Geun hanya ingin cepat kaya dan hidup nyaman.
Tapi setiap kebohongan kecil dan pertarungan nekat demi uang justru melahirkan legenda baru.
Saat dunia bela diri mulai menyebutnya monster dan iblis, Geun sendiri hanya sibuk mencari kerja dengan bayaran tinggi.
Geun yang awalnya hanyalah pemuda gelandangan yang ingin hidup bebas dan nyaman, namun tanpa sadar meninggalkan jejak yang mengubah dunia bela diri selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drunk Cats, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab #25: Mati
Dunia Geun kini sunyi.
Bukan karena hutan itu diam, di luar sana masih terdengar jeritan, dentingan pedang, dan dengungan mengerikan ribuan sayap.
Tapi karena telinganya mulai kehilangan suplai darah.
Satu... Dua... Tiga...
Geun menghitung detik dalam benaknya yang mulai berkabut.
Dia duduk memeluk lutut di pojok kereta, kaku seperti patung.
Wajahnya mulai abu-abu pucat. Bibirnya membiru. Suhu tubuhnya turun drastis menyamai dinginnya udara hutan berkabut.
Dia telah menjadi Objek Mati.
Seekor kumbang hitam dengan rahang gergaji merayap naik ke punggung tangannya.
Kaki-kaki kecilnya yang tajam menusuk kulit, tapi Geun tidak bergeming. Saraf perasanya sudah dia matikan.
Kumbang itu berhenti di nadi pergelangan tangan Geun.
Antenanya bergerak-gerak, mencari denyut nadi. Mencari aliran darah hangat yang memompa.
Jantungnya patuh. Otot jantungnya diam total, menahan tekanan darah yang ingin mengalir. Rasanya dada Geun seperti dihimpit batu besar. Paru-parunya perih meminta oksigen.
Kumbang itu menunggu sedetik. Dua detik.
Bagi sensor biologis si kumbang, benda di bawah kakinya ini hanyalah seonggok daging dingin yang sudah lama mati.
Kumbang itu memutar badannya, turun dari tangan Geun, dan merayap pergi menuju celah pintu kereta.
Menuju sumber panas yang lebih menggoda di luar sana.
Geun melihatnya dari celah matanya yang terbuka segaris.
Satu pergi.
Sepuluh pergi.
Ratusan kumbang yang tadi mengerumuninya kini berbalik arah serentak, seperti air surut, mengalir keluar mengejar murid-murid Wudang yang sedang bertarung dengan Qi membara.
Tapi Geun tidak bisa merayakannya.
Pandangannya mulai menggelap. Bintik-bintik hitam mulai muncul.
Otaknya mulai kehabisan oksigen.
Dia punya waktu kurang dari satu menit sebelum dia pingsan dan mati sungguhan karena gagal jantung.
Sementara itu, di luar kereta.
"SAUDARA GEUN!"
Baek Mu-jin berteriak panik.
Dia baru saja menebas gelombang serangga yang menyerang kuda. Dia melihat kereta itu dikerumuni ribuan kumbang hitam.
Kayu keretanya sudah bolong-bolong digerogoti.
"Dia tidak bisa jalan!" pikir Mu-jin panik. "Dia terjebak di dalam sana!"
Tanpa mempedulikan keselamatannya sendiri, Mu-jin menerjang masuk ke dalam lautan serangga.
Pedang Jian-nya bersinar biru terang, memutar energi Qi Wudang menjadi perisai angin yang melempar serangga-serangga itu.
"Minggir!"
BRAK!
Mu-jin menendang sisa pintu kereta yang sudah rapuh hingga hancur.
Dia bersiap melihat pemandangan mengerikan dimana tubuh Geun yang tinggal tulang dikerubuti serangga.
Tapi apa yang dia lihat membuat napasnya tertahan.
Di tengah kegelapan kereta yang remang-remang...
Geun duduk tenang.
Hening.
Ribuan serangga merayap di dinding, di lantai, bahkan beberapa masih ada di bahunya.
Tapi tidak ada satu pun yang menggigitnya.
Serangga-serangga ganas itu yang tadi memakan kuda hidup-hidup dalam hitungan detik seolah-olah menghormati keberadaan Geun. Mereka melewatinya begitu saja, seakan dia adalah batu karang di tengah sungai.
Aura Geun... hilang.
Mu-jin, seorang First Rate yang hampir mencapai ranah Peak, tidak bisa merasakan hawa kehidupan sedikitpun dari tubuh Geun.
Terasa kosong, dan hampa.
Seperti menatap lubang hitam yang menyerap segala eksistensi.
"Ini..." mata Mu-jin terbelalak.
Otak terpelajarnya langsung menghubungkan fenomena ini dengan legenda kuno Wudang.
Tentang para tetua yang bermeditasi di gua selama puluhan tahun, menyatukan diri dengan alam sampai hewan buas pun menganggap mereka bagian dari hutan.
State of Anatta: Tanpa-Aku.
Turtle Breathing Technique: Void Form.
"Dia menghapus keberadaannya sendiri?" batin Mu-jin terguncang. "Dia menurunkan detak jantung dan menyamarkan energi internalnya sampai ke titik nol, sehingga serangga pelacak energi ini menjadi buta?"
Ini bukan sekadar teknik menahan nafas. Ini adalah penguasaan fisiologis tingkat dewa.
Hanya Master yang sudah mencapai pencerahan tentang Hidup dan Mati yang bisa melakukan ini di tengah situasi genting.
"Luar biasa... Saudara Geun, seberapa dalam pemahamanmu tentang Tao?"
Tapi lamunan Mu-jin buyar saat seekor kumbang melompat ke arah wajahnya.
Energi Mu-jin yang aktif menarik perhatian semua serangga di dalam kereta.
"Tidak aman di sini!"
Mu-jin melompat masuk, menyambar tubuh Geun yang kaku, lalu melompat keluar lagi dengan gerakan Cloud Stepping.
"Haaap!"
Mu-jin mendarat di area yang sudah diamankan oleh Seo Yun-gyeom, sebuah lingkaran api yang dibuat dengan membakar minyak.
"Senior! Bagaimana?" tanya Yun-gyeom cemas.
Mu-jin membaringkan Geun di tanah.
Tubuh Geun dingin sedingin es. Wajahnya biru. Matanya terbuka sedikit tapi kosong.
Mu-jin memeriksa nadinya.
Tidak ada denyut.
"Dia mati?!" teriak Jang Min-seok histeris.
"Tidak..." bisik Mu-jin, sebuah keringat dingin mengucur di dahinya. "Dia sedang dalam stasis."
Di dalam tubuh Geun yang mati, kesadaran Geun sedang berjuang mati-matian.
"Woy jantung! Bangun! Woy!"
Geun mengirim sinyal panik.
Dia mencoba mengontraksikan otot dadanya lagi. Dia mencoba memijat organ dalamnya.
Tapi tubuhnya terlalu dingin. Ototnya kaku. Mesinnya mogok.
"Sial...."
Dia butuh pemicu.
Tiba-tiba, Geun merasakan tangan hangat di dadanya. Tangan Baek Mu-jin yang mencoba menyalurkan energi murni untuk memeriksa keadaan.
Panas energi Mu-jin itu masuk sedikit ke dada Geun.
Bagi tubuh Geun yang dipenuhi Qi alam yang kacau, energi asing itu adalah penyusup.
Sistem pertahanan tubuhnya yang liar langsung bereaksi.
ZING!
Otot jantung Geun kejang kaget merespon energi itu.
DEG!
Satu detak keras.
Darah kental yang tadi diam mendadak dipompa lagi.
UHUK!
Geun tersentak bangun. Dia memuntahkan udara dingin dari paru-parunya, lalu menghirup napas panjang yang rakus.
"HAAAAH!"
Matanya melotot liar. Dadanya naik turun drastis. Warna kulitnya perlahan berubah dari abu-abu menjadi merah padam.
"Dia hidup!" sorak Min-seok.
"Saudara Geun!" Mu-jin memegang bahunya. "Kau kembali!"
Geun terbatuk-batuk, memegangi dadanya yang sakit luar biasa.
"Hampir... hampir ketemu nenek..." batinnya ngeri.
Dia menatap Mu-jin dan murid-murid Wudang yang menatapnya dengan pandangan yang aneh.
Bukan pandangan kasihan pada orang sakit.
Tapi pandangan hormat yang bercampur rasa takut.
"Teknik yang luar biasa," puji Mu-jin tulus. "Kau memasuki kondisi mati suri sempurna untuk mengelabui indra serangga itu. Aku pernah membaca teorinya di kitab kuno di perpustakaan sekte kami, tapi melihatnya langsung... itu mengerikan sekaligus indah."
Geun mengusap ingus yang meler dari hidungnya.
Geun ingin bilang, "Itu bukan teknik, bodoh! Itu aku nahan nafas dan jantung sampai mau mampus!"
Tapi dia melihat situasi.
Mereka masih dikepung serangga yang tertahan api.
Jika dia terlihat lemah, dia jadi beban. Jika dia terlihat Hebat, mereka akan lebih termotivasi melindunginya.
"Yah..." Geun menjawab dengan suara serak, mencoba terdengar misterius padahal karena tenggorokannya sakit. "Serangga itu buta. Kalau kita jadi batu, mereka tidak akan makan."
Mu-jin mengangguk.
"Filosofi Menjadi Batu. Sederhana tapi mendalam."
Sementara itu, dari balik kabut di atas pohon, The Corpse Collector melihat semua itu dengan mata menyipit di balik kain jimatnya.
Dia melihat Geun yang tadi mati tiba-tiba hidup lagi.
Dia melihat bagaimana serangga-serangga ciptaannya yang dirancang untuk melacak kehidupan sekecil apapun telah ditipu mentah-mentah.
"Anak itu..." desis Corpse Collector. "Dia bisa mematikan fungsi organnya sesuka hati? Dia bisa memanipulasi tubuh biologisnya sampai ke level organ vital?"
Ketertarikannya berubah menjadi obsesi.
"Dia... subjek yang sangat berharga... Tidak hanya bisa menggunakan Qi alam yang kacau dan mentah sebagai energi internal, tapi juga mampu mengontrol tubuhnya seperti itu.... Ini diluar kemampuanku untuk memutuskan... Aku harus melaporkan hal ini ke Master."
Corpse Collector mengangkat tangannya.
Serangan ini gagal. Wudang sudah membuat parit api. Dan target utamanya ternyata punya trik biologi yang melampaui Gu-nya.
"Mundur, anak-anak."
Dia meniup peluit tanpa suara.
Ribuan kumbang itu berhenti menyerang, lalu serentak menggali masuk ke dalam tanah, menghilang secepat mereka datang.
Hutan kembali sunyi.
Hanya menyisakan bangkai kuda yang tinggal tulang, kereta yang rusak parah, dan sekelompok manusia yang terengah-engah.
Geun bersandar di roda kereta yang patah. Dia meraba kantong di selangkangannya.
Masih ada.
"Selamat..." gumam Geun. "Tapi sekarang kita jalan kaki?"
Dia menatap jalan setapak yang berkabut.
Kakinya masih lemas. Dan dia tahu, monster serangga itu belum pergi jauh.
Geun menatap Mu-jin.
"Gendong aku," kata Geun tanpa malu. "Teknik 'Menjadi Batu' bikin kaki kram."
Mu-jin tersenyum tipis.
"Tentu, Saudara. Itu kehormatan bagiku."