*Update tiap hari*
Dia pikir adiknya sudah mati 7 tahun lalu. Dia salah.
Zane Elian Kareem kehilangan segalanya dalam satu malam: Rumah, Orang tua, dan Serra, adiknya.
Namun, sebuah benda di toko berdebu mengubah takdirnya. Serra masih hidup.
Kini, Zane bukan lagi bocah lemah. Dia adalah seorang Tarker—pemeta wilayah liar yang berani menembus zona maut demi uang. Persetan dengan intrik politik kerajaan atau diskriminasi ras. Masa bodoh dengan Hewan Buas Kelas E yang mengintai di hutan.
Zane akan membakar siapapun yang menghalangi pencarian "jalan pulangnya" menuju Serra. Bahkan jika harus melawan satu republik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Murdoc H Guydons, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4 - Mungkinkah ini??
Aula Misi terasa lebih sesak sekarang, dipenuhi para Tarker yang baru saja keluar dari ruang rapat. Aku menyelinap di antara kerumunan, mencoba mencapai konter logistik di seberang ruangan, tanpa harus berinteraksi dengan siapapun. Telingaku menangkap diskusi alot tiga orang Tarker senior yang menghalangi jalanku.
"Johan terlalu keras soal Kiato," gerutu Tarker pria dari Ravnia dengan janggut tebal. "Organisasi ini tak peduli nasib kita. Mereka lepas kita ke alam liar dengan sekantong Auren, berharap kita semua jadi orang suci. Begitu ada yang tergelincir, mereka langsung cuci tangan."
"Justru karena itu dia harus keras," sahut wanita Kinsei dengan logat bicaranya yang patah-patah. "Status Tarker adalah sebuah kepercayaan. Tapi Kiato menggunakannya untuk bergabung dengan bandit. Ia mengkhianati kita semua."
Pria ketiga, yang sejak tadi hanya diam sambil mengisap pipa rokoknya, ikut bicara. "Kalian berdua bicara seolah pilihan di dunia ini hanya ada 'benar' dan 'salah'. Terkadang, satu-satunya pilihan yang kau punya hanyalah pilihan yang buruk dan pilihan yang lebih buruk lagi." Asap mengepul dari bibirnya saat ia berkata dengan suara parau.
"Cerita yang kudengar dari perbatasan sangat berbeda. Para bandit itu menyandera keluarganya. Dia tidak bergabung. Dia terpaksa. Setiap kali dia bertarung melawan prajurit Kinsei, dia sedang membeli satu hari lagi untuk nyawa keluarganya. Harusnya Organisasi lebih bijak melihat hal ini."
Cerita itu menggantung di udara.
Aku lanjut berjalan menuju konter, membiarkan perdebatan mereka lenyap ditelan kebisingan aula.
Kebebasan, keputusasaan, pengkhianatan... Pembahasan ini terlalu berat. Aku tidak mau memikirkannya sekarang. Saat ini, aku lebih khawatir soal sol sepatuku yang boleh jadi tidak akan bertahan sampai Cragspire.
Aku tiba di depan konter logistik. Setelah menunjukkan tanda registrasi, aku menuju kasir. Petugas menyerahkan kantong kain berisi jatahku.
Aku memeriksa isinya. Lima keping Auren dan sekitar 15 keping Aspen. Koin Auren bukanlah emas murni, sama halnya dengan koin Aspen bukanlah perak murni. Mereka adalah logam campuran yang dirancang agar kebal terhadap manipulasi crafting. Meskipun sangat sedikit orang yang bisa Metalcrafting, tapi uang yang tidak bisa dipalsukan adalah fondasi peradaban. Sejumlah ini cukup untuk perjalanan beberapa minggu jika aku tidak boros.
Saat aku berbalik, sosoknya sudah ada di sana, seolah menungguku.
Ketua Besar Johan Meran Annoor menatapku dengan senyum tipis di wajahnya yang berkerut.
"Kudengar kau menjalankan misi darurat ke Veridian kemarin, Zane," katanya menggunakan bahasa Mien, suaranya jauh lebih hangat daripada di atas panggung tadi. "Bagaimana keadaan di sana?"
Aku terdiam, otakku berputar cepat.
Laporan penyelesaian misinya saja baru kuselesaikan tadi siang sebelum rapat, kenapa Beliau bisa tahu? Apa gambar Luak tanah dengan lidah terjulur itu terlalu mencolok sampai aku dilaporkan ke Ketua Besar? Atau aku sedang dimonitor oleh bagian sekretariat?
"Zane?" tegurnya lagi, menyadarkanku dari lamunan.
"Te-ternyata hanya Luak Tanah, Engku," jawabku sedikit gugup, menggunakan panggilan hormat Suku Mien. "Ukurannya memang agak besar, tapi dibiarkan juga sebetulnya tidak masalah."
Johan tertawa kecil, suara tawanya terdengar tulus. "Hahaha... Itulah pentingnya para penjelajah solo sepertimu. Bisa bergerak cepat tanpa perlu persiapan tim yang panjang. Kalian adalah ujung tombak saat Tarker butuh kecepatan."
"Ya, tapi kami juga yang paling rawan celaka jika ternyata kejadiannya jauh lebih besar dari laporan," balasku dengan sedikit senyum miring.
"Hahaha, kalau memang begitu, kau langsung kembali ke Markas Zane. Ingat pepatah Godo; ukur bayang-bayang sepanjang badan." katanya sambil menepuk bahuku dengan ramah.
Ia lalu menatapku lekat, mengandung rasa ingin tahu. "Zane Elian Kareem," katanya, menyebut nama lengkapku "Aku berusaha mengenal setiap Tarker dari suku Mien. Dan harus kuakui, aku sedikit terkejut saat membaca namamu di daftar Tarker baru 1 tahun lalu."
Aku mengernyit. "Terkejut, Engku?"
"Sangat jarang melihat Elian memilih jalur Tarker, apalagi Beastology. Biasanya Marga-mu lebih terampil tawar-menawar harga kulit hewan daripada mengklasifikasikan perilaku mereka. Kau memilih jalan yang tidak biasa, anak muda."
Aku tidak tahu harus merespons bagaimana. Johan hanya tertawa kecil melihat ekspresiku.
"Jadi, perjalanan selanjutnya mau lewat rute mana? Apa mau sekalian pulang kampung lewat Godo?"
"Haha... belum bisa kupastikan, Engku. Kita lihat nanti saja," elakku sopan. "Saya pamit dulu. Semoga keselamatan menyertaimu, Engku."
"Menyertaimu juga, Zane," balas Johan sambil mengangguk.
Aku bergerak pergi, masih aneh bahwa Ketua Besar menyadari keberadaanku. Pikiranku segera kembali ke prioritas utama: sepatu.
.... . ....
Cahaya mentari sudah tak terik lagi, udara di luar terasa lebih sejuk dan penuh dengan kehidupan. Perjalananku menuju distrik pengrajin membawaku melewati jantung kota yang selalu sibuk. Suara denting palu pandai besi yang ritmis dan desis logam panas yang dicelupkan ke air, bunyi lenguh Kuda Batu yang menarik gerobak dan anak-anak yang berlarian mengejar Tupai Pendar.
Meskipun ada Markas Besar Aegis Legion disini, Suasana Adam selalu ramai, membuatku malas dan ingin cepat-cepat pergi.
Aku berjalan terseok-seok dengan sol sepatu yang hampir lepas, berbelok ke gang yang lebih tenang, menuju sebuah toko dengan papan nama kayu sederhana yang sudah kukenal baik: "Logistik Bakh'tar".
Ini adalah yang sudah menjadi langgananku, dimiliki oleh seorang pria paruh baya dari Suku Mien. Begitu masuk, aroma khas kayu Hutan Aranel dan rempah-rempah dari Godo langsung menyambut.
"Sepatumu sudah minta pensiun, Zane," sapa Engku Bakh'tar, sambil menunjuk sepatu botku sobek di bagian samping.
Aku tersenyum tipis. "Karena itu saya kemari. Kalau ada, saya mau sepatu Kulit Beruang Geode, Engku."
Sambil menunggu Bakh'tar mengambil barang di belakang, mataku tertuju pada barisan Sigil di balik konter kaca.
Sampai hari ini, aku masih kagum pada benda ini. Bagaimana mungkin batu sekecil ini bisa menyimpan air sebanyak satu tong besar? Jawabannya ada pada sifat Mooncore: ia mengonversi volume elemen menjadi luas permukaan. Secara teknis, air di dalamnya diubah menjadi lapisan dua dimensi.
Semakin banyak lipatan alur di dalamnya, semakin banyak elemen yang bisa disimpan. Jika dibandingkan dengan menyimpan barang di dalam tas, Benda ini sungguh luar biasa!
"Ini," Engku Bakh'tar kembali dengan sepatu bot kokoh berwarna cokelat tua. "Tahan banting."
"Sempurna." Aku meletakkan satu koin Auren di meja.
Saat Engku Bakh'tar menghitung kembalian Aspen, sudut mataku menangkap kilatan lain di sudut etalase barang bekas. Sebuah kilau perak yang terasa sangat familier
Langkahku terhenti. Seluruh suara di toko seolah meredup menjadi dengungan sayup. Mataku terpaku pada benda di atas sebuah kain dengan warna pudar. Sebuah gelang perak, dengan sebuah bandul kecil berukiran huruf 'S'. Jantungku mulai berdegup kencang, memompa darah ke telingaku.
Mungkinkah ini??
Pas kita lari, dia datang
Mau betumbuk kah mereka?😭