Zavian Hersa mengira jalannya menuju keseriusan cinta dengan Grace akan semulus adiknya. Namun, realitas menghantam keras. Perbedaan status yang mencolok antara putra mahkota Hersa Group dan wakil ketua Gangster Blackrats menciptakan jurang yang lebar. Zavian, yang dihantui ketakutan kehilangan Grace seperti saat ia hampir kehilangan Nalea, berubah menjadi pria yang sangat posesif. Ia mencoba "menjinakkan" Grace dengan kemewahan dan perlindungan ketat, namun bagi Grace, perlindungan itu adalah penjara.
Kekosongan kepemimpinan sementara di Blackrats setelah Nalea fokus pada pendidikannya memicu gejolak di dunia bawah. Musuh-musuh lama dan baru mulai mengincar kekuasaan Blackrats. Teror silih berganti menghantui, mulai dari sabetan senjata tajam, pertumpahan darah, hingga pengorbanan nyawa.
Akankah cinta mereka bertahan di tengah pertumpahan darah dan tuntutan status sosial, ataukah mereka memilih jalan masing-masing dan merelakan cinta sejatinya?
NB: JANGAN SALFOK COVERNYA YAA😂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengepungan
CITTTTTTT!
Suara gesekan ban dengan aspal menjerit membelah keheningan siang yang terik. Mobil sedan hitam yang membawa Andreas tiba-tiba dihadang oleh sebuah mobil van perak dan tiga sepeda motor besar yang melintang di tengah jalan.
"Tuan Muda, merunduk!" teriak Boy, yang sementara waktu mengambil alih posisi Grace sebagai ketua tim pengamanan.
Andreas mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. "Lagi-lagi... keparat itu!" desisnya. Ia tahu betul siapa di balik ini semua. Paman Gio tidak akan berhenti sampai kepalanya dipenggal. "Sepertinya aku memang harus membunuh Paman Gio. Jika seperti ini terus, lama-lama nyawaku benar-benar melayang di jalanan."
"Bersiap pindah mobil! Tim dua, buka jalan! Kita lakukan pengalihan!" perintah Boy melalui walkie-talkie.
Dari dalam mobil van yang menghadang, keluarlah sekelompok pria berjaket kulit coklat dengan tato kalajengking di leher mereka, anggota inti Morpork. Mereka membawa gear motor yang diikat rantai, tongkat baseball aluminium, dan senjata tajam.
"Serahkan Andreas Hadi, dan kalian semua bisa pulang dengan nyawa!" teriak pimpinan Morpork sambil mengayunkan rantai besi yang berdesing di udara.
"Langkahi dulu mayat kami!" balas Boy.
Pertempuran pecah seketika. Boy dan empat pengawal lainnya keluar dari mobil, membentuk barikade manusia untuk melindungi pintu mobil Andreas.
BUGH!
Sebuah tongkat baseball menghantam bahu salah satu pengawal, namun ia tetap berdiri tegak, membalas dengan pukulan telak ke arah rahang lawan.
Suasana sangat tegang. Denting besi beradu dengan aspal, suara napas yang memburu, dan teriakan kesakitan memenuhi udara. Jumlah musuh hampir tiga kali lipat. Boy berusaha mengulur waktu sekuat tenaga, mengandalkan teknik bela diri jarak dekat untuk menahan gempuran rantai yang mematikan.
"Tuan, sekarang! Lari ke arah semak-semak itu, ada mobil cadangan di balik flyover!" bisik salah satu pengawal yang melihat celah.
Andreas keluar dari mobil, berlari secepat kilat menuju area hijau di pinggir jalan tol. Namun, suara raungan mesin motor mengejarnya. Dua anggota Morpork berhasil memotong jalan Andreas.
"Mau lari ke mana, Tuan Muda Manja?" ejek salah satunya sambil turun dari motor, memegang rantai gear yang masih berputar.
Andreas terpojok. Pengawal yang bersamanya dihadang oleh satu orang lainnya. Andreas tidak punya pilihan. Darahnya mendidih. Rasa frustrasi karena kehilangan Grace dan rasa bersalahnya meledak menjadi penuh energi .
****BUGH! BUGH!
Andreas menghindar dari ayunan rantai, lalu mendaratkan pukulan mentah ke wajah lawannya. Ia tidak ahli berkelahi seperti Grace atau Boy, tapi kemarahannya membuatnya liar. Ia mencengkeram kemeja lawan, menghantamkan kepalanya ke dahi lawan hingga darah mengucur. Namun, tendangan dari lawan kedua membuat Andreas tersungkur ke tanah.
Tepat saat sebuah parang hendak diayunkan ke arah leher Andreas, suara tembakan peringatan terdengar.
DOR!
"Mundur atau kepala kalian pecah!" teriak sebuah suara perempuan yang sangat dikenal.
Karin dan Devano muncul dari arah belakang dengan bantuan sepuluh anggota Blackrats tambahan. Melihat kedatangan bantuan, anggota Morpork mulai panik. Perlawanan mereka patah seketika di bawah serangan terorganisir dari Blackrats.
Andreas bangkit dengan wajah yang babak belur dan kemeja yang robek. Ia berjalan mendekati salah satu anggota Morpork yang sudah tak berdaya di tanah. Tanpa peringatan, Andreas menginjak tangan pria itu dan...
KRAK!
Ia mematahkan pergelangan tangannya dengan dingin.
"Aaaaaakhhh!"
"Beritahu Paman Gio," ucap Andreas dengan nada yang sanggup membuat bulu kuduk berdiri. "Katakan padanya untuk menjaga nyawanya baik-baik. Karena keponakan kesayangannya ini akan segera mengirimkan hadiah spesial... langsung ke liang lahatnya."
Devano mengawal Andreas sampai ke dalam rumah. Suasana hati Andreas sedang di titik nadir. Namun, begitu pintu utama terbuka, ia melihat sosok yang paling tidak ingin ia lihat, Melani.
Wanita itu sedang duduk di sofa ruang tamu bersama Miranti, ibunya. Begitu melihat Andreas masuk dengan kondisi berantakan, Melani langsung berdiri dengan wajah cemas yang dibuat-buat.
"Ya ampun, Andre! Kamu kenapa? Wajahmu babak belur begini!" Melani berlari mendekat, tangannya terulur hendak menyentuh pipi Andreas yang memar.
PLAK!
Andreas menepis tangan Melani dengan kasar. "Jangan sentuh aku!"
"Andre, aku hanya khawatir—"
"Aku tidak sudi disentuh olehmu! Kau dengar? Tidak sudi!" teriak Andreas. Ia menoleh ke arah Pak Wahyu yang berdiri tak jauh dari sana. "Pak Wahyu! Bawakan aku alkohol, lap bersih, dan air panas sekarang juga!"
Miranti berdiri, tampak tidak suka dengan sikap putranya. "Andreas! Jaga bicaramu. Melani ini tamu kita, dia datang karena mengkhawatirkanmu."
"Mengkhawatirkanku atau mengkhawatirkan isi dompetku, Ma?" sahut Andreas sinis.
Pak Wahyu datang membawa baki berisi perlengkapan yang diminta. Andreas langsung mengambil lap basah yang panas ditambahkan alhokol, lalu menggosok tangannya dan bagian wajah yang tadi sempat bersentuhan dengan tangan Melani. Ia menggosoknya dengan sangat beringas, seolah-olah kulit Melani adalah kotoran menjijikkan yang menular dan penuh bakteri ganas.
"Andreas, jangan berlebihan! Melani tidak melakukan kesalahan apa-apa hari ini!" tegur Miranti lagi. "Jangan lukai perasaannya."
Andreas berhenti menggosok kulitnya, menatap ibunya dengan mata yang merah. "Lalu bagaimana dengan perasaanku, Ma? Mama lebih peduli pada wanita binal ini daripada harga diri anak kandungnya sendiri? Sebenarnya aku anak kandung apa anak pungut sih!"
"Apa kesalahan Melani terlalu fatal? Dia hanya di jebak, Sayang. Berikan dia kesempatan," tanya Miranti dingin.
Andreas tidak menjawab. Ia melemparkan lap kotor itu ke lantai, tepat di depan kaki Melani. Tanpa menggubris omongan ibunya lagi, ia melangkah lebar menuju kamarnya di lantai atas dan membanting pintu dengan sangat keras.
...************...
Zavian berdiri di depan pintu kaca ruang perawatan VIP 502. Jantungnya berdegup sangat kencang, seolah-olah hendak melompat keluar dari dadanya. Melalui celah kaca, ia bisa melihat Grace.
Gadis tangguhnya kini terbaring sangat lemah. Wajahnya yang biasa merona kini sepucat sprei rumah sakit. Berbagai selang infus dan monitor detak jantung menghiasi tubuhnya yang ringkih. Amarah seketika melingkupi Zavian, marah pada orang yang menyakiti Grace, tapi yang terbesar adalah marah pada dirinya sendiri.
Lagi-lagi aku gagal menjagamu, Grace, batin Zavian. Genggamannya pada tas kecil berisi keperluan Grace mengeras.
Di dalam ruangan, Nalea sedang duduk di samping tempat tidur, memegang tangan Grace sambil terisak pelan. Zavian ingin sekali masuk, ingin memeluk Grace, dan membisikkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun, ia ragu. Ia merasa belum pantas. Ia merasa bahwa keberadaannya justru hanya akan menambah beban bagi Grace.
Zavian memutuskan untuk tetap di luar, menyandarkan punggungnya pada dinding koridor yang dingin.
Suasana di koridor itu menjadi sangat mencekam. Zavian tidak lagi bicara, namun siapa pun yang lewat bisa merasakan bahwa pria di depan kamar 502 itu adalah bom waktu yang siap meledakkan siapa saja yang menghalangi jalannya untuk menuntut balas atas kehancuran wanitanya.