"Ketika seorang anak ingin dicintai tapi selalu dijadikan alasan"
Kanaya ditinggalkan ibunya sejak bayi berumur 14 bulan dan tumbuh bersama ayah yang selalu menyalahkannya atas setiap kegagalan hidup.
Saat ayahnya menikah lagi, kasih sayang yang dulu sempat ia rasakan perlahan hilang.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang berubah menjadi sumber luka.
Kanaya hanya ingin diakui sebagai anak, bukan beban.
Namun semakin ia berusaha, semakin ia disalahkan.
Sampai akhirnya ia hanya bisa bertanya dalam diam—
Ayah, apa salahku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUMAH YANG MEMANGGIL KANAYA PULANG
Setelah berminggu-minggu menyusuri jalanan Bandung hingga sepatunya benar-benar jebol, kenyataan pahit kembali menghampiri Bagas. Ijazah sarjana perhotelannya tetap sulit menembus dinding hotel-hotel besar karena faktor usia dan masa kosong kerja yang terlalu lama. Namun, Bagas tidak menyerah. Di titik terendahnya, ia melihat sebuah papan pengumuman di depan gerbang sebuah perusahaan laundry industri raksasa—yang menangani linen dari rumah sakit dan hotel-hotel ternama.
Mereka tidak butuh manajer, mereka butuh penjaga keamanan. Bagas teringat ia pernah mengikuti pelatihan bela diri boxer (Tarung Derajat) semasa muda dan masih menyimpan sertifikatnya. Dengan modal itu, ia memberanikan diri melamar. Tubuhnya yang tegap dan disiplin yang terpancar dari matanya membuat kepala keamanan di sana langsung menerimanya.
Malam itu, Bagas berdiri tegak mengenakan seragam safari biru gelap sebagai satpam baru. Pekerjaan ini jauh dari mimpinya sebagai manajer hotel, namun bagi Bagas, seragam ini adalah seragam kehormatan.
"Kamu punya dasar boxer, kan? Bagus. Di sini jam kerja ketat, tapi gajinya stabil dan ada uang lembur," ucap komandannya saat memberikan shift malam pertama.
Bagas menatap pantulan dirinya di cermin pos penjagaan. Ia meraba saku dadanya, di mana terselip foto kecil Kanaya yang ia ambil sebelum berangkat ke Bandung. "Kanaya, Ayah sudah punya seragam sekarang. Ayah sudah punya pekerjaan tetap," bisiknya dengan mata berkaca-kaca namun penuh semangat.
Setiap jam satu malam, saat suasana pabrik laundry itu riuh dengan mesin-mesin besar yang mencuci ribuan kain, Bagas berpatroli dengan gagah. Ia tidak lagi peduli dengan gengsi sarjananya. Bagas mulai menyisihkan setiap rupiah dari gaji pertamanya. Ia makan dengan sangat hemat, hanya nasi dan kerupuk, demi mengumpulkan uang untuk menyewa kontrakan yang layak—kontrakan yang harus memiliki jendela dan sirkulasi udara yang baik agar Kanaya tidak lagi menghirup udara pengap.
Malam itu, di sela-sela waktu istirahat shift malamnya, Bagas duduk di bangku kayu kecil di samping pos penjagaan. Suara mesin uap dari dalam pabrik laundry masih menderu, menciptakan kabut tipis di udara malam Bandung yang dingin. Ia merogoh saku seragam safarinya, mengeluarkan beberapa koin, dan melangkah menuju telepon umum di dekat gerbang.
Setelah beberapa nada sambung, suara berat Mas Anto terdengar di ujung telepon. Bagas menarik napas panjang, mencoba mengatur kata-kata yang sudah mengendap di kepalanya selama beberapa hari ini.
"Mas... ini Bagas," ucapnya pelan. "Aku sudah dapat kerja, Mas. Jadi satpam di perusahaan laundry besar. Lumayan, gajinya stabil dan ada lemburan."
"Alhamdulillah, Gas! Itu kabar bagus," sahut Anto terdengar tulus. "Nggak apa-apa mulai dari bawah, yang penting halal dan kamu punya pegangan. Terus, gimana rencana selanjutnya?"
Bagas terdiam sejenak, menatap foto Kanaya yang ia tempel di bagian dalam dompetnya. "Mas... soal janji tiga bulan itu," suara Bagas sedikit bergetar. "Aku baru sadar, gaji satpam kalau buat sewa tempat yang benar-benar layak dan bayar pengasuh bayi di Bandung itu berat sekali. Aku mau kasih Kanaya yang terbaik, Mas. Aku nggak mau dia hidup susah lagi kayak kemarin."
Bagas menjeda kalimatnya, ada rasa sesak yang ia telan. "Mas, kalau aku minta waktu lebih lama... gimana kalau Kanaya satu tahun di sana sama Mas Anto dan Mbak Susan? Sampai posisiku di sini benar-benar kuat atau aku bisa naik jabatan. Apa Mas sama Mbak keberatan?"
Hening sejenak di seberang telepon. Bagas memejamkan mata, takut jika permintaannya dianggap sebagai bentuk lepas tanggung jawab. Namun, jawaban Anto justru membuatnya tersedu.
"Gas... sejujurnya, baru saja tadi sore Mbak Susan bilang kalau dia nggak sanggup kalau harus pisah sama Kanaya dalam tiga bulan. Anak-anak di sini, si kembar sama Icha, tiap pagi yang dicari pertama kali itu Kanaya. Kami malah senang kalau kamu titipkan dia lebih lama," ucap Anto dengan nada tenang yang menenangkan hati.
"Tapi ingat ya, Gas," lanjut Anto dengan nada yang sedikit lebih tegas, "Satu tahun itu bukan waktu yang sebentar. Kamu bakal kehilangan momen dia mulai merangkak, mulai panggil 'Ayah', atau mulai jalan. Kamu sanggup menahan rindu sedalam itu?"
Bagas menyandarkan keningnya ke kaca wartel yang dingin. Air matanya menetes, namun kali ini bukan air mata keputusasaan. "Aku sanggup, Mas. Aku rela kehilangan momen-momen itu asal dia punya gizi yang cukup, lingkungan yang bersih, dan kasih sayang yang lengkap dari kalian. Aku akan kerja mati-matian di sini. Tiap bulan aku akan kirim uang susunya, meskipun Mas nggak minta. Aku harus tetap merasa jadi ayahnya."
"Ya sudah, kalau itu keputusanmu. Fokuslah kerja, Gas. Jangan pikirkan biaya di sini, simpan uangmu buat masa depan kalian berdua nanti. Kanaya sudah kami anggap anak sendiri. Kabari Ibu juga ya, dia pasti tenang dengarnya."
Bagas menutup telepon dengan perasaan yang campur aduk antara lega dan rindu yang menyayat. Satu tahun tanpa melihat wajah Kanaya secara langsung adalah harga yang sangat mahal, namun ia tahu ini adalah pengorbanan terbesar yang harus ia lakukan sebagai seorang ayah.
Malam itu, suasana di ruang tengah rumah orang tua Bagas terasa begitu hening, hanya ditemani suara detak jam dinding dan gumam pelan radio tua milik ayahnya. Bagas, yang baru saja pulang dari shift sore di perusahaan laundry, sudah tertidur lelap di kamarnya karena kelelahan. Ibunya mendekat ke arah ayahnya yang sedang duduk di kursi kayu, lalu berbisik dengan nada cemas yang sangat halus, "Pak, gimana ya si Kanaya di Tegal? Apa susunya cocok? Ibu jadi kepikiran terus sama cucu kita itu."
Namun, keheningan itu pecah seketika saat pintu kamar Mbak Maya terbuka dengan sentakan keras. Maya berdiri di sana dengan wajah tegang, rupanya ia belum tidur dan mendengar seluruh bisikan ibunya. "Di mana bayinya memang?" tanya Maya tajam, membuat kedua orang tuanya tersentak kaget.
"Di Tegal, di rumah Anto," jawab Ibunya terbata, terkejut dengan kehadiran Maya yang tiba-tiba.
"Ibu ini gimana sih?!" Maya melangkah masuk ke tengah ruangan, suaranya meninggi dan penuh emosi. "Itu jauh sekali, Bu! Ibu sama Bapak kok bisa-bisanya membolehkan Bagas bawa bayi sekecil itu menempuh perjalanan jauh ke Tegal? Bagaimana kalau dia sakit di jalan? Apa Bagas bisa mengurusnya sendiri? Dia itu laki-laki, ceroboh pula!" Maya mencecar dengan nada keras, napasnya memburu menunjukkan amarah yang meluap.
"Maya, tenang dulu... di sana ada Susan yang bantu," ucap Ibunya mencoba menenangkan.
"Tetap saja, Bu! Kanaya itu masih merah! Kenapa harus dibuang jauh-jauh ke sana?" Maya terus mengomel, kata-katanya pedas seolah ia sangat membenci situasi tersebut.
Namun, di sudut ruangan, Ayah Bagas hanya terdiam sambil memperhatikan wajah putri sulungnya itu. Sebagai seorang pensiunan polisi yang terbiasa membaca raut wajah orang, ia melihat sesuatu yang berbeda di balik kemarahan Maya. Meskipun mulutnya mengeluarkan kata-kata tajam dan penuh penghakiman, matanya menyiratkan kecemasan yang mendalam. Ayah Bagas menyadari bahwa kebencian Maya hanyalah tameng; di balik itu semua, ada rasa sayang dan kepedulian seorang bibi yang tidak ingin keponakannya menderita. Maya marah bukan karena ia tidak peduli, tapi justru karena ia sangat peduli namun tidak tahu bagaimana cara menunjukkannya tanpa terlihat "kalah" oleh masa lalu Bagas.
"Sudah, Maya," ucap ayahnya pelan namun dalam. "Kamu marah begitu karena takut Kanaya kenapa-napa, kan? Kalau kamu memang sayang, doakan adikmu itu benar-benar bisa jadi orang. Biarkan Kanaya di tempat yang lebih aman untuk sekarang."
Maya terdiam, ia membuang muka untuk menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca. Tanpa sepatah kata lagi, ia berbalik dan masuk kembali ke kamarnya, membanting pintu dengan keras. Namun, semua orang di ruangan itu tahu: dinding es di hati Mbak Maya mulai retak oleh kehadiran seorang bayi bernama Kanaya.
Suasana meja makan pagi itu terasa sangat kaku. Hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan piring saat Bagas, Ayah, dan Ibunya menyantap sarapan dalam diam. Bagas baru saja akan menghabiskan nasi gorengnya sebelum berangkat kerja saat Mbak Maya duduk di kursi seberangnya. Ia tidak menyentuh makanannya, melainkan menatap Bagas dengan tatapan tajam yang membuat adiknya itu salah tingkah.
"Bawa anak itu hari ini juga sebelum aku berubah pikiran," ucap Mbak Maya tiba-tiba dengan suara datar namun tegas.
Kalimat itu seketika membuat Bagas tersedak. Ayah dan Ibunya pun ikut berhenti mengunyah, mata mereka membulat menatap Maya dengan rasa tidak percaya yang luar biasa. Suasana yang tadinya sunyi mendadak menjadi sangat tegang.
"Maksud Mbak... Kanaya?" tanya Bagas terbata, seolah ingin memastikan telinganya tidak salah dengar.
"Memangnya anakmu ada berapa?" jawab Maya ketus. Ia merogoh saku blus kerjanya dan mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu, lalu meletakkannya di atas meja, tepat di depan Bagas. "Ini ongkos buat ke sana. Jemput dia. Aku sudah bicara sama kepala sekolah, jam mengajarku bisa diatur supaya aku bisa bantu Ibu jaga dia kalau kamu sedang shift malam."
Bagas terpaku menatap uang itu, lalu menatap wajah kakaknya. Ia melihat gurat kelelahan di wajah Mbak Maya, namun ada kelembutan yang dipaksakan di sana. "Mbak... tapi Mbak kemarin bilang..."
"Kemarin itu kemarin!" potong Maya cepat, wajahnya sedikit memerah karena gengsi. "Aku semalaman tidak bisa tidur memikirkan bayi sekecil itu harus jauh dari ayahnya. Kamu memang payah, Gas, tapi anak itu butuh bapaknya. Dan rumah ini... rumah ini terlalu sepi kalau tidak ada suara tangis bayi."
Ibunya langsung berkaca-kaca, ia menggenggam tangan Maya dengan penuh syukur. Sementara Ayahnya hanya tersenyum tipis di balik cangkir kopinya, seolah sudah menduga bahwa hati putri sulungnya itu tidak sekeras batu yang ia tunjukkan.
"Terima kasih, Mbak. Terima kasih banyak," bisik Bagas dengan suara serak. "Aku janji, aku akan jadi satpam yang rajin, aku nggak akan merepotkan Mbak Maya soal biaya. Aku cuma butuh bantuan buat jaga dia."
"Sudah, jangan banyak bicara," Mbak Maya berdiri, merapikan tas kerjanya dengan gerakan gugup untuk menutupi rasa harunya. "Cepat habiskan makanmu. Jangan sampai kamu telat jemput dia. Kalau sampai Kanaya sakit di jalan karena kamu ceroboh, aku tidak akan pernah memaafkanmu, Bagas!"
Setelah Maya berangkat ke sekolah, Bagas masih terduduk di sana dengan perasaan yang meluap-luap. Rencananya untuk menitipkan Kanaya selama satu tahun gugur seketika oleh kasih sayang kakaknya yang tersembunyi. Ternyata, kehadiran Kanaya benar-benar menjadi jembatan yang menyatukan kembali kepingan keluarga mereka yang sempat hancur.