Terobsesi Kamu Season 2
Demi bakti pada orang tua, Vira merelakan waktunya Jakarta-Bandung merawat sang ayah.
Namun, tanpa disadari, jarak yang ia tempuh justru menciptakan celah lebar di rumah tangganya sendiri. Ia perlahan kehilangan pijakan sebagai pendamping suami dan sosok ibu sambung bagi putri mereka.
Celah itu tak dibiarkan kosong. Hadirnya seorang tutor muda—Cintya yang begitu akrab dengan sang putri membawa badai hasutan yang mengguncang pondasi pernikahannya.
Ketika pengkhianatan mulai membayangi dan kenyamanan rumahnya mulai direbut, Vira tidak membiarkan kebahagiaannya dirampas begitu saja oleh mereka yang berniat menghancurkan.
"Kau terobsesi ingin memiliki suamiku?" Vira menatap tajam wanita muda yang menjadi tutor putrinya.
"Aku akan merebutnya dan menggantikan posisimu secepatnya, Vira," balas Cintya dengan seringai dingin.
Akankah Vira dan William mampu bertahan dalam menjalani pernikahan yang mulai terkoyak karena orang ketiga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drezzlle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengantin Baru
Kini, sebuah nama baru telah tersemat di belakang nama Vira. "Sanjaya" bukan lagi sekadar nama keluarga besar yang ia kenal, melainkan identitas yang kini melekat padanya sebagai istri sah William. Statusnya telah berubah, ia bukan lagi hanya putri bungsu Suryono, melainkan menantu sekaligus bagian dari keluarga tersebut.
Di dalam ruang VVIP yang hening itu, Vira menatap ayahnya yang masih terbaring lemah. Stroke telah merenggut kegagahan "Sang Mesin Perang".
Pernikahan impian di depan altar megah yang sering ia bayangkan dalam lamunan masa gadisnya, kini harus pupus dan berganti realitas. Altar itu kini berganti menjadi ranjang rumah sakit, diiringi suara ritmis alat medis yang menjadi saksi bisu janjinya.
Prosesi sakral yang baru saja usai itu memang jauh dari kemewahan, namun terasa begitu mendalam. Semuanya dilakukan demi satu tujuan, agar ayahnya bisa menyaksikan sendiri gerbang awal kehidupan barunya.
Vira memandang tangan William yang masih menggenggam jemarinya. Di tangan pria inilah, ayahnya telah menyerahkan seluruh perlindungan. Beban yang selama puluhan tahun dipikul oleh Suryono, kini secara resmi berpindah ke pundak William.
William bukan lagi sekadar kekasih, ia adalah nakhoda baru yang akan membimbing Vira melewati badai kehidupan yang mungkin menanti di depan.
"Jadilah istri yang baik. Belajarlah memasak ... jangan hanya bermalas-malasan di tempat tidur," goda Ikmal, sang kakak sulung, mencoba memecah keheningan yang menyesakkan. Meski nadanya bercanda, tangannya bergerak lembut mengusap puncak kepala Vira sebelum akhirnya menarik adik bungsunya itu ke dalam pelukan erat.
Pertahanan Vira runtuh. Air matanya luruh seketika. Di mata Ikmal, Vira tetaplah gadis kecil yang cengeng dan sering merepotkan, namun kini ia harus merelakan "si pembuat masalah" itu lepas dari perlindungannya.
Vira tak mampu membalas dengan kata-kata. Ia hanya bisa membenamkan wajah di dada bidang kakaknya, menumpahkan segala sesak dan kesedihan. Menyadari bahwa setelah hari ini, tawa dan pertengkaran kecil di rumah mereka akan berganti menjadi rindu yang tersekat jarak. Ia tak akan lagi bisa bermanja setiap waktu pada kedua kakaknya.
Alan, sang kakak kedua, ikut mendekat. Tanpa banyak bicara, ia melingkarkan lengannya, merengkuh kedua saudaranya dalam satu dekapan hangat. Ruang itu seolah membeku oleh ketiga anak manusia yang tumbuh besar bersama itu kini menyadari bahwa garis takdir mulai menarik mereka ke arah yang berbeda.
"Jangan buat masalah lagi di rumah orang. Dan ingat, sering-seringlah menengok Ayah dan Ibu saat kami sedang bertugas di luar kota," pesan Alan dengan suara rendah yang bergetar.
Ikmal kini berpindah ke arah William, adik iparnya. Ia mengembuskan napas panjang, seolah sedang melepaskan beban berat yang selama ini dipikulnya sendiri sebagai anak sulung. Ia memeluk William dengan erat, sebuah pelukan antar pria yang penuh makna.
"Aku titip adikku, William. Jaga dia, sayangi dia seperti janjimu pada Tuhan dan pada keluarga kami. Jangan biarkan dia menderita sedikit pun. Kau mengerti?" Pesan itu terdengar tegas, hampir seperti sebuah peringatan yang tak terbantahkan.
William hanya tersenyum tipis, sorot matanya menunjukkan kepercayaan diri. "Sudah aku katakan aku punya segalanya. Adikmu tidak akan pernah menyesal karena telah memilihku," jawab William dengan nada tenang.
Pelukan itu melonggar saat Aina, sang Ibu, mendekat. Wanita tua itu meraih tangan menantunya, menggenggamnya seolah sedang menitipkan seluruh nyawanya di sana. "Tolong jaga Vira. Kami titipkan dia sepenuhnya padamu dan keluargamu," ucapnya parau di sela isak tangis yang pecah.
William membungkuk hormat, lalu mencium punggung tangan ibu mertuanya dengan lembut. "Baik, Bu," jawabnya singkat.
"Malam ini kami akan menginap di Villa. Keluarga besar sudah menunggu di sana untuk menyambut kami," lanjutnya.
"Iya... Maafkan Ibu, Liam. Ibu tidak bisa mempersiapkan pernikahan kalian dengan semestinya," bisik Aina sambil mengusap punggung tangan William. Napasnya masih tersengal, dadanya sesak oleh rasa bersalah karena tak mampu memberikan pesta yang layak bagi putri bungsunya di hari bahagia ini.
Melihat itu, Inneke mendekat dan merangkul bahu besannya dengan hangat. "Jangan dipikirkan lagi, Aina. Kita ini sudah menjadi satu keluarga besar. Apa pun yang kalian berikan, itu sudah lebih dari cukup bagi kami. Kebahagiaan mereka adalah yang utama."
Aina melepaskan genggamannya dari William lalu berpindah memeluk Inneke. Kedua wanita itu saling berpelukan, saling menguatkan di tengah badai emosi yang berkecamuk.
"Ayah, kami pamit dulu. Tidak enak jika keluarga besar menunggu terlalu lama di Villa tanpa kehadiran pengantinnya," pamit William pada Suryono yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Suryono menggerakkan tangan kirinya yang gemetar, menyentuh jemari William. Meskipun bibirnya terkunci tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun, air mata yang mengalir deras membasahi pipinya menjadi saksi bisu betapa ia merestui dan sekaligus berat melepaskan Vira.
Satu per satu anggota keluarga meninggalkan ruangan. Kini, hanya tertinggal Aina di sana, duduk setia di samping suaminya.
.
.
Di Villa, seluruh keluarga besar telah berdiri di sana, membentuk barisan yang dipenuhi senyum dan mata yang berkaca-kaca. Pelukan demi pelukan mendarat di bahu William dan Vira. Doa-doa tulus mengalir seperti air, membungkus pasangan baru itu dalam restu yang tak putus-putus.
Saat perhatian keluarga mulai teralih pada hidangan makan malam dan obrolan panjang, William menangkap gurat kelelahan sekaligus kerinduan di wajah Vira. Tanpa suara, ia meraih jemari istrinya, menautkan jari-jari mereka, dan memberikan isyarat dengan lirikan mata menuju tangga.
Mereka menyelinap seperti sepasang remaja yang sedang jatuh cinta, meninggalkan keriuhan di bawah demi mencari udara segar.
Di balkon lantai atas, waktu seolah berhenti berputar bagi dua insan yang baru saja sah menyandang status suami-istri.
William berdiri di belakang Vira, membiarkan keheningan malam menyelimuti mereka sebelum akhirnya ia merapatkan tubuh. Ia menunduk, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Vira yang harum, lalu berbisik rendah, tepat di telinga istrinya.
"Aku mencintaimu," bisik William, suaranya serak—menggetarkan.
Vira mengerjapkan mata sejenak, meresapi hangatnya napas William yang menerpa kulitnya. Ia berbalik perlahan, lalu melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami, menatap mata pria yang kini menjadi pelabuhannya itu dengan binar jenaka sekaligus cinta yang dalam.
"Apakah ini rayuan karena menginginkan sesuatu?" goda Vira dengan nada manja.
"Menurutmu?" William menyunggingkan senyum tipis yang mematikan. Ia mencondongkan wajahnya, memangkas jarak hingga ujung hidung mereka bersentuhan dan saling bergesekan lembut.
Napas mereka kini beradu, menciptakan irama yang tak beraturan. Desiran jantung Vira kian tak terkendali saat ia merasakan tatapan intens William yang seolah mengunci seluruh jiwanya. Tak ingin lagi menunggu, Vira berjinjit kecil, mendekatkan bibirnya dan mendaratkan ciuman lembut di bibir William.
Untuk pertama kalinya, Vira yang memulai. Sesuatu yang membuat gairah di dalam diri William seketika tersulut.
William membalas pagutan itu dengan penuh damba. Tangannya yang kokoh melingkar di pinggang ramping Vira, menarik tubuh sang istri dengan lembut namun pasti hingga tak ada lagi celah di antara mereka. Ia menyesap bibir ranum Vira, seolah ingin merekam rasa manis itu selamanya dalam ingatan. Ciuman yang awalnya lembut itu perlahan berubah menjadi dalam dan menuntut, sebuah ungkapan kasih sayang yang membara di bawah saksi cahaya bulan yang temaram.
Ketika pagutan itu terlepas hanya untuk memberi ruang bagi oksigen, kening mereka masih saling menempel. Napas mereka memburu, dan suasana di balkon itu kian terasa panas meski angin malam berhembus kencang.
William mendekatkan bibirnya ke telinga Vira sekali lagi, memberikan kecupan-kecupan kecil sebelum membisikkan pertanyaan yang membuat wajah Vira kian memanas.
"Malam ini ... kamu mau kita pakai gaya apa, sayang?" bisiknya dengan nada menggoda.
Bersambung...
🤣🤣semuanya aja lah
mulai bsk dicatat tiap bln-nya will spy bs jaga, sblm 'dapat' minta jatah dl🤭