah, berjudul

“Kadang, Mama dan Papa Tinggal di Rumah yang Berbeda.” Ada juga jus kesukaan Luna dan selembar tisu—siapa tahu diperlukan."

"Luna, dengan piyama bergambar unicorn, sedang asyik menyusun Lego di karpet. Dia menoleh, wajahnya cerah. “Mama, Papa! Lihat, aku bikin istana!”

“Bagus sekali, Sayang,” sahut Amara, suaranya sedikit serak.

“Sayang, bisa kita duduk sebentar di kasur? Mama Papa mau ngobrol sesuatu.”

Nuansa di kamar berubah. Luna, anak yang peka, langsung merasakan sesuatu. Dia meninggalkan Legonya dan mendekat, mendaki ke tempat tidur dan duduk di antara mereka.

Rafa dan Amara saling berpandangan sejenak, sebuah pertukaran ketakutan yang cepat, lalu mereka fokus pada putri mereka.

Amara membuka buku itu.

“Nih, Luna. Ini bukunya tentang seorang anak bernama Kiki. Orang tuanya, Mama dan Papa Beruang, memutuskan untuk tinggal di rumah yang berbeda.”

Luna memperhatikan gambarnya, lalu memandang bolak-balik antara Amara dan Rafa.

“Kayak Papa sekarang tidur di bawah?”

“Iya, mirip seperti itu,” jawab Rafa, berusaha tersenyum.

“Tapi… mungkin nanti, Papa akan benar-benar punya rumah sendiri yang tidak terlalu jauh dari sini.”

“Kenapa?” tanya Luna polos, matanya membesar.

Amara menarik napas. Ini dia, momennya.

“Karena… kadang-kadang, orang dewasa seperti Mama dan Papa, meskipun sangat-sangat saling menyayangi saat awal, setelah sekian lama… jalannya bisa berbeda."

"Cara bahagianya jadi berbeda. Dan kalau dipaksakan tinggal bersama, malah jadi sering sedih, atau… marah-marah.”

“Seperti Mama Papa dulu?” tanya Luna, suaranya kecil.

“Iya,” Rafa mengaku, suaranya berat.

“Seperti dulu. Dan kami tidak mau Luna terus melihat Mama Papa seperti itu. Kami ingin Luna tumbuh di rumah yang damai.”

“Jadi, kalian pisah?” Luna memelintir ujung selimutnya.

“Kami akan pisah rumah, tapi tidak akan pisah sayang ke Luna,” tegas Amara, memeluk bahu Luna.

“Mama akan selalu jadi Mama Luna. Papa akan selalu jadi Papa Luna. Cuma… kami akan tinggal di tempat yang berbeda. Luna bisa tetap ke sekolah yang sama, main dengan teman yang sama. Nanti ada jadwalnya, kapan di rumah Mama, kapan di rumah Papa.”

Diam menggantung. Luna memandangi gambar di buku, lalu melihat boneka kelincinya yang bersandar di bantal. Matanya mulai berkaca-kaca, bibirnya bergetar.

“Jadi… Luna nggak bisa bangun pagi dan ketemu Mama dan Papa lagi?”

Pertanyaan itu sederhana, tapi menusuk seperti belati. Amara merasa dadanya seperti diremas.

“Tidak setiap hari, Sayang,” jawab Rafa, suaranya serak.

“Tapi nanti kalau di rumah Papa, Papa yang bacain cerita sebelum tidur. Kalau di rumah Mama, Mama yang buatkan pancake bentuk unicorn. Jadi… tetap spesial.”

“Tapi Luna mau kalian berdua,” bisik Luna, dan air mata pertama mengalir di pipinya yang tembam.

“Luna mau keluarga kayak dulu.”

Itulah yang mereka takuti. Amara menarik Luna ke pangkuannya, memeluknya erat. Rafa meletakkan tangan di punggung Luna, membuat sebuah lingkaran pelukan yang rapuh.

Mereka menangis bersama—Luna karena kebingungan dan rasa kehilangan yang samar, Amara dan Rafa karena rasa bersalah yang melumpuhkan karena menyebabkan rasa sakit ini pada manusia kecil yang paling mereka cintai.

“Ini bukan salah Luna, ya Sayang,” desis Amara, mencium rambut putrinya.

“Ini sama sekali bukan salah Luna. Ini adalah keputusan orang dewasa. Luna adalah yang terbaik yang pernah terjadi pada Mama dan Papa. Luna yang bikin kami tetap… terhubung.”

Setelah beberapa saat menangis, Luna mengangkat wajahnya yang basah. Dia mengusap matanya dengan punggung tangan.

“Tapi… kalau kalian pisah, nggak akan ada teriak-teriak lagi? Nggak akan ada Mama yang nangis di kamar? Nggak akan ada Papa yang mukanya serem waktu pulang kerja?”

Setiap gambaran yang dilontarkan Luna adalah sebuah tamparan. Mereka telah membuat panggung ketegangan begitu nyata dalam hidup putri mereka.

“Tidak akan ada lagi, Luna,” janji Rafa, dengan keyakinan penuh. “Kami berjanji. Kami akan berteman. Kami tidak akan marah-marah lagi di depan Luna.”

“Beneran?” tanya Luna, mencari konfirmasi di wajah Amara.

“Beneran, Sayang. Mama dan Papa sudah bicara baik-baik. Kami akan lebih baik sebagai… teman. Sebagai tim untuk Luna.”

Luna duduk diam, memproses. Keheningan itu terasa panjang, hanya diisi oleh desahan AC. Lalu, dengan kedewasaan yang mengejutkan dari seorang anak berusia 9 tahun, dia berkata, “Kalau gitu… Luna nggak apa-apa.”

Amara dan Rafa terpana.

“Apa?” tanya Amara.

“Luna nggak apa-apa kalau Mama Papa pisah rumah. Yang Luna nggak suka itu lihat kalian sedih dan marah. Kalau pisah bikin kalian nggak marah-marah lagi… ya udah.”

Dia mengangkat bahunya, sebuah gerakan kecil yang begitu menerima hingga membuat hati mereka hancur berkeping-keping.

Tidak ada kata-kata. Rafa menarik Luna ke pelukannya, memendam wajahnya di bahunya yang kecil, bahunya berguncang oleh isakan yang dia coba tahan.

Amara membelai rambut Luna, air matanya mengalir deras tanpa suara. Mereka dikalahkan oleh pengertian dan ketulusan putri mereka.

“Kamu anak yang sangat kuat dan baik hati, Luna,” bisik Amara.

“Iya. Jadi jangan sedih-sedih lagi, ya,” pesan Luna, malah menghibur mereka.

Percakapan berlanjut dengan detail praktis yang lebih ringan, tentang kamar seperti apa yang Luna mau di rumah Papa, tentang boneka mana yang akan punya ‘dua rumah’. Luna bahkan mulai terlihat sedikit tertarik dengan ide ‘punya dua kamar’.

Mereka membaca buku itu sampai selesai. Saat cerita berakhir dengan Kiki yang bahagia bermain di taman dengan kedua orang tuanya (yang kini tersenyum dan tidak cemberut),

Luna mengangguk puas.

“Oke,” katanya, seperti menutup sebuah rapat.

“Aku mau lanjutin istanaku sekarang.”

Dia meluncur turun dari tempat tidur dan kembali ke Legonya, seolah-olah baru saja membahas rencana liburan, bukan perpecahan keluarganya.

Amara dan Rafa ditinggalkan di tempat tidur, hancur dan lega sekaligus. Mereka keluar dari kamar, menutup pintu pelan-pelan. Di koridor, mereka berdiri terpisah.

“Aku… tidak menyangka dia akan seperti itu,” gumam Rafa, masih terlihat terguncang.

“Dia lebih dewasa dari kita,” jawab Amara, suaranya hampa.

“Aku harus pergi. Aku… butuh udara.” Rafa berbalik dan hampir berlari menuruni tangga.

Amara masuk ke kamar tidurnya, mengunci pintu. Dan di sana, di lantai, bersandar di pintu, dia akhirnya membiarkan dirinya hancur.

Tangisannya bukan lagi untuk Rafa, atau untuk pengkhianatan, atau untuk pernikahan yang gagal.

Tangisannya adalah tangisan seorang ibu yang pedih karena telah membiarkan putrinya tumbuh dalam ketegangan yang sedemikian rupa hingga perpisahan terdengar seperti solusi yang lebih baik.

Tangisan untuk semua pagi di mana Luna mungkin bangun dengan cemas mendengar nada bicara mereka. Tangisan untuk semua malam di mana Luna memeluk bonekanya lebih erat karena suasana rumah yang dingin.

Dia menangis untuk masa kecil Luna yang telah tercoreng, untuk kepolosan yang harus terkikis oleh kenyataan dewasa yang pahit.

Dia menangis karena, dalam upayanya untuk bertahan dan kemudian melawan, dia telah gagal melindungi putrinya dari dampak pertempuran mereka.

Setelah tangisan reda, mata bengkak dan tenggorokan sakit, dia menarik napas dalam-dalam. Di luar, dia mendengar suara Luna bernyanyi kecil untuk dirinya sendiri sambil menyusun Lego. Suara itu, riang dan tulus, menjadi penawar.

Luna telah memberi mereka hadiah yang luar biasa: penerimaan dan izin untuk berhenti membuat satu sama lain sengsara. Dan dengan izin itu datang tanggung jawab yang lebih besar: untuk memastikan bahwa keputusan ini benar-benar membawa kedamaian yang dijanjikan.

Amara berdiri, menghampiri cermin.

Wajahnya yang bengkak dan merah itu adalah wajah seseorang yang telah melalui perang. Tapi matanya, meski lelah, tidak lagi kosong.

Ada sebuah tekad baru di sana. Sebuah tekad untuk memastikan bahwa dari reruntuhan rumah tangga ini, mereka bisa membangun dua rumah yang penuh dengan cinta yang tenang dan stabil untuk putri mereka. Dan mungkin, suatu hari nanti, untuk diri mereka sendiri juga.

Dia mengambil ponsel, mengirim pesan kepada Rafa: “Kita berutang padanya untuk menjalankan ini dengan baik. Mari kita buat jadwal parenting yang detail minggu ini.”

Beberapa menit kemudian, balasan datang:

“Aku setuju. Aku akan buat draft-nya.”

Itu tidak lagi terasa seperti peperangan. Itu terasa seperti gencatan senjata yang sungguh-sungguh, dengan seorang gadis kecil berusia delapan tahun sebagai penjaga perdamaiannya.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam sangat lama, Amara tidur dengan rasa sakit yang bersih dan sebuah tujuan yang jelas: membangun kembali, bukan untuk dirinya dan Rafa sebagai pasangan, tapi untuk Luna, dan untuk diri Amara yang baru, yang telah belajar bahwa kekuatan sejati bukan tentang bertahan dalam badai, tapi tentang berani membangun pelabuhan baru ketika kapal yang lama telah karam.

1
Kustri
pengorbanan yg sgt besar 💪
Kustri
qu ikut prihatin🥺😭
La Rue
Kali ini benaran mewek dibuat kisah Amara ini 😭
Bp. Juenk: hehe, siap2 d bab berikutnya ya Kk. sediain tisu yg banyak.
total 1 replies
Kustri
kasian luna, msh terlalu kecil🥺
Kustri
tak tunggu UP'a
sambil ☕ thor
Bp. Juenk: siap Ka, segera di update
total 1 replies
Kustri
lanjut yaa
Kustri
wuiih... kalimat"mu luar biasa thor👍
Bp. Juenk: thanks kaka 🙏
total 1 replies
La Rue
Ruang hampa,kehilangan,cinta,kepergian dan penemuan kembali jati diri dalam hubungan dua orang dewasa yang terikat dalam pernikahan. Namun pada akhirnya hanya pengertian dan mulai belajar mencintai diri sendiri serta belajar menerima kehilangan meskipun tidak ada yang benar-benar baik-baik saja dari kehilangan. Jadi ingat lirik lagu lawas " Sometimes Love Just Ain't Enough ".
Penulisnya sukses mengaduk emosi jiwa seperti naik roller-coaster dan yang buat salut hampir tidak ada typo dalam tiap bab cerita yang disuguhkan. Semoga kisah di novel ini bisa diangkat ke film,karena asli bagus jalan cerita dan penokohan serta konflik yang ada benar-benar membuat cerita ini hidup.
Terimakasih buat penulis dan sukses selalu.
La Rue: n you too. Keep it up 👍
total 2 replies
MomRea
Author ini ceritanya gak bisa di prediksi, dari bahagia sedih lagi bahagia lagi sedih lagi... lanjut Thor
MomRea
Rafa-Sari, Amara-Edo, atau Rafa-Amara. ? teka teki othor 😊
Halwah 4g
ceritamu sangat mengubek-ubek hatiku Thor 😍
MomRea
semangat Thor terimakasih banyak up nya🙏💪
Bp. Juenk: siap terimakasih dukungan nya
total 1 replies
MomRea
"Akhir sebuah bab tapi awal sebuah cerita" mantap kalimatnya Thor 😊
MomRea
gak bisa komen karna dadaku sesak banyak banget bawangnya 🥲🥲
MomRea
ikutan berdoa Thor...semoga Rafa cepat sembuh biar bisa bermain lagi dgn Luna 😊😊😊
MomRea
Semangat Amara, restart kembali pola pikir, lihat masa depan bersama Luna 🥰
Kustri
ini rumah apa apart, koq ada lift ☹️
Bp. Juenk: 🤭ada koq Ka rumah yg pake lift. di pondok indah banyak yg pake lift
total 1 replies
MomRea
bingung juga sih rumah tangga gak ada romantis romantisnya.
Bp. Juenk: 🤣 🤣🤣 bisa Bae nih ka
total 3 replies
Kustri
☕dl amara, ngecas semangat💪
MomRea
good, buka saja semua, biar ibunya Rafa yg bertindak.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!