NovelToon NovelToon
Black

Black

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri / Mengubah Takdir / Romansa / Menyembunyikan Identitas / Penyelamat
Popularitas:812
Nilai: 5
Nama Author: ROGUES POINEX

Black--- Seorang pria misterius yang menjadi pelindung bumi. Di balik pakaian hitam dan topeng hitam nya, tidak ada yang tau wajah nya. Kecuali satu--- Sang kekasih hati-- Evelyn Savana Alexa.

Sampai sebuah kasus tiba - tiba muncul yang memaksa Black harus turun tangan untuk menyelesaikan nya.. Kasus tentang kematian misterius yang tidak bisa di pecahkan oleh pihak detektif kepolisian terpaksa harus melibatkan Black.

Namun.. Apa yang terjadi jika pelaku dari kasus tersebut tiba - tiba memanggilnya. " Ayah!"

Rahasia apakah yang ada di balik kasus kematian para korban. Dan Siapakah sosok pelaku misterius itu? Apakah dia kawan atau lawan?

----------

Update Senin & Kamis... Setiap Update 3 Bab.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pernikahan

Lampu kristal raksasa yang menggantung megah di langit-langit grand ballroom membiaskan cahaya keemasan yang menari di atas lantai marmer nan berkilau, menciptakan atmosfer kemewahan yang nyaris tidak nyata bagi siapa pun yang melangkah masuk.

Di dalam ruangan luas berdesain Victoria kontemporer ini, aroma bunga lili putih segar dan melati berpadu sempurna dengan wewangian parfum kelas atas, mengisi setiap sudut udara yang sejuk oleh pendingin ruangan yang senyap.

Dinding-dindingnya dilapisi panel beludru bersulam benang emas, menjadi latar belakang sempurna bagi deretan meja bundar yang dihiasi peralatan makan perak murni dan gelas kristal yang berdenting lembut.

Di satu sisi, puluhan wartawan dari berbagai media nasional maupun internasional tampak bersiaga dengan lampu kilat kamera yang sesekali membelah keremangan eksklusif ruangan, menangkap siluet para tokoh bisnis terkemuka dan konglomerat yang hadir dalam setelan tuksedo rancangan penjahit ternama serta gaun malam yang bertahtakan permata.

Suasana riuh rendah percakapan mengenai ekspansi pasar dan investasi besar bercampur dengan alunan orkestra simfoni di sudut panggung, menciptakan harmoni yang menegaskan bahwa malam ini bukan sekadar perayaan penyatuan dua insan dari dinasti ekonomi raksasa, melainkan sebuah panggung kekuasaan dan prestise yang dibalut dalam estetika interior paling memukau di jantung kota.

Malam itu, pesta pernikahan Sky dan Evelyn bukan sekadar perayaan cinta, melainkan sebuah simfoni kemewahan yang absolut, di mana setiap jengkal karpet beludru yang terhampar dan setiap melodi orkestra yang mengalun halus seolah menegaskan bahwa dunia sedang tertuju pada satu titik pusat kemegahan yang tak tertandingi.

Wartawan A: "Gila, lihat lampu gantung itu. Aku dengar tim dekorasinya didatangkan langsung dari Paris hanya untuk memasang instalasi bunga wisteria abadi di langit-langit itu."

Wartawan B: "Bukan cuma itu. Perhatikan pilar-pilarnya. Itu bukan marmer biasa, tapi Statuario Italia yang dipoles sampai mengkilap seperti cermin. Bahkan cahaya flash kamera kita pun memantul sempurna di sana. Tuan Sky benar-benar tidak main-main memberikan mahar berupa kemewahan ini untuk calon istrinya."

Wartawan A: "Jelas saja. Ini bukan sekadar pernikahan, ini pernyataan kuasa. Lihat daftar tamunya, hampir semua menteri dan CEO perusahaan Blue Chip ada di sini. Cepat ambil foto sudut foyer itu sebelum pengantin turun!"

Pak Baskoro (CEO Properti). "Luar biasa. Saya sudah sering menghadiri gala di berbagai belahan dunia, tapi kurasi interior malam ini... ini adalah definisi quiet luxury yang sangat berisik. Perhatikan detail ukiran gold leaf di sepanjang dinding itu, Pak Wijaya. Itu pengerjaan tangan, bukan cetakan mesin."

Pak Wijaya (Pemilik Wijaya Crop). "Anda benar, Pak Baskoro. Dan jangan lupakan sistem pencahayaannya. Mereka menggunakan teknologi mapping terbaru agar bayangan bunga di meja tidak menutupi wajah tamu saat difoto. Investasi untuk satu malam ini mungkin setara dengan anggaran pembangunan satu hotel butik di Bali."

Ibu Shanti (Kolektor Seni). "Yang membuat saya terpukau adalah bagaimana mereka memadukan gaya Art Deco klasik dengan sentuhan futuristik. Lihat panggung utama itu—seperti melayang di atas kolam kaca berisi ikan koi putih. Tuan Sky tahu betul cara menciptakan standar baru untuk pernikahan konglomerat tahun ini."

Si sisi lain ruangan, tampak keluarga Paman Zack beserta Istrinya Shakila-- di samping nya seorang pria muda tampan berdiri sambil memegang segelas minuman-- Rion dan di samping nya seorang wanita cantik berdiri penuh percaya diri, dia adalah kekasih Rion. Tak jauh dari mereka, Leta yang merupakan anak kedua Zack berdiri dengan anggun sambil berbincang dengan sepupu tersayang nya-- Shyla.

Zack menyesuaikan letak tuxedo-nya sambil memandang sekeliling. "Aku sudah menduga Sky akan melakukannya secara besar-besaran, tapi ini... ini di luar perkiraanku. Lihatlah ukiran stucco di langit-langit itu. Sky benar-benar ingin menunjukkan pada dunia siapa pemegang kendali bisnis keluarga sekarang."

Shakila tersenyum lembut, menyapa beberapa kolega bisnis yang lewat dengan anggukan anggun. "Bukan hanya soal kekuasaan, Sayang. Ini adalah penghormatan untuk Evelyn. Sky ingin wanita itu merasa seperti ratu semalam. Lihat saja para wartawan di pojok sana, mereka sampai tidak berhenti memotret detail dekorasi meja."

Rion memegang segelas sampanye, melirik kekasihnya yang berdiri di sampingnya. "Bahkan untuk standar konglomerat, ini terlalu mewah. Media akan membicarakan pesta ini sampai tiga bulan ke depan. Benar kan, Sayang?

Kekasih Rion tersenyum manja, membetulkan gaunnya yang mencolok. "Tentu saja, Rion. Tapi aku rasa, suatu saat nanti pesta kita bisa jauh lebih indah dari ini."

Leta memutar bola matanya terang-terangan, berbisik ketus ke arah Shyla. "Bisa lebih indah katanya? Bahkan untuk membeli satu rangkaian bunga di pojok itu saja dia mungkin harus menjual seluruh koleksi tasnya. Aku muak melihatnya berlagak seolah dia selevel dengan kita."

Shyla terkekeh pelan, menyenggol lengan Leta agar lebih tenang. "Ssst, Leta. Jaga ekspresimu. Kamera wartawan ada di mana-mana. Lagipula, biarkan saja dia bermimpi. Malam ini adalah tentang Sky dan Evelyn, jangan biarkan kekasih kakakmu itu merusak mood-mu."

Leta mendesah berat, beralih menatap Shyla. "Hanya kau yang bisa membuatku tenang di tengah kerumunan orang-orang haus muka ini, Shyla. Lihat para pebisnis itu... mereka datang membawa kado besar, tapi matanya hanya mencari celah untuk tanda tangan kontrak dengan Ayah, Paman atau Kak Sky."

Shyla menatap ke arah pelaminan yang masih kosong namun tampak megah. "Itulah dunia kita, bukan? Kemewahan ini hanya panggung. Tapi setidaknya, mari kita nikmati keindahannya. Interior ini benar-benar karya seni. Perpaduan antara klasik Eropa dan modern minimalis yang sangat berkelas. Kak Sky punya selera yang tajam."

"Tapi ngomong - ngomong.. dimana Paman Langit dan Bibi Angel.. aku tidak melihat nya.. Paman Azam dan Bibi Khadijah juga tidak terlihat."

Shyla hanya mengangkat bahu. " Daddy dan Mommy masih menemani Kak Sky dan Kak Evelyn.. aku juga tidak tau kemana keluarga paman Azam."

Tiba - tiba... dua orang dengan wajah yang kurang sama meskipun kembar datang menghampiri.. mereka adalah Steven dan Tiffany-- anak dari Paman Azam dan Bibi Khadijah, yang juga masih sepupuan dengan Shyla dan Leta.

Steven menepuk bahu Rion dan menyapa Shyla. "Wah, wah! Berkumpul di sini rupanya. Aku hampir tersesat di lobby depan karena penuh oleh bodyguard dan wartawan. Gila, ya? Pernikahan ini lebih ketat daripada pengamanan istana negara!"

Tiffany langsung merangkul Shyla dan Leta. "Kalian berdua cantik sekali malam ini! Tapi serius, Leta, kenapa mukamu ditekuk begitu? Padahal dekorasi bunga di belakangmu ini harganya mungkin bisa buat beli satu unit apartemen mewah!"

" Baru di bicarakan dan kalian sudah datang, " Shyla tersenyum tipis.

Leta menghela napas lega melihat sepupu favoritnya. "Tiff! Syukurlah kalian datang. Aku butuh pengalihan isu sebelum aku benar-benar melempar gelas ini ke arah seseorang."

Shyla menyambar ucapan Leta. "Leta sedang tidak mood karena 'tamu tak diundang' itu, Tiff. Tapi Steven benar, suasananya luar biasa. Paman Azam mana? Kenapa kalian hanya berdua?"

Steven menjawab sambil mengambil satu gelas minuman.  "Papa masih tertahan di pintu masuk. Tadi dia dicegat beberapa rekan bisnis dari Singapura. Biasalah, di tempat seperti ini, satu jabat tangan bisa jadi kontrak miliaran rupiah. Sky benar-benar pintar memilih momen."

Tiffany menatap ke arah pelaminan dengan takjub. "Terlepas dari semua drama bisnis dan politik keluarga, kalian harus akui... Sky dan Evelyn berhasil menciptakan malam yang tidak akan dilupakan sejarah."

Saat Shyla sedang asyik tertawa mendengar lelucon Steven, tiba-tiba...

PLAK!

Sebuah tongkat kayu berukir mendarat pelan namun cukup mengejutkan di puncak kepala Shyla. Shyla tersentak dan hampir berteriak sebelum ia berbalik.

Kakek Gaza menatap dengan tajam. "Masih saja bergosip di acara Kakak mu sendiri? Kamu ini tidak berubah, Shyla."

Nenek Alena tersenyum anggun di samping Gaza. "Dan kamu, Leta, berhentilah menatap kekasih kakakmu seolah ingin menelannya hidup-hidup. Kakek dan Nenek melihat semuanya dari kejauhan." Leta hanya menyengir saja dan langsung merangkul Nenek Alena.

Shyla yang tadinya kesal langsung melembut. Ia memegang tangan kakeknya dengan manja."Kakek! Nenek! Kalian membuatku jantungan. Aku kira siapa yang berani memukulku di pesta sekelas ini."

Kakek Gaza hanya terkekeh. "Hanya kakekmu yang boleh menjewer telingamu kalau kamu tidak segera menyapa tamu-tamu penting itu. Ngomong - ngomong, dimana Kakek mu yang satu itu?"

Shyla mendesah pelan. " Kakek Zayn.. duduk disana... semenjak kematian Nenek Aryani.. Kakek Zayn tidak pernah tersenyum lagi."

Kakek Gaza langsung merangkul lengan cucunya. " Kalo begitu ayo.. kita hibur Kakek mu yang patah hati itu."

Zack bergabung kembali ke lingkaran anak muda. "Nah, Steven, Tiffany, kalian sudah sampai. Ingat, tetaplah bersikap elegan. Malam ini semua mata tertuju pada keluarga kita. Ayo, kita mendekat ke arah pelaminan, sebentar lagi prosesi utama dimulai."

Di tengah denting gelas kristal dan musik orkestra yang megah, percakapan itu terus mengalir. Di satu sisi, kekaguman atas interior ballroom yang tak tertandingi menjadi topik utama para pebisnis dan wartawan. Di sisi lain, ketegangan kecil di antara keluarga inti tetap membara di balik senyum-senyum formal yang mereka tunjukkan ke arah kamera.

Namun, di balik riuhnya obrolan tentang mahalnya dekorasi malam itu dan tawa basa-basi para petinggi perusahaan, terdapat sebuah anomali yang tak tertangkap kamera media. Di sudut-sudut strategis ruang ballroom, dua pasang mata mengintai dengan tajam.

Meski bibir mereka tampak bergerak lincah menyapa para tamu dan melempar senyum formalitas, tatapan mereka tidak pernah benar-benar lepas dari target. Ada sebuah rencana gelap yang telah disusun rapi, bersembunyi di balik tirai sutra dan denting gelas sampanye, menunggu momentum yang tepat untuk mengubah pesta pernikahan menjadi panggung yang tidak terlupakan.

BERSAMBUNG

1
gaby
Ntar kalo Elvira pny anak jgn dikasih nama Elvis y thor, makin puyeng
gaby
Namanya agak bikin bingung, beberapa mirip, Elmira, elvira, Eveleyn. Ga ada nama lain apa, bikin puyeng
Ridwani
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
gaby
Mantap crazyup nya thor. Smangat👍👍
gaby
Bukannya anak Rodrigo dah mati di bunuh Elvira di toilet mall. Tp ko Vania msh hdp?? Kan vania anak Rodrigo
ROGUES POINEX: Yang di bunuh Elvira anak dan Istri dari Menteri Pertahanan
total 2 replies
gaby
Msh misteri, kebahagiaan siapa yg akan mreka hancurkan?? Karena yg kliatan lg bahagia cm Sky & Evelyn. Apa mreka mau menghancurkan kebahagiaan ortu mreka sendiri??
gaby
Kayanya critanya lbh seru dr kisah Angel & Langit di Judul sebelumnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!