Duo kembar mengajak bermain ke mall di kota agak jauh dari tempat tingal kami dan tidak segaja malah bertemu papanya padahal aku menyembunyikan keberadaan mereka dari papanya
kami di jodohkan orang tua dia tidak pernah menerima perjodohan ini kerena dia punya kekasih bahkan aku sempat di madu
Saat dia menceraikan aku dia tidak tahu kalau aku hamil dan aku sembunyikan kehamilanku dengan bersembunyi di tempat lain memang tak mudah perjuanganku hamil anak kembar tetapi semua aku jalani dengan dukungan adek almarhum ibu yang selalu mendukung ku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama ende, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19 Nafkah untuk Si kembar
Selasai makan aku bersihkan dan cuci piring dan sisa makanan aku simpan di bawah tudung saji buat nanti lumayan nggak masak kami masih bercanda
" Ara boleh kan kami membawa anak anak ke rumah mama" tanya mama
" Boleh sih ma asal di kembalikan dan tidak sekarang besok anak anak sudah sekolah lagi,"jawabku
" Kami tidak akan menyembunyikan anak anak nggak seperti kamu yang menyembunyikan keberadaan Meraka" kata mas Adit
" Kamu masih saja arogan aku tidak menyembunyikan mereka bahkan nama mereka ada nama kamu" jawab ku ketus
" Ara jangan marah ya memang dia itu jahat siapa juga yang mau dimadu apalagi madunya jahat" kata papa
" Betul itu kamu harus terima kasih sama Ara hamil dan melahirkan tanpa dampingan suami itu sangat berat"kata mama
" Iya Aya sayang maaf ya" kata mas Adit
" sayang kepala lu peyang" jawabku ketus
" ya wes ara hari Sabtu aku jemput anak anak kamu boleh kok ikut" kata dia selanjutnya
"Iya boleh asal Minggu di kembalikan" jawabku
" Aku nggak mau bunda sendirian di rumah nanti si goda om Ahmad mana dia naksir lagi sama bunda" kata Bianca sambil bermain Barbie
" Iya mana sering titip salam dan ngasih kita jajan" kata Barra menimpali
" Hen anak anak siapa om Ahmad ganteng mana sama ayah" tanya mas Adit
" orang nya ganteng masih muda dan sering ngasih kita uang buat jajan kalau ganteng nya gantengan om Ahmad sih tapi aku tetap sayang ayah ku" kaya Bianca merayu sambil menciumi ayah nya
" Adek jangan gitu ah sebenarnya gantengan ayah sih tapi kan ayah lebih tua UPS" kata dia sambil menutup mulut
Papa mama tertawa terbahak bahak
" Kalian pilih siapa om Ahmad atau ayah " tanya mama
" Kalau Bia sih pilih ayah kan ayah Pinter masak tapi ayah kasih bunda uang ya bunda sering bilang gini jangan jajan terus bunda nggak punya uang kalau ayah kasih uang ke bunda bia akan pilih ayah" kata Bianca
" Setuju ayah kasihan bunda dia sering tidak punya uang kasih uang yang banyak ya kan selama ini ayah kerja di kapal pesiar jadi banyak uang nya" kata Barra
" Eh kalian pilih oppa saja oppa banyak uang nya" kata papa
" eh nggak bisa oma juga banyak uang kalian bisa pilih Oma" kata mama
" kalian ini matre di sini hanya embah dan bunda yang nggak punya banyak uang" jawabku
" Tapi embah punya banyak uang itu di kotak tempat jualan itu" kata Bianca
" Bunda punya uang kalau mobilnya atau sepedanya laku" kata Barra
" Memang kalau banyak uang buat beli apa sih" kata bi endang
" Buat beli mobil yang bisa di naikin kayak punya Azam sering di bawa ke masjid" kata Barra
" kalau Bianca ingin beli sepeda listrik warna pink bisa di pakai ngaji" kata Bianca
" Ok ayah akan belikan tapi apa kalian bisa mengendarainya";tanya mas Adit
" Kita kan sering di sewakan di lapangan kalau malam Minggu sama bunda jadi kita sudah lihai" jawab Barra
" Iya yah kalau beli kan mahal jadi kita hanya sewa setengah jam sepuluh ribu" jawab Bianca
" Anak anak ingat kata bunda nggak boleh minta minta ya" kata ku
" Minta juga sama ayah sendiri bund ya ayah" kata Bianca
" Iya sayang itu kewajiban ayah kepada anaknya";kata mas Adit sok bijak
Meraka menciumi mas Adit dan aku pura pura marah
" ya wes kalian ikut ayah, bunda mau kerja jadi TKW saja di Taiwan"kata ku. mereka menangis dan berlari kearah ku
" Bunda menikah lagi sama ayah " kata Bianca
" Ogah ayah mu buluk" jawabku mas Adit tertawa terbahak bahak
" Nak ibumu itu dekil jadi jodohnya ayah yang buluk cuma ada perusak nama nya nenek dempul" kata mas Adit dengan senyum
" Apa itu nenek dempul apakah sejenis hantu" tanya Barra
" Iya sayang jangan sampai Barra dan Bianca ketemu nenek dempul sangat menakutkan" kata mas Adit
" Sayang Oma dan oppa pulang dulu ini buat anak anak kamu terima kalau nafkah anak anak itu kewajiban Adit ini hanya uang jajan buat cucu cucu oppa" kata papa sambil memberikan amplop kepadaku
Mereka pamit pulang tapi mas Adit mengajak anak anak main ke lapangan
" Jangan lupa nanti waktunya ngaji pulang" Jawabku
Ku buka amplop dari papa dan ku hutang ternyata dua juta rupiah lumayan buat uang saku mereka aku bersih bersih rumah dan ada tamu mencari mobil yang di antar oleh bapaknya nuri oh ya Nuri sudah nikah dan di bawa suaminya ke Bondowoso jadi dia kesini kalau datang dari Surabaya saja dan dia selalu ngasih Kabar dan dia punya anak bayi jadi jarang berkunjung ke sini
Bapak nya Nuri meyakinkan kepada pembeli tentang mobil yang aku miliki ya seperti sales gitu merayunya Memang dia sales juga kadang di panggil makelar, terutama belum rejekinya karena pembeli belum tertarik. Aku mendekat ke bi endang
" Bi aku ingin makan mie instant pakai cabe dan bakso mumpung nggak ada anak anak" kata ku
" Bibi buatin saja nanti kamu bayar ke bibi kan kamu baru dapat uang" kata bibi sambil tertawa. Ya begitu lah aku sama bibi kadang menangis bersama dan juga tertawa bersama kadang juga makan bersama setalah mie instan di buat kami makan bersama di warung juga minum kopi susu.
Kami makan bersama dan terasa enak karena belum tentu sebulan sekali aku dan bibi makan mie instan anak anak juga aku batasi karena nggak baik buat mereka
" Gimana mobilnya nggak sold out" tanya bibi
" Belum bi" jawabku sambil nyeruput kopi jadi aku seperti pelanggan yang makan di warung bibi
" Bibi butuh uang ya nanti aku kasih butuh berapa" tanya ku
" nggak bibi nggak butuh uang itu buat cucu cucu bibi saja" jawab dia sambil tersenyum
Anak anak datang bersama bapak nya sambil tertawa senang saling kejar kejaran
" Bunda ayah kalah main bola" kata Barra
" Sana kalian mandi nanti bunda antar ke masjid" kata ku anak anak pun bergegas mandi dan mau sholat jamaah asar di masjid
" Ra aku mau numpang mandi ya" tanya dia
" Iya aku mau antar anak anak ke masjid sholat berjamaah kemudian pulang ini untuk anak anak buat uang saku" kata mas Adit memgambil uang satu juta di dompet nya
" Sementara ini dulu Minggu depan aku kasih lagi atau kalau butuh telephon aku ya" kata dia
Aku menerima uang anak anak yang di titipkan ke aku biasa buat kebutuhan anak ku selesai mandi anak anak berangkat di antar mas Adit pakai mobil
" Nanti yang jemput bunda ya ayah Hanya mengantar hari Sabtu ayah datang lagi" kata mas Adit
" Iya ayah" kata mereka kompak dan mereka pun berangkat
Bersambung ........