Di usianya yang ke-33, Raditya Mahardika harus menerima perjodohan konyol dengan Bianca Adyatama, gadis 20 tahun yang masih kuliah dan merupakan putri rekan bisnis keluarganya. Ragu dan curiga, Raditya punya rencana gila: menyamar menjadi supir di rumah keluarga Adyatama.
Sebagai 'Rio', supir barunya, Radit menyaksikan realitas yang mengejutkan. Bianca bukan hanya manja, tapi juga arogan dan suka merendahkan orang.
Namun, di tengah kekecewaannya, mata Radit justru tertuju pada sosok lain: Kirana Adyatama. Kakak Bianca yang berusia 27 tahun. Di mata keluarganya, Kirana hanyalah barista kafe, bahkan sering diperlakukan seperti pelayan. Tapi, di balik seragam kafe dan senyum hangatnya, Kirana menyimpan rahasia besar.
Mana yang akan dipilih Radit? Calon istri yang dijodohkan, atau kakak yang menyimpan mutiara tersembunyi? Bagaimana jika rahasia penyamarannya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Matahari siang Kota Surabaya sedang berada tepat di atas kepala, memancarkan panas yang menyengat aspal jalanan. Namun, begitu Mercedes-Benz Fintail tua itu memasuki area parkir Kafe Teras Senja, suasana seketika berubah. Pohon-pohon trembesi yang rindang memayungi bangunan bergaya industrial-rustik tersebut, memberikan kesejukan alami di tengah hiruk-pikuk kota.
Raditya memarkirkan mobil antik itu dengan perlahan. Ia memperhatikan Kirana yang tampak menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan energi untuk peran selanjutnya. Begitu turun, Kirana langsung disambut oleh seorang pria paruh baya yang membawa beberapa sampel biji kopi dalam kemasan karung kecil.
"Mbak Kirana, syukurlah sudah sampai. Supplier dari Dampit sudah menunggu sejak tadi," ujar seorang karyawan muda yang berjaga di depan pintu. Karyawan itu membungkuk hormat dan menyalami Kirana dengan sangat sopan, sebuah gestur yang lebih dari sekadar sapaan kepada rekan kerja.
Kirana tersenyum cerah. "Maaf ya, tadi ada urusan sebentar. Tolong bawa sampelnya ke meja bar, saya akan segera ke sana."
Kirana menoleh ke arah Raditya. "Mas Rio, tunggu di sini sebentar ya. Saya harus bicara dengan supplier. Kalau Mas Rio haus, pesan saja apa pun, bilang saja atas nama saya."
Raditya hanya mengangguk patuh. "Baik, Mbak Kirana."
Ia memilih duduk di salah satu kursi kayu di teras kafe, posisi yang strategis untuk mengamati apa yang terjadi di dalam melalui kaca besar. Raditya melihat Kirana dengan sigap mengenakan apron cokelat tua kesayangannya. Dalam sekejap, aura "wanita lembut di panti" tadi berubah menjadi "barista profesional yang tegas". Kirana tampak sangat menguasai materi, memeriksa aroma biji kopi, dan berdiskusi serius dengan sang supplier.
Rasa penasaran Raditya memuncak. Ia memanggil salah satu karyawan laki-laki yang baru saja hendak masuk membawa nampan kosong.
"Mas, permisi," panggil Raditya.
Karyawan itu menoleh. "Iya, ada yang bisa dibantu?"
"Saya Rio, supir baru keluarga Adytama. Saya lihat tadi semua orang di sini sangat hormat pada Mbak Kirana. Apa dia barista paling senior di sini?" tanya Raditya, mencoba memancing informasi.
Karyawan itu tertawa kecil, lalu menatap Raditya dengan tatapan seolah Raditya baru saja menanyakan hal yang sangat jelas.
"Mas Rio belum tahu? Mbak Kirana itu bukan cuma barista kami, Mas. Dia itu pemilik Kafe Teras Senja ini. Dia yang membangun tempat ini dari nol."
Raditya tertegun. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang karena rasa terkejut yang menghantamnya.
"Pemilik? Bukan cuma karyawan?"
"Betul, Mas. Tapi Mbak Kirana memang tidak suka menonjolkan diri. Beliau lebih senang terjun langsung jadi barista kalau lagi senggang. Katanya, kopi itu jiwanya. Kami semua di sini sudah dianggap keluarga sendiri oleh beliau," jelas karyawan itu sebelum kemudian berpamitan masuk ke dalam.
Raditya terdiam, menyandarkan punggungnya ke kursi kayu. Pikirannya berputar cepat. Selama ini, di rumah Adytama, ia sering mendengar Mama Reva dan Bianca meremehkan Kirana. Mereka menyebut Kirana "hanya barista", "pelayan kopi", atau "pekerja kasar berbau kafein". Ternyata, Kirana menyembunyikan identitasnya sebagai pemilik bisnis yang cukup sukses ini dengan sangat rapi dari keluarganya sendiri.
Namun, sebagai seorang CEO Mahardika Group, insting bisnis Raditya bekerja. Ia melihat sekeliling kafe. Kafe ini memang ramai dan memiliki branding yang kuat, tapi tetap saja, keuntungan dari satu kafe kecil tidak akan mungkin cukup untuk membiayai belanjaan grosir berkarung-karung dan donasi rutin ke dua panti sosial setiap bulannya. Nilai donasi yang ia lihat tadi pagi sangat besar.
Ada yang tidak beres, batin Raditya. Barista kafe? Pemilik kafe? Tidak, Kirana pasti punya sumber dana lain yang jauh lebih besar. Dia terlalu cerdas untuk hanya mengelola satu kafe.
Keasyikan Raditya dalam menganalisa rahasia Kirana tiba-tiba buyar saat ponsel di saku celana kargonya bergetar hebat. Nama di layar membuat dahinya berkerut: Bianca.
Begitu ia menggeser tombol hijau, suara melengking Bianca langsung menembus telinganya tanpa permisi.
"Rio! Kamu di mana sih?! Kenapa lama banget tidak ada kabar?!" teriak Bianca dari seberang telepon. Suaranya terdengar sangat marah dan tidak sabaran.
Raditya menjauhkan sedikit ponselnya. "Saya sedang mengantar Mbak Kirana di kafenya, Non Bianca. Bukannya tadi Non bilang mau pulang bersama teman-teman?"
"Tadi ya tadi! Sekarang teman-temanku pada menyebalkan, mereka mau lanjut ke klub dan aku sedang tidak mood! Aku mau pulang sekarang! Kamu segera ke Galaxy Mall, jemput aku di Lobby Utara. Sekarang juga!" perintah Bianca dengan nada tinggi.
"Tapi saya masih bersama Mbak Kirana, Non..."
"Aku tidak peduli! Aku ini majikanmu, Rio! Mbak Kirana bisa pulang sendiri naik taksi atau apa pun. Cepat ke sini sebelum aku mengadu ke Ayah kalau supir baru ini malas-malasan!"
Brak! Telepon diputus secara sepihak.
Raditya menghela napas panjang, menahan emosi yang hampir meledak. Ia bangkit dan melangkah masuk ke dalam kafe untuk berpamitan. Kirana, yang rupanya baru saja selesai dengan suppliernya, melihat raut wajah Raditya yang keruh.
"Ada apa, Mas Rio? Sepertinya ada masalah?" tanya Kirana lembut, sambil melepas sarung tangan kerjanya.
"Maaf, Mbak Kirana. Non Bianca baru saja menelepon. Dia meminta saya menjemputnya di mall sekarang juga. Sepertinya rencananya dengan teman-temannya berubah," ujar Raditya dengan nada menyesal.
Kirana tersenyum maklum, seolah sudah biasa dengan kelakuan adiknya. "Oh, Bianca. Ya sudah, Mas Rio pergi saja. Saya bisa di sini sampai sore, nanti saya pulang pakai taksi online saja."
Namun, saat Raditya hendak berbalik, Kirana memanggilnya kembali.
"Mas Rio, tunggu sebentar." Kirana mendekat, suaranya sedikit merendah. "Mas Rio balik ke rumah dulu ya. Ganti mobil pakai mobil Ayah yang tadi pagi. Mas Rio jangan jemput Bianca pakai Mercedes tua ini."
Raditya menaikkan alisnya. "Kenapa, Mbak? Mobil ini kan masih bagus."
Kirana terkekeh pelan, ada nada getir dalam tawanya. "Bianca tidak akan mau menginjakkan kakinya di mobil tua ini, Mas Rio. Dia akan menganggapnya memalukan jika teman-temannya melihat. Daripada nanti Mas Rio kena omel habis-habisan di mall, lebih baik Mas ganti mobil dulu. Memang butuh waktu lebih lama, tapi itu lebih aman untuk telinga Mas Rio."
Raditya terkesima. Kirana bahkan masih memikirkan nasib "supirnya" agar tidak dimarahi oleh adiknya sendiri.
"Baik, Mbak Kirana. Terima kasih sarannya. Saya pamit dulu," ujar Raditya.
Saat berjalan menuju mobil antik itu, Raditya merasa dadanya sesak oleh perbandingan yang sangat kontras.
Di satu sisi ada Bianca, gadis muda yang manja, arogan, dan memuja kemewahan fisik. Di sisi lain ada Kirana, wanita yang menyimpan ribuan rahasia di balik kesederhanaannya, memiliki bisnis sendiri, berhati mulia, dan sangat pengertian.
Bianca adalah neraka, dan Kirana adalah teka-teki yang paling ingin kupecahkan, pikir Raditya sambil menyalakan mesin mobil.
Raditya memacu Mercedes tua itu kembali ke kediaman Adytama untuk menukar kendaraan. Ia tahu Bianca akan mengamuk karena ia datang terlambat, tapi baginya, itu tidak masalah. Pikirannya saat ini sudah sepenuhnya tertuju pada satu nama: Kirana Adytama.
***