Langit ingin aku mati, tapi aku menolak untuk berlutut!"
Di Benua Awan Merah, kekuatan adalah satu-satunya hukum. Ye Chen, Tuan Muda Klan Ye yang jenius, kehilangan segalanya dalam satu malam. Keluarganya dibantai oleh Sekte Pedang Darah, Dantian-nya dihancurkan, dan harga dirinya diinjak-injak.
Tiga tahun lamanya, ia hidup lebih rendah dari anjing sebagai budak penambang Nomor 734 di Lembah Kabut Hitam. Tanpa masa depan, tanpa harapan.
Namun, takdir berubah ketika sebuah reruntuhan gua tambang mengungkap benda terlarang dari era purba: Mutiara Penelan Surga. Benda pusaka yang mampu melahap segala bentuk energi—batu roh, senjata pusaka, darah iblis, hingga esensi kehidupan musuh—dan mengubahnya menjadi kekuatan murni.Dengan Sutra Hati Asura di tangannya dan kebencian membara di hatinya, Ye Chen bangkit dari neraka. Dia bukan lagi budak. Dia adalah sang Penakluk.
Satu per satu, mereka yang menghinanya akan membayar dengan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Misi Merah dan Liontin Seberat Gunung
Pagi hari diPaviliun Bambu Hitamdisambut dengan suara derit tulang yang menyakitkan.
Ye Chen berdiri di tengah halaman yang tertutup daun bambu kering. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, menetes ke tanah. Lehernya merah dan tegang, urat-urat biru menonjol di sekitar bahunya.
Contohnya, tergantung sebuah kalung rantai besi hitam dengan liontin berbentuk pedang kecil seukuran jari telunjuk.
Kelihatannya seperti perhiasan gotik biasa. Namun, bagi Ye Chen, rasanya seperti memanggul seekor gajah.
500 Kilogram.
Meskipun ukurannya menyusut berkatRune Darah AsuraberatBesi Meteor Hitamitu tidak mengurangi satu gram pun. Gravitasi mencengkeram titik kecil di dada, menarik seluruh postur tubuhnya ke bawah.
“Hah… Hah…” Ye Chen mengatur napasnya.
Setiap gerakan—berjalan, menoleh, bahkan bernapas—kini menjadi latihan beban ekstrem.
"Jika aku bisa bergerak bebas dengan beban ini," batin Ye Chen, "Saat aku melepasnya, kecepatanku akan melampaui batas suara."
Dia mulai berlatih gerakan pedang dasar menggunakan mengomel bambu. Awalnya gerakannya kaku dan lambat, seperti orang tua terkena stroke. Namun, setelah satu jam, tubuhnya mulai beradaptasi.Tubuh Guntur AsuraMengangkat kekuatan ke otot-otot leher dan punggungnya, memperkuatnya secara paksa.
Setelah merasa cukup, Ye Chen membersihkan diri di danau. Air danau itu dingin menusuk tulang, tapi menyegarkan.
"Waktunya mencari makan."
Ye Chen mengenakan seragam murid luar Akademi Bintang—jubah putih dengan garis biru di lengan. Kalung hitam pedangnya disembunyikan di balik kerah baju.
Tujuannya hari ini:Aula Misi (Aula Misi).
Di Akademi Bintang, mata uang utama bukanlah emas atau Batu Roh, melainkanPoin Kontribusi. Poin ini digunakan untuk membeli teknik, senjata, pil, atau menyewa ruang obeng diPagoda Bintang. Dan cara tercepat mendapatkan poin adalah menyelesaikan misi.
Aula Misi Akademi Bintang.
Tempat ini lebih ramai daripada pasar kota. Ratusan murid berkerumun di depan papan pengumuman raksasa yang terbuat dari kristal sihir. Papan itu menampilkan daftar misi yang berganti-ganti warna sesuai tingkat kesulitannya: Putih (Mudah), Kuning (Sedang), Merah (Sulit), dan Hitam (Neraka/Mustahil).
Ye Chen masuk. Kehadirannya yang tenang namun memiliki aura “berat” membuat beberapa murid menyingkir tanpa sadar.
"Lihat, itu murid baru yang tinggal di Paviliun Bambu Hitam," bisik seseorang.
"Orang gila itu? Kudengar dia menyinggung Senior Gu Tian di hari pertama."
Ye Chen mengabaikan bisikan itu. Matanya mengiklankan papan misi.
Misi Putih: Membersihkan kandangKuda Roh. Hadiah: 5 Poin. (Terlalu sedikit).
Misi Kuning: Mengumpulkan 10Rumput Embun. Hadiah: 20 Poin. (Membuang waktu).
Mata Ye Chen berhenti berturut-turutMisi Merah.
[Misi: Berburu Ular Sanca Api (Fire Python) Tingkat 2 Puncak.]
Lokasi: Lembah Magma, 50 mil utara.
Syarat: Inti dan Empedu Ular.
Hadiah: 500 Poin Kontribusi + 100 Batu Roh.
"Tingkat 2 Puncak? Setara Pemadatan Qi Tingkat 8-9," analisis Ye Chen. "Cocok."
Ye Chen mengulurkan tangan untuk mengambil gulungan misi itu dari rak.
Namun, sebelum tangannya menyentuh gulungan itu, sebuah tangan lain yang besar dan kasar menyambarnya lebih dulu.
"Maaf, Junior. Misi ini sudah dipesan."
Ye Chen menoleh perlahan.
Di sampingnya berdiri seorang pemuda berbadan kekar dengan seragam yang lengan bajunya digulung, memamerkan otot bisep sebesar paha orang dewasa. Di dadanya tersemat lencana "Peringkat 90 - Murid Luar".
Di belakangnya, berdiri tiga pengikut yang tersenyum mengejek. Salah satunya adalah Wang Long yang wajahnya masih diperban.
"Zhang Biao!" seru beberapa murid di sekitar. "Dia peringkat 90 di Murid Luar! Anjing penjaga Keluarga Wang di akademi!"
Ye Chen menatap pemuda kekar bernama Zhang Biao itu, lalu melirik Wang Long.
"Jadi kau mengadu lagi?" tanya Ye Chen pada Wang Long. "Belum kapok?"
Wang Long gemetar karena marah dan takut, bersembunyi di balik punggung Zhang Biao. "Kakak Zhang! Dia yang memukulku dan merampok tokenku di ujian! Dia juga yang menghina Keluarga Wang!"
Zhang Biao menatap Ye Chen dengan tatapan merendahkan. Aura Pemadatan Qi Tingkat 7-nya dilepaskan untuk menekan mental Ye Chen.
"Jadi kau si 'Peti Mati'? Kudengar kau lumayan kuat untuk ukuran murid baru Tingkat 4. Tapi di sini, senioritas adalah segalanya."
Zhang Biao menggulung misi itu dan memukul-mukulkannya ke telapak tangannya sendiri.
"Misi ini milik Tim Harimau kami. Kau, ambil misi membersihkan tinja kuda saja. Itu lebih cocok untukmu."
Para pengikutnya tertawa terbahak-bahak.
Ye Chen tidak marah. Dia hanya menghela napas panjang.
"Kenapa di setiap tempat selalu ada lalat yang berdengung?"
Ye Chen mengulurkan tangan kanannya. Telapaknya terbuka.
"Kembalikan."
Zhang Biao berhenti tertawa. Wajahnya mengeras. "Kau memerintahku?"
"Aku memberimu kesempatan untuk tidak patah tulang," jawab Ye Chen datar.
"Lancang!" Zhang Biao murka. "Biar kuajari kau sopan santun, Junior!"
Tanpa peringatan, Zhang Biao melancarkan tinju kanannya. Tinju itu dilapisi Qi elemen tanah berwarna kuning kecokelatan, berat dan keras.
Tinju Penghancur Batu!
Serangan dadakan di dalam Aula Misi dilarang, tapi Zhang Biao tahu celahnya. Selama tidak membunuh atau melumpuhkan permanen, Komite Disiplin (yang dipimpin Gu Tian) akan menutup mata.
Ye Chen melihat tinju itu datang. Dia tidak menghindar. Dia juga tidak menangkis dengan tangan.
Sebagai gantinya, Ye Chen memutar tubuhnya sedikit. Tangan kanannya merogoh ke dalam kerah bajunya, menarik rantai kalung hitam itu keluar.
Sret!
Dia mengayunkan kalung itu seperti cambuk pendek. Liontin pedang kecil di ujungnya melesat menyambut tinju Zhang Biao.
"Apa itu? Mainan?" Zhang Biao mencibir melihat liontin kecil itu.
Namun, saat liontin "kecil" itu bertemu dengan tinju besarnya...
KRAAAK!
Suara tulang hancur terdengar mengerikan, lebih keras dari suara kayu patah.
"AAAAARGHH!"
Zhang Biao menjerit histeris. Tinjunya yang dilapisi Qi pelindung hancur lebur. Jari-jarinya bengkok ke arah yang salah, dan tulang pergelangan tangannya remuk menjadi serbuk.
Kekuatan 500 kilogram yang terkonsentrasi pada satu titik kecil, diayunkan dengan kecepatan Asura, memiliki daya hancur yang tak terbayangkan.
Tubuh kekar Zhang Biao terpelanting ke samping, menabrak papan pengumuman misi hingga papan kristal itu retak.
"KAKAK ZHANG!" Wang Long dan para pengikutnya terbelalak horor.
Mereka melihat Zhang Biao berguling-guling di lantai sambil memegangi tangannya yang sudah tidak berbentuk tangan lagi.
Ye Chen berdiri tenang. Dia memegang rantai kalung itu, membiarkan liontin pedang kecil itu berayun pelan. Tidak ada setetes darah pun di liontin itu.
"Mainan?" Ye Chen bertanya dingin. "Mainanku agak berat. Hati-hati kalau mau meminjamnya."
Seluruh Aula Misi sunyi senyap. Ratusan murid menatap Ye Chen dengan pandangan baru: Ketakutan.
Seorang murid baru Tingkat 4 menghancurkan tangan murid peringkat Tingkat 7 dengan satu ayunan kalung? Monster macam apa dia?
Ye Chen berjalan mendekati Zhang Biao yang masih mengerang. Dia memungut gulungan misi Ular Sanca Api yang jatuh di lantai.
"Terima kasih sudah memeganggangkannya untukku," kata Ye Chen.
Dia berjalan menuju meja pendaftaran. Petugas administrasi, seorang gadis muda yang gemetar, buru-buru menstempel gulungan itu.
"S-Selamat bertugas, Tuan Ye!"
Ye Chen menyimpan gulungan itu dan berjalan keluar dari aula. Saat dia melewati Wang Long, tuan muda itu mundur menempel ke dinding, wajahnya pucat pasi, takut Ye Chen akan mengayunkan "kalung maut" itu lagi.
Tapi Ye Chen tidak peduli. Semut tidak layak diinjak dua kali.
Malam Hari, Paviliun Bambu Hitam.
Ye Chen tidak langsung berangkat menjalankan misi. Dia butuh persiapan.
Dia duduk bersila di tengah hutan bambu di belakang paviliun. Cahaya bulan menembus celah-celah batang bambu hitam, menciptakan bayangan yang menari-nari.
Di tangannya, Peta Reruntuhan Dewa Pedang (2/3 bagian) bersinar redup.
"Peta ini menunjukkan ada Node formasi di bawah hutan bambu ini," gumam Ye Chen.
Dia mengaktifkan Mata Asura (penglihatan Qi).
Benar saja. Di bawah tanah, sekitar sepuluh meter di kedalaman, terdapat aliran Qi yang tidak wajar. Aliran itu bukan berasal dari Dragon Vein (Urat Naga) alami bumi, melainkan buatan manusia. Aliran itu mengarah lurus ke pusat akademi—ke Pagoda Bintang.
"Tapi bagaimana cara masuknya?"
Ye Chen berjalan mengelilingi area itu. Dia berhenti di depan sebuah batu besar yang ditumbuhi lumut ungu aneh.
Saat Ye Chen mendekatkan peta itu ke batu tersebut, lumut ungu itu tiba-tiba hidup. Mereka bergerak menyingkir, memperlihatkan sebuah lubang kunci berbentuk pedang di permukaan batu.
Ye Chen meraba lehernya. Liontin pedang Pemecah Gunung?
"Bukan. Lubangnya terlalu kecil dan halus."
Ye Chen teringat sesuatu. Di dalam Makam Pedang sebelumnya, dia mendapatkan Benih Niat Pedang.
"Kuncinya bukan benda fisik. Kuncinya adalah Niat Pedang."
Ye Chen meletakkan jari telunjuknya ke lubang kunci batu itu. Dia memejamkan mata, menyalurkan Niat Pedang Kehancuran peraknya ke dalam batu.
Klik.
Suara mekanisme kuno terdengar.
Tanah di depan batu itu bergetar dan perlahan terbelah, memperlihatkan sebuah tangga batu spiral yang menuju ke kedalaman bumi yang gelap gulita.
Bau udara purba dan debu menyeruak keluar.
"Bingo."
Ye Chen tersenyum. Namun, senyumnya hilang saat dia mendengar suara langkah kaki ringan di belakangnya.
"Jadi rumor itu benar. Paviliun Bambu Hitam menyembunyikan pintu belakang akademi."
Ye Chen berbalik secepat kilat, liontin kalungnya sudah ada di tangan, siap menyerang.
Di atas dahan bambu, berdiri sesosok wanita dengan jubah guru akademi yang ketat, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang mematikan. Dia mengenakan topeng kain sutra tipis, tapi matanya yang indah dan tajam menatap Ye Chen dengan rasa ingin tahu.
Aura wanita ini... Ranah Pembentukan Inti!
"Siapa kau?" tanya Ye Chen waspada.
Wanita itu melompat turun, mendarat tanpa suara.
"Aku? Murid-murid memanggilku Guru Su. Aku pengajar kelas alkimia," wanita itu tersenyum di balik kain tipisnya. "Tapi malam ini, aku hanya seorang wanita yang penasaran kenapa seorang murid baru bisa membuka segel yang bahkan Kepala Sekolah tidak bisa membukanya selama lima puluh tahun."
Guru Su berjalan mendekat, mengabaikan sikap defensif Ye Chen.
"Ye Chen, kan? Kau menarik. Sangat menarik."
Guru Su menunjuk ke lubang gelap itu.
"Tempat itu berbahaya. Di bawah sana ada Labirin Akar Roh. Jika kau masuk sendirian, kau akan mati sebelum mencapai Pagoda."
"Kenapa kau memberitahuku?" tanya Ye Chen.
"Karena aku juga ingin masuk," jawab Guru Su santai. "Aku butuh sesuatu di bawah sana untuk... penelitian pribadiku. Bagaimana kalau kita bekerja sama? Kau punya kuncinya, aku punya peta mental labirinnya."
Ye Chen menatap wanita itu. Instingnya mengatakan wanita ini berbahaya, seperti ular berbisa yang cantik. Tapi tawarannya masuk akal. Tanpa pengetahuan tentang labirin, dia mungkin akan tersesat selamanya.
"Kerja sama?" Ye Chen menurunkan tangannya sedikit. "Bagi hasil 70-30. Aku 70."
Guru Su tertawa renyah, suara tawanya seperti lonceng perak.
"Dasar bocah serakah. Biasanya pria akan memberikan segalanya untuk bisa berduaan denganku di tempat gelap. Baiklah, 60-40. Atau aku akan berteriak 'Penyusup' sekarang juga."
Ye Chen mendecih. "Sepakat. 60-40."
"Bagus."
Guru Su berjalan melewatinya, aroma bunga persik yang memabukkan tercium dari tubuhnya.
"Ayo, Partner Kecil. Mari kita lihat rahasia apa yang dikubur pendiri akademi di bawah tanah ini."
Mereka berdua melangkah masuk ke dalam tangga spiral itu. Batu di atas mereka menutup kembali, menyegel kegelapan, dan memulai petualangan baru di bawah Akademi Bintang.
(Akhir Bab 32)