kehidupan seorang gadis yang dulu bergelimang harta, Dimanja oleh ayah dan kakak laki-lakinya, sekarang hidup sederhana, karena perbuatan masa lalunya bersama Mamanya ...Selena.
"Panas...., Papa tubuhku rasanya sangat panas" rintih Patricia sambil berlari.
" cepat nak, kalau tidak lari, kau akan menjadi santapan para pria iblis itu" ucap Papanya yang bernama Tono, Putrinya akan dijual, bahkan mereka memberikan obat perangsang
Duarrrrrr...
suara guntur menggelegar ,hujan turun begitu lebatnya,membuat jalanan licin...
" Aaahhhh"
Patricia terjatuh, karena terpeleset,...
" Ayo cepat nak, "
" Iya pah"....
mereka memasuki gedung tua yang tak berpenghuni, suasananya begitu gelap....
"Paaaa...panas, ... hiks... hiks..... Cia tidak kuat pah, sakit"
Patricia terus menyakiti dirinya sendiri...
" Ya Allah....ini sangat menyiksa Cia...Pa....".
" Jangan, sakiti diri sendiri nak...." ucap Tono dengan nada khawatir....
" Brakkkkk"
tak lama kemudian... seorang pemuda datang dengan korek api yang meny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Keputusan Alendra untuk melegalkan pernikahannya dengan Patricia secara hukum negara menjadi guncangan besar di kediaman Suhadi. Ia tidak ingin Patricia selamanya menyandang status istri simpanan atau hanya sekadar wanita yang diselamatkan. Namun, tindakan Alendra ini justru menyulut api peperangan yang lebih dingin dan kejam dari sisi Kirana.
Pagi itu, seorang petugas dari Kantor Urusan Agama datang ke rumah. Alendra duduk dengan tegap di ruang kerja pribadinya, sementara Patricia duduk di sampingnya dengan tangan yang terus gemetar di bawah meja.
Alendra menandatangani berkas dengan tegas "Sekarang, secara hukum kamu adalah istriku, Patricia. Tidak ada yang bisa merendahkanmu lagi. Kamu punya hak yang sama di rumah ini."
Patricia menatap buku nikah di depannya dengan perasaan campur aduk. Ada rasa aman, tapi juga rasa takut yang luar biasa. Ia tahu, tinta di kertas ini akan menjadi belati yang menusuk hati Kirana.
setelah petugas KUA pergi, Alendra berpamitan pada Patricia untuk berangkat kerja.
Kirana, yang mengetahui pengesahan itu, tidak mengamuk secara fisik. Ia justru tampil sangat tenang, ketenangan yang mematikan. Sore harinya setelah pulang kerja, beberapa tetangga dari komplek elit itu datang berkunjung untuk acara minum teh sore,
Kirana sengaja meminta Patricia untuk membawakan nampan berisi teh dan camilan ke ruang tamu.
Tetangga 1: "Wah, Kirana, rumahmu selalu rapi ya. Oh, siapa gadis ini? Wajahnya cantik sekali, tapi kok kelihatannya pucat?"
Kirana tersenyum manis, menyesap tehnya dengan anggun "Oh, ini Patricia. Dia pembantu baru di rumah kami. Kasihan, dia anak yatim dari kampung yang dibawa Alendra karena tidak punya tempat tinggal. Jadi saya beri dia pekerjaan di sini."
Patricia mematung. Nampan di tangannya bergetar hebat hingga cangkir porselen di atasnya berdenting pelan. Ia menatap Kirana, dan ia melihat tatapan penuh kemenangan di mata istri pertama itu.
"Patricia, kenapa diam saja? Ayo, tuangkan tehnya untuk tamu-tamu saya. Jangan lupa, bersihkan juga debu di sudut jendela itu setelah ini."
Patricia menggigit bibir bawahnya hingga hampir berdarah. Air matanya sudah menggenang, namun ia teringat pesan Papanya untuk selalu sabar. Ia membungkuk hormat, melakukan apa yang diperintahkan Kirana seolah-olah dia benar-benar seorang pelayan.
Tetangga 2: "Sayang sekali ya, wajah secantik itu jadi pembantu. Tapi memang zaman sekarang sulit cari kerja kalau tidak punya ijazah."
Kirana hanya tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat merendahkan di telinga Patricia.
Alendra yang baru pulang kantor secara tidak sengaja mendengar percakapan itu dari ambang pintu ruang tamu. Wajahnya memerah padam, rahangnya mengeras hingga otot lehernya menegang. Ia melihat istri sahnya secara hukum sedang merangkak di lantai membersihkan tumpahan teh di depan para tetangga.
Suara Alendra menggelegar, membuat semua orang tersentak "Cia! Berdiri!"
Alendra melangkah masuk, mengabaikan tatapan bingung para tamu. Ia langsung menarik tangan Patricia, memaksa gadis itu berdiri di sampingnya.
Alendra menatap Kirana dengan kemarahan yang meluap "Kirana, apa-apaan ini? Kamu tahu siapa Patricia di rumah ini!"
Kirana tetap tenang, berdiri dengan wajah tanpa dosa "Lho, Mas... aku kan hanya membantunya beradaptasi. Dia bilang ingin berguna di rumah ini, jadi aku beri dia tugas ringan. Bukankah lebih baik tetangga tahu dia bekerja di sini daripada mereka bergosip yang tidak-tidak tentang kehadirannya?"
Para tetangga segera pamit dengan suasana canggung. Begitu mereka pergi, Kirana ambruk di sofa, nafasnya mulai sesak akibat kelelahan emosional dan fisik. Namun, ia masih sempat melemparkan tatapan benci pada Patricia.
"Kamu boleh punya surat nikah itu, Patricia. Tapi di mata dunia, kamu tetaplah kotoran yang menempel di sepatuku. Jangan pernah bermimpi untuk duduk sejajar denganku di meja makan ini."
" Diam kau Kirana, aku sudah capek dengan mu, semakin ke sini, sikapmu semakin berubah " tegas Alendra masih menggenggam tangan Patricia.
Patricia melepaskan tangan Alendra, ia berlari menuju paviliun dengan isak tangis yang pecah. Alendra berlari mengejar Patricia, tidak memperdulikan Kirana yang berteriak memanggil Alendra.
___
Malam itu, langit Jakarta seolah ingin runtuh. Deru hujan menghantam atap rumah dengan beringas, diselingi kilatan petir yang membelah kegelapan. Suara guntur yang menggelegar bukan sekadar fenomena alam bagi Patricia, itu adalah lonceng kematian yang membangkitkan monster dari masa lalunya.
Di kamar utama, Alendra baru saja memejamkan mata. Namun, begitu petir menyambar dengan suara yang memekakkan telinga, matanya langsung terbuka lebar. Jantungnya berdegup kencang. Pikiran pertamanya bukan pada dirinya sendiri, bukan pada bisnisnya, melainkan pada wanita di paviliun Samping.
Alendra bergumam panik "Patricia..."
Ia langsung bangkit, mengabaikan Kirana yang berada di sampingnya. Kirana saat itu sedang meringkuk, tangannya mencengkeram perut dengan wajah yang basah oleh keringat dingin. Ia sedang berjuang melawan nyeri kanker yang menusuk, namun Alendra tidak melihatnya. Pria itu hanya fokus pada trauma yang ia tahu akan bangkit dalam diri Patricia.
Kirana memanggil Alendra, Suaranya serak, nyaris tak terdengar"Mas... s-sakit... jangan pergi..."
Alendra seolah tuli. Ia berlari keluar kamar, menembus lorong, dan langsung menerjang hujan menuju paviliun tanpa payung.
Begitu pintu paviliun terbuka, Alendra melihat pemandangan yang menghancurkan hatinya. Patricia sudah jatuh dari ranjang, merangkak di sudut ruangan yang gelap. Rambutnya berantakan, dan ia menutup telinganya rapat-rapat setiap kali guntur terdengar.
Patricia berteriak histeris "Jangan! Tolong... lepaskan! Panas... hhh... jangan di sini! papa... Tolong Cia!"
Tangannya mulai mencakar lantai, bahkan ia mencoba membenturkan kepalanya ke dinding kayu paviliun. Ia kembali ke malam di gudang itu, di mana petir dan hujan menjadi saksi kehancurannya.
Alendra langsung berhamburan mendekat, mencoba memeluk tubuh Patricia yang bergetar hebat.
"Cia... Ini aku, Alendra! Kamu aman, Sayang... kamu aman!" ucap Alendra dengan lembut.
Patricia mendorong dada Alendra dengan tenaga luar biasa, matanya kosong dan penuh ketakutan "Pergi! Jangan sentuh aku! Kamu jahat! Kamu merusakku di sana... hiks... gelap... bau karat itu... aku benci!"
Alendra tidak menyerah. Meski dadanya terkena pukulan dan cakaran dari Patricia yang sedang dalam fase trauma hebat, ia justru semakin erat mendekapnya. Ia membawa tubuh kecil itu ke dalam pelukannya, membiarkan Patricia meronta hingga tenaganya habis.
Alendra berbisik di telinga Patricia, suaranya parau dan lembut "Maafkan aku... Maafkan aku yang sudah menyakitimu malam itu. Tapi lihat aku, Sayang. Ini rumah kita. Tidak ada orang jahat di sini. Aku suamimu... aku akan melindungimu sampai nyawaku taruhannya."
Perlahan, rontaan Patricia melemah. Ia mulai mengenali aroma maskulin yang bercampur bau hujan dari tubuh Alendra. Ia mendongak, menatap wajah Alendra yang basah kuyup. Alendra mengusap air mata dan keringat di wajah Patricia dengan ibu jarinya, gerakannya sangat hati-hati, seolah Patricia adalah kristal yang nyaris hancur.
Suara Patricia bergetar, mencengkeram kemeja Alendra yang basah "Alen... kenapa kamu melakukannya? Kenapa kamu membiarkan aku hidup kalau aku harus menanggung malu ini setiap kali hujan datang?"
Alendra mencium kening Patricia dengan sangat lama, matanya ikut berkaca-kaca "Karena aku egois, Sayang. Aku tidak sanggup kehilanganmu lagi. Aku ingin kamu hidup agar aku bisa menebus setiap tetes air mata yang jatuh karena kebodohanku dulu dan karena kebrutalanku malam itu. Aku mencintaimu... sangat mencintaimu."
Alendra mengangkat tubuh istrinya,dan membawanya ke ranjang yang sudah berantakan karena amukan Patricia..., Alendra memeluk nya, membiarkan istrinya tenang dalan pelukannya ,.
Saat Alendra sedang mendekap Patricia dengan penuh kasih sayang di paviliun, di rumah utama, Kirana jatuh dari tempat tidur. Sprei putihnya kini ternoda darah segar akibat pendarahan yang dipicu oleh stres luar biasa dan kontraksi rahim yang sakit.
Kirana menatap ke arah jendela, melihat bayangan Alendra di paviliun melalui kaca yang buram oleh air hujan.
Kirana tersenyum getir, air matanya jatuh bersamaan dengan kesadarannya yang mulai menipis "Kamu lebih memilih menenangkan traumanya... daripada menemani sakaratul mautku, Mas. Kamu benar-benar sudah pergi dariku."
Alendra akhirnya berhasil membujuk Patricia untuk tidur ,ia mengelus lembut punggung Patricia hingga gadis itu tertidur pulas karena kelelahan. Alendra tidak tahu bahwa saat ia sedang memberikan surga kecil untuk Patricia, ia sedang kehilangan separuh dunianya yang lain di rumah utama.
Alendra mencium kening Patricia "Tidurlah, Istriku. Aku tidak akan pergi ke mana-mana malam ini." ucap Alendra lembut,memeluk tubuh mungil Patricia.