NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Gadis Desa Mengguncang Istana Yogyakarta

Ruang Ajaib Gadis Desa Mengguncang Istana Yogyakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Menjadi Pengusaha / Ruang Ajaib / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Masuk ke lingkaran istana, Sekar justru disambut teror mental, racun kecubung, hingga fitnah ilmu hitam.

Berbekal teknologi Ruang Spasial, ia membalas telak: mengubah ulat sutra menjadi emas dan membungkam angkuh bangsawan dengan sains.

Namun, musuh tidak tinggal diam. Wabah mematikan menyerang Pangeran Arya, memaksanya bertaruh nyawa. Di saat kritis, hantaman terakhir justru datang dari ayah kandungnya sendiri: Gugatan hukum di Pengadilan Agama demi memeras harta sebagai syarat restu nikah.

Di antara ambisi GKR Dhaning, nyawa kekasih, dan keserakahan keluarga, Gadis desa ini siap mengguncang pilar istana Yogyakarta.

⚠️ PENTING:
🚫 PEMBACA BARU: STOP! Wajib baca SERI 1 dulu agar paham alurnya.
🔥 PEMBACA SETIA: Level musuh naik drastis! Dari nenek dan bibi julid ke politisi keraton. Siapkan hati untuk "Face-Slapping" yang jauh lebih brutal!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Orang Sakit Kok Aneh-aneh

Cahaya matahari pagi yang menerobos celah jendela paviliun terasa seperti jarum yang menusuk retina.

Sekar mengerang pelan, menarik selimut hingga menutupi kepalanya.

Bukan karena dia malas, tapi karena otaknya sedang mengkalibrasi sebuah skenario drama kelas satu.

"Gusti Allah, Mbak Sekar! Srengenge sudah setinggi galah, kok masih ngringkel seperti trenggiling?"

Suara cempreng Bu Sasmi terdengar membahana. Detik berikutnya, tirai jendela disibakkan dengan kasar.

Sret!

Cahaya menyilaukan membanjiri kamar.

Sekar sengaja tidak langsung bangun.

Dia membiarkan tubuhnya bereaksi alami terhadap kurang tidur sisa "insiden" semalam.

Wajahnya memang pucat, efek stres mendadak saat Bu Sasmi memergokinya "mati suri". Kantung matanya tebal.

Sempurna.

"Mbak Sekar!" Bu Sasmi menarik selimutnya.

Sekar membuka mata perlahan, lalu dengan gerakan teatrikal namun terukur, dia memijat pelipisnya dan meringis kesakitan.

"Silau, Bu..." desisnya lirih.

"Tolong tutup tirainya. Kepala saya rasanya mau pecah."

Bu Sasmi berkacak pinggang, menatapnya dengan pandangan meremehkan.

"Halah, alasan. Orang desa kok manja? Di Keraton itu bangun harus sebelum ayam berkokok. Ora ilok gadis perawan bangun siang."

"Ini bukan malas, Bu," Sekar bangun perlahan, memegangi kepalanya seolah bobotnya bertambah lima kilo.

Dalam hati, dia mulai menyusun diagnosis medis palsu. "Saya migrain. Cahaya ini memicu fotofobia."

"Foto-apa?" Bu Sasmi melotot.

"Jangan pakai bahasa planet, Mbak. Bilang saja pusing."

Sekar turun dari ranjang dengan langkah sempoyongan yang disengaja.

Dia tahu, untuk mengusir "CCTV berjalan" ini dari kamarnya nanti malam, dia harus menciptakan kondisi medis yang tidak bisa dibantah oleh tradisi, tapi hanya bisa dipahami oleh sains, dan otoritas yang lebih tinggi.

Dia butuh panggung. Dan panggung itu adalah jam pelajaran etika hari ini.

Pukul sepuluh pagi.

Ruang tengah paviliun.

Sekar sedang melakukan squat isometrik terselubung.

Secara teknis, dia sedang diajari cara "berjalan halus" atau mlaku dodo, berjalan jongkok dengan lutut ditekuk rendah tanpa memutus kontak tumit dengan lantai, sambil membawa nampan berisi seteko teh panas.

Otot quadriceps dan gluteus-nya menjerit, tapi bagi Sekar yang terbiasa kerja lapangan, ini hanya latihan fisik biasa.

Yang menyiksa adalah suara Bu Sasmi.

Wanita paruh baya itu memegang tongkat rotan kecil, mengetukkannya ke lantai kayu setiap kali Sekar melangkah.

Tok. Tok. Tok.

Irama itu tidak teratur.

Mengganggu.

"Punggung tegak! Jangan membungkuk seperti udang!" bentak Bu Sasmi.

Tok!

Sekar memejamkan mata sesaat.

Dia sedang menunggu momen yang tepat.

Dia butuh pemicu eksternal.

"Mbak Sekar, dengar tidak?!"

Bu Sasmi, yang kesal karena Sekar terlihat melamun, memukul meja marmer di sampingnya dengan tongkat rotan itu.

BRAK!

Itu dia.

Sekar melepaskan kendali motorik di tangannya.

PRANG!

Nampan perak itu terlepas.

Teko keramik berisi teh yang untungnya sudah agak hangat pecah berantakan di lantai.

Namun, Sekar tidak mempedulikan pecahan itu.

Dia langsung menjatuhkan diri ke lantai, memegangi kedua telinganya sambil berteriak histeris.

"Aaaargh! Suaranya! Hentikan suaranya!"

Sekar meringkuk di lantai, gemetar hebat.

Dia menyalurkan memori traumatis tubuh masa kecilnya, saat dibentak Nenek Marsinah, untuk memproduksi air mata sungguhan.

"Mbak? Mbak Sekar?" Bu Sasmi panik.

Dia mundur selangkah, takut disalahkan karena membuat calon menantu Sultan terluka.

"Saya cuma pukul meja, bukan pukul Njenengan!"

"Sakit... telinga saya sakit..." Sekar merintih, napasnya memburu.

"Suara itu... seperti ledakan di kepala saya."

Dia menatap Bu Sasmi dengan mata merah berair, pupilnya sengaja dia fokuskan dan defokuskan untuk memberi kesan disorientasi.

"Tolong... matikan lampunya. Tutup jendelanya. Saya nggak kuat..."

Di tengah kekacauan itu, pintu depan terbuka lebar.

"Ada apa ini ribut-ribut?"

Suara bariton yang tenang namun tegas membelah kepanikan.

Sekar mengintip dari balik rambutnya yang berantakan.

Pangeran Arya berdiri di ambang pintu, wajahnya menegang melihat kekacauan di lantai.

Di belakangnya, berdiri seorang pria berkacamata membawa tas medis kulit,

Dokter Haryo.

Arya segera berlutut di samping Sekar, mengabaikan pecahan keramik di dekat lutut celana bahannya yang mahal.

Aroma sandalwood menguar, sedikit menetralkan bau minyak urut Bu Sasmi.

"Sekar? Kamu kenapa?" Arya menyentuh bahu Sekar. Tangannya merasakan tremor di tubuh gadis itu.

"Gusti Pangeran..." Bu Sasmi tergagap, wajahnya pucat pasi.

"Saya... saya tidak tahu. Tiba-tiba Mbak Sekar histeris waktu saya pukul meja. Padahal pelan saja kok."

Arya menoleh tajam pada Bu Sasmi, lalu memberi isyarat pada Dokter Haryo.

"Dokter, tolong periksa sekarang. Lupakan soal jadwal suntik vitaminnya. Ini darurat."

Bu Sasmi yang tadinya hendak bertanya 'kenapa pangeran bawa dokter?' langsung menelan ludah.

Dokter Haryo mengangguk profesional.

Dia berlutut di sisi lain Sekar, membuka tasnya yang kini beralih fungsi menjadi alat diagnosis darurat.

Sekar, yang mendengar "alibi" cerdas Arya, merasa lega luar biasa.

Sinkronisasi yang bagus, batinnya.

Arya pasti menyadari betapa kerasnya latihan fisik yang dipaksakan padanya, sehingga berinisiatif membawa dokter untuk doping stamina, tapi Sekar akan memanfaatkan momen ini untuk tujuan yang lebih besar.

Sekar menarik napas, lalu saat Dokter Haryo menempelkan stetoskop ke dadanya, dia mencengkeram jas dokter itu.

"Suara..." desis Sekar, matanya terbelalak menatap langit-langit seolah sedang melihat hantu.

"Setiap suara... sakit... seperti jarum di otak..."

Dia menatap mata Arya dalam-dalam, mengirimkan sinyal non-verbal lewat remasan tangannya:

Mainkan peranmu. Dukung diagnosis ini.

Dokter Haryo, dokter senior yang sudah melayani keluarga Arya selama tiga dekade, segera menangkap kejanggalan.

Nadi Sekar cepat, tapi pola napasnya terlalu teratur untuk orang yang benar-benar kehilangan akal.

Dia melirik sekilas ke arah Arya, lalu ke arah Bu Sasmi yang ketakutan.

Dokter tua itu paham.

Ini panggung sandiwara.

Dan tugasnya adalah memberikan validasi medis.

Dokter Haryo menegakkan tubuh, lalu memasang wajah paling serius yang dia miliki.

"Gusti Arya," ucap Dokter Haryo berat.

"Kondisi Mbak Sekar lebih parah dari sekadar kelelahan fisik yang Gusti khawatirkan tadi pagi."

"Apa maksudnya, Dok?" tanya Arya, nadanya mendesak, menyempurnakan drama itu.

"Beliau mengalami Acute Sensory Processing Sensitivity yang dipicu oleh stres berat dan kurang tidur ekstrem. Sistem sarafnya sedang overheating," jelas Dokter Haryo, membumbui diagnosa itu dengan istilah yang terdengar menyeramkan bagi orang awam.

Bu Sasmi melongo.

"Itu... penyakit apa, Dok? Menular?"

"Tidak menular, Bu," jawab Dokter Haryo sabar tapi tajam.

"Tapi ini membuat penderitanya sangat sensitif terhadap rangsangan. Suara sekecil apa pun, langkah kaki, dengkuran, bahkan suara napas orang lain di dekatnya, bisa memicu migrain dahsyat dan serangan panik seperti tadi."

Dokter Haryo menatap Bu Sasmi lurus-lurus.

"Penyebab utamanya adalah gangguan tidur. Mbak Sekar tidak bisa masuk ke fase Deep Sleep karena ada gangguan lingkungan di malam hari."

Sekar menyembunyikan senyum kemenangannya di balik telapak tangan.

Bingo.

Arya langsung menangkap bola yang dilempar Dokter Haryo.

Dia menatap Bu Sasmi.

"Bu Sasmi, Bu Sasmi tidur di mana semalam?"

"Di... di kamar Mbak Sekar, Gusti," jawab Bu Sasmi gugup.

"Perintah Gusti Putri Dhaning, untuk menjaga..."

"Mendengkur?" potong Arya.

Wajah Bu Sasmi memerah padam.

"Sedikit... mungkin, Gusti."

"Nah, itu dia pemicunya," Dokter Haryo menyela cepat.

"Frekuensi rendah dari dengkuran, ditambah gelombang suara napas di ruangan tertutup, menciptakan resonansi yang merusak istirahat otak Nona Sekar. Jika ini diteruskan, Mbak Sekar bisa kolaps. Sarafnya bisa putus."

Ancaman "saraf putus" adalah kalimat sakti untuk menakuti orang tua.

Bu Sasmi pucat pasi.

Jika calon menantu Sultan gila karena dia, tamatlah riwayatnya.

Arya berdiri tegak, aura bangsawannya menguar kuat.

"Mulai malam ini," titah Arya, suaranya tidak menerima bantahan,

"Sekar harus tidur sendiri. Kamarnya harus kedap suara, gelap total, dan terkunci dari dalam agar dia merasa aman secara psikologis."

"Tapi Gusti... perintah Gusti Putri Dhaning..." Bu Sasmi mencoba membela diri.

"Katakan pada Kakak saya," potong Arya dingin.

"Bahwa ini perintah medis dari Dokter Haryo untuk menyelamatkan nyawa calon istri saya. Kalau Mbak Dhaning keberatan, suruh dia bicara langsung dengan saya."

Arya menatap Sekar yang masih terduduk di lantai. Tatapannya melembut drastis.

"Bu Sasmi, pindahkan barang-barang Ibu ke kamar tamu. Sekarang."

Bu Sasmi tidak punya pilihan.

Dengan bahu merosot, dia mengangguk patuh. "Sendika dhawuh, Gusti."

Malam harinya.

Pukul 22.00 WIB.

Suasana sunyi senyap.

Sesuai resep Dokter Haryo, lampu utama dimatikan, hanya menyisakan lampu tidur temaram di sudut yang jauh.

Sekar berdiri di depan pintu kamarnya.

Dia baru saja mendengar suara langkah kaki Bu Sasmi menjauh, diiringi gerutuan panjang soal "orang sakit kok aneh-aneh".

Sekar memutar kunci pintu.

Klik.

Lalu dia memasang grendel tambahan yang ada di bagian atas pintu.

Clek.

Suara itu adalah musik terindah yang pernah dia dengar seharian ini.

Privasi.

Akhirnya.

Sekar menghela napas panjang, melepaskan akting "gadis sakit"-nya.

Tubuhnya tegak kembali.

Tatapan matanya yang sayu berubah tajam dan analitis.

Dia berjalan ke arah jendela, memastikan tirai tertutup rapat tanpa celah sedikitpun.

Sekar duduk di tepi ranjang.

Dia menatap jari manis tangan kirinya.

Tanda lahir berbentuk bulir padi itu tampak sedikit kemerahan, seolah tidak sabar menunggunya.

Dia butuh masuk sekarang juga. Bukan hanya untuk memanen melon yang belum selesai, tapi juga untuk memulai proyek besar berikutnya.

Sekar membaringkan tubuhnya dengan posisi senyaman mungkin.

Dia menarik selimut, menata bantal agar jika ada yang nekat mendobrak pintu, dia hanya terlihat sedang tidur pulas.

"Sistem saraf, standby," perintah batinnya.

Dia memejamkan mata.

"Masuk."

1
Annisa fadhilah
bagus bgt
tutiana
ya ampun mimpi apa semalam Thor, trimakasih crazy up nya
lope lope lope ❤️❤️❤️⚘️⚘️⚘️
tutiana
gass ken arya,,, tumbangin rangga
🌸nofa🌸
butuh energi buat menghadapi Dhaning
🌸nofa🌸
mantap arya
tutiana
wuenakkk banget kan ,,Rangga,,Rangga kuapok
Aretha Shanum
upnya good
borongan
lin sya
keren sekar, bkn hnya jenius tp cerdik, mental baja, pandai membalikan situasi yg hrusnya dia kalah justru musuhnya yang balik menjdi pelindung buat para kacungnya daning 💪
gina altira
menunggu kehancuran Rangga
🌸nofa🌸
waduh malah nantangin😄
🌸nofa🌸
judulnya keren banget😄
sahabat pena
kapan nafasnya? teror trs .hayo patah kan sayap musuh mu sekar.. biar ga berulah lagi
INeeTha: seri 2 ini memang di stel mode tahan nafas ka🙏🙏🙏
total 1 replies
INeeTha
Yang nyariin Arya, dia nungguin kalian di bab selanjutnya 🤣🤣🤣
gina altira
Aryanya kemana inii,, kayakanya udah dijegal duluan sama Dhaning
sahabat pena
kurang greget sama Arya ya? kasian sejar selalu berjuang sendiri
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
Sekar keren banget 😍😍😍😍😘
sahabat pena
rasakan itu rangga 🤣🤣🤣🤣rasanya mau bersembunyi di lubang semut🤣🤣🤣🤣malu nya.. euy🤣🤣
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
Rangga terlalu bodoh untuk melawan seorang profesor 😏😏🙄🙄
🌸nofa🌸
wkwkwkwkwk
kena banget jebakan sekar buat rangga😄
🌸nofa🌸
kebalik padahal😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!