Di bawah kaki Pegunungan Abu, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Qinghe. Desa itu miskin, terpencil, dan nyaris dilupakan dunia. Bagi para kultivator sejati, tempat itu tidak lebih dari titik tak berarti di peta Kekaisaran Tianluo.
Di sanalah Qing Lin tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyrrohanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9 - langkah pertama yang tidak terlihat
Malam turun perlahan di Desa Qinghe.
Langit gelap tanpa bintang, tertutup awan tipis yang bergerak lambat. Lampu minyak satu per satu menyala di rumah-rumah kayu, lalu kembali padam saat penduduk terlelap.
Qing Lin belum tidur.
Ia duduk di samping ranjang bibinya, memastikan napas wanita itu teratur. Wajah bibinya tampak lebih pucat dari biasanya, namun batuknya tidak separah kemarin.
Qing Lin menyentuh pergelangan tangan bibinya dengan lembut.
Denyut nadinya lemah, tapi stabil.
“Bertahanlah sedikit lagi,” bisiknya.
Ia berdiri, menutup pintu perlahan, lalu duduk bersila di sudut ruangan. Tikar jerami terasa dingin di bawah telapak kakinya.
Ia menutup mata.
Napas masuk.
Qi bergerak.
Tidak lagi menyebar acak.
Ia mengikuti jalur yang sama setiap malam, mengalir ke titik kecil di bawah pusarnya, lalu kembali menyebar ke seluruh tubuh dalam lingkaran kasar.
Satu putaran.
Dua.
Tiga.
Qi di tubuhnya mulai mengental.
Bukan bertambah banyak, tapi lebih padat.
Qing Lin merasakan tulang-tulangnya sedikit bergetar, seperti kayu yang dikeringkan perlahan di bawah matahari. Ototnya terasa kencang, namun tidak sakit.
Ia menahan diri.
Mengingat kata-kata Yu Chen.
Belajarlah menahan, bukan menambah.
Ia tidak memaksa.
Ia membiarkan qi berhenti tepat sebelum melewati batas.
Dan di saat itu—
sesuatu berubah.
Titik kecil di bawah pusarnya bergetar.
Sekali.
Lalu tenang.
Qing Lin membuka mata.
Dadanya terasa ringan.
Tidak ada rasa panas. Tidak ada lonjakan kekuatan.
Namun tubuhnya terasa… menyatu.
Ia berdiri.
Langkahnya hampir tidak bersuara saat menginjak lantai tanah.
Qing Lin mengangkat tangannya perlahan.
Ia mengepalkan tinju.
Udara di sekitarnya sedikit bergetar.
Bukan karena qi keluar—
melainkan karena tubuhnya kini mampu menahan tekanan yang lebih besar dari sebelumnya.
Ia menarik napas panjang.
“Aku… melangkah?” gumamnya.
Ia tidak tahu istilah tahap.
Namun jika seorang kultivator melihatnya sekarang, mereka akan mengatakan satu hal:
Tubuh Awal — Tingkat Pertama.
Fondasi paling rendah.
Namun nyata.
Qing Lin duduk kembali.
Ia tidak melanjutkan meditasi.
Tubuhnya perlu waktu.
Ia menatap kedua tangannya dalam diam.
Ia tidak merasa lebih hebat.
Tidak merasa bangga.
Yang ia rasakan justru tanggung jawab yang lebih berat.
Kekuatan sekecil apa pun, jika disalahgunakan, tetap akan melukai.
Dan ia tidak ingin menjadi orang seperti itu.
Keesokan paginya, Qing Lin pergi ke pasar kecil di desa sebelah.
Bukan untuk berlatih.
Ia ingin menjual beberapa kayu bakar tambahan untuk membeli obat yang lebih baik bagi bibinya.
Di jalan setapak, ia melihat dua pemuda desa sedang bertengkar.
“Dasar pencuri!” teriak salah satunya. “Itu hasil buruanku!”
Yang lain mendorong balik. “Kau meninggalkannya! Aku menemukannya duluan!”
Keributan itu menarik perhatian orang lain.
Qing Lin berhenti beberapa langkah dari mereka.
Ia bisa merasakan emosi—amarah, ketamakan, iri—berputar liar.
Dan yang mengejutkan—
qi di tubuhnya bereaksi.
Tidak menguat.
Melainkan menegang.
Seperti tali yang ditarik.
Qing Lin mengerutkan kening.
Ia menyadari sesuatu yang baru:
Qi tidak hanya merespons darah.
Ia juga merespons niat.
Ia melangkah maju.
“Sudah,” katanya pelan. “Bagi dua. Kalian sama-sama lelah.”
Kedua pemuda itu menoleh.
Salah satunya hendak membentak, tapi berhenti.
Entah kenapa, kata-kata Qing Lin terasa berat.
Bukan mengancam.
Namun sulit diabaikan.
Mereka terdiam.
Akhirnya, salah satu mendengus dan melepaskan buruannya.
“Dasar sial,” gumamnya, lalu pergi.
Keributan mereda.
Qing Lin menghela napas pelan.
Ia tidak menggunakan kekuatan.
Namun dunia di sekitarnya tetap merespons.
Ia berjalan melanjutkan perjalanan.
Namun jauh di luar desa—
di sebuah paviliun batu milik Sekte Awan Biru—
Yu Chen membuka mata.
“Tubuh Awal,” gumamnya. “Lebih cepat dari perkiraanku.”
Ia menatap ke kejauhan.
“Kalau kau terus seperti ini, Qing Lin… dunia akan memaksamu memilih.”
Kembali ke Desa Qinghe, Qing Lin menyiapkan obat baru untuk bibinya.
Wanita itu meminumnya perlahan, lalu tersenyum lemah.
“Entah kenapa,” katanya lirih, “rumah ini terasa lebih hangat.”
Qing Lin tersenyum kecil.
Ia duduk di sampingnya, menjaga sampai malam.
Di luar, angin bertiup lembut.
Tidak membawa darah.
Namun membawa pertanyaan yang belum punya jawaban.
Langkah pertama telah diambil.
Tanpa sorak.
Tanpa saksi.
Dan dunia—
perlahan mulai menyesuaikan diri dengannya.