Ketika dunia seolah runtuh di sekelilingnya, hanya cinta anak-anak yang bisa membangunnya kembali.
Rian baru saja di-PHK ketika rumah tangganya yang sudah berjalan 7 tahun hancur berkeping-keping. Dituduh selingkuh oleh istri, Novi, dan dipermalukan oleh keluarga besarnya, ia tidak punya pilihan selain kembali ke kampung halaman dengan membawa dua anaknya – Hadian dan Alea. Kedua anak itu dengan tegas memilih mengikuti ayahnya, bahkan menolak untuk bertemu dengan ibunda kandung mereka yang kini sudah hidup dengan orang lain.
Di rumah panggung peninggalan orangtuanya, Rian memulai dari nol. Dengan tangan yang terlatih bekerja keras dan dukungan tak lekang dari kedua anaknya, ia mengolah lahan pertanian, membuka peternakan, hingga akhirnya mendirikan perusahaan dan restoran yang sukses.
Setiap langkah kemajuan yang diraihnya tak pernah lepas dari kehadiran Hadian dan Alea. Ketika pertemuan tak terduga dengan Novi dan keluarga barunya terjadi berkali-kali, anak-anak itu tetap berdir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. MALAM PERTAMA DI RUMAH PANGGUNG
Setelah hampir sebulan bekerja keras memperbaiki bagian-bagian utama rumah panggung – memperbaiki tiang penyangga, mengganti atap dengan jerami baru yang lebih tebal, dan menyelaraskan lantai kayu yang tidak rata – Rian memutuskan bahwa mereka sudah bisa menghabiskan malam pertama di rumah yang baru diperbaiki itu. Meskipun masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, sebagian besar area rumah sudah aman dan cukup nyaman untuk dihuni sementara.
“Hari ini kita akan makan malam dan tidur di rumah kita sendiri ya!” teriak Alea dengan suara yang ceria ketika mereka tiba di rumah panggung pada sore hari. Anak perempuan itu membawa keranjang berisi dekorasi kecil yang dia buat sendiri – karangan bunga dari daun dan bunga liar, serta beberapa kerajinan kayu yang dia hasilkan bersama Nenek Siti.
Hadian membawa beberapa perlengkapan memasak yang disewa dari Pak Soleh, sementara Rian membawa bahan makanan yang mereka beli dari pasar desa – beras, telur ayam kampung, beberapa sayuran segar, dan ikan kecil yang ditangkap oleh Pak Soleh di sungai desa pagi itu. Semua mereka bekerja sama untuk menyiapkan ruangan yang akan digunakan sebagai dapur sementara, menempatkan kompor kecil dan meja kayu yang sudah diperbaiki di bagian rumah yang paling terlindungi dari angin dan hujan.
“Mari kita mulai memasak ya, Nak,” ujar Rian dengan senyum hangat, mulai membersihkan ikan kecil yang akan dibakar. “Kamu bisa membantu Papa membersihkan sayuran, Hadian. Alea bisa membantu mengupas bawang dan memotong cabai dengan hati-hati ya.”
Tanpa berlama-lama, mereka segera mulai bekerja sama di dapur sementara itu. Hadian dengan cermat membersihkan bayam dan kubis yang dibawa dari kebun Pak Soleh, sementara Alea dengan sangat hati-hati mengupas bawang merah dengan bantuan pisau kecil yang sudah diasah dengan baik. Rian membakar ikan di atas bara api kecil yang dibuat di sudut pekarangan rumah, sementara juga memasak nasi di panci yang ditempatkan di atas kompor kecil.
Suasana di sekitar rumah panggung terasa sangat hangat dan penuh dengan keceriaan. Alea bernyanyi lagu anak-anak yang dia pelajari dari Nenek Siti sambil bekerja, sementara Hadian bercerita tentang bagaimana dia membantu Pak Soleh membajak sawah beberapa hari yang lalu. Rian melihat anak-anaknya dengan hati yang penuh dengan cinta dan rasa syukur – meskipun kondisi rumah masih sangat sederhana dan mereka harus bekerja keras untuk mendapatkan setiap makanan yang mereka makan, namun kebersamaan mereka membuat semua kesulitan terasa lebih mudah untuk diatasi.
Setelah beberapa waktu bekerja sama, makanan akhirnya siap disajikan. Mereka menyajikan nasi putih hangat dengan ikan bakar yang gurih, tumis sayuran segar, dan telur balado yang sedikit pedas namun sangat nikmat. Meskipun makanan sangat sederhana dan hanya disajikan di atas daun pisang yang ditempatkan di lantai kayu yang sudah diperbaiki, namun rasanya lebih lezat daripada makanan mewah apa pun yang pernah mereka makan di kota.
“Mari kita berdoa dulu ya sebelum makan,” ujar Rian dengan suara yang tenang, mengajak anak-anaknya untuk bergandengan tangan. Mereka berdoa dengan tulus, menyampaikan rasa syukur atas makanan yang diberikan dan atas kebersamaan yang mereka miliki. Setelah itu, mereka mulai makan dengan lahap dan penuh rasa syukur.
“Enak banget ya, Papa!” ujar Alea dengan suara yang ceria, bibirnya sedikit berwarna merah karena makan telur balado. “Makanan yang kita masak bersama ini lebih enak dari makanan yang kita beli di warung lho.”
Hadian mengangguk dengan penuh kesetujuan, sedang menikmati ikan bakar yang gurih. “Benar sekali, Kakak Alea,” tambahnya dengan suara yang jelas. “Kalau kita bisa memasak bersama seperti ini setiap hari, aku akan sangat senang.”
Rian tersenyum dan memberikan irisan ikan kepada masing-masing anaknya. “Kita akan selalu memasak bersama seperti ini, Nak,” jawabnya dengan suara yang penuh dengan harapan. “Setelah rumah kita benar-benar selesai diperbaiki dan kita punya kebun sendiri, kita bisa menanam sayuran dan memelihara ayam sendiri. Maka kita akan selalu punya makanan yang cukup dan bisa memasak bersama setiap hari.”
Setelah makan malam selesai, mereka membersihkan tempat makan dan menyimpan sisa makanan dengan rapi di dalam ember plastik yang ditutup rapat. Kemudian mereka mulai menyiapkan tempat tidur untuk malam pertama mereka di rumah panggung. Mereka menebarkan tikar dan kasur yang dibawa dari tempat tinggal sementara Pak Soleh di bagian lantai yang paling rata dan terlindungi dari angin. Alea segera menghiasi area tempat tidur dengan karangan bunga yang dia bawa, sementara Hadian menyalakan lilin kecil yang diberikan oleh Nenek Siti untuk menerangi ruangan yang belum memiliki listrik.
Cahaya lembut dari lilin memenuhi ruangan, memberikan suasana yang hangat dan romantis pada rumah panggung yang sederhana itu. Mereka duduk bersama di atas tikar, melihat sekeliling ruangan yang sudah mulai terlihat seperti rumah yang sebenarnya – dinding yang sudah diperbaiki, atap yang tidak lagi bocor, dan dekorasi kecil yang dibuat oleh Alea yang membuat ruangan terlihat lebih hidup.
“Papa, cerita dong tentang ketika Papa masih kecil tinggal di rumah ini ya,” ujar Hadian dengan suara yang lembut, sudah mulai merasa kantuk akibat bekerja keras seharian. “Cerita tentang bagaimana Papa bermain dengan teman-teman sebaya di sekitar rumah ini.”
Rian tersenyum dan mulai menceritakan cerita tentang masa kecilnya di rumah panggung itu – bagaimana dia dan saudara-saudaranya sering bermain petak umpet di antara tiang penyangga rumah, bagaimana mereka sering menangkap ikan di sungai yang tidak jauh dari rumah, dan bagaimana ayahnya dulu sering mengajaknya bekerja di sawah sambil menyampaikan nasihat tentang kehidupan dan kerja keras.
Alea mendengarkan cerita ayahnya dengan penuh perhatian, kepalanya menyandar pada bahu ayahnya sambil memeluk boneka Kiki-nya dengan erat. Hadian juga mendengarkan dengan kagum, membayangkan bagaimana rasanya bermain di rumah yang sama dengan ayahnya ketika masih kecil. Cerita Rian membuat mereka merasa lebih dekat dengan rumah dan dengan sejarah keluarga mereka yang tinggal di desa ini sejak lama.
Ketika malam semakin larut dan udara menjadi lebih dingin, mereka mulai merasa kantuk. Rian menutupi anak-anaknya dengan selimut tipis yang mereka bawa, memberikan ciuman pada dahi masing-masing anak dengan penuh cinta. “Selamat malam, sayang-sayangku,” ujarnya dengan suara yang lembut. “Semoga kita bisa memiliki banyak malam yang bahagia di rumah kita sendiri ini.”
“Selamat malam, Papa,” jawab Hadian dan Alea dengan suara yang sudah mulai mengantuk. Mereka segera tertidur lelap di dalam pelukan ayahnya, merasa aman dan nyaman di rumah yang baru mereka bangun dengan tangan sendiri.
Rian tetap terjaga sebentar, melihat wajah anak-anaknya yang sedang tidur dengan damai. Dia melihat sekeliling rumah panggung yang sudah jauh lebih baik dari kondisi awalnya, merenungkan semua usaha dan kerja keras yang telah mereka lakukan bersama selama beberapa minggu terakhir. Meskipun masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan – memasang pintu dan jendela yang baru, membuat lantai yang lebih rata, dan memasang listrik serta air bersih – namun dia merasa bahwa mereka sudah memiliki segalanya yang paling penting: sebuah tempat untuk tinggal yang bisa mereka sebut sebagai rumah sendiri, dan kebersamaan satu sama lain yang tidak bisa digantikan dengan apa pun di dunia ini.
Di luar rumah, angin bertiup lembut melalui pepohonan di sekitar rumah panggung, membawa suara yang menenangkan dan aroma tanah lembab serta bunga liar yang tumbuh di sekitar pekarangan. Bintang-bintang bersinar terang di langit malam yang jernih, seolah memberikan cahaya dan harapan bagi masa depan mereka yang baru saja dimulai di rumah panggung yang penuh dengan kenangan dan harapan ini.
Rian akhirnya tertidur dengan senyum di wajahnya, merasa bahwa semua kesulitan yang mereka alami di masa lalu seolah menghilang dengan kebahagiaan yang mereka rasakan pada malam pertama mereka di rumah yang benar-benar menjadi milik mereka sendiri. Dia tahu bahwa jalan yang akan ditempuh masih panjang dan penuh dengan tantangan, namun dengan cinta dan dukungan satu sama lain, serta dengan tekad yang kuat untuk membangun kehidupan yang layak, dia yakin bahwa mereka akan bisa mengatasi segala rintangan dan membuat rumah panggung ini menjadi tempat yang penuh dengan kebahagiaan dan keberkahan bagi keluarga kecilnya.