NovelToon NovelToon
Rumah Yang Mengingat Namaku

Rumah Yang Mengingat Namaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan / Rumahhantu / Hantu / TKP
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author:

Raisa terpaksa tinggal sendirian di rumah tua warisan neneknya di sebuah kampung terpencil. Sejak malam pertama, rumah itu seperti mengenalinya—terlalu mengenalinya. Setiap pukul 02.17, ada langkah berhenti di depan pintu kamarnya. Ada bau tanah basah yang muncul tanpa hujan. Dan ada sandal merah kecil yang selalu kembali, meski sudah dibuang berkali-kali. Orang kampung berbisik bahwa dulu pernah ada anak bernama sama persis dengannya—anak yang hilang tanpa jejak dua puluh tahun lalu. Semakin Raisa mencari kebenaran, semakin rumah itu menunjukkan sisi aslinya: sentuhan dingin di tengah malam, luka yang muncul tanpa sebab, dan suara anak kecil yang memanggil namanya dari balik dinding. Jika masa lalu belum selesai, siapa yang sebenarnya sedang tinggal di rumah itu—Raisa, atau “dia”?

Perjanjian Kedua

Malam setelah garis denah di lantai menyala itu, tidak ada satu pun dari kami yang benar-benar tidur.

Rumah kembali berwajah waspada. Ayah duduk di kursi dekat pintu seperti satpam tanpa seragam. Arga menyalakan lampu darurat di sudut ruangan dan membaca sesuatu pelan tanpa henti. Dini memeluk bantal sofa sambil sesekali melirik ke arahku, takut aku kembali “berbicara dengan suara lain”.

Sementara aku hanya duduk memandangi lantai.

Garis-garis itu sudah kembali samar, tapi jejak panasnya masih terasa di telapak kakiku, seperti bekas luka yang tidak terlihat.

Bima pulang setelah kejadian tadi, meninggalkan kalimat yang terus berputar di kepalaku:

“Nama harus dibayar.”

Bukan diminta.

Bukan ditawar.

Dibayar.

Aku merasa seperti barang yang sudah diberi label harga sejak lahir.

Menjelang subuh, Arga akhirnya bicara.

“Kita nggak bisa cuma bertahan. Jalur itu harus ditutup dengan cara yang benar, bukan cuma ritual darurat.”

“Cara yang benar itu apa?” tanya Ayah.

Arga menggeleng pelan.

“Pak Karso pernah bilang, setiap simpul punya asal. Kalau kita tahu asalnya, kita bisa memutus bukan dari ujung, tapi dari akarnya.”

Aku langsung teringat kata-kata Bu Mira: tanah ini sudah jadi perbatasan jauh sebelum rumah dibangun.

“Berarti kita harus cari sejarah kampung,” kataku.

Dini mengangguk semangat.

“Kayak investigasi beneran ya. Gue ikut.”

Ayah menatap kami bertiga—anak-anak yang tiba-tiba dipaksa dewasa oleh masa lalu.

“Baik,” katanya akhirnya. “Kita cari kebenaran sampai habis.”

Pagi harinya kami mulai dari tempat paling dekat: mushola tua di ujung kampung.

Di sana ada lemari berisi kitab-kitab lama dan catatan kelahiran warga sejak puluhan tahun lalu. Pak Marzuki, penjaga mushola, mengizinkan kami membuka arsip setelah Arga menjelaskan seperlunya.

Debu beterbangan saat lemari kayu dibuka.

Di antara buku nikah dan catatan kematian, kami menemukan satu buku tipis tanpa judul. Kertasnya menguning parah, tulisannya memakai ejaan lama.

Arga membaca halaman pertama dengan suara pelan:

“Catatan perihal tanah larangan di batas timur.”

Dadaku langsung berdegup.

Di halaman berikutnya tertulis kisah tahun 1940-an: tentang sumur tua yang dulu dianggap tempat lewat makhluk hutan, tentang beberapa anak yang hilang tanpa jejak, dan tentang seorang dukun kampung yang “mengikat” jalur itu agar tidak melebar.

Tanda yang dipakai mirip sekali dengan denah di bawah lantai rumahku.

“Akar masalahnya jauh lebih tua dari Ranti,” kata Arga.

Aku merinding.

Berarti kami bukan generasi pertama yang berurusan dengan ini—hanya korban terbaru.

Sore itu kami menemui satu-satunya orang yang mungkin masih ingat cerita lama: Mbah Wiryo, tetua kampung yang jarang keluar rumah.

Beliau menyambut kami dengan tatapan curiga, terutama saat mendengar nama Bima.

“Anak itu kembali?” tanyanya serak.

“Iya, Mbah. Dia bilang jalur belum selesai,” jawab Ayah.

Mbah Wiryo tertawa pendek.

“Sejak awal dia memang nggak ingin jalur itu selesai. Dia ingin membukanya lebih lebar.”

Beliau lalu bercerita tentang lelaki asing puluhan tahun lalu—gurunya Bima—yang sebenarnya bukan penyelamat, melainkan pencari jalan.

“Tanah kalian itu seperti mulut gunung kecil,” katanya. “Kalau dibuka, banyak yang bisa lewat. Ada yang cuma numpang, ada yang mau tinggal.”

Aku bertanya pelan,

“Kenapa harus pakai nama?”

“Karena nama itu tali,” jawab Mbah. “Yang di bawah nggak kenal wajahmu, tapi dia kenal bunyi namamu.”

Kalimat itu membuatku merinding sampai ke tulang.

Dalam perjalanan pulang, Dini berbisik,

“Berarti Bima sengaja bikin lo jadi sasaran ya?”

Aku mengangguk lemah.

Bukan lagi takdir buta.

Ada manusia yang mendorongku ke tepi jurang.

Malam berikutnya gangguan baru muncul—lebih halus, lebih kejam.

Aku sedang mandi ketika mendengar suara dari dalam air.

Bukan suara gemericik, tapi bisikan sangat pelan:

Rai… sa… Rai… sa…

Aku menutup keran, tapi bisikan itu tetap ada, seolah berasal dari pipa.

Di cermin kamar mandi, bayanganku tersenyum lebih dulu sebelum aku sempat tersenyum.

Aku keluar dengan tubuh gemetar.

Dini langsung memelukku.

“Bukan kamu, kan?” tanyanya panik.

Aku menggeleng.

Arga menyimpulkan satu hal:

“Yang datang sekarang bukan Ranti. Ini yang lebih tua. Dia mulai mengetuk lewat hal-hal kecil.”

Ayah memukul meja frustasi.

“Kita harus hentikan Bima sebelum dia buka apa pun.”

Tapi Bima justru bergerak lebih cepat.

Dua hari kemudian, beberapa warga melihatnya sering datang ke rumah kosong di ujung kampung—rumah yang menghadap ke arah sama dengan rumahku.

Malamnya, listrik di sebagian kampung padam kecuali di dua titik: rumah kami dan rumah kosong itu.

Seperti dua mata saling menatap.

Pada pukul 02.17, aku mendengar suara beduk dari arah rumah kosong—padahal tidak ada mushola di sana.

Televisi di ruang tengah menampilkan gambar hitam lagi, tapi kali ini bukan halaman belakang, melainkan denah yang bergerak seperti hidup.

Garisnya memanjang, mendekati bentuk tubuh manusia.

Arga berteriak,

“Dia lagi bikin simpul baru!”

Ayah langsung mengambil jaket.

“Kita ke sana sekarang.”

Kami bertiga—aku, Ayah, Arga—mendatangi rumah kosong itu. Dini kupaksa tinggal karena terlalu berbahaya.

Rumah itu gelap, tapi dari dalam terdengar suara orang berzikir terbalik—nadanya mirip doa, tapi kata-katanya kacau.

Bima berdiri di ruang tengah, dikelilingi lilin dan gambar denah yang sama seperti di rumahku.

Begitu melihat kami, dia tersenyum.

“Kalian cepat juga.”

“Mas hentikan ini!” teriak Ayah.

Bima menggeleng.

“Sudah terlambat. Jalur butuh penjaga baru. Kalau bukan Raisa, bisa anak lain. Kalian mau tanggung itu?”

Aku maju satu langkah.

“Kenapa harus ada penjaga sama sekali?”

Dia menatapku lama.

“Karena manusia selalu butuh jalan pintas. Dan jalan pintas selalu minta korban.”

Arga menyela,

“Mas cuma mau kuasa. Bukan keselamatan kampung.”

Wajah Bima mengeras.

“Kuasa dan keselamatan kadang sama saja.”

Lilin-lilin di sekelilingnya tiba-tiba padam sendiri.

Udara di ruangan itu berubah berat seperti air.

Aku merasakan tarikan di dadaku lagi—lebih kuat dari sebelumnya, seolah namaku dipanggil dari dua arah sekaligus.

Bima menatapku.

“Raisa, kamu nggak perlu mati. Kamu cuma perlu menerima peranmu.”

Aku menggigit bibir.

“Peran jadi pintu buat makhluk lapar? Aku nggak mau.”

Dia menghela napas.

“Sayang sekali.”

Denah di lantai rumah kosong itu menyala merah.

Di saat yang sama, ponsel Ayah bergetar—Dini menelepon panik.

“Om! Di rumah… garis di lantai gerak sendiri! Kayak mau nyambung ke luar!”

Aku sadar satu hal mengerikan:

Bima sedang menghubungkan dua rumah,

dua simpul,

dan tubuhku berada di tengahnya.

Kami berlari pulang secepat mungkin.

Sepanjang jalan aku merasakan langkah lain mengikuti—bukan suara, tapi rasa ditatap dari balik pepohonan.

Begitu sampai di rumah, pemandangan yang kulihat membuat lututku lemas.

Garis denah di lantai ruang tamu benar-benar bergerak seperti ular cahaya, memanjang menuju pintu depan, seolah ingin bertemu dengan garis dari rumah kosong.

Dini menangis di sudut.

“Lo tadi ngomong lagi pakai suara itu, Sa!”

“Aku bilang apa?”

“Lo bilang… ‘sebentar lagi aku punya dua pintu’.”

Kepalaku berdenyut hebat.

Bima belum datang, tapi jejak rencananya sudah merayap lebih dulu.

Arga menutup pintu, menabur garam, membaca doa keras-keras. Ayah memelukku erat.

Tapi di dalam dadaku, tarikan itu makin kuat.

Aku mulai mengerti arah babak baru:

bukan lagi sekadar memulangkan Ranti,

melainkan menghentikan manusia yang ingin membuka neraka kecil demi ambisinya.

Dan aku—suka atau tidak—adalah kunci utamanya.

Malam itu, tepat pukul 02.17, aku mendengar bisikan bukan dari luar, tapi dari dalam kepalaku sendiri:

“Pilih pintumu, Raisa.”

Aku membuka mata dalam gelap.

Di depan ranjang berdiri bayangan tinggi—bukan Ranti, bukan sosok tanpa wajah.

Bayangan yang mirip sekali dengan diriku sendiri.

Dia tersenyum dan berkata pelan,

“Cerita ini belum separuh jalan, Kak.”

1
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦 S͠ᴜʟʟy☠ᵏᵋᶜᶟ
Rahasia apa di rumah tua itu ,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!