NovelToon NovelToon
MONSTER DI DUNIA MURIM

MONSTER DI DUNIA MURIM

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem
Popularitas:947
Nilai: 5
Nama Author: FantasiKuyy

Dulu aku adalah sampah di Sekte Awan Azure, sampai sistem 'Night Crawler' merobek kemanusiaanku dan menggantinya dengan insting predator. Sekarang, aku bisa bertransformasi menjadi monster dan melahap kultivasi siapa pun yang berani menghalangi jalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Rantai cahaya itu melilit leherku dengan sangat kencang. Bukannya merasa tercekik, aku justru merasakan aliran energi yang sangat lezat menyusup ke dalam pori-pori kulitku. Rasanya seperti meneguk air dingin di tengah padang pasir yang sangat gersang. Mataku yang kini sudah tidak lagi menyerupai mata manusia menatap lurus ke arah wajah Jang Mu-deok yang mulai memucat.

"Kau pikir mainan ini bisa mengikatku?" tanyaku dengan suara yang serak dan rendah.

Jang Mu-deok tidak langsung menjawab. Ia justru memperkuat genggamannya pada jimat emas itu. Keringat sebesar biji jagung mulai mengalir di pelipisnya. Ia pasti menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dengan teknik penyegelannya.

"Cepat bantu aku!" teriak Mu-deok kepada para muridnya di luar.

Gwi yang sedari tadi bersiap menerjang Jang Mi kini menghentikan gerakannya. Ia menoleh ke arahku dengan tatapan yang penuh rasa ingin tahu sekaligus waspada. Ia sepertinya baru pertama kali melihat seseorang yang bisa memakan energi segel secara langsung.

"Kau benar-benar monster yang unik, Anak Baru," celetuk Gwi sembari menyeringai lebar.

Jang Mi sendiri masih berdiri mematung. Belati ungu di tangannya bergetar hebat. Ia mungkin berharap aku akan langsung lumpuh karena jimat ayahnya, namun kenyataan yang ia lihat justru sebaliknya.

"Apa yang terjadi pada tubuhmu?" tanya Jang Mi dengan suara yang nyaris hilang.

Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku justru menarik rantai cahaya itu dengan satu sentakan kuat. Tubuh Jang Mu-deok terseret maju ke arahku seperti karung beras yang tidak memiliki bobot. Ia mencoba melepaskan jimatnya, namun tangannya seolah sudah terpaku secara ajaib pada benda tersebut.

"Jangan mendekat!" raung Mu-deok sembari mencoba memukul dadaku dengan telapak tangannya.

Pukulan itu mendarat tepat di atas jantungku. Ledakan tenaga dalam dari ranah Formasi Inti Tahap Puncak bergema di dalam ruangan. Namun, bagi tubuhku yang sedang berada dalam mode 'Berserker Crawler', serangan itu tidak lebih dari sekadar tepukan ringan yang menyegarkan sel-sel ototku.

"Terima kasih untuk tambahan tenaganya, Tetua," bisikku sembari mencengkeram kepalanya.

Aku bisa merasakan setiap inci tulang tengkoraknya berderak di bawah tekanan jari-jariku yang kini sudah sepenuhnya berupa cakar hitam. Sistem terus memberikan notifikasi yang semakin cepat, memberitahuku bahwa proses evolusi sudah mencapai tahap akhir.

[Proses evolusi: 85%... 92%...]

"Han Wol, lepaskan dia!" teriak Jang Mi sembari melesat maju dengan belatinya.

Ia mencoba menusuk punggungku, namun ekorku yang besar secara otomatis bergerak untuk menangkis serangannya. Dentingan logam kembali terdengar saat belati ungunya membentur sisik keras di ekorku. Jang Mi terpental ke belakang, menabrak dinding batu dengan cukup keras.

"Jangan ganggu makan siangku," geramku tanpa menoleh ke arahnya.

Jang Mu-deok mulai meronta dengan sisa-sisa kekuatannya. Matanya membelalak ketakutan saat melihat mulutku yang mulai terbuka lebar. Ia pasti tidak pernah membayangkan akan mengakhiri hidupnya di tangan seseorang yang dulu ia anggap sebagai sampah tidak berguna.

"Ampuni... aku..." rintih Mu-deok dengan napas yang tersengal.

Aku tertawa, sebuah suara yang terdengar sangat asing bagi telingaku sendiri. Rasa haus akan darah kini sudah sepenuhnya menguasai akal sehatku. Aku bisa merasakan esensi kehidupan dari Jang Mu-deok mulai mengalir masuk ke dalam tubuhku melalui kontak fisik di kepalanya.

"Ampunan adalah kemewahan yang tidak pernah kau berikan padaku," sahutku dingin.

Tiba-tiba, dari arah pintu yang hancur, sebuah tekanan energi yang jauh lebih besar muncul. He Ran masuk dengan wajah yang terlihat sangat marah. Ia menatap pemandangan di depannya dengan tatapan yang bisa membekukan air seketika.

"Apa yang kalian lakukan di ruang pribadiku?" tanya He Ran dengan nada bicara yang sangat tenang namun mematikan.

Gwi langsung mundur beberapa langkah, sementara Jang Mi mencoba merangkak berdiri dengan wajah yang penuh ketakutan. Hanya aku yang tetap tidak bergeming, masih mencengkeram kepala Jang Mu-deok yang kini sudah mulai kehilangan kesadarannya.

"He Ran... tolong..." gumam Mu-deok dengan suara yang sangat lemah.

He Ran menatapku, lalu menatap Jang Mu-deok secara bergantian. Ia kemudian menghela napas panjang sembari menutup kipas sutranya.

"Mu-deok, kau benar-benar orang yang tidak tahu diri," ucap He Ran sembari berjalan mendekati kami.

Aku menatap He Ran dengan tatapan mengancam. Mode 'Berserker' membuatku sulit untuk mengenali kawan atau lawan. Hasratku untuk mencabik wanita di depanku ini sangat besar, namun sistem memberikan peringatan kuning di sudut penglihatanku.

[Peringatan: Target memiliki tingkat energi yang tidak terukur. Serangan langsung tidak disarankan.]

"Han Wol, kendalikan dirimu," perintah He Ran sembari menyentuh bahuku dengan lembut.

Sentuhan itu terasa sangat panas di kulit sisikku. Anehnya, rasa panas itu justru membuat gejolak di dalam tubuhku mulai mereda. Cahaya merah yang menyelimuti pandanganku perlahan mulai memudar, dan aku bisa merasakan akal sehatku kembali sedikit demi sedikit.

"Dia... dia ingin membunuhku," ucapku sembari melepaskan cengkeramanku dari kepala Mu-deok.

Tubuh tetua itu jatuh ke lantai seperti gumpalan daging tanpa tulang. Ia masih bernapas, namun kultivasinya sudah hancur total setelah aku menyerap sebagian besar esensinya.

"Aku tahu," sahut He Ran sembari menatap Jang Mi. "Dan kau, Nona Kecil, kau baru saja membuat kesalahan terbesar dalam hidupmu dengan mencoba berkhianat di bawah atapku."

Jang Mi gemetar hebat. Ia menjatuhkan belatinya dan bersujud di kaki He Ran. "Maafkan saya, Nyonya! Saya hanya... saya hanya ingin membalaskan dendam ayah saya!"

He Ran tidak membalas perkataan Jang Mi. Ia justru menoleh ke arah Gwi yang sedari tadi hanya menonton. "Gwi, bereskan sampah-sampah ini. Aku tidak ingin melihat wajah mereka lagi."

Gwi menyeringai lebar, memperlihatkan taring-taringnya yang haus akan mangsa. "Dengan senang hati, Nyonya."

Ia segera menyeret Jang Mu-deok dan Jang Mi keluar dari ruangan tersebut. Suara teriakan Jang Mi yang memohon ampun perlahan menghilang seiring dengan langkah kaki Gwi yang menjauh.

Kini hanya tersisa aku dan He Ran di ruangan yang sudah hancur berantakan itu. Aku terduduk lemas di pinggir kolam energi, merasakan tubuhku perlahan kembali ke bentuk manusia normal. Rasa lelah yang luar biasa menyerang setiap sendiku.

"Evolusimu hampir selesai," ucap He Ran sembari duduk di sampingku.

"Apa kau akan mengambilnya sekarang?" tanyaku sembari menatapnya dengan saksama. "Seperti yang dikatakan Jang Mi tadi?"

He Ran tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat tulus di telingaku. "Jika aku ingin mengambil esensimu, aku sudah melakukannya sejak di pinggir sungai tempo hari. Aku tidak perlu repot-repot membawamu ke sini dan memberimu makan malam yang mewah."

Aku terdiam, mencoba mencerna perkataannya. Memang benar, dengan kekuatannya yang sekarang, ia bisa menghancurkanku dengan satu jentikan jari saja.

"Lalu, apa rencanamu selanjutnya?" tanyaku kemudian.

He Ran menatap ke arah langit-langit ruangan yang hancur. "Turnamen akan dimulai beberapa jam lagi. Dengan kekuatanmu yang baru ini, aku yakin kau bisa mengguncang seluruh Kota Guntur."

[Proses evolusi selesai: 100%.]

[Selamat, subjek telah mencapai tahap: 'Vanguard Asura'.]

Aku mengepalkan tanganku, merasakan kekuatan baru yang lebih stabil dan terkendali mengalir di dalam pembuluh darahku. Namun, di tengah kepuasan itu, aku menyadari satu hal yang membuatku cemas.

"He Ran," panggilku pelan.

"Ya?"

"Aku masih merasakan kehadiran monster lain di luar sana. Dan kali ini, mereka tidak sendirian."

He Ran mengernyitkan dahi. Ia berdiri dan berjalan menuju jendela, menatap ke arah pusat kota yang mulai terlihat ramai oleh cahaya obor.

"Sepertinya kau benar," bisik He Ran sembari menyipitkan mata. "Turnamen Naga Langit tahun ini bukan hanya sekadar ajang bela diri biasa. Ada sesuatu yang jauh lebih gelap yang sedang menuju ke sini."

Tepat saat ia selesai bicara, sebuah suara dentuman besar kembali terdengar, kali ini dari arah alun-alun kota. Cahaya merah yang sangat pekat membumbung tinggi ke langit, menutupi sinar bulan yang hampir terbenam.

"Itu... bukan energi kultivasi," gumamku sembari berdiri dengan bantuan tongkat kayuku.

"Itu adalah panggilan untuk para pemangsa," sahut He Ran sembari menoleh ke arahku dengan senyum yang sangat misterius.

"Apakah kau siap untuk perburuan yang sebenarnya, Han Wol?"

1
johanes ronald
ceritanya agak bingung, kl rantai hitamnya diserap, trs wkt penjaga masuk, apa gak liat rantainya sdh gak ada?
johanes ronald
hidup jang mi ulat sekali ya?
johanes ronald
bingung + excited mo smp dimna ceritanya berakhir
johanes ronald
politiknya bnyk skali
KanzaCyr_ 🐼🌻
❤️🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!