NovelToon NovelToon
Vallheart

Vallheart

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan / Romansa / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:530
Nilai: 5
Nama Author: Apin Zen

Di dunia sihir yang dipenuhi kutukan dan warisan kekuatan kuno, nama Raksha Lozarthat dikenal sebagai salah satu penyihir terhebat hingga ia dijatuhkan oleh kutukan terlarang milik seorang penyihir kuno. Kutukan itu tidak membunuhnya, namun jauh lebih kejam: jiwa Raksha dipaksa keluar dari tubuh aslinya dan terperangkap dalam tubuh seorang gadis lemah bernama Roselein Tescarossa.
Tubuh asli Raksha kini telah menjadi mayat, terbaring membusuk oleh waktu, sementara jiwanya terikat pada wadah yang tidak mampu menampung kekuatan sihir besarnya. Setiap kali ia mencoba menggunakan sihir tingkat tinggi, tubuh Roselein berada di ambang kehancuran. Ia bukan lagi penyihir agung, seorang gadis rapuh yang setiap langkahnya dibayangi rasa sakit dan keterbatasan.
Satu-satunya cara untuk mengakhiri kutukan ini adalah mengalahkan penyihir kuno yang telah menghancurkan hidupnya.
Akankah ambisi dendamnya berhasil atau justru terlena didalam tubuh baru, tempat dimana Raksha berada didunia barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Danau Dibawah Bulan

Langkah mereka terhenti tanpa disadari.

Saat Lein menoleh kembali, jalur yang barusan mereka lalui telah berubah. Pepohonan tampak lebih rapat, cahaya senja terpecah-pecah oleh kabut tipis yang turun perlahan.

“Seharusnya jalan ini lurus,” gumam Grack.

Reyd mengamati sekitar, angin berputar halus di telapak tangannya. “Tidak ada aliran udara yang sama. Kita tertinggal cukup jauh”

Nama Gram dan yang lain tidak terdengar lagi. Tidak ada suara langkah. Tidak ada panggilan balasan.

Hutan telah memisahkan mereka.

Lein menarik napas panjang. Ia tidak panik... hanya merasa ada sesuatu yang mengizinkan mereka tersesat.

“Mungkin kita harus berhenti terlebih dulu,” katanya. “Semakin kita bergerak, semakin dalam kita tersesat.”

Reyd mengangguk. “Aku setuju.”

Mereka menemukan celah kecil di antara akar besar dan duduk. Kabut tipis berkilau samar: bukan putih, melainkan kehijauan lembut.

Di situlah mereka melihatnya.

Seekor rusa sihir berantler cahaya melangkah perlahan dari balik pepohonan. Tubuhnya transparan, seolah terbuat dari embun yang memadat. Setiap langkahnya menumbuhkan bunga kecil yang segera layu kembali.

Grack menahan napas. “Aku pernah membaca tentang itu; Lumna Cervae.”

Tak jauh dari sana, burung kecil berbulu kristal biru bertengger di dahan rendah, kepalanya miring seolah menilai mereka. Serigala kecil bermata emas mengintip dari balik semak... tidak agresif, hanya ingin tahu saja.

Lein merasakan Hati Peri Malam berdenyut hangat.

Mereka tidak takut.

Hewan-hewan sihir itu mendekat perlahan, berhati-hati. Alam di sekitar mereka terasa seperti ruang yang tidak terganggu oleh konflik.

“Kalian lihat itu?” bisik Reyd. “Mereka merasa nyaman.”

Lein mengangguk. “Mungkin karena kita tidak membawa niat buruk.”

Lein mengulurkan tangan, tidak menyentuh, hanya memberi ruang. Rusa cahaya itu menunduk sedikit, lalu mundur dengan tenang.

Grack tertawa pelan. “Kalau kita mati tersesat di sini, setidaknya tempatnya indah.”

Reyd meliriknya. “Jangan bercanda, bodoh.”

Matahari hampir tenggelam ketika hewan-hewan itu satu per satu menghilang, menyatu dengan kabut.

Keheningan kembali, namun bukan kesepian.

Lein berdiri. “Kita tidak boleh lama-lama. Gram pasti mencari kita.”

Reyd mengangguk. “Aku akan mencoba mencari arus angin yang berbeda.”

Grack mengepalkan tangan. “Aku jaga-jaga sekeliling.”

Saat mereka bersiap bergerak, Lein menoleh ke arah terdalam hutan.

Ada panggilan halus... bukan suara, melainkan perasaan.

***

Malam turun perlahan di hutan itu.

Api kecil yang dibuat Grack berderak pelan, cukup untuk mengusir dingin tanpa mengusik kegelapan. Reyd berjaga tak jauh, memperhatikan arah angin dan suara malam yang terlalu teratur untuk disebut kebetulan.

Lein berdiri di tepi perkemahan sementara, dadanya terasa penuh.

“Aku akan berjalan sebentar,” katanya pelan.

Reyd menoleh. “Jangan jauh-jauh, Lein.”

“Aku mengerti, Tenanglah” jawab Lein sambil tersenyum kecil.

Ia melangkah mengikuti dorongan halus di hatinya... bukan suara, bukan perintah. Hanya rasa tahu. Hutan membuka jalur sempit, dedaunan bergeser tanpa bunyi.

Dan di sanalah ia melihatnya.

Sebuah danau kecil, tersembunyi di antara batu-batu pucat. Airnya tenang seperti cermin, memantulkan bulan yang menggantung rendah. Cahaya perak merayap di permukaan air, membuatnya tampak seolah danau itu bukan bagian dari dunia ini.

Lein berdiri lama, terdiam.

Raksha merasakan sesuatu yang lama terlupakan...

ketenangan tanpa tujuan.

Ia berlutut di tepi danau, menyentuh air dengan ujung jarinya. Dingin, namun lembut. Tidak menolak. Tidak menuntut.

Lein melepaskan mantel luar hingga semua pakaiannya, lalu masuk perlahan ke dalam air hingga sebatas bahu. Ia tidak memanggil sihir, tidak berdoa... hanya membiarkan dirinya ada.

Air beriak pelan...

Di bawah bulan, pikirannya yang kusut mulai mengendur.

Tuduhan.

Kemarahan.

Kutukan.

Semua terasa jauh; tidak hilang, namun tidak menekan.

“Aku lelah hidup didalam tubuh ini,” bisiknya pada bayangannya sendiri di air.

Hati Peri Malam berdenyut samar, mengikuti ritme napasnya. Tanpa perintah, bunga-bunga kecil bercahaya muncul di tepi danau, mekar lalu memudar perlahan.

Lein memejamkan matanya.

Untuk pertama kalinya sejak lama, ia tidak memikirkan tubuh lamanya yang telah menjadi mayat. Tidak memikirkan penyihir kuno yang harus dikalahkan.

Ia hanya ingin tenang.

Angin malam menyentuh permukaan danau, membuat bayangan bulan bergetar. Lein membuka mata dan sejenak, ia merasa danau itu menatap balik kearahnya.

Bukan dengan kesadaran.

Melainkan dengan penerimaan.

Tak lama, ia keluar dari air, mengenakan kembali mantel dan pakaiannya. Sebelum pergi, ia menoleh sekali lagi ke danau.

“Terima kasih,” katanya pelan.

Danau tetap diam.

Saat Lein kembali ke perkemahan, Reyd meliriknya sekilas. “Kamu terlihat lebih ringan, Lein.”

Lein duduk di dekat api. “Aku menemukan danau yang indah tadi.”

Grack tersenyum mengantuk. “Hutan ini memang penuh kejutan.”

Lein menatap api yang menari.

Di bawah bulan, di tengah hutan yang menyimpan rahasia, ia akhirnya tertidur dengan mimpi yang tidak gelap, dan untuk pertama kalinya… dia tidak dikejar masa lalu.

1
Namida Leda
wow
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!