Tiga kali mengalami kehilangan calon bayinya saat usia kandungan hampir melewati trimester pertama, membuat Ainur, calon ibu muda itu nyaris depresi.
Jika didunia medis, katanya Ainur hamil palsu, tapi dia tidak lantas langsung percaya begitu saja. Sebab, merasa memiliki ikatan batin dengan ketiga calon buah hatinya yang tiba-tiba hilang, perut kembali datar.
Apa benar Ainur hamil palsu, atau ada rahasia tersembunyi dibalik kempesnya perut yang sudah mulai membuncit itu ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
05 : Tradisi aneh
Batin Ainur sangat berisik. Dulu, pertama kali dia masuk ke rumah ini, semua tampak aneh, dari sikap penghuni rumah sampai pada pelayan berjumlah lima orang ditambah dua sopir.
Awalnya Ainur menolak kala Daryo bersikeras mencuci kain lembut berwarna pekat. Dia merasa hal tersebut tidak lazim, menyalahi aturan, dan terasa aneh sekaligus jijik membayangkan penampung darah kotornya dicuci orang lain meskipun suami sendiri.
Namun pandangannya dipatahkan oleh kepala rumah tangga. Pak Tukiran mencontohkan dengan tindakan, mencuci kain penyumpal milik bu Mamik. Katanya sebagai bentuk kasih sayang suami ke istrinya. Sudah menjadi tradisi keluarga Tukiran sejak generasi pertama.
Selang beberapa hari kemudian, Wesa juga melakukan hal sama. Terlihat menikmati membilas kain mengucurkan air berwarna merah di tempat pencucian pakaian terbuka.
Dari sanalah Ainur tidak memiliki alasan untuk menolak, terpaksa menerima. Kendatipun sampai sekarang masih merasa tidak nyaman, dan aneh.
Makan malam pun sudah berakhir, pak Tukiran beranjak dari kursi, diikuti sang istri baru si sulung, disusul oleh Aryo dan Ainur.
Mereka berkumpul di ruang santai, bertukar cerita seperti keluarga normal. Para lelaki membahas hasil kebun dan padi yang panen kali ini sama seperti sebelumnya, melimpah ruah.
Perut Ainur melilit, bagian pinggang terasa pegal sekaligus sakit. Dia sampai meringis menahan nyeri, keningnya mengernyit dalam.
Obat hormon dari Dayanti benar-benar manjur, terlalu cepat reaksinya.
“Mas bopong ya?” Aryo menyelipkan kedua tangan pada bawah paha dan punggung, lalu mengangkat tubuh Ainur yang menahan nyeri sampai sudut mata basah.
Ainur melingkarkan tangannya pada leher Aryo, menangis dalam diam kala rasa sakit kian terasa. Bagian perut hingga kewanitaan nya panas sekaligus sakit.
Saat sampai di kamar, Aryo mendudukkan Ainur pada kursi meja rias. Dia bergerak gesit mengambil perlak anti air, handuk putih dalam lemari.
Sambil menahan sakit, Ainur memperhatikan. Tangannya memijat pinggang dan mengelus perut. Keringat dingin mulai keluar pada dahi dan pelipis.
Hsstt …
Sesuatu hangat, lengket terasa keluar dari bawah sana. Membasahi celana dalamnya. Ainur berdiri, ingin membersihkan kewanitaannya di kamar mandi.
“Jangan, sayang. Jangan dibasuh, biar mas bersihkan!” Aryo menahan lengan sang istri, kembali membopong dan merebahkan Ainur di atas tempat tidur sudah dilapisi perlak.
“Sakit, mas.” Dia bergerak gelisah, merintih. Wajahnya memerah, lembab, kedua tangan mengepal erat. Bukan dirinya manja, tapi memang rasanya sungguh menyakitkan. Tidak seperti sewaktu dia gadis mengalami menstruasi, beda pula dari datang bulan setelah menjadi seorang istri. Ini berkali-kali lipat sakitnya.
“Sabar nggeh, sayang.” Daryo berlutut di atas tilam. Daster sang istri dinaikan hingga perut, lalu celana dalam diturunkan, dan kakinya dilebarkan dengan lutut ditekuk.
Tanpa rasa jijik, ekspresi biasanya saja, pria berumur dua puluh empat tahun itu benar-benar membersihkan bagian sensitif Ainur. Bahkan, ujung handuk dilancipkan dibuat mencolek sesuatu lendir berwarna merah agar tertampung lebih banyak.
Konsentrasi Ainur pecah. Rasanya seperti seorang ibu bertaruh nyawa melahirkan buah hatinya. Tiga kali, ya sebanyak itu dia dihantam sakit nyaris tidak tertahankan ini.
Bila fase datang bulan biasa, memang sedikit sakit tapi masih bisa dia tahan.
“Sakit, mas,” adunya lirih. Air mata mengalir membasahi bantal.
“Sabar, dek. Cuma sebentar, nanti juga hilang sendiri sakitnya. Ini mas lagi bantu mempercepat rasa tak mengenakan itu pergi!”
“Cukup mas, jangan lagi!” Kakinya mencoba merapat, tapi ditahan siku.
“Tahan, sayang,” katanya tenang. Jari telunjuknya sibuk mencongkel seperti mengorek-ngorek lalu mengeruk pada liang Ainur. Tangan satu lagi mengurut perut dengan gerakan terlatih layaknya dukun bayi.
Tangis lirih berubah terisak-isak. Ainur meremas kain sprei, bokongnya sampai terangkat demi mengurangi rasa sakit. “Tolong sudah, mas. Biar keluar alami saja! Jangan dicongkel-congkel gitu!”
Daryo tidak mengindahkan, dia berjongkok. Jari berlumuran darah ikut mengurut perut, baru berhenti kala handuk putih hampir keseluruhan berwarna merah pekat, ada gumpalan darah beku sebesar ujung kuku, serta lendir.
Ekspresinya tetap biasa, dia melihat sang istri tidak sadarkan diri dengan wajah bersimbah air mata campur keringat. Rambut kusut, lembab.
Aryo membereskan kekacauan tadi dengan rapi. Mengganti celana dalam yang sudah dilapisi pembalut dari kain berbahan katun.
Pria berkaos singlet itu keluar dari dalam kamar, beberapa menit kemudian masuk lagi dengan membawa baskom berisi air hangat dan handuk kecil.
Penuh perasaan dirinya mengelap bagian paha yang lengket darah dan bagian perut juga. Ketika semuanya selesai, Aryo menutupi tubuh istrinya menggunakan selimut tipis hingga batas bahu, setelahnya mencium kening Ainur. Kemudian dia membawa baskom tadi keluar dari dalam kamar.
***
Seseorang tertatih-tatih melangkah dengan bersandar pada dinding tanah. Dia kembali ke lorong gelap bercahayakan lampu obor. Kali ini jalannya berbeda, Ainur memilih rute kanan.
‘Tebing?’ batinnya berbisik, mata melihat kebawah, terdapat pucuk pohon berwarna hijau kemerahan karena cahaya lampu obor.
Ainur mendongak, maniknya membulat sempurna – pada ketinggian yang kalau tidak salah ingat adalah tempat dimana kereta kudanya berhenti. Sepasang cahaya kuning kehijauan menyala terang. Seperti sepasang mata hidup di kegelapan malam.
“Dwip ….” bisiknya pelan sekali, tapi cepat-cepat mengenyahkan pikiran mulai berkelana. Ainur menoleh ke samping bagian kanan. Teringat daun jendela terbuka lebar dan jemari mungil.
Kain jariknya dinaikan, pelan dia berjalan dengan punggung merapat pada dinding tebing. Sedikit saja salah langkah, berakhir dirinya terjun bebas menghantam pepohonan. Kedua tangannya berpegangan pada sisi batu tidak rata, jalan setapak ini sangat berbahaya.
Anehnya, Ainur tidak merasa takut, kedinginan, lebih ke penasaran. Perasaan asing ini tidak dia mengerti, hanya ingin melihat ada apa di dalam sana.
‘Dapat,’ dia merasa senang saat jemarinya berhasil menggenggam ujung jendela kayu.
Ainur berpegangan pada daun jendela, punggungnya tidak lagi bersandar di dinding tebing. ‘Gelap sekali?’
Dia tidak bisa melihat apa-apa. Bagian dalam ruangan itu benar-benar gelap gulita. Tangan Ainur meraba-raba, berpegangan pada besi layaknya jeruji penjara.
‘Aku tidak punya senter ataupun benda penerangan lainnya. Lantas bagaimana bisa melihat ke dalam sana?’
"Gunakan nalurimu cah ayu, panggil mereka dengan penuh perasaan … layaknya seorang ibu menyayangi putra-putrinya."
Ainur menoleh ke belakang masih dengan berpegangan pada jeruji besi. 'Tidak ada siapa-siapa. Terus, suara tadi ...?'
.
.
Bersambung.
Ki Ageng dgn mbak Neneng
apa hubungan badan dgn Tukiran waktu itu di ketahui Ki Ageng ??
untung nyawamu 1 wesa
klo bisa hidup pasti di siksa smpai monster itu puass
Ki Ageng menjadikan arkadewi
istri nya ??
semoga Raden Dwipangga datang menolong istrinya
tp jgm pula aq di bikin misuh2 ya 🤣🤣🤣
jal
arep piye meneh nur nasib mu apes temen
apa.yg sudah di lakukan dgm iblis itu sehinga merubah sosok.bayi layak nya monster