Kisah ini tidak menawarkan jawaban tentang apakah Great Reset benar-benar dirancang oleh elite global. Yang dihadirkan justru sesuatu yang lebih mengganggu: bagaimana bahasa, teknologi, dan kebijakan modern membentuk kepatuhan tanpa paksaan, membuat pilihan terasa semakin sempit, dan menjadikan penyesuaian sebagai satu-satunya cara untuk tetap dianggap “normal”.
Kita yang Tidak Pernah Diundang bukan dongeng tentang konspirasi besar, melainkan tentang manusia-manusia biasa yang hidup di dalamnya… tanpa sadar, tanpa persetujuan, dan tanpa kepastian apakah kesadaran akan menyelamatkan atau justru menyulitkan.
Sebuah kontemplasi gelap-reflektif tentang sistem yang tidak memaksa, dunia yang terlalu tertib, dan pertanyaan sederhana yang terus menghantui:
…jika semuanya sudah diputuskan, apa arti menjadi manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Doa yang Tidak Lagi Tenang
Wawan selalu percaya bahwa kepatuhan adalah bentuk kedewasaan.
Ia tumbuh dengan keyakinan sederhana itu. Ikuti aturan, hormati yang di atas, jalani hidup dengan rapi, dan Tuhan akan mengurus sisanya. Hidup tidak perlu diperdebatkan terlalu jauh. Terlalu banyak bertanya hanya akan membuat hati gelisah, begitu ia sering menasihati orang lain… dan dirinya sendiri, tentunya.
Pagi itu, ia membuka kafe kecilnya di Medan seperti biasa.
Pintu digeser perlahan. Lampu dinyalakan satu per satu. Bau kopi mulai memenuhi ruangan. Di dinding, beberapa kutipan religi masih tergantung rapi, ditemani poster menu yang ia desain sendiri. Semuanya terlihat sama. Tidak ada yang berubah secara kasat mata.
Namun Wawan tahu, ada sesuatu yang tidak lagi seimbang di dalam dirinya.
Ia berdiri di balik meja bar, menyeduh kopi pertama sambil memutar lantunan sholawat pelan. Biasanya, nada-nada itu membuat dadanya terasa lapang. Tapi pagi itu, ada jeda kecil di antara bait-bait doa, ruang hampa yang tidak bisa ia isi dengan kebiasaan lama.
Ponselnya tergeletak di meja, layar menghadap ke atas. Notifikasi belum dibuka sejak semalam. Ia sengaja menundanya, seolah dengan begitu kabar apa pun di dalamnya bisa kehilangan daya guncangnya.
Wawan mengambil napas, lalu membuka layar.
Pesan pertama datang dari grup keluarga. Tentang pengurusan data, penyesuaian administrasi, dan satu kalimat yang membuat alisnya berkerut: harus disesuaikan dengan sistem terbaru.
Ia membaca tanpa komentar. Pesan seperti itu sudah sering ia terima. Biasanya, ia akan menanggapinya dengan satu jawaban pendek, menandakan kesiapan untuk mengikuti. Tapi kali ini, jarinya berhenti di atas layar.
Ia tidak tahu kenapa.
Pesan berikutnya datang dari seorang pelanggan lama, menanyakan soal izin usaha yang kini diminta diperbarui. “Katanya biar sinkron, Wan,” tulis orang itu. “Biar aman ke depan.”
Aman.
Kata itu seharusnya menenangkan. Tapi pagi itu, ia justru membuat Wawan merasa sempit.
Ia meletakkan ponsel kembali, menyandarkan tubuh ke meja bar. Kafe masih sepi. Hanya suara kipas angin dan mesin kopi yang bekerja seperti biasa. Di luar, Medan mulai hidup perlahan, kendaraan melintas tanpa peduli pada kegelisahan kecil seorang pemilik kafe.
Wawan menunduk, merapikan sajadah kecil di sudut ruangan. Ia mengambil air wudu dengan gerakan yang sudah otomatis, lalu berdiri menghadap kiblat. Doa-doa keluar dari mulutnya dengan lancar, tapi kali ini pikirannya tidak sepenuhnya ikut bersujud.
Di antara bacaan yang ia hafal, muncul pertanyaan yang tidak ia undang.
Kalau semua sudah diatur dengan rapi, di mana letak ikhtiar?
Pertanyaan itu membuat dadanya bergetar. Ia menahan diri untuk tidak mengulanginya. Ia menyelesaikan shalat dengan cepat, duduk sejenak, lalu bangkit seolah tidak terjadi apa-apa.
Beberapa menit kemudian, pelanggan pertama datang. Wawan menyambutnya dengan senyum ramah, suara dibuat hangat. Obrolan ringan mengalir. Tentang cuaca, tentang harga bahan baku yang naik pelan-pelan, tentang aturan baru yang katanya “demi kebaikan bersama”.
Wawan mengangguk di waktu yang tepat.
Ia selalu tahu cara mengangguk dengan tepat.
Namun di sela-sela itu, pikirannya kembali ke percakapan di grup Random semalam. Pesan Kusuma tentang rute yang dipersempit. Pesan Doli tentang bahasa yang tidak netral. Pesan Ari tentang tulisan yang mulai dibaca orang lain.
Semua terasa jauh dari hidupnya yang religius dan tertib. Tapi justru itu yang membuatnya tidak bisa mengabaikannya lagi. Mengapa kegelisahan mereka terasa menyentuh ruang batinnya juga?
Siang hari, seorang kenalan datang membawa kabar tentang pemeriksaan rutin. “Nggak apa-apa, Wan,” katanya santai. “Cuma pendataan ulang. Biar rapi.”
Rapi.
Kata itu kembali muncul.
Wawan tersenyum, menjawab sesuai kebiasaan. “Insyaallah siap.”
Kalimat itu meluncur otomatis, tapi kali ini terasa lebih berat. Ia menyadari, ia sering menggunakan nama Tuhan untuk menenangkan dirinya sendiri ketika ia tidak sepenuhnya mengerti apa yang sedang ia setujui.
Di sela waktu senggang, ia duduk di kursi kayu dekat jendela, membuka ponsel lagi. Grup Random sunyi. Tapi kesunyian itu tidak kosong. Ia membuka chat pribadi dengan Yanto, membaca ulang percakapan lama tentang iman dan pertanyaan.
Dulu, Wawan sering menganggap Yanto terlalu banyak berpikir. Terlalu berani mempertanyakan hal-hal yang seharusnya diterima dengan tawakal. Sekarang, ia mulai bertanya-tanya apakah ketenangannya sendiri selama ini lahir dari iman… atau dari kebiasaan tidak menggali lebih dalam.
Ia mengetik pesan, lalu menghapusnya. Mengetik ulang.
Wawan:
To,
kalau kita patuh sama aturan,
tapi hati kita gelisah,
itu kurang iman atau justru tanda nurani?
Pesan terkirim.
Wawan meletakkan ponsel, menatap cangkir kopi yang mulai dingin. Ia menyadari, dengan pesan itu, ia telah melakukan sesuatu yang jarang ia lakukan: mengakui kebimbangannya sendiri.
Dan pengakuan itu, sekecil apa pun, membuat dunia yang selama ini terasa tertib mulai bergeser.
Di luar kafe, suara adzan terdengar dari kejauhan. Wawan berdiri, menutup mata sejenak. Ia ingin doa-doanya kembali tenang. Tapi ia juga tahu, setelah hari ini, ketenangan itu tidak akan datang dari kepatuhan semata.
Ada sesuatu yang menuntutnya untuk membedakan antara tunduk dan menyerah, antara taat dan diam.
Dan ia belum tahu bagaimana cara melakukannya tanpa kehilangan pijakan yang selama ini ia yakini.
\=======
Wawan menerima balasan Yanto menjelang maghrib.
Pesannya singkat, seperti biasa. Tidak menggurui. Tidak mencoba menenangkan.
“Kalau hati gelisah, itu bukan soal iman kurang atau lebih.
Itu tanda hati masih hidup.”
Wawan membaca pesan itu berkali-kali. Kalimatnya sederhana, tapi efeknya tidak. Ia duduk diam di kursi kayu kafe, sementara lampu-lampu mulai dinyalakan satu per satu. Di luar, langit Medan menggelap perlahan, dan suara kendaraan bercampur dengan panggilan azan dari berbagai arah.
Ia tidak langsung membalas.
Kalimat Yanto itu tidak memberinya jawaban, tapi justru membuka ruang yang selama ini ia tutup rapat. Ruang di mana iman tidak selalu berarti patuh tanpa bertanya. Ruang di mana nurani boleh bicara tanpa langsung dicurigai sebagai pembangkangan.
Malam itu, setelah kafe tutup, Wawan membereskan meja dengan gerakan lebih lambat dari biasanya. Ia mematikan mesin kopi, merapikan kursi, lalu duduk sendiri di tengah ruangan yang kini sunyi. Dinding-dinding kafe yang biasanya terasa akrab, malam itu seperti memantulkan kegelisahannya sendiri.
Ia membuka map berisi dokumen usaha. Izin, sertifikat, surat-surat lama yang sudah bertahun-tahun ia perbarui tanpa pernah benar-benar ia baca ulang. Ia mengambil satu lembar formulir baru yang tadi siang dititipkan kenalannya. Banyak kolom. Banyak istilah. Banyak pernyataan persetujuan yang ditulis panjang dan berputar.
Wawan membaca pelan. Tidak seperti biasanya.
Di beberapa bagian, ia berhenti. Bukan karena tidak mengerti, tapi karena ia mengerti terlalu baik. Ada kalimat yang meminta persetujuan atas hal-hal yang tidak dijelaskan secara rinci. Ada kolom tanda tangan yang terasa seperti penyerahan, bukan sekadar administrasi.
Ia teringat kembali ucapannya yang sering ia ulang, “yang penting niat baik.” Tapi malam itu, ia bertanya pada dirinya sendiri, niat baik untuk siapa.
Ia menutup map itu tanpa menandatangani apa pun.
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini dari grup keluarga. Pesan berantai tentang pentingnya taat aturan demi ketertiban dan keberkahan. Biasanya, Wawan akan membalas dengan stiker atau kalimat pendek penuh afirmasi. Kali ini, ia hanya membaca, lalu mengunci layar.
Ia berdiri, mengambil sajadah, dan berdiri untuk shalat isya’. Gerakannya masih sama. Bacaan masih lancar. Tapi ketika ia sampai pada doa, suaranya sedikit bergetar. Ia tidak meminta kelancaran usaha. Ia tidak meminta perlindungan dari masalah.
Ia hanya berkata pelan, dalam hati, “kalau aku harus patuh, tolong jangan matikan hatiku.”
Setelah shalat, Wawan duduk lama. Ia tidak langsung bangkit. Ada rasa asing yang muncul. Bukan takut, tapi kehilangan kepastian lama yang selama ini ia jadikan pegangan.
Keesokan harinya, petugas datang lebih pagi dari yang ia perkirakan.
Dua orang. Sikap mereka sopan. Nada bicara tenang. Mereka menyebut kunjungan itu sebagai pendataan rutin. Tidak ada ancaman. Tidak ada teguran keras. Hanya pertanyaan demi pertanyaan yang dibacakan dari daftar.
Wawan menjawab dengan jujur. Ia menyerahkan dokumen yang diminta. Namun ketika sampai pada formulir persetujuan tambahan, ia ragu.
“Ini harus sekarang?” tanyanya hati-hati.
Petugas itu tersenyum tipis. “Sebaiknya iya, Pak. Biar tidak repot ke depan.”
Repot.
Kata itu terdengar sepele, tapi Wawan tahu betapa sering kata itu digunakan untuk mendorong orang agar tidak terlalu banyak berpikir. Ia menatap lembaran kertas itu, lalu menatap petugas di depannya.
“Boleh saya baca dulu dengan lengkap?” tanyanya.
Petugas saling pandang singkat. Senyum mereka tetap ada, tapi sedikit menegang. “Boleh. Tapi jangan lama-lama, ya.”
Wawan mengangguk.
Ia membaca ulang setiap kalimat, perlahan, meski suasana mulai canggung. Tidak ada yang memotong. Tidak ada yang memaksa. Tapi tekanan itu ada, menggantung di udara, halus dan tidak kasat mata.
Setelah selesai, Wawan meletakkan pulpen.
“Maaf,” katanya pelan. “Yang ini saya belum bisa tanda tangan hari ini.”
Petugas itu terdiam sejenak. Lalu mengangguk. “Baik, Pak. Nanti kami jadwalkan ulang.”
Nada suaranya tetap sopan. Tapi Wawan merasakan sesuatu berubah. Bukan di ruangan, melainkan di posisinya sendiri. Ia tidak dimarahi. Tidak diancam. Tapi ia juga tidak lagi sepenuhnya berada di jalur aman.
Setelah petugas pergi, Wawan duduk lama di kursinya. Tangannya sedikit gemetar. Bukan karena takut, tapi karena ia baru saja melakukan sesuatu yang jarang ia lakukan. Ia menunda kepatuhan.
Ia membuka ponsel, masuk ke grup Random, lalu mengetik.
Wawan:
Hari ini gue nggak langsung setuju.
Rasanya nggak nyaman,
tapi juga nggak sepenuhnya salah.
Balasan datang tidak lama kemudian.
Doli:
Ketidaknyamanan itu sering jadi satu-satunya alarm yang kita punya.
Wawan membaca pesan itu, lalu mengangguk pelan, meski tidak ada siapa pun di depannya.
Malam turun lagi. Kafe kembali sepi. Wawan berdiri di depan pintu, mematikan lampu terakhir. Ia menarik napas panjang. Doanya malam itu tidak kembali tenang, tapi juga tidak kosong.
Ia sadar, mungkin ketenangan yang selama ini ia cari bukan berarti hidup tanpa gelisah, melainkan hidup tanpa mematikan nurani sendiri.
Dan itu, ia tahu, akan membuat langkah-langkah berikutnya tidak lagi semudah mengangguk dan berkata siap.