Nayla Safira Hanin adalah siswi jenius yang lebih suka tidur di atap sekolah daripada di kelas. Namun di balik hijabnya, ia adalah petarung jalanan tak terkalahkan yang sanggup melumpuhkan lawan dalam hitungan detik. Kebebasannya terenggut saat dosa masa lalu sang ayah terungkap: setahun lalu, ayahnya tak sengaja menabrak istri seorang konglomerat hingga tewas.
Keluarga Hasyim datang bukan untuk meminta ganti rugi uang, melainkan "hutang nyawa". Nayla dipaksa menikah dengan Adnan Hasyim, pria dingin yang membenci keluarga Nayla sedalam cintanya pada mendiang istrinya. Adnan hanya butuh pengasuh untuk putrinya, Adiva, yang berhenti bicara sejak kecelakaan tragis itu.
Kini, Nayla terjebak sebagai istri dari pria yang menganggapnya beban sekaligus musuh. Adnan tak menyadari bahwa istri "kecil" yang tengil ini adalah satu-satunya pelindung yang akan mempertaruhkan nyawa saat musuh bisnis mulai mengincar keluarganya. Mampukah kepalan tangan Nayla meruntuhkan tembok kebencian Adnan,?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGHIANAT SESUNGGUHNYA.
Ketegangan di kamar 301 memuncak seketika. Pesan singkat dari Dion di layar ponsel Adnan seolah menjadi vonis mati bagi kepercayaan yang telah mereka bangun bertahun-tahun. Nayla berdiri mematung, sementara Adnan mencengkeram sprei ranjangnya hingga buku jarinya memutih, mengabaikan wajah "kucing garong"-nya yang kontras dengan suasana kelam itu.
"Papa, ini tidak mungkin. Dion sudah bersama saya sejak awal saya merintis karier. Dia tidak mungkin mengkhianati kita!" suara Adnan bergetar antara amarah dan penyangkalan.
Hendra Hasyim berdiri, wajahnya yang penuh keriput nampak sangat keras. "Bukti tidak pernah berbohong, Adnan. Dia pergi ke panti asuhan tanpa izin, dan Farhan menyebut namanya sebelum dibawa ke sel isolasi. Siapa lagi kalau bukan orang dalam?"
"Tapi Papa, Mas Dion itu..." Nayla hendak membela, namun kalimatnya terputus saat pintu kamar kembali terbuka. Seorang pria berwajah mirip dengan Hendra maksuk.
"Paman Lukman?" ucap Adnan, setelah melihat wajah pria itu."Ada apa paman? Kenapa Paman terlihat cemas"
"Aku hanya cemas mendengar kamu terluka, Makanya Aku menjenguk kamu," balas Lukman. "Tapi tadi saat mau masuk Aku dengar pembicaraan kalian. Apakah benar Dion kepanti asuhan?" tanyanya tampak cemas.
"Benar Paman," balas Adnan singkat.
"Hendra, kita harus segera ke sana! Anak itu berbahaya, dia tahu posisi Umar sedang lemah!" seru Lukman dengan nada panik.
Nayla menatap Lukman dengan mata menyipit. "Om Lukman kok tahu posisi Bapak saya lagi lemah? Memangnya Om habis teleponan sama malaikat maut?"
Lukman tersedak ludahnya sendiri. "Maksudmu apa, Nayla? Paman hanya khawatir. Bukankah Dion itu orang kepercayaan Adnan yang tiba-tiba berkhianat?"
"Firasat saya bilang, Mas Dion nggak mungkin khianat. Dia itu kalau dikasih kopi pahit saja manut, apalagi soal nyawa. ByBy, kita harus ke panti sekarang!" Nayla langsung menarik kursi roda Adnan.
"Nayla, kaki saya digips! Kamu mau mendorong saya sampai ke Puncak?!" protes Adnan.
"Nggak perlu sampai Puncak, By! Cukup sampai parkiran, sisanya serahkan pada kekuatan singa ini, yang akan menyetir," Nayla dengan tenaga kulinya menarik Adnan ke kursi roda, mengabaikan teriakan Hendra Hasyim yang melarang mereka pergi.
Pelarian dari rumah sakit berlangsung konyol namun tegang. Nayla mendorong kursi roda Adnan melewati lorong dengan kecepatan tinggi, hampir menabrak troli makanan pasien.
"Minggir! Pasien darurat mau lewat! Harap maklum, suaminya lagi mode kucing garong!" teriak Nayla pada perawat yang melongo melihat wajah Adnan yang penuh coretan spidol.
Sesampainya di mobil, Adnan terpaksa duduk di kursi penumpang sementara Nayla, yang baru punya SIM kemarin sore, duduk di kursi kemudi.
"Nayla, kamu yakin bisa menyetir mobil matic ini dengan satu tangan yang terluka?" tanya Adnan cemas.
"ByBy bawel! Tenang saja, saya sudah sering main GTA di rental PS, teorinya sama kok!" Nayla menginjak gas hingga mobil melesat keluar dari area rumah sakit.
Di halaman panti asuhan, pemandangan mengejutkan menyambut mereka. Dion sedang berdiri di depan Ibram (Ayah Nayla), menghalangi dua orang pria berpakaian hitam yang memegang senjata tajam.
"Pergi kalian! Saya tahu Lukman yang mengirim kalian!" teriak Dion.
Mobil Nayla berhenti dengan suara decitan ban yang memilukan. Nayla dan Adnan (yang terseok-seok menggunakan tongkat) segera turun.
"Mas Dion!" teriak Nayla.
"Pak Adnan, Mbak Nayla, syukurlah!" Dion nampak terluka di bagian pelipisnya. "Pak Adnan, Paman Lukman adalah dalangnya! Setahun lalu, dia yang menyabotase mobil Pak Ibram. Dia tahu Pak Ibram akan melewati taman kota hari itu untuk menjemput barang. Dia memotong rem mobil Pak Ibram agar kecelakaan terjadi!"
Adnan terpaku. "Jadi... istriku meninggal bukan karena kelalaian Ayah mertuaku?"
"Bukan, Pak! Paman Lukman melakukan itu karena almarhumah istri Anda menemukan bukti penggelapan dana yayasan keluarga yang dia lakukan. Dia ingin membunuh dua burung dengan satu batu: melenyapkan saksi (istri Anda) dan menjebak orang lain (Pak Ibram) agar Anda sibuk dengan dendam pribadi!" lanjut Dion cepat.
Tiba-tiba, suara tepuk tangan pelan terdengar dari arah belakang. Paman Lukman muncul bersama beberapa anak buahnya yang bersenjata api. Wajah lembutnya kini telah lenyap, digantikan seringai iblis.
"Bravo, Dion. Kamu memang asisten yang terlalu pintar untuk tetap dibiarkan hidup," ujar Lukman dingin.
"Om Lukman... jadi selama ini Om yang bikin saya hampir jadi anak yatim dan bikin ByBy jadi duda ngenes?!" teriak Nayla, ia meraih sebuah sapu lidi yang ada di dekat pintu panti.
"Nayla, menyingkirlah. Ini urusan keluarga Hasyim," ucap Lukman sambil menodongkan pistol ke arah Adnan. "Adnan, kamu itu terlalu lembek. Harusnya kamu biarkan Ibram membusuk di penjara, maka hartanya akan jatuh ke tanganku sebagai kompensasi."
"Paman... tega sekali kamu. Kamu membunuh menantumu sendiri demi uang?!" Adnan gemetar menahan amarah.
"Uang? Ini soal kekuasaan!" Lukman membidikkan senjatanya.
"ByBy, merunduk!" Nayla tidak menunggu lama. Ia melemparkan sapu lidi itu tepat ke arah wajah Lukman sebagai pengalih perhatian.
Dion langsung menerjang salah satu anak buah Lukman. Pertarungan pecah di halaman panti. Nayla, meski lengannya masih sakit, tapi ia bergerak lincah. Ia menggunakan teknik silat harimau untuk menjatuhkan lawan yang mencoba mendekati ayahnya.
"Makan nih tendangan 'istri pengganti'!" Nayla menendang lutut salah satu preman hingga pria itu terjungkal.
Lukman yang matanya kelilipan karena debu sapu lidi mencoba menembak secara membabi buta. DOR! Peluru menyerempet tiang kayu panti.
"Aduh, Om! Nembak itu pakai mata, jangan pakai nafsu!" Nayla meluncur di tanah, ia menyambar kaki Lukman dan menariknya hingga pria tua itu terjatuh dengan posisi tidak elit.
Adnan, dengan satu kaki yang gipsnya sudah retak, menggunakan tongkat ketiaknya untuk memukul tangan Lukman hingga pistolnya terlempar jauh. "Sudah cukup, Paman! Polisi sudah dalam perjalanan!"
Dion berhasil melumpuhkan sisa preman tepat saat sirine polisi meraung mendekat. Hendra Hasyim ternyata diam-diam mengikuti mobil Nayla bersama tim keamanan internal.
Lukman yang tergeletak di tanah tertawa gila. "Kamu pikir ini berakhir di sini, Adnan? Kamu tidak tahu siapa yang memberiku perintah! Aku hanya pion kecil!"
Hendra Hasyim melangkah maju, menatap adiknya dengan tatapan muak. "Bawa dia pergi. Pastikan dia mendapatkan sel yang paling dingin."
Setelah suasana tenang, Nayla langsung memeluk ayahnya dan menangis tersedu-sedu. "Ayah nggak salah, Yah... Ayah dijebak. Nayla selalu tahu Ayah itu supir paling hebat sedunia."
Adnan mendekati Ibram, ia membungkuk dalam-dalam. "Pak Ibram... maafkan saya. Selama satu tahun ini saya membenci Anda atas sesuatu yang bukan kesalahan Anda. Saya telah memaksa Nayla ke dalam pernikahan ini karena kesalahpahaman yang keji."
Ibram memegang bahu Adnan. "Tidak apa-apa, Nak Adnan. Yang penting kebenaran sudah terungkap."
Nayla berdiri, ia menoleh ke arah Adnan dengan wajah yang masih berantakan. "Jadi gimana, By? Karena dendamnya sudah nggak ada, kontrak pernikahannya mau dibatalin?"
Adnan menatap Nayla lama. Di balik coretan spidol yang mulai luntur di wajahnya, tatapan matanya nampak sangat lembut. "Setelah kamu menyelamatkan nyawa saya berkali-kali dan membuat wajah saya seperti badut begini? Kamu pikir saya akan membiarkanmu pergi begitu saja?"
"Idih, mulai deh drama Pak Es,nya keluar! Tapi bentar, By... Mas Dion tadi bilang ada 'orang yang memberi perintah' ke Paman Lukman. Siapa?" tanya Nayla cerdas.
Adnan menoleh ke arah Dion yang sedang membersihkan lukanya. Dion memberikan sebuah flashdisk kecil yang ia temukan di brankas Lukman.
"Ada satu nama yang terus muncul di dokumen ini, Pak. Sebuah organisasi yang menyebut diri mereka 'The Architect'. Dan mereka sepertinya sedang menargetkan Nayla untuk alasan yang belum kita ketahui," bisik Dion.
Nayla menelan ludah. "Wah, baru juga kelar urusan paman jahat, sekarang muncul arsitek? Mereka mau bangun gedung di kepala saya apa gimana?!"
Adnan menggenggam tangan Nayla erat. "Apapun itu, mereka harus melewati saya dulu."
"Ehem! ByBy, tangannya nggak usah modus ya, masih banyak orang lihat!" Nayla melepaskan tangan Adnan dengan tengil, meski wajahnya merona merah.
___
Mana nih, yang selalu minta update, tapi nggak pernah komen sih. Dikomen dong biar author semangat updatenya. Apalagi kalau di kasih Vote ♥️ Like,👍🏻 Hadiah,🎁 dan juga bintang 🌟. Maka Author akan Update 3 kali dalam sehari. Cus akh beri dukungannya ya Guys 😉.
kuueeeereeeeennnnn..........🌹🔥🔥🔥🔥🔥