NovelToon NovelToon
Ketika Sahabatku, Merebut Suamiku

Ketika Sahabatku, Merebut Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Nikah Kontrak
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Dalam dunia bisnis yang kejam, Alara Davina—seorang desainer berbakat—terjebak dalam pernikahan kontrak dengan Nathan Erlangga, CEO dingin yang menyimpan luka masa lalu. Yang Alara tidak tahu, wanita yang selama ini ia anggap sahabat—Kiara Anjani—adalah cinta pertama Nathan yang kembali untuk merebut segalanya.

Ketika pengkhianatan datang dari orang terdekat, air mata menjadi teman, dan hati yang rapuh harus memilih. Bertahan dalam cinta yang menyakitkan, atau pergi dengan luka yang tak pernah sembuh.

*Cinta sejati bukan tentang siapa yang datang pertama, tapi siapa yang bertahan hingga akhir.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan Masa Lalu

Seminggu sudah.

Seminggu Naura jadi Nyonya Erlangga.

Seminggu dia tinggal di mansion megah ini sendirian.

Akad nikah minggu lalu berlangsung cepat. Terlalu cepat. Di sebuah ballroom hotel mewah dengan dekorasi putih yang indah tapi terasa hampa. Tamu undangan hanya keluarga inti. Ayah Nathan, beberapa paman bibi yang Naura bahkan tidak sempat dikenalkan dengan baik. Mereka semua tersenyum. Tapi senyum itu terasa palsu. Seperti mereka tahu ini pernikahan bohongan.

Nathan mengucap ijab kabul dengan suara datar. Tanpa perasaan. Seperti sedang membaca laporan keuangan di rapat kantor.

Naura menangis saat akad. Semua orang pikir itu air mata bahagia. Tidak ada yang tahu itu air mata kepasrahan. Air mata seseorang yang baru saja menjual masa depannya.

Setelah akad, Nathan langsung pergi. Bahkan tidak sempat makan di resepsi. Alasannya ada rapat penting. Naura duduk sendirian di meja pengantin, tersenyum palsu pada tamu tamu yang datang memberi selamat.

Lima ratus juta masuk ke rekening keesokan harinya.

Ibu langsung dioperasi hari itu juga.

Operasi berjalan lancar. Ibu selamat. Dokter bilang ibu butuh istirahat total beberapa bulan tapi prognosisnya bagus.

Naura menangis lega di toilet rumah sakit. Menangis sampai kakinya lemas. Setidaknya ada satu hal yang beres dari semua kekacauan ini. Ibu selamat. Itu yang terpenting.

Tapi setelah itu?

Naura pulang ke mansion sendirian.

Nathan tidak pernah ada.

Pagi pergi sebelum Naura bangun. Malam pulang larut saat Naura sudah tidur. Atau lebih tepatnya, pura pura tidur. Karena Naura selalu terbangun mendengar suara mobil Nathan masuk garasi. Selalu mendengar langkah kakinya melewati koridor. Selalu menunggu apakah Nathan akan mengetuk pintu kamarnya.

Tidak pernah.

Bahkan sekali pun tidak pernah.

Mereka tinggal satu atap tapi seperti hidup di dimensi berbeda.

Pagi ini Naura bangun jam tujuh. Sudah kebiasaan bangun pagi meski sekarang dia tidak kerja lagi. Nathan bilang istri CEO Erlangga tidak boleh kerja. Harus fokus jadi ibu rumah tangga. Meski rumah tangga macam apa ini? Rumah tangga tanpa suami? Tanpa percakapan? Tanpa apa apa?

Naura turun ke ruang makan. Bi Ijah sudah menyiapkan sarapan. Nasi goreng spesial dengan telur mata sapi dan kerupuk. Jus jeruk segar. Buah buahan potong.

Tapi Naura makan sendirian.

Selalu sendirian.

"Tuan Muda sudah berangkat dari jam enam pagi Nyonya" Bi Ijah bilang sambil menuang jus. "Beliau titip pesan, hari Sabtu ini ada acara keluarga besar Erlangga. Nyonya harus hadir"

Acara keluarga.

Berarti Naura harus berpura pura jadi istri bahagia lagi.

Berarti harus senyum senyum palsu lagi.

Naura cuma mengangguk. Suaranya hilang entah kemana sejak pagi.

Setelah sarapan, Naura duduk di taman belakang. Angin sepoi sepoi. Matahari hangat. Pemandangan indah. Tapi Naura merasa hampa.

Ponselnya berdering.

Nomor tidak tersimpan.

"Halo?"

"NAURA! INI AKU!"

Suara itu.

Naura langsung berdiri. Jantungnya berdegup kencang.

"Mahira?!"

Tawa renyah terdengar dari seberang. "Iya ini aku! Kamu masih inget suaraku ternyata! Aku baru pulang ke Jakarta kemarin! Kita harus ketemu!"

Mahira.

Mahira Anggraeni.

Sahabat Naura sejak SMA. Sahabat yang selalu ada saat Naura susah. Yang pinjamkan uang buat bayar uang sekolah saat ibu sakit pertama kali. Yang jagain Naura saat patah hati pertama kali. Yang lebih dari saudara.

Tiga tahun lalu Mahira pindah ke luar negeri buat kuliah S2. Mereka sempat kontak rutin tapi lama lama mulai jarang. Beda waktu. Beda kesibukan. Sampai akhirnya komunikasi mereka cuma sebatas ucapan selamat ulang tahun.

Dan sekarang Mahira pulang.

"Ketemu yuk! Aku kangen banget sama kamu! Kafe langganan kita masih ada kan? Yang di daerah Kemang itu? Jam dua belas siang aku tunggu di sana ya!"

Naura belum sempat jawab, telepon sudah ditutup.

Mahira memang selalu begitu. Enerjik. Spontan. Tidak bisa diam.

Naura tersenyum tipis.

Setidaknya ada satu hal yang membuatnya senang hari ini.

Jam sebelas Naura sudah siap. Dia pakai dress simple warna krem. Rambut digerai. Makeup tipis untuk tutupin mata bengkak hasil nangis semalam.

Sopir keluarga Erlangga mengantarnya. Nathan sudah pesan sopir pribadi untuk Naura. Tapi Naura merasa canggung terus terusan pakai sopir. Seperti anak orang kaya yang manja. Padahal dulu naik angkot aja udah syukur.

Kafe langganan mereka masih sama. Masih di pojok jalan dengan dekorasi vintage yang cozy. Bau kopi tercium sampai luar.

Naura masuk dan langsung melihatnya.

Mahira duduk di meja pojok. Rambutnya lebih panjang dari terakhir Naura lihat. Kulitnya lebih putih. Pakaiannya branded. Tas di sampingnya Louis Vuitton yang asli, bukan KW. Mahira memang dari keluarga berada. Tapi sekarang auranya beda. Lebih dewasa. Lebih elegan.

Mata mereka bertemu.

Mahira langsung berdiri.

"NAURA!"

Mereka berlari dan berpelukan di tengah kafe. Beberapa orang menoleh tapi Naura tidak peduli.

Hangatnya pelukan Mahira.

Familiar.

Seperti pulang.

"Kamu kurus! Kamu kurusan dari terakhir kita ketemu!" Mahira memegang bahu Naura sambil melihat dari atas bawah. "Kamu sakit? Kamu kenapa?"

Naura menggeleng. Air matanya keluar sendiri. Bodoh. Kenapa nangis sih? Ini kan momen bahagia.

"Aku... aku kangen kamu... kangen banget..."

Mahira memeluknya lagi. Lebih erat. "Aku juga kangen kamu sayang... maafin aku ya jarang kontak... di sana aku sibuk banget... tapi aku selalu inget kamu kok... selalu..."

Mereka duduk setelah puas berpelukan. Naura mengusap air mata. Mahira juga matanya berkaca kaca.

"Cerita dong! Gimana kabar kamu? Gimana ibu? Gimana kerjaan?" Mahira langsung bertubi tubi tanya.

Naura tersenyum. "Ibu lagi recover abis operasi jantung. Sekarang kondisinya udah jauh lebih baik. Aku... aku udah nggak kerja di agensi itu lagi"

"Kenapa? Emang kenapa?"

Naura menggigit bibir. Harus bilang atau enggak ya? Tapi ini Mahira. Sahabatnya. Orang yang paling Naura percaya setelah ibu.

"Aku... aku nikah"

Hening.

Mahira membatu. Mulutnya terbuka sedikit. Matanya melebar.

"Nikah? Kamu nikah? Sama siapa? Kapan? Kok aku nggak dikasih tau?!"

"Minggu lalu... akadnya cepet banget... aku... aku juga nggak nyangka bakal secepat ini..."

Mahira meraih tangan Naura. Genggamannya erat. "Siapa orangnya? Aku kenal? Orang kantor kamu?"

Naura menggeleng pelan. Jantungnya berdegup cepat. Entah kenapa ada perasaan aneh saat akan menyebut nama Nathan.

"Nathan... Nathan Erlangga..."

Mahira melepas genggamannya.

Wajahnya memucat.

Seketika.

Seperti semua darah di wajahnya mengalir turun.

Bibirnya bergetar. Matanya... ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang Naura tidak bisa baca. Terkejut? Marah? Sedih?

"Mahira? Kamu kenapa? Kamu kenal Nathan?"

Detik berlalu sangat lambat.

Mahira berkedip beberapa kali. Lalu dia tersenyum. Tapi senyumnya... janggal. Seperti dipaksakan.

"Nathan Erlangga? CEO Erlangga Group itu?"

Naura mengangguk.

Mahira tertawa. Tapi tawanya terdengar hambar. "Wow... kamu... kamu nikah sama... sama salah satu orang terkaya di Indonesia... aku... aku nggak nyangka..."

"Mahira kamu kenal dia?" Naura bertanya lagi. Perasaan aneh itu makin kuat.

Mahira menggeleng cepat. Terlalu cepat. "Nggak... nggak kenal... cuma pernah denger namanya aja... soalnya dia kan terkenal... sering di berita..."

Bohong.

Naura bisa merasakan Mahira bohong.

Tapi kenapa?

"Cerita dong... gimana kalian bisa ketemu? Gimana bisa sampe nikah?" Mahira kembali bertanya tapi suaranya terdengar sedikit gemetar.

Naura menceritakan versi editan. Bilang mereka dipertemukan keluarga. Bilang Nathan orang baik. Bilang mereka jatuh cinta. Semua bohong. Semua cerita yang Nathan suruh Naura hapal untuk dijawab kalau ada yang tanya.

Mahira mendengarkan sambil sesekali mengangguk. Tapi tatapannya kosong. Seperti pikirannya melayang jauh.

"Kamu... kamu bahagia?" Mahira tiba tiba bertanya. Suaranya pelan. Nyaris berbisik.

Naura terdiam.

Bahagia?

Bagaimana mungkin bahagia kalau suami sendiri tidak pernah pulang? Kalau tidur sendiri setiap malam? Kalau makan sendiri setiap hari? Kalau hidup seperti hantu di rumah sendiri?

Tapi Naura tersenyum. "Iya... aku bahagia..."

Bohong lagi.

Mahira menatapnya lama. Ada sesuatu di mata Mahira. Sesuatu yang gelap. Tapi kemudian dia tersenyum dan meraih tangan Naura lagi.

"Aku senang kamu bahagia Naura... kamu pantas bahagia... setelah semua yang kamu lalui... kamu pantas dapet yang terbaik..."

Air mata Naura jatuh lagi. Entah kenapa kata kata Mahira terasa menyakitkan. Seperti ada duri di setiap kalimat.

"Makasih Mahira... makasih udah selalu ada buat aku..."

Mereka mengobrol lebih lama. Mahira cerita tentang kuliahnya di luar negeri. Tentang betapa kerasnya hidup di sana. Tentang betapa rindunya dia sama Jakarta. Sama Indonesia. Sama Naura.

Tapi sepanjang obrolan, Naura merasa ada yang berubah.

Ada jarak yang tidak terlihat tapi terasa.

Ada dinding yang tiba tiba muncul di antara mereka.

Atau mungkin cuma perasaan Naura saja?

Jam tiga sore mereka berpisah di depan kafe.

Mahira memeluk Naura lama. Sangat lama.

"Aku senang kamu bahagia Naura..." bisiknya pelan di telinga Naura. "Kamu pantas bahagia... kamu pantas..."

Kenapa terdengar seperti Mahira sedang meyakinkan diri sendiri?

Naura naik mobil dan melambaikan tangan. Mahira membalas lambaian dengan senyum lebar.

Tapi begitu mobil Naura hilang di tikungan, senyum Mahira memudar.

Perlahan.

Seperti kabut yang menghilang ditelan matahari.

Wajahnya berubah.

Dingin.

Sangat dingin.

Tangannya mengepal erat di samping tubuh. Kuku yang panjang dan terawat menancap ke telapak tangan sampai meninggalkan bekas bulan sabit kemerahan.

"Nathan..."

Nama itu keluar dari bibirnya seperti racun yang manis.

"Akhirnya... akhirnya aku menemukanmu..."

Mahira berjalan ke mobilnya yang terparkir di seberang jalan. Langkahnya pelan tapi penuh tekad.

Di dalam mobil, dia menatap pantulan wajahnya di kaca spion.

Cantik.

Sangat cantik.

Tapi ada sesuatu di balik kecantikan itu.

Sesuatu yang gelap.

Sesuatu yang berbahaya.

Mahira membuka ponselnya. Scroll ke galeri. Menatap sebuah foto lama.

Foto dia dan Nathan.

Lima tahun lalu.

Mereka berdua tersenyum di foto itu. Mahira memeluk lengan Nathan. Nathan... Nathan tersenyum. Senyum yang tidak pernah Naura lihat. Senyum hangat penuh cinta.

"Kamu bilang akan menungguku Nathan... kamu bilang akan menunggu sampai aku siap... tapi kenapa? Kenapa kamu nikah sama dia?"

Jari Mahira menelusuri wajah Nathan di foto.

"Dia bukan siapa siapa... dia cuma gadis biasa... gadis miskin yang butuh uang... kenapa kamu pilih dia?"

Air mata mengalir di pipi Mahira.

Tapi bukan air mata sedih.

Air mata marah.

Air mata cemburu yang membakar.

"Tapi tidak apa... tidak apa Nathan... aku sudah pulang... aku sudah kembali untukmu... dan kali ini... aku tidak akan pergi lagi..."

Mahira menghapus air matanya kasar.

"Gadis itu... Naura... sahabatku... dia tidak akan jadi penghalang... dia tidak tahu apa apa... dia polos... dia mudah dimanipulasi..."

Senyum tipis muncul di bibir Mahira.

Senyum yang mengerikan.

"Maafkan aku Naura... tapi cinta tidak mengenal sahabat... cinta tidak mengenal aturan... dan Nathan... Nathan adalah milikku... sudah dari dulu... selamanya..."

Mahira menyalakan mesin mobil.

Di tangannya yang mengemudi, bekas cakaran kuku masih terlihat.

Berdarah sedikit.

Tapi dia tidak peduli.

Yang dia peduli hanya satu.

Nathan.

Mendapatkan Nathan kembali.

Apapun caranya.

Bahkan kalau harus menghancurkan sahabatnya sendiri.

Mobil melaju meninggalkan kafe.

Meninggalkan tempat dimana dua sahabat baru saja bertemu setelah tiga tahun.

Meninggalkan tempat dimana persahabatan baru saja retak tanpa salah satunya sadari.

Dan di langit, awan mulai menggelap.

Pertanda badai akan datang.

Badai yang akan menghancurkan segalanya.

Badai bernama Mahira Anggraeni.

Wanita yang dulu Nathan cintai.

Wanita yang kembali untuk merebut apa yang dia anggap miliknya.

Wanita yang tidak peduli harus menghancurkan siapa.

Bahkan sahabatnya sendiri.

Bahkan Naura yang tidak tahu apa apa.

Naura yang polos.

Naura yang sudah menderita.

Naura yang hanya ingin ibu selamat.

Naura yang akan jadi korban permainan kejam takdir.

Permainan yang baru saja dimulai.

1
Masitoh Masitoh
semoga Naura baik2 saja..pergi mulakan hidup baru..buat nathan menyesal
Leoruna: jangan bertahan dengan laki2 seperti Nathan ya kak🤭
total 1 replies
kalea rizuky
pergi jauh naura
Esma Sihombing
cerita kehidupan yg sangat menarik
Leoruna: mkasih kak🙏
total 1 replies
Fitri Yani
pergi aza Naura untuk menjaga kewarasan mu,dan bayi mu, buat Nathan menyesal
kalea rizuky
minta cerai aja dan pergi jauh biarkan penghianat bersatu nanti jg karma Tuhan yg berjalan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!