NovelToon NovelToon
Mau Tapi Malu

Mau Tapi Malu

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Nikahmuda / Dunia Masa Depan / Keluarga / Romansa / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rifqi Ardiasyah

Zahra tumbuh sebagai pribadi yang tenang dan tertutup.
Ia tidak terluka, hanya terbiasa menjaga jarak dan memilih diam.
Schevenko berbeda.
Di balik sikap dingin dan wibawanya, ada masa lalu yang membentuknya menjadi pria yang tidak mudah percaya, tidak mudah berharap.
Pertemuan mereka tidak pernah dibungkus dengan janji manis. Tidak ada cinta yang datang tiba-tiba, hanya kebersamaan yang pelan, percakapan seperlunya, dan perhatian yang tak terucapkan.
Zahra tidak datang untuk menyembuhkan.
Ia hanya hadir—dan entah bagaimana, kehadiran itu cukup.
Hingga akhirnya, dua orang yang sama-sama dingin, dengan alasan yang berbeda, ditakdirkan untuk saling menggenggam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Angin sore

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat.

Sore itu, cahaya matahari yang hangat masuk melalui jendela, menyoroti ruang tamu dengan lembut. Udara rumah terasa tenang, tapi jantungku tidak.

Schevenko menatapku, tatapannya hangat tapi penuh wibawa.

“Zahra,” katanya perlahan, “bolehkah aku meminta izin kepada ayahmu untuk mengajakmu keluar sebentar? Hanya sebentar, untuk berbicara dan mengenalmu lebih dekat.”

Aku menatap ayahku, tak menyangka ia akan langsung menjawab.

“Silakan, Nak. Kau bisa ikut bersamanya. Jangan khawatir, ia orang baik, dan ia tahu jarak serta batasan,” kata ayah tenang, hampir tanpa berpikir panjang.

Aku terkejut.

Tidak menyangka ayahku akan secepat itu memberi izin.

Aku hanya bisa mengangguk pelan.

“Baik, ayah…”

Ayah tersenyum tipis.

“Tenang, Zahra. Kau aman.”

Aku menoleh ke arah ibu, yang tersenyum lembut dan melambaikan tangan padaku.

“Jaga diri baik-baik, Nak,” ucapnya. Suaranya menenangkan, tapi hatiku tetap berdebar kencang.

Aku melangkah keluar, dan di halaman depan, Schevenko sudah menunggu di samping mobilnya.

Mobil itu… mewah, berkilau di bawah cahaya sore, tapi bukan itu yang membuatku fokus.

Aku tetap menatap Schevenko. Wajahnya tenang, matanya biru yang tajam tapi hangat, rambutnya tersisir rapi, dan posturnya tegap tapi tidak sombong.

“Silakan, Zahra,” ucapnya lembut, membuka pintu mobil untukku.

Aku tersentak sebentar, tapi kemudian tersenyum tipis, dan masuk ke dalam mobil.

Begitu aku duduk, ia menutup pintu dengan tenang, dan senyum tipisnya kembali muncul.

“Tenanglah, Zahra. Kita hanya berbicara dan menikmati sore. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan,” katanya sambil menyalakan mobil.

Perasaanku campur aduk.

Takut, penasaran, kagum… semuanya bercampur.

Aku menatap jendela sejenak, mencoba menenangkan diri.

Tapi pandanganku selalu kembali ke Schevenko.

Setiap gerakannya, cara ia memegang setir, senyum tipisnya, tatapannya yang sesekali menoleh padaku… semuanya membuatku semakin sulit berpikir jernih.

Mobil melaju di jalanan yang sepi. Angin sore menerobos kaca mobil yang sedikit terbuka, membawa aroma segar dan hangat.

Aku menarik napas panjang. Angin itu terasa menenangkan, tapi juga membuat jantungku berdebar lebih kencang.

“Zahra,” tiba-tiba ia berbicara, suaranya tenang tapi terdengar jelas di telingaku.

“Aku senang bisa mengajakmu keluar. Aku ingin kau merasa nyaman, tidak terburu-buru, dan… aku ingin kau tahu, aku menghargai setiap kata yang kau ucapkan tadi di rumah.”

Aku menatapnya, hampir kehilangan kata-kata.

“Terima kasih, Pak Schevenko… maksudku… aku… senang juga bisa… berbicara dengan Bapak,” jawabku akhirnya, sedikit terbata-bata.

Ia tersenyum tipis, tatapannya menenangkan tapi memikat.

“Panggil aku Schevenko saja, Zahra. Tanpa embel-embel formalitas. Aku ingin kau merasa dekat, tapi tetap nyaman.”

Aku tersenyum tipis, hati berdebar.

“Baik… Schevenko.”

Suasana di mobil tetap tenang, tapi di dalam hatiku… ribuan perasaan bergejolak.

Aku menyadari, sejak pertama kali bertemu dengannya, aku belum pernah merasakan hal seperti ini.

Satu sisi, aku takut perasaan ini terlalu cepat muncul.

Sisi lain, aku merasa tertarik, penasaran, dan ingin mengenalinya lebih dalam.

Ia menoleh sekilas ke arahku, lalu tersenyum tipis lagi.

“Zahra… aku ingin kau tahu, aku menghargai cara keluargamu mendidikmu. Cara mereka memperlakukanmu… membuatku semakin yakin ingin mengenalmu lebih jauh. Tapi aku tidak akan memaksa. Semua harus atas izin dan kenyamananmu.”

Aku tersentak, merasa hati ini sedikit hangat.

“Terima kasih… Schevenko,” ucapku pelan, menunduk sebentar.

Ia tersenyum tipis, matanya biru menatapku dengan lembut.

“Kau tidak perlu berterima kasih, Zahra,” katanya.

Mobil berhenti perlahan di tepi pantai. Ombak berbisik lembut, memecah kesunyian sore dengan irama yang menenangkan. Angin laut menampar pipiku dengan lembut, membawa aroma asin yang segar.

Ia membuka pintu mobil dan menatapku, tersenyum tipis lagi.

“Yuk, keluar sebentar,” ajaknya.

Aku mengangguk, turun dari mobil, dan merasakan pasir pantai yang dingin menempel di kakiku.

Langkahku terasa ringan tapi jantungku tetap berdetak cepat.

Schevenko berjalan di sampingku, tetap tenang, setiap gerakannya terlihat elegan, tapi tidak sombong.

Kami berjalan di pinggir pantai, hanya suara ombak dan angin sore yang menemani.

Aku memberanikan diri untuk bertanya, suaraku pelan.

“Maaf… jika pertanyaan ini mengganggu… kenapa kamu memilihku, Schevenko? Padahal kita… kita bahkan belum pernah bertemu sebelumnya.”

Ia menatapku, matanya biru menyala sedikit diterpa cahaya matahari senja.

“Suatu hari, Zahra… kau akan tahu alasannya,” jawabnya lembut.

Aku menelan ludah, menatap matanya tanpa bisa menoleh ke arah lain.

Ia mencondongkan tubuh sedikit, menatap langit yang mulai kemerahan.

“Ketahuilah… aku sekarang benar-benar berbeda dari diriku sebelumnya,” lanjutnya.

“Dan… aku sama sepertimu. Tidak pernah dekat dengan perempuan, bahkan orang asing. Baik perempuan maupun laki-laki.”

Aku menatapnya, terkejut sekaligus penasaran.

“Lalu… kenapa di depan keluargaku, kamu terlihat begitu dekat… apalagi dengan ayahku?” tanyaku, suara sedikit gemetar.

Sekali lagi, ia tersenyum tipis, sedikit menundukkan kepala.

“Itu… karena kamu, Zahra,” katanya tenang, namun suara itu begitu hangat.

Pipiku langsung memerah. Aku menunduk, merasa jantungku berdegup lebih cepat.

“Keluargamu… di mana mereka?” tanyaku pelan, penasaran, tapi juga hati-hati.

Schevenko terdiam. Ia menatap laut, gelombang yang bergulung di bawah cahaya senja.

Aku tersadar, ucapan itu mungkin terlalu menyakitinya.

“Maaf… aku tidak bermaksud menyinggung…” ucapku pelan.

Ia menoleh, senyum tipis menghiasi wajahnya, tapi ada kesan sedih ringan di matanya.

“Kenapa minta maaf, Zahra?” tanyanya lembut.

“Aku… aku salah. Aku benar-benar minta maaf,” jawabku, menunduk lagi.

Ia menatapku lama, lalu tersenyum tipis.

“Tidak apa-apa… jangan terlalu keras pada dirimu sendiri,” katanya, menenangkan.

Aku menarik napas panjang. Suasana sore itu begitu damai, tapi hatiku tetap berdebar.

Ombak memecah kesunyian, angin meniup rambutku, dan di sampingku… Schevenko tetap menatapku dengan mata biru yang hangat tapi penuh wibawa.

Setelah beberapa saat, ia menyadari hari mulai meredup.

“Kita harus kembali, Zahra. Matahari akan segera tenggelam, dan aku tidak ingin kau pulang terlalu larut,” ucapnya lembut.

Aku mengangguk, meski sebenarnya aku masih ingin tinggal lebih lama di pantai ini, berjalan di sampingnya, merasakan angin sore yang menenangkan.

Di perjalanan pulang, mobil melaju pelan di jalan kota. Lampu-lampu jalan mulai menyala, memberi cahaya hangat di sore yang mulai gelap.

Tiba-tiba, ia memberhentikan mobil di depan sebuah toko HP.

Sebelum aku sempat bertanya, ia sudah berbicara.

“Ayo turun, Zahra. Kita masuk sebentar.”

Aku mengangguk, sedikit bingung tapi menurut.

Kami masuk ke dalam toko. Bau plastik baru dan aroma elektronik memenuhi udara. Lampu putih toko membuat suasana terasa terang, tapi mataku tetap tertuju padanya.

Schevenko berjalan di sampingku, santai tapi tetap elegan.

Ia mengambil sebuah ponsel terbaru, membaliknya perlahan di tangannya, lalu menatapku.

“Kau mau ini?” tanyanya, suaranya tenang tapi hangat.

Aku menatapnya, sedikit menolak.

“Tidak perlu… di rumah ada HP ayahku kok,” jawabku, ragu-ragu.

Ia tersenyum tipis, menaruh ponsel itu di tanganku.

“Ambil saja. Ini bukan soal barang… tapi aku ingin kau nyaman. Lagipula, kau akan sering membutuhkannya untuk komunikasi, terutama nanti,” katanya.

Aku menatap ponsel itu, hati sedikit tersentuh.

“Aku… baiklah… terima kasih,” jawabku akhirnya.

Ia menatapku lama, senyum tipis muncul lagi.

“Jangan ragu, Zahra. Aku hanya ingin kau merasa nyaman,” katanya lembut.

Aku menggenggam ponsel itu, merasa hangat.

Bukan karena harganya atau bentuknya, tapi karena perhatian yang ia tunjukkan.

Perhatian itu membuat hatiku berdetak lebih cepat, membuatku tersadar bahwa… Schevenko bukan sekadar pria tampan dan kaya.

Ia… peduli, tapi dengan cara yang halus, sopan, dan membuat orang merasa dihargai.

Setelah itu, kami keluar dari toko.

Langit sore kini mulai gelap, lampu-lampu jalanan menyala lebih terang.

Aku duduk kembali di mobil, menatap Schevenko.

Ia tersenyum tipis, mata birunya menatapku dengan lembut.

“Siap pulang, Zahra?” tanyanya.

Aku mengangguk, hati masih berdebar.

“Siap, Schevenko,” jawabku pelan.

Mobil melaju lagi, meninggalkan sore yang hangat, angin yang menyejukkan, dan ombak di pantai yang perlahan hilang dari pandangan.

Tapi satu hal jelas di hatiku:

Sore itu, setiap kata, setiap senyum, setiap perhatian Schevenko… meninggalkan jejak yang tak akan pernah kulupakan.

Aku pun tiba di.......

Bersambung...

1
Tati Hartati
semangat terus kakak
checangel_
Nah, itu baru benar ... menjauh untuk menjaga 😇
checangel_: semangat/Determined/
total 2 replies
checangel_
Bagus itu/Good/
yanzzzdck
👍
Amiera Syaqilla
hello author🤗
Tati Hartati
lanjut terus kak
Reenuctee 🐈‍⬛🐱
/Good//Good/
Tati Hartati
mantap kak... lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!