Dalam hujan deras yang menyesakkan, Yuki berlari menyelamatkan diri bersama bayi perempuannya, Ai Chikara, dari masa lalu yang mengancam nyawa mereka. Sebuah kecelakaan di tengah pelariannya justru mempertemukannya dengan Kai, pria asing yang tanpa ragu memberi perlindungan.
Di rumah keluarga Kai, Yuki dan bayinya menemukan kehangatan, perawatan, dan rasa aman yang belum pernah mereka rasakan. Di balik sikap dingin Kai dan kelembutan ibunya, perlahan tumbuh ikatan yang tak terduga—ikatan yang mungkin mampu menyembuhkan luka, sekaligus mengubah takdir mereka.
Namun, saat malam hujan berlalu, bayang-bayang masa lalu Yuki belum tentu ikut menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Pesan Kai Pada Ren
Kai berdiri di dekat jendela pesawat yang masih terparkir, menatap landasan dengan sorot mata yang tenang namun penuh perhitungan. Ren berdiri di belakangnya, membawa tablet berisi daftar keamanan dan logistik. Hening beberapa detik menyelimuti mereka sebelum Kai akhirnya berbicara, suaranya rendah, tegas, dan tidak memberi ruang untuk salah paham.
“Ren,” ucapnya pelan, “kalau aku tidak kembali dalam waktu seminggu… bawa Yuki, Ai, dan kedua orang tuaku ke ruang bawah tanah.”
Ren terdiam sesaat, lalu menatap Kai dengan serius. “Kau yakin, Kai?”
“Aku tidak pernah bicara tanpa alasan,” jawab Kai, menoleh. Tatapannya tajam. “Kamu pasti sudah siap-siap, kan? Pastikan semua rencana evakuasi berjalan tanpa celah.”
Ren mengangguk, cepat membuka catatan di tabletnya. “Tim sudah disiagakan. Jalur masuk dan keluar sudah diamankan. Logistik juga hampir lengkap.”
“Bagus,” lanjut Kai. “Suruh asisten yang lain bantu menyiapkan semua makanan ke bawah. Tambah semua perlengkapan yang ada. Di sana mereka harus bisa bertahan tanpa perlu keluar. Aku mau semuanya rapi, bersih, dan cukup termasuk kebutuhan bayi. Susu, makanan pendamping, popok, obat-obatan. Tidak boleh ada yang terlewat.”
Ren mencatat cepat. “Untuk pengawasan, kita tetap pakai Niko?”
“Ya,” jawab Kai tanpa ragu. “Di ruang itu hanya ada Niko yang memantau area CCTV. Dia pegang kendali penuh sistem. Semua akses, semua kamera, semua alarm di tangannya. Kalau ada apa pun yang mencurigakan, dia yang pertama tahu.”
Ren mengangguk. “Niko memang yang paling cocok. Sistem enkripsi dan firewall juga sudah dia perbarui minggu lalu.”
Kai menatap Ren sejenak, lalu berkata lebih pelan, “Niko bukan cuma operator. Dia hacker dan IT jenius. Dia yang melindungi seluruh sistem yang aku punya. Pastikan dia tahu, keselamatan Yuki dan Ai prioritas. Kalau butuh apa pun untuk bayi, suruh mereka tanya Niko. Dia yang atur suplai dan rute aman.”
Ren menarik napas, menegakkan bahu. “Aku akan sampaikan semuanya. Dan aku pastikan prosedur ini hanya diketahui orang-orang yang kau percayai.”
“Harus begitu,” balas Kai. “Tidak ada kebocoran. Tidak ada gosip. Kalau sampai rencana ini terdengar keluar, itu sama saja membuka pintu bahaya.”
Ren menatap Kai dengan sungguh-sungguh. “Kau berencana menghadapi mereka sendirian?”
Kai tersenyum tipis, bukan senyum hangat, melainkan yang lahir dari keteguhan. “Aku tidak sendirian. Aku punya tim. Tapi untuk keluarga… aku tidak mau ada risiko. Kalau aku terlambat pulang, itu berarti situasinya lebih rumit dari yang kita perkirakan. Saat itu, prioritasmu hanya satu: bawa mereka ke tempat paling aman.”
Ren mengangguk. “Dan jika kau kembali sebelum seminggu?”
“Batalkan rencana,” jawab Kai singkat. “Tapi tetap jaga kesiapan. Dunia kita tidak pernah benar-benar tenang.”
Ren menyimpan tablet, lalu menatap Kai. “Aku akan jaga mereka seperti nyawaku sendiri.”
Kai menepuk bahu Ren sekali, isyarat kepercayaan yang jarang ia tunjukkan. “Aku tahu. Karena itu aku titipkan mereka padamu.”
Beberapa menit kemudian, mereka berjalan menuju pintu pesawat. Sebelum naik, Kai berhenti sejenak, mengeluarkan ponsel, dan menatap foto Yuki dan Ai. Wajahnya melunak, namun matanya tetap menyimpan kewaspadaan. Ia mengetik pesan singkat untuk Yuki sederhana, menenangkan, tanpa membebani. Lalu ia menyimpan ponsel itu kembali.
Ren memperhatikan dari samping, tidak berkata apa-apa. Ia tahu, di balik rencana dingin dan strategi keras, ada satu alasan yang membuat Kai tidak boleh gagal: keluarga.
Pesawat mulai bersiap lepas landas. Di ruang kontrol rumah, Niko sudah menerima notifikasi. Ia memeriksa ulang jaringan, menguji kamera, memperkuat lapisan keamanan, dan menyiapkan jalur suplai darurat. Jari-jarinya bergerak cepat di keyboard, mata fokus pada layar-layar yang menampilkan setiap sudut properti. Bagi Niko, ini bukan sekadar pekerjaan ini adalah perisai.
Sementara itu, Ren mulai menggerakkan tim. Daftar logistik diperbarui, ruangan bawah tanah dipersiapkan, dan setiap detail kecil dicocokkan. Tidak ada yang boleh salah.
Di udara, Kai menatap ke depan, pikirannya jernih. Ia tahu, langkah berikutnya akan menentukan banyak hal. Namun satu hal sudah ia pastikan apa pun yang terjadi, Yuki, Ai, dan orang tuanya akan berada di tempat yang paling aman di balik pintu baja, di bawah pengawasan Niko, dan dalam perlindungan rencana yang telah ia susun dengan rapi.
---
Ren baru saja memasuki rumah Kai setelah menyelesaikan persiapan logistik dan memastikan ruang bawah tanah aman. Pintu besar ditutup, langkahnya mantap tapi hati tetap waspada. Tak lama, Ibu Kai menunggu di ruang tamu, wajahnya serius tapi lembut. Ayah Kai duduk di kursi, menatap Ren dengan tatapan penuh perhatian.
“Ibu, Ayah… semua sudah siap sesuai instruksi Tuan Kai,” ujar Ren, membungkuk hormat. “Logistik, suplai makanan, perlengkapan bayi, jalur evakuasi, semuanya diperiksa. Niko juga sudah menyiapkan sistem pengawasan penuh.”
Ibu Kai tersenyum tipis, namun matanya masih menyiratkan kekhawatiran. “Bagus, Ren. Tapi aku ingin memastikan satu hal… kau tahu, aku dan Ayah tidak ingin ada yang salah sedikit pun. Kai memang tegas, tapi keluarga ini tetap nomor satu.”
Ren mengangguk cepat. “Aku paham, Bu. Itu yang membuatku memastikan semuanya tertata rapi. Semua jalur suplai, stok makanan, dan persediaan bayi lengkap. Bahkan kebutuhan Yuki untuk setiap hari sudah dicatat dengan detail.”
Ayah Kai mencondongkan tubuh ke depan, suaranya tenang tapi penuh ketegasan. “Dan sistem keamanan bawah tanah? Tidak boleh ada celah, Ren. Niko sudah teruji, tapi kita tetap perlu pengawasan ekstra. Ini bukan sekadar prosedur biasa—ini tentang keselamatan cucu kami.”
Ren menatap ayah dengan mantap. “Tentu, Pak. CCTV sudah dipantau 24 jam, alarm disiapkan untuk setiap pintu dan ventilasi. Niko siap memantau setiap gerakan di properti dan sekitar. Setiap gangguan sekecil apa pun akan langsung dilaporkan, dan jalur evakuasi akan segera digunakan.”
Ibu Kai menarik napas panjang, matanya menatap Ren dengan lembut. “Ren, kami berterima kasih karena bisa mengandalkanmu. Kai memang keras dan sibuk di luar, tapi kami ingin kamu tahu… tugasmu sangat berarti. Keluarga ini bergantung padamu sementara Kai pergi.”
Ren menunduk hormat. “Aku tidak menganggap ini beban, Bu. Aku memahami apa yang Tuan Kai inginkan, dan aku akan pastikan Yuki dan Ai tetap aman, sama seperti keluarga ini mengharapkan.”
Ayah Kai tersenyum tipis. “Baiklah… aku senang mendengarnya. Ingat, apapun yang terjadi, jangan gegabah. Prioritas utama kalian adalah keselamatan Yuki, Ai, dan keluargaku. Jangan sampai ada celah sekecil apa pun. Sekali pun Kai terkenal kejam pada pengkhianat, kita harus tetap hati-hati, tidak gegabah.”
Ren mengangguk, menahan rasa tegang. “Semua langkah sudah diperhitungkan. Aku pastikan semua aman, Pak. Bahkan jika Kai tidak bisa kembali dalam waktu seminggu, Yuki, Ai, dan orang tua akan terlindungi sepenuhnya di bawah tanah.”
Ibu Kai menepuk bahu Ren lembut. “Aku percaya padamu, Ren. Ingat, anakmu kau harus menjaga mereka dengan ketelitian. Tidak ada ruang untuk kesalahan. Kai mempercayakan keluarganya padamu, dan aku yakin kau bisa melakukannya.”
Ren menunduk lagi, menegaskan tekadnya. “Aku tidak akan mengecewakan mereka, Bu. Aku pastikan semuanya sesuai rencana. Aku akan berada di garis depan jika ada masalah, dan Niko akan menangani semua yang berhubungan dengan keamanan digital dan suplai. Tidak ada yang akan lolos.”
Ayah Kai menatap Ren lama, lalu tersenyum tipis. “Baik, Ren. Kau sudah mengerti tanggung jawabmu. Sekarang, pastikan komunikasi tetap lancar dengan Kai. Laporan harian harus jelas dan cepat. Jika ada hal kecil yang aneh… segera tangani. Kita tidak ingin sesuatu terjadi di luar rencana.”
Ren mengangguk mantap. “Siap, Pak. Setiap hal akan aku pantau. Semua protokol sudah diperiksa ulang sebelum aku pulang tadi. Tidak ada celah sekecil apa pun.”
Ibu Kai menghela napas panjang, lalu tersenyum dengan lembut ke arah Ren. “Aku tenang mengetahui Yuki dan Ai berada di tanganmu. Sekarang kau bisa beristirahat sebentar. Tapi ingat, mata dan telingamu harus selalu awas. Jangan lengah.”
Ren membungkuk sekali lagi, kemudian perlahan melangkah keluar dari ruang tamu. Ia tahu tanggung jawab yang diberikan padanya sangat berat—bukan hanya logistik atau perlengkapan, tapi menjaga keluarga Kai tetap aman saat pemimpin mereka berada jauh. Namun tekadnya bulat. Ia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Yuki, Ai, atau orang tua Kai.
Di ruang tamu, Ibu dan Ayah Kai saling berpandangan. “Kai memang keras, tapi aku senang melihat keluarganya berada di tangan orang yang bisa diandalkan,” ucap Ibu.
Ayah Kai mengangguk. “Betul. Dan Ren serta Niko… mereka memastikan keamanan keluarga kita tetap prioritas. Sekarang, kita hanya bisa menunggu dan berdoa Kai kembali tanpa masalah.”
Ibu Kai tersenyum lembut. “Aku tahu Kai akan menangani urusannya. Dan Yuki… Ai… mereka aman. Itu yang paling penting. Semoga semuanya berjalan sesuai rencana.”
Senja mulai merayap di luar jendela. Rumah megah itu terasa tenang, namun setiap orang di dalamnya sadar bahwa dunia di luar sana penuh bahaya, dan semua langkah yang diambil sekarang akan menentukan keselamatan keluarga mereka. Dan meski Kai jauh, rencana yang matang dan kesetiaan anak buah serta sistem yang kuat memberikan ketenangan yang mereka butuhkan… setidaknya untuk sementara.