Di dunia yang penuh sandiwara, kebenaran adalah satu-satunya hal yang paling berbahaya."
Bagi semua orang di SMA Garuda, Jenny adalah definisi kesempurnaan. Sebagai ketua pemandu sorak yang ceria dan ramah, hidupnya tampak lengkap dengan kehadiran Jonathan, ketua OSIS yang kaku namun romantis, serta Claudia, sahabat yang selalu ada di sisinya. Jenny memiliki segalanya—atau setidaknya, itulah yang ia percayai.
Namun, di balik pintu ruang OSIS yang tertutup dan senyum manis para sahabat, sebuah pengkhianatan sedang tumbuh subur. Jonathan yang ia puja dan Claudia yang ia percaya, menyembunyikan api di balik punggung mereka.
Hanya satu orang yang berani mengusik "gelembung" bahagia milik Jenny: Romeo. Sang kapten tim voli yang kasar, red flag, dan rival bebuyutan Jenny sejak hari pertama. Romeo benci kepalsuan, dan ia tahu betul bahwa mahkota yang dipakai Jenny sudah retak sejak lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Kabar tentang ancaman Jenny kepada Claudia menyebar seperti api di atas bensin. Atmosfer di koridor kelas 12 menjadi sangat berat, seolah setiap orang sedang berjalan di atas kulit telur. Namun bagi Angga, ini adalah momen yang paling tepat. Ia sudah muak melihat Jonathan yang terus-menerus mencoba mendekati Jenny dengan kedok "penyesalan".
Siang itu, di depan mading sekolah yang ramai, Jonathan kembali mencegat Jenny. Ia tampak putus asa, memegang lengan Jenny dengan sisa-sisa keberaniannya.
"Jen, tolong jangan sebar foto itu. Kamu boleh benci aku, tapi jangan hancurin masa depan Claudia lebih jauh lagi. Dia udah kehilangan segalanya," pinta Jonathan dengan suara rendah yang bergetar.
Jenny mengibaskan tangan Jonathan dengan kasar. "Masa depan? Lo bicara soal masa depan setelah lo berdua hampir hancurin hidup gue?! Lo bener-bener nggak punya malu, Jo."
Saat Jonathan hendak bicara lagi, Angga melangkah maju. Ia tidak lagi berdiri di belakang Jenny sebagai pelindung pasif. Ia berdiri tepat di depan Jonathan, menatap teman sekelasnya itu dengan tatapan menantang.
"Cukup, Jo," ucap Angga tegas. Suaranya bergema di koridor, membuat siswa-siswi yang lewat berhenti untuk menonton. "Lo nggak punya hak lagi buat minta apa pun dari Jenny. Lo udah buang kesempatan lo tiga tahun ini cuma buat kesenangan sesaat sama Claudia."
Jonathan menatap Angga dengan amarah yang tertahan. "Ini urusan gue sama pacar gue, Ngga. Lo cuma orang luar."
"Mantan pacar, Jo. Inget itu," ralat Angga telak. Ia kemudian berbalik ke arah Jenny, mengambil tangan gadis itu dan menggenggamnya erat di depan mata Jonathan dan semua orang yang menonton.
"Denger ya, semuanya. Terutama lo, Jonathan," Angga meninggikan suaranya. "Gue nggak peduli sama drama foto atau apa pun itu. Yang gue tahu, Jenny pantes dapet cowok yang bisa hargain dia, bukan robot kaku yang selingkuh di belakangnya."
Angga menatap mata Jenny dengan lembut, sebuah tatapan yang sangat jujur. "Jen, gue tahu ini mungkin bukan waktu yang paling romantis. Tapi gue mau semua orang tahu kalau gue serius sama lo. Gue nggak bakal jadi pengecut kayak Jonathan yang main di belakang. Gue mau lo jadi pacar gue, secara resmi."
Jonathan tertegun. Wajahnya memerah, bukan karena marah, tapi karena malu yang luar biasa. Ia melihat tangan Angga yang menggenggam erat tangan Jenny—tangan yang dulu selalu ia pegang dengan penuh kebanggaan sebagai 'pasangan sempurna'.
"Kamu... kamu beneran mau sama dia, Jen? Sama temen sekelas aku sendiri?" tanya Jonathan dengan suara yang hampir habis.
Jenny menatap genggaman tangan Angga, lalu menatap Jonathan. "Seenggaknya Angga nggak pernah bohong soal perasaannya ke gue, Jo. Dia berani ngakuin apa yang dia mau di depan umum, nggak kayak lo yang cuma berani mesra-mesraan di parkiran apartemen gelap."
Jenny tersenyum tipis ke arah Angga. "Kasih gue waktu buat narik napas dari semua sampah ini, Ngga. Tapi buat sekarang... gue lebih milih jalan bareng lo daripada liat muka dia sedetik lagi."
Angga tersenyum lebar, senyum kemenangan yang murni. Ia merangkul bahu Jenny dan mengajaknya berjalan melewati Jonathan. Jonathan hanya bisa berdiri terpaku, merasa harga dirinya hancur berkeping-keping hingga tak bersisa. Ia telah kehilangan tahtanya sebagai Ketua OSIS, kehilangan sahabatnya, dan sekarang... ia kehilangan satu-satunya orang yang pernah benar-benar mencintainya.
Di ujung koridor, Romeo bersandar di tembok sambil memainkan kunci motornya. Ia menyaksikan seluruh drama deklarasi Angga itu dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ada sedikit gurat ketidaksukaan di matanya, namun ia tetap diam.
"Lo liat kan, Rom? Jenny udah dapet penggantinya," ucap Lisa yang tiba-tiba muncul di samping Romeo, mencoba mencari celah untuk kembali mengambil hati cowok itu.
Romeo tidak merespons. Ia hanya memperhatikan punggung Jenny yang menjauh bersama Angga.
"Dia belum dapet penggantinya," gumam Romeo pelan, hampir seperti bisikan pada dirinya sendiri. "Dia cuma lagi nyoba buat nggak ngerasa sakit lagi."
Romeo memutar kunci motornya, lalu berjalan pergi meninggalkan Lisa tanpa menoleh sedikit pun. Permainan di SMA Garuda semakin rumit, dan meskipun Angga sudah membuat langkah besar, Romeo tahu bahwa badai yang sebenarnya baru saja akan dimulai.