Jian Yi secara tak terduga memperoleh sebuah pedang aneh yang mampu berbicara. Dari pedang itulah ia mempelajari teknik pedang kuno dan jalan kultivasi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Saat kekuatannya dianggap cukup, pedang tersebut memerintahkannya untuk mengembara—mencari cara agar sang roh pedang dapat memperoleh wujud fisik.
Maka dimulailah perjalanan Jian Yi sebagai seorang pengembara, melangkah di antara bahaya, rahasia, dan takdir yang perlahan terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Kesalahpahaman
Sinar matahari pagi yang cerah menembus jendela paviliun, menyinari butiran debu yang menari di udara.
Di atas ranjang, Jian Yi masih terlelap dengan nyenyak. Namun, dalam tidurnya, tangannya yang terbiasa menggenggam gagang pedang secara tidak sadar mencari kenyamanan.
Karena raga Ling’er yang mungil sangat empuk, tangan Jian Yi entah bagaimana menyelinap masuk ke balik jubah tidur perak yang longgar itu, berlabuh tepat di atas salah satu "aset" Ling’er yang lumayan berisi.
Ling’er sendiri masih mendengkur halus, wajahnya menempel di dada Jian Yi, sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya sedang dijadikan "guling" sekaligus sasaran pegangan tanpa sengaja.
BRAAAKKK!
Pintu kamar ditendang terbuka dengan kasar. Lu Feng masuk dengan wajah ceria dan sebuah botol arak di tangan. "Oi, Yi! Bakpao perak! Matahari sudah di atas kepala, ayo kita—"
Kalimat Lu Feng terhenti seketika. Botol arak di tangannya hampir saja merosot jatuh.
Matanya membelalak lebar melihat posisi tangan Jian Yi yang terkubur di dalam pakaian Ling’er.
"DEMI ARAK TERENAK!" teriak Lu Feng yang suaranya menggelegar ke seluruh paviliun. "Jian Yi! Kau... kau benar-benar binatang buas! Dia baru punya raga fisik semalam dan kau sudah... kau sudah menjadikannya pedang sarung?!"
Jian Yi tersentak bangun, matanya berkedip bingung. "Hah? Apa? Lu Feng, kenapa kau berteriak—"
Jian Yi merasakan sesuatu yang sangat lembut dan hangat di telapak tangannya.
Ia meremasnya sekali secara refleks karena mengira itu adalah bantal kapas.
"KYAAAAAAA!"
Ling’er terbangun dengan lengkingan yang bisa memecahkan kaca.
Ia melihat tangan Jian Yi di dalam pakaiannya, lalu melihat wajah Lu Feng yang kaget, dan terakhir melihat wajah Jian Yi yang masih tampak bodoh karena baru bangun tidur.
PLAK!
Satu tamparan mendarat telak di pipi Jian Yi. Ling’er melompat mundur ke pojok ranjang, menarik jubahnya rapat-rapat dengan wajah merah padam sampai ke leher. "MESUM! PENDEKAR CABUL! KAU... KAU MEMANFAATKAN KESEMPATAN SAAT AKU TIDUR!"
"Tunggu, ini tidak seperti yang kalian lihat!" seru Jian Yi sambil memegang pipinya yang panas. "Tanganku bergerak sendiri! Itu insting pendekar!"
"Insting pendekar kepalamu botak!" sahut Lu Feng sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat. "Aku tahu kau kesepian di gua selama setahun, Yi. Tapi dia itu pedangmu sendiri! Kau... kau benar-benar tidak punya hati nurani terhadap senjata!"
"SUDAH KUBILANG BUKAN BEGITU!" Jian Yi berteriak frustrasi, sementara Ling’er mulai menangis palsu (yang sebenarnya sangat imut) sambil melempar semua bantal ke arah Jian Yi.
Setelah keributan yang memalukan itu mereda, mereka bertiga berkumpul di ruang tengah dengan suasana yang sangat canggung.
Pipi Jian Yi masih berbekas merah, sementara Ling’er duduk sejauh mungkin darinya sambil terus memelototinya dengan mata besar yang berair.
Tiba-tiba, Tetua Han masuk dengan tergesa-gesa.
Wajahnya yang biasanya tenang kini tampak sangat pucat dan penuh kecemasan.
"Tuan Muda Jian Yi! Tuan Lu Feng! Maaf mengganggu, tapi ada kabar buruk dari perbatasan utara," ujar Tetua Han tanpa basa-basi.
Jian Yi langsung berubah serius, aura konyolnya menghilang. "Apa yang terjadi, Tetua?"
"Seekor Naga Hitam Bencana telah bangkit dari tidur panjangnya di Gunung Merapi Tua. Naga itu tidak hanya menyerang desa-desa kecil, tapi baru saja menghancurkan salah satu kota dagang terbesar di bawah perlindungan kami," jelas Tetua Han dengan suara gemetar. "Ribuan nyawa terancam. Yang lebih mengkhawatirkan... naga itu kabarnya membawa Kristal Api Langit di jantungnya sebagai sumber kekuatannya."
Mendengar nama kristal itu, mata Ling’er yang tadinya penuh amarah langsung membelalak. "Kristal Api Langit? Jian Yi, itu adalah bahan kedua yang aku butuhkan agar raga fisikku bisa lebih stabil dan... erm... mungkin lebih tinggi sedikit!" bisiknya lewat batin, kali ini nadanya sangat serius.
Lu Feng mengelus dagunya, sisa-sisa mabuknya hilang. "Naga, ya? Sudah lama aku tidak melihat kadal terbang berukuran raksasa. Tapi kalau dia membawa kristal itu, perjalanannya tidak akan mudah, Yi. Naga itu berada di ranah Grand Master Puncak atau bahkan lebih."
Jian Yi berdiri, meraih sarung pedang Ling'er yang kini kosong karena Ling'er berdiri di sampingnya. "Tetua Han, kami akan pergi ke sana. Bukan hanya karena kristal itu, tapi karena naga itu telah mengganggu ketenangan orang-orang."
Jian Yi menatap Ling'er yang masih tampak kesal namun juga penuh harap.
Ia mengulurkan tangannya, ragu sejenak, lalu kembali mencubit pipi bakpao Ling'er. "Ayo, Bakpao. Bersiaplah. Kita akan berburu naga."
"Berhenti mencubitku, Mesum!" teriak Ling'er, namun ia segera mendekat dan memegang ujung jubah Jian Yi. "Tapi... kalau kita mendapatkan kristal itu, kau harus berjanji tidak akan menjadikanku bantal peluk lagi!"
"Kita lihat saja nanti." goda Jian Yi sambil melesat keluar, diikuti oleh tawa keras Lu Feng dan gerutuan manis dari sang pusaka kecil.