NovelToon NovelToon
A Love That Grows

A Love That Grows

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Nikahmuda / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Yura, 23 tahun, adalah seorang wanita cerdas, cantik, dan tulus. Setelah kehilangan ayahnya yang selalu menjadi inspirasinya, Yura memutuskan untuk mewujudkan mimpi lama mereka membuka toko kue Prancis yang pernah ayahnya impikan.
Namun, langkahnya tak semulus yang ia kira. Di dunia bisnis, ia bertemu Arkan, CEO tajir, dingin, dan terlalu posesif. Pria yang selama ini menutup hati dari semua wanita tiba-tiba tertarik pada Yura bukan karena bisnis, tapi karena ketulusan dan keberanian yang jarang ia temui.
Pertemuan pertama mereka di restoran biasa berubah menjadi serangkaian kejadian tak terduga: mulai dari pertolongan Yura pada orang tua dan ibu hamil, hingga pertemuan bisnis yang membuat batas profesional mereka teruji.
Bisnis, mimpi, dan rasa kehilangan bercampur menjadi satu, ketika Yura harus memilih antara menjaga mimpinya, menghadapi masa lalunya, dan… menghadapi seorang pria yang mulai terlalu ingin memilikinya.
Apakah Yura akan menyerah pada bisnis dan mimpi ayahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Pesan Pertama

Yura duduk sendirian di bangku halte, menatap jalan yang sibuk tanpa benar-benar melihatnya.

Keputusan itu sudah dibuat.

Bukan oleh hatinya,

bukan juga oleh keberaniannya melainkan oleh keadaan. Ia menghembuskan napas panjang, mencoba menerima satu kenyataan pahit:

mulai hari ini, ia tidak lagi punya banyak pilihan.

Ponsel di genggamannya terasa berat.

Ia menatap layar yang gelap, seolah berharap waktu bisa berjalan lebih lambat. Setidaknya sampai ia siap menghadapi malam nanti.

Getaran singkat memecah lamunannya.

Satu pesan masuk.

Nama yang tertera membuat jantungnya menegang.

Arkan.

Yura ragu sejenak sebelum membuka pesan itu.

Arkan:

Saya sudah bicara dengan atasan Anda.

Sekarang semuanya lebih jelas.

Yura menelan ludah.

Tak lama, pesan kedua masuk.

Arkan:

Mulai hari ini, semua komunikasi terkait proyek ini lewat Anda.

Jangan melewati orang lain.

Nada pesannya tenang. Terlalu tenang.

Bukan perintah keras,

tapi jelas tidak memberi ruang menolak.

Yura mengetik balasan, lalu menghapusnya. Mengetik lagi. Menghapus lagi.

Akhirnya ia menulis singkat.

Yura:

Baik, Pak. Saya mengerti.

Beberapa detik berlalu.

Balasan datang cepat seolah Arkan memang menunggu.

Arkan:

Bagus.

Saya tidak suka diulang dua kali.

Yura memejamkan mata.

Dada terasa sesak, tapi ia memaksa diri tetap tenang.

Satu pesan lagi masuk.

Arkan:

Ingat.

Jam delapan malam ini.

Saya yang menentukan tempatnya.

Yura menatap layar ponsel itu lama.

Tidak ada kata ancaman.

Tidak ada nada kasar.

Namun justru itu yang membuatnya merasa terikat. Ia memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu berdiri. Langkahnya terasa lebih berat dari biasanya. Karena tanpa sadar, pesan itu bukan hanya mengatur jadwal tapi mulai mengambil ruang di hidupnya.

Pukul 19.00.

Yura berdiri di depan cermin kamar nya. Lampu menyala temaram, memantulkan wajahnya yang terlihat lebih pucat dari biasanya.

Ia sudah siap.

Gaun sederhana berwarna gelap melekat rapi di tubuhnya. Tidak berlebihan, tidak mencolok. Rambutnya ia ikat setengah, riasan tipis hanya untuk menutupi lelah di matanya.

Bukan karena ingin tampil cantik.

Tapi karena ia harus terlihat pantas.

Ponselnya tergeletak di atas meja. Layar menyala, menampilkan alamat yang dikirim Arkan sore tadi. Sebuah restoran nama yang asing, lokasi yang tidak ia kenal.

Jam 19.30 berangkat, batinnya.

Ia duduk di tepi ranjang, merapatkan kedua tangannya di pangkuan.

Jantungnya berdebar tidak teratur.

Bayangan ayahnya terlintas. Wajah pucat itu. Senyum lemah yang selalu berusaha menenangkan dirinya.

Ini cuma kerja, Yura mencoba meyakinkan diri.

Ini cuma satu pertemuan lagi.

Namun pesan-pesan Arkan siang tadi terngiang kembali.

Nada tenang. Kalimat singkat. Kontrol yang tidak diucapkan, tapi terasa. Yura menghela napas panjang, lalu meraih ponselnya. Waktu bergerak lambat.

19.27.

Ia berdiri, meraih tas, memastikan semua ada di dalam. Dompet. Ponsel. Kartu identitas.

Sebelum melangkah keluar, ia berhenti sejenak di depan pintu.

Tangannya menggantung di gagang pintu.

Kalau ini salah… aku masih bisa mundur sekarang. Namun bayangan ayahnya kembali muncul. Yura memejamkan mata, lalu membuka pintu.

19.30.

Ia melangkah keluar.

Menuju alamat yang ditentukan Arkan.

Menuju pertemuan yang sejak awal

tidak pernah benar-benar ia kendalikan.

Yura baru saja menekan tombol pesan pada aplikasi taksi online ketika ponselnya bergetar.

Satu pesan masuk.

Asisten Arkan:

Selamat malam, Mbak Yura.

Saya sudah di depan rumah Anda.

Yura membeku.

Tangannya menggantung di udara, layar ponsel masih menampilkan mobil taksi yang belum bergerak.

Di depan Rumah?

Ia melangkah cepat ke jendela kecil di samping pintu. Tirai disibakkan sedikit.

Sebuah mobil hitam terparkir rapi di pinggir jalan. Mesin menyala. Kaca gelap. Terlalu resmi untuk sekadar kebetulan.

Yura menelan ludah.

Dengan jari gemetar, ia membatalkan pesanan taksi online itu.

Getaran lain menyusul.

Asisten Arkan:

Pak Arkan meminta saya memastikan Anda sampai tepat waktu.

Yura menarik napas panjang.

Tidak ada kata tanya.

Tidak ada kata apakah berkenan.

Ia mengambil tasnya, mengunci pintu Rumah nya, lalu melangkah keluar.

Begitu melihat Yura, pintu mobil terbuka dari dalam. Seorang pria bersetelan rapi turun dan sedikit membungkuk sopan.

“Selamat malam, Mbak Yura,” ucapnya. “Saya asisten Pak Arkan.”

Yura mengangguk kaku. “Malam.”

“Silakan,” katanya sambil membuka pintu belakang mobil.

Yura ragu sepersekian detik sebelum masuk.

Pintu tertutup.

Mobil mulai melaju.

Yura menyandarkan punggung ke jok, menatap lampu jalan yang berlalu di balik kaca gelap.

Bahkan cara datang pun sudah diatur, pikirnya.

Ia menggenggam ponselnya erat-erat.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia benar-benar merasa bukan sedang menuju pertemuan bisnis, melainkan sedang dibawa ke wilayah kendali seseorang yang tidak suka memberi pilihan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!