NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Bagi Putra Mahesa Aditama 30 tahun, menikahi Citra Anindya 20 tahun, pramusaji muda yang cengeng dan centil, adalah kesalahan fatal. Ia bersikap dingin, kasar, dan tak menganggap Citra ada.

Namun, Citra tak menyerah. Dengan tingkah manja dan kesabaran seluas samudra, ia terus berusaha meluluhkan hati beku sang suami, meski seringkali harus menyeka air mata akibat ucapan pedas Putra yang merendahkannya setiap waktu.

Mampukah ketulusan Citra meruntuhkan arogansi Putra, ataukah pernikahan ini hanya akan berakhir dengan luka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Udara malam di taman samping hotel itu terasa semakin menggigit kulit. Angin berhembus membawa titik-titik air dari kolam mancur, menerpa wajah Citra yang sedikit pucat.

Di hadapannya, berdiri seorang pria jangkung berwajah tegas namun memiliki sorot mata yang luar biasa teduh. Tangan pria itu masih terulur, menyodorkan jas abu-abu gelap berbahan wol halus yang tampak sangat mahal.

Citra menatap jas itu sejenak, lalu mendongak menatap wajah pria asing tersebut. Selama berminggu-minggu terkurung di Mansion Aditama, Citra sudah terbiasa menerima tatapan merendahkan, hinaan, dan perintah kasar. Tawaran jas dan tumpangan pulang ini terasa begitu janggal sekaligus mengharukan.

Namun, insting bertahannya sebagai wanita yang sedang berada di tengah medan perang membuat Citra tetap waspada. Ia tidak mengenal pria ini.

"Terima kasih atas tawarannya, Tuan," tolak Citra dengan nada suara yang sangat sopan namun menjaga jarak. Ia menundukkan kepalanya sedikit, menolak mengambil jas itu. "Tapi saya bisa memesan taksi online sendiri dari lobi. Saya tidak ingin merepotkan Anda."

Pria itu tersenyum tipis, seolah sudah menduga penolakan halus tersebut. Ia tidak memaksa memakaikan jasnya, melainkan melipatnya dan menyampirkannya kembali di lengannya sendiri.

"Saya Morgan. Morgan Dirgantara," pria itu memperkenalkan diri dengan suara bariton yang tenang dan meyakinkan. "Saya sahabat Putra sejak kami kuliah di London. Kebetulan saya baru mendarat di Jakarta kemarin sore dan langsung menghadiri acara ini."

Mendengar nama Putra disebut, tubuh Citra sedikit menegang, namun ia dengan cepat menguasai kembali ekspresi datarnya. Sahabat Mas Putra? batinnya waspada.

"Maafkan kelancangan saya mendengarkan pembicaraan kalian tadi," lanjut Morgan, suaranya melembut, menyadari perubahan bahasa tubuh wanita di hadapannya. "Saya benar-benar terkejut melihat Putra bersikap sekeras itu. Seingat saya, dia bukan pria yang kasar pada wanita. Apakah... dia selalu memperlakukanmu seperti itu?"

Pertanyaan tulus itu menohok dada Citra, namun tak ada sebulir air mata pun yang jatuh. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak terlihat lemah di depan siapa pun yang berhubungan dengan suaminya.

"Itu bukan urusan yang pantas dibicarakan dengan orang luar, Tuan Morgan," jawab Citra lugas dan profesional, memotong rasa kasihan pria itu dengan tameng es andalannya. "Sekali lagi, terima kasih atas tawarannya. Saya permisi dulu."

Citra membalikkan badan, berniat menyusuri jalan setapak taman menuju area valet di lobi depan. Namun baru dua langkah ia berjalan, Morgan kembali bersuara.

"Nona... eh, maaf, saya bahkan belum tahu nama Anda," panggil Morgan sedikit canggung.

Citra menghentikan langkahnya, menoleh sedikit dari atas bahunya. "Citra."

"Dengar, Citra," ucap Morgan melangkah mendekat, menjaga jarak aman agar tidak terlihat mengintimidasi. "Ini sudah hampir jam sepuluh malam. Anda memakai gaun hitam di tempat yang sepi, dan mencari taksi dari hotel ini cukup sulit kalau tidak memesan jauh-jauh hari karena ada acara besar. Tolong, biarkan saya mengantar Anda pulang. Anggap saja ini... permintaan maaf saya atas sikap buruk sahabat saya. Saya jamin keselamatan Anda sampai di depan gerbang Mansion Aditama."

Citra menatap mata Morgan lurus-lurus, mencari kebohongan atau niat buruk di sana. Namun yang ia temukan hanyalah tatapan seorang gentleman yang murni merasa bersalah dan khawatir. Logika Citra berputar cepat. Berdiri menunggu taksi online di pinggir jalan raya dalam balutan gaun tipis memang berisiko tinggi. Jika ia menerima tawaran Morgan, ia bisa pulang dengan aman, gratis, dan yang paling penting: ia bisa menghindari kemungkinan berpapasan dengan kolega Putra di lobi hotel.

Setelah menimbang-nimbang sesaat, Citra akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah. Kalau tidak merepotkan."

Senyum lega terbit di wajah tampan Morgan. "Sama sekali tidak merepotkan."

Morgan segera menelepon sopirnya untuk membawa mobil ke area VIP samping hotel, memastikan Citra tidak perlu melewati lobi utama yang ramai. Tak lama, sebuah sedan mewah hitam Eropa berhenti di dekat mereka. Morgan dengan sangat sopan membukakan pintu penumpang belakang untuk Citra, sebuah gestur kecil yang tak pernah sekalipun dilakukan Putra padanya.

Perjalanan menuju Mansion Aditama malam itu dihabiskan dalam keheningan yang cukup nyaman. Morgan duduk di kursi penumpang depan, di samping sopirnya, membiarkan Citra memiliki privasi di kursi belakang. Ia tidak menghujani Citra dengan pertanyaan usil tentang pernikahannya, meskipun rasa penasarannya membuncah. Morgan hanya sesekali menatap Citra dari kaca spion tengah. Ia melihat wanita itu menatap kosong ke luar jendela, wajah cantiknya memantulkan cahaya lampu jalanan ibu kota yang melesat cepat. Ada aura kesedihan yang mendalam di balik ketenangan wajah itu, membuat dada Morgan mendadak terasa sesak oleh rasa iba yang tak terjelaskan.

"Kita sudah sampai, Nona Citra," ucap Morgan membuyarkan lamunan Citra saat sedan mewah itu berhenti tepat di depan gerbang raksasa Mansion Aditama yang tertutup rapat.

Citra tersentak pelan, merapikan gaunnya, lalu membuka pintu mobil sebelum sopir Morgan sempat turun.

"Terima kasih banyak atas tumpangannya, Tuan Morgan," ucap Citra tulus, menundukkan kepalanya dari luar kaca mobil yang terbuka. "Sampaikan juga terima kasih saya pada sopir Anda. Hati-hati di jalan."

"Sama-sama, Citra. Selamat malam," balas Morgan dengan senyum hangat, matanya mengikuti langkah kaki Citra hingga wanita itu menghilang di balik gerbang besi yang dibukakan oleh penjaga malam.

Di dalam mobil yang melaju menjauh, Morgan menyandarkan punggungnya sambil memijat kening. Ia mengenal Putra luar dalam sejak bertahun-tahun lalu. Ia tahu ambisi sahabatnya itu, ia tahu sifat perfeksionisnya, dan tentu saja... ia tahu tentang Laura. Namun, melihat Putra mengusir dan memperlakukan istri sahnya yang begitu anggun bagaikan sampah di depan umum, membuat pandangan Morgan terhadap sahabatnya sedikit berubah malam ini.

Ada teka-teki besar di dalam Mansion Aditama, dan tanpa sadar, Morgan merasa tertarik untuk memecahkannya.

Tepat pukul satu dini hari, deru mesin mobil sports Putra akhirnya memecah keheningan pelataran Mansion Aditama.

Pria itu turun dari mobil dengan langkah gontai, jasnya disampirkan di bahu, dan dasinya sudah dilonggarkan. Pesta perayaan perusahaannya berjalan sukses besar. Pak Aditama sangat bangga, kolega bisnis bertepuk tangan memujinya, dan ia berhasil menjalin beberapa kontrak bernilai miliaran. Namun anehnya, setelah acara selesai dan ia menghabiskan waktu minum bersama beberapa direktur di lounge VIP, ada rongga kosong di dadanya yang terasa menyebalkan.

Sepanjang malam, pikiran Putra terus kembali pada insiden di taman. Ia ingat betul bagaimana kasar cengkeramannya di lengan Citra. Ia ingat wajah pucat istrinya, dan yang paling mengganggu egonya: ia ingat bagaimana Citra tidak menangis atau memohon saat diusir. Wanita itu hanya menatapnya dengan kekosongan mutlak yang merendahkan.

Putra melangkah menaiki tangga menuju kamar utama dengan perasaan campur aduk. Sebagian dari dirinya bersiap untuk menghadapi tangisan, rajukan, atau wajah cemberut Citra yang merasa terhina. Ia sudah menyiapkan rentetan kalimat tajam untuk membungkam wanita itu jika berani protes.

Namun, saat Putra membuka pintu kamar utama, harapannya untuk berdebat atau sekadar memenangkan argumen hancur seketika.

Kamar itu gelap, hanya diterangi cahaya temaram dari lampu tidur kecil di atas nakas. Suhu pendingin ruangan diatur sangat sejuk. Di ujung kasur king size, membelakangi sisi Putra, Citra sudah terlelap tidur di bawah selimut tebalnya. Napas wanita itu terdengar sangat teratur dan damai, seolah dunia di luar sana tidak pernah menyakitinya.

Di atas meja kaca dekat sofa, jas, pakaian kerja, dan dasi bersih untuk esok hari sudah disiapkan dengan sangat rapi, terlipat tanpa cacat sedikit pun. Di sebelahnya, segelas air putih dan selembar sticky note kecil berwarna kuning menempel di meja.

Putra mendekat, membaca tulisan tangan Citra yang sangat rapi.

"Selamat malam, Mas. Pakaian untuk besok sudah siap. Jika Mas ingin mandi malam ini, air hangat di termos kecil sudah saya siapkan di wastafel. Saya sangat lelah dan harus bangun pagi besok."

Tidak ada makian. Tidak ada keluhan tentang lengan yang dicengkeram kasar. Tidak ada rajukan karena diusir dari pesta besar suaminya sendiri. Citra menjalankan tugasnya sebagai properti yang patuh hingga akhir, lalu tertidur nyenyak tanpa mempedulikan kepulangan suaminya.

Putra meremas sticky note itu hingga berkerut, rahangnya mengeras kuat. Pria yang baru saja dipuja oleh ratusan orang berkuasa di ballroom mewah itu, malam ini merasa dirinya ditelanjangi oleh ketidakpedulian seorang gadis kampung.

Istrinya tidak hancur oleh usirannya. Istrinya bahkan tidak menunggunya pulang untuk menuntut penjelasan.

Lanjut lagi? Cerita makin seru dan sebelum itu klik suka 🥰❤🙏

1
partini
lanjut Thor makin penasaran happy ending atau sad ending
atau happy bersama lelaki lain
Rani Manik: semangat thour💪
total 1 replies
Rani Manik
good, tapi buat karakter perempuan nya lebih tanguh lagi for independent women, both in terms of intelligence and revenge
partini
Morgan hemmm
Rani Manik: kiw morgan
total 1 replies
Lenty Fallo
😍😍😍💪
Lenty Fallo
mntap citra saya salut sama kamu, perthankn sifatmu itu. buat putra mnyesal dgn kelakuannya selama ini. bila perlu pergi mninggalkn laki yg sombong dan arogan itu. 💪❤️
Rani Manik
lanjut thour
partini
give coffee
partini
lanjut Thor 👍👍👍👍
partini
bermain cantik itu lebih baik
partini
very good 👍👍👍👍
partini
jangan lama" citra masa harus ad uang buanyakkk baru kabur
partini
good story
partini
nanggung put Siksa Ampe sekarat terus methong kamu jadi bebas
partini
betul"nyesek ini cerita , berakhir luka aja lah Thor pergi jauh mulai dari nol become strong woman and sukses
suaminya bikin dia menyesal kalau bisa sih
Yani Cuhayanih
belum ada pencerahan jangan buat lama lama citra tertindas nanti di ambil orang..begitulah lagu cici paramida...asyickk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!