Bagian I: Era Sang Ratu dan Awal Dinasti Kisah bermula dari Queen Elara, seorang wanita tangguh yang membangun fondasi kekuasaan Alexandra Group. Ia menikah dengan Adrian Alistair, pria dingin dan strategis. Dari persatuan ini, lahir dua pasang anak yang menjadi pilar keluarga: si kembar Natalie dan Nathan. Natalie tumbuh sebagai gadis yang tampak lugu namun memiliki sifat "bar-bar" yang terpendam, sementara Nathan menjadi eksekutor tangguh penjaga kehormatan keluarga.
Bagian II: Penyamaran Sang Pangeran Italia Masa muda Natalie Alistair diwarnai oleh kehadiran seorang pengawal misterius bernama Julian, yang sebenarnya adalah Giuliano de Medici, pewaris takhta mafia dan perbankan Italia yang sedang menyamar. Di tengah ancaman rival seperti Jonah dan Justin Moretti, cinta mereka tumbuh dalam gairah yang terjaga.
Bagian III: Dua Pewaris dan Rahasia Kelam Natalie dan Giuliano dikaruniai dua anak: Leonardo dan Alessandra. Leonardo tumbuh menjadi putra mahkota yang sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Konfrontasi Ayah Dan Anak
Berada di balik jeruji besi ternyata tidak cukup untuk mematikan insting predator seorang Adrian Alistair. Namun, rencana Thomas untuk memperpanjang masa tahanan Adrian menjadi sepuluh tahun adalah gong peperangan yang membuat Adrian harus mengambil langkah paling ekstrem: Keluar dari sana lebih cepat, dengan cara apa pun.
Karena mosi hukum baru yang diajukan pengacara Thomas, otoritas penjara memutuskan untuk memindahkan Adrian ke fasilitas keamanan maksimum yang sama dengan ayahnya untuk "keperluan investigasi konfrontatif." Ini adalah jebakan. Thomas ingin Adrian berada di jangkauannya agar ia bisa menghabisi putranya sendiri.
Di ruang olahraga penjara yang pengap, mereka akhirnya bertemu. Thomas Alistair duduk di sudut, dikelilingi oleh narapidana bayaran yang tampak seperti monster.
"Kau pikir kau bisa menang, Adrian?" Thomas berdiri, suaranya parau namun penuh bisa. "Sepuluh tahun di sini akan menghapus namamu dari dunia. Dan saat kau keluar nanti, Queen Elara akan menjadi milik orang lain, atau mungkin... dia sudah berada di liang lahat."
Adrian melangkah maju, tidak gentar sedikit pun meski dikepung. Marcus berdiri di samping Adrian, otot-ototnya menegang.
"Kau tidak akan pernah melihat hari itu, Ayah," ucap Adrian dingin.
Tiba-tiba, Thomas memberi isyarat. Dua pria besar menyerang Adrian. Perkelahian brutal pecah di tengah lapangan beton. Adrian, yang telah berlatih bela diri sejak kecil, menghajar mereka dengan kemarahan yang meluap. Ia berhasil menerjang Thomas, mencengkeram leher ayahnya dan menekannya ke dinding kawat.
"Kau menyentuh Queen dengan terormu," bisik Adrian dengan mata yang berkilat setan. "Sekarang, aku akan mengambil segalanya darimu. Termasuk nyawamu jika kau tidak memerintahkan pengacaramu untuk menarik mosi itu."
Thomas tertawa tercekik. "Bunuh aku, Adrian! Dan kau akan membusuk di sini selamanya!"
Adrian melepaskan cengkeramannya, lalu tersenyum tipis yang sangat mengerikan. "Tidak. Membunuhmu terlalu mudah. Aku akan membiarkanmu melihat bagaimana aku meruntuhkan kerajaanmu dari luar... malam ini."
Malam itu, kerusuhan yang telah direncanakan Marcus meledak di Blok B. Asap membubung, dan alarm memekakkan telinga. Di tengah kekacauan, Adrian menggunakan seragam penjaga yang diselundupkan oleh kaki tangan Rian dari luar.
Dengan presisi milidetik, Adrian melewati lorong ventilasi dan keluar melalui gerbang pembuangan air yang telah dilonggarkan bautnya oleh Marcus. Di luar tembok, sebuah mobil hitam tanpa plat nomor sudah menunggu.
"Kau terlambat dua menit, King," ucap Rian dari kursi kemudi.
"Bawa aku ke Queen. Sekarang," perintah Adrian, napasnya masih memburu karena adrenalin.
Mobil itu melesat menuju sebuah rumah aman (safe house) di pinggiran hutan yang rimbun. Queen sudah menunggu di sana, berdiri di balkon dengan gelisah. Saat melihat sosok Adrian keluar dari mobil, ia berlari menuruni tangga.
Adrian menangkap tubuh Queen, mengangkatnya, dan membenamkan wajahnya di leher wanita itu. "Elara..."
"Kau gila! Kau benar-benar kabur!" Queen menangis, namun tangannya meraba wajah Adrian, memastikan pria itu nyata.
Mereka masuk ke dalam rumah, membanting pintu hingga tertutup. Di ruang tamu yang hanya diterangi oleh perapian yang menyala, rasa rindu yang tertahan selama berbulan-bulan meledak seketika.
Adrian menyudutkan Queen ke dinding, menciumnya dengan kasar dan penuh tuntutan. Ini bukan lagi sekadar keromantisan, ini adalah pemuasan dahaga dua jiwa yang hampir gila karena perpisahan. Adrian merobek kancing seragam penyamarannya, sementara tangan Queen merayap masuk ke balik pakaian Adrian, merasakan otot-otot suaminya yang mengeras karena kerja paksa di penjara.
"Aku merindukanmu hingga hampir mati," bisik Adrian di antara cumbuan panas di bibir Queen.
Queen mengerang, kakinya melingkar di pinggang Adrian saat pria itu membawanya menuju sofa kulit yang lebar. Mereka saling mencumbu dengan intensitas yang membara, tangan mereka bergerak liar menjelajahi setiap inci kulit yang sangat mereka rindukan. Setiap sentuhan terasa seperti api yang menghapus memori dinginnya tembok penjara. Di bawah cahaya api perapian, mereka bersatu dalam gairah yang panas dan liar, sebuah penyatuan yang bukan hanya fisik, tapi juga deklarasi bahwa tidak ada penjara yang bisa memisahkan mereka.
Keringat bercampur dengan desah napas yang memburu. Di saat-saat puncak itu, Adrian membisikkan janji di telinga Queen, "Kita tidak akan pernah berpisah lagi. Aku akan menghancurkan siapa pun yang mencoba membawaku kembali ke sana."
Setelah kelelahan mereda, Queen bersandar di dada Adrian yang bidang. "Apa rencana kita sekarang? Kau sekarang adalah buronan, Adrian."
Adrian mengelus rambut panjang Queen, matanya menatap tajam ke arah api yang mulai padam. "Aku punya data asli pencucian uang yang tidak pernah diberikan ayahku kepada jaksa. Data itu melibatkan orang-orang paling berkuasa yang selama ini melindungi ayahku. Jika aku merilisnya, Thomas Alistair akan dieksekusi oleh sekutunya sendiri sebelum polisi sempat memindahkannya."
Queen duduk tegak. "Dan pengacaranya yang mengancamku? Aku sudah menyiapkan jebakan untuknya pagi ini."
Adrian tersenyum, lalu mencium kening Queen. "Itulah istriku. Besok, kita akan muncul di depan publik, bukan sebagai buronan, tapi sebagai pembongkar skandal terbesar dalam sejarah negara ini. Mereka tidak akan berani menangkap pahlawan nasional."
Fajar mulai menyingsing. Di kejauhan, sirine polisi mungkin terdengar mencari Adrian, namun di dalam rumah aman itu, sang King dan Queen telah siap untuk serangan terakhir. Thomas Alistair mungkin memiliki tembok dan senjata, tapi ia tidak pernah memiliki cinta yang mampu meruntuhkan gunung seperti yang dimiliki Queen dan Adrian.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading😍