Sejak kuliah, Kanaya sudah mengagumi seorang Narendra Atmaja, namun ia sadar akan statusnya dan mencoba membuang jauh-jauh perasaannya. Hingga suatu hari sahabatnya mendaftarkan Kanaya ke sebuah aplikasi kencan dan ia harus bertemu dengan pria yang menjadi teman kencannya, akhirnya Kanaya menemui pria tersebut dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui jika pria yang menjadi teman kencannya adalah pria yang ia kagumi sejak kuliah.
Bagaimana kelanjutannya? Apa yang akan terjadi pada Kanaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hasilnya Luar Biasa!
Narendra memarkirkan mobilnya di dekat area festival taman kota dan begitu pintu mobil terbuka, riuh suara musik, tawa anak-anak dan aroma harum dari berbagai stan makanan langsung menyambut mereka. Festival itu sangat ramai, membuat Kanaya yang terbiasa hidup dalam gua kesunyiannya merasa sedikit kewalahan.
Narendra menyadari kegugupan Kanaya dan tanpa banyak bicara, ia menggenggam tangan Kanaya untuk menenangkan Kanaya.
"Jangan jauh-jauh, nanti kamu hilang di keramaian," ucap Narendra dengan nada bercanda, namun genggamannya sangat protektif.
Mereka menyusuri deretan stan kerajinan tangan, Narendra benar-benar menjadi sosok yang berbeda hari ini, tidak ada sikap dingin yang biasanya Narendra berikan pada orang lain, yang ada hanyalah pria yang ingin menyenangkan wanitanya.
"Kamu suka itu?" tanya Narendra saat melihat Kanaya terpaku menatap sebuah jepit rambut dari kayu cendana yang diukir sangat halus.
"Nggak kok, cuma kagum aja ukirannya bagus soalnya " jawab Kanaya yang hanya mengaguminya dam tidak ada niat untuk membeli karena ia tahu harganya pasti tidak murah untuk ukuran dompetnya.
Narendra tidak bertanya dua kali, ia langsung membelinya dan sebelum Kanaya sempat protes, Narendra sudah menyematkan jepit itu di rambut Kanaya.
"Cocok, jangan dilepas," ucap Narendra.
"Narendra, jangan terus-terusan membelikanku barang," ucap Kanaya tak enak hati.
"Ini hanya jepit rambut, Kanaya. Jangan dipikirkan," jawab Narendra santai.
Narendra kemudian mengajak Kanaya duduk di bawah sebuah pohon besar yang rindang, menjauh sedikit dari pusat kebisingan festival, ia membelikan dua gelas minuman dingin dan duduk tepat di samping Kanaya.
Saat Narendra dan Kanaya tengah bersantai, tiba-tiba seorang pria muda dengan kamera yang tergantung di lehernya mendekat ke arah mereka sambil tersenyum ramah.
"Permisi, Mas, Mbak," sapa pria itu dengan sopan.
"Ya, ada apa?" ganya Narendra.
"Maaf mengganggu waktunya sebentar, saya fotografer untuk festival ini. Saya lihat kalian berdua tadi serasi sekali duduk di sini, boleh saya ambil foto kalian untuk portofolio dan kenang-kenangan buat kalian?" izin pria itu.
Kanaya langsung mengerjapkan mata dan wajahnya seketika memerah hingga ke telinga, "Ti-tidak usah, Mas. Kami bukan...," ucapan Kanaya harus terhenti karena Narendra yang bermuara.
"Boleh," jawab Narendra cepat.
Berbeda dengan Kanaya, Narendra justru tampak sangat tertarik dengan tawaran itu. Narendra melirik Kanaya yang tampak salah tingkah lalu tersenyum tipis.
"Kenapa tidak? Jarang-jarang kita punya foto berdua yang bagus," lanjut Narendra.
"Tapi, Narendra...," Kanaya mencoba memprotes, namun fotografer itu sudah bersiap di posisinya.
"Oke, Mas, Mbak. Tolong sedikit lebih dekat lagi," instruksi fotografer itu.
Narendra menggeser duduknya hingga bahu mereka bersentuhan dan tanpa ragu, Narendra membawa tangannya melingkar di pinggang Kanaya dan menarik gadis itu untuk mendekat. Kanaya menegang sejenak, namun aroma parfum Narendra yang menenangkan membuatnya perlahan rileks.
"Mbaknya jangan tegang, tatap Masnya saja kalau malu lihat kamera," saran si fotografer sambil membidik.
Kanaya refleks mendongak menatap Narendra dan pada saat yang sama, Narendra juga sedang menunduk menatapnya dengan binar mata yang begitu lembut dan penuh pemujaan.
Suara rana kamera mengabadikan momen itu, momen di mana dunia seolah hanya milik mereka berdua dan mengabaikan riuh rendah festival di belakang mereka.
"Wah, hasilnya luar biasa!" puji fotografer sambil menunjukkan layar kameranya.
Kanaya terpaku melihat foto itu, Kanaya merasa tampak begitu mungil di pelukan Narendra, sementara Narendra menatapnya dengan begitu tulus dan rasa haru tiba-tiba menyerang dadanya dan membuat matanya berkaca-kaca.
Narendra mengambil ponselnya lalu menukar kontak dengan fotografer itu agar hasil fotonya dikirim segera. Setelah fotografer itu pergi, suasana di bawah pohon itu kembali hening, namun dengan rasa yang berbeda, Narendra masih belum melepaskan rangkulannya.
"Na-narendra, ini tangannya," ucap Kanaya yang merasa gugup.
"Biarkan seperti ini," ucap Narendra.
Narendra justru semakin mengeratkan rangkulannya dan membuat Kanaya bisa merasakan kehangatan tubuh pria itu yang merambat ke lengannya, Narendra menyandarkan kepalanya sejenak di puncak kepala Kanaya dan menghirup aroma sampo mawar yang samar dari rambut gadis itu.
Setelah sesi foto yang membuat jantung Kanaya bekerja dua kali lipat lebih cepat, Narendra benar-benar memanjakan Kanaya seperti seorang ratu. Mereka berjalan dari satu stan ke stan lainnya, Narendra tidak membiarkan Kanaya hanya melihat-lihat dan setiap kali mata Kanaya berbinar melihat sesuatu, baik itu gantungan kunci rajut, syal sutra lokal hingga pajangan meja dari keramik, Narendra langsung mengeluarkan dompetnya.
"Narendra, sudah cukup! Tasnya sudah penuh," protes Kanaya saat Narendra hendak membayarkan sebuah lukisan cat air kecil pemandangan senja.
"Ini yang terakhir, setelah itu kita pulang," ucap Narendra dan akhirnya diangguki Kanaya.
Sore harinya, langit kota mulai berubah warna menjadi jingga keemasan dan menciptakan siluet yang indah di antara gedung-gedung tinggi, Narendra membukakan pintu mobil untuk Kanaya dengan gerakan yang sangat sopan, memastikan gadis itu duduk dengan nyaman sebelum ia sendiri memutar ke kursi pengemudi.
Di dalam mobil yang sejuk, Kanaya menatap tumpukan barang di pangkuannya lalu beralih menatap jepit rambut kayu yang masih tersemat di rambutnya melalui pantulan kaca spion.
"Terima kasih untuk hari ini, Narendra. Aku... aku tidak menyangka akan sebahagia ini," ucap Kanaya.
Narendra menyalakan mesin mobil, namun ia tidak segera menjalankan kendaraannya, ia menoleh ke arah Kanaya dan menatap wajah gadis itu yang kini tampak jauh lebih bersinar dibandingkan saat ia menemukannya dalam keadaan babak belur di kosan.
"Kebahagiaan itu gratis, Kanaya. Aku akan memberikan itu," ucap Narendra.
Keheningan kembali menyelimuti kabin mobil yang kedap suara itu, kata-kata Narendra yang menjanjikan kebahagiaan terasa begitu manis, namun bagi Kanaya, itu juga terasa sangat berat. Kanaya menunduk, jemarinya memainkan ujung plastik belanjaan yang diberikan Narendra.
Mobil terus melaju, namun Kanaya mulai menyadari sesuatu yang aneh. Jalanan yang mereka lalui bukan lagi gang-gang sempit menuju arah kosannya, melainkan deretan jalan lebar dengan pohon-pohon palem besar yang tertata rapi.
"Narendra, ini bukan jalan pulang ke kosanku," ucap Kanaya mulai merasa was-was.
"Kita mau ke mana?" tanya Kanaya.
"Nanti kamu juga akan tahu," jawab Narendra.
Tak lama kemudian, mobil itu berbelok memasuki sebuah gerbang besi tinggi yang dijaga ketat. Kanaya terperangah melihat bangunan megah di depannya, rumah besar bergaya klasik modern dengan pilar-pilar tinggi.
"Na-narendra, ini rumah siapa?" tanya Kanaya.
"Ayo masuk," ajak Narendra dan menggenggam erat tangan Kanaya.
Begitu mereka melangkah masuk ke ruang tamu, suasana yang tadinya penuh tawa mendadak hening. Di sana ada Papa Wira, Mama Clara, Om Rafa, Tante Dahlia dan bahkan Vania yang ternyata masih ada di sana lalu mereka serentak menoleh.
.
.
.
Bersambung.....