NovelToon NovelToon
The Big Families 2

The Big Families 2

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia
Popularitas:825.9k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Sekuel ke empat Terra The Best Mother, sekuel ke tiga Sang Pewaris, dan sekuel ke dua The Big Families.

Bagaimana kisah kelanjutan keluarga Dougher Young, Triatmodjo, Hovert Pratama, Sanz dan Dewangga.
Saksikan keseruan kisah pasukan berpopok dari new generasi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEKOLAH SERU

Akhirnya, kini seluruh keluarga kembali ke kediaman Terra. Mereka beranjak dari rumah Andoro usai maghrib kemarin. Walau jarak rumah mereka hanya satu kilo.

Tapi iring-iringan mobil mewah belum lagi lapisan pengawal. Membuat keluarga itu jadi sorotan semua orang.

Beberapa awak.media mengikuti mereka, mencari beberapa berita dari keluarga itu.

Di rumah besar itu Terra nampak senang, akhirnya ia bisa sedikit bebas. Walau kerjaan dapur diambil alih Maria, Layla dan Rahma.

"Udah, kamu istirahat saja," suruh Maria.

"Kakak, Kakak kan juga lelah. Kakak istirahat juga lah!' protes Terra.

"Iya, tapi Babies kan cepat lapar. Jadi kami harus siap," ujar Maria beralasan.

"Te, juga mau masak!" sahut Terra tak mau kalah.

Akhirnya, Maria membiarkan Terra membantunya.

Para bayi sedang bermain, Naka melihat beberapa pengawal sibuk dengan Dirga, Fikar dan Rauf. Lalu matanya menatap pintu depan terbuka.

"Days!" serunya dan semua bayi berhenti berkegiatan.

"Ubun-ubun itan lele ...."

"Satep!" sahut Jamila, Yusuf dan Maira bersamaan.

"Pita tabun ye!" seru Naka lagi lalu semua bayi berlari.

"Tabun!" Fikar dengan cepat melesat mengecoh langkah Deri.

Handayani nyaris terjatuh mengejar Putra. Gelak tawa terdengar di area belakang.

.Bart memilih abai, ia duduk di sofa di ruang tengah dan menaikkan kaki. Begitu juga yang lain.

"Boy, kenapa pengawal-pengawal mu nggak bisa atasi anak-anak. Padahal mereka masih pakai popok!" sindir Bart.

Virgou menatap malas, tapi ia memang bingung. Semua pengawal telah terlatih, tidak main-main. Sangat keras bahkan nyawa taruhannya. Tetapi begitu menghadapi para bayi terutama keturunannya. Semua pengawal panik.

"Padahal banyak klien punya anak minta penjagaan. Mereka nggak sesibuk itu," sahut Virgou membela para pengawal.

"Itu karena semua bayi kita aktif dan cerdas, Dad!" timpal Khasya yang datang membawa kopi untuk para pria.

"Terimakasih, Khasya!" sahut Frans.

"Sama-sama, Kak!" angguk Khasya hormat.

Bart menyeruput kopinya, ia sedikit protes dengan ukuran cangkirnya.

"Dad, sudah lah!' tegur Herman.

"Apa kau tak cape marah-marah terus?" lanjutnya kesal.

"Tapi ini kecil sekali!" sahut Bart masih protes.

"Itu sudah bagus, Dad. Lebih baik sebelum Baby Daud menghentikan kopimu!' sahut Leon meletakkan cangkirnya.yanh sudah kosong.

Sementara itu di kelas Maryam, Anton kembali mendekatinya.

"Mana, bisa kamu pinjami seratus?" tanyanya sambil mengadakan tangan.

"Woi, kamu ngapain, Ton?" tanya Xierra.

Anton langsung menurunkan tangannya, Maryam yang sudah tau lalu merogoh sakunya dan memberinya uang koin.

"Apa ini?" Anton tentu bingung, Xierra dan semua saudara Maryam tengah menatapnya.

"Katanya kamu mau pinjem seratus. Ini, seratus!" jawab Maryam sambil menyodorkan uang logam itu.

"Nggak usah minjem. Aku kasih!' sambungnya lagi.

"Oh, kemarin itu kamu minjem uang toh sama saudara kembarku?" tanya Al Fatih menatap Anton.

Bocah itu gugup, ia menatap tajam Maryam Tapi gadis kecil itu tak takut sama sekali.

"Awas saja kamu!' ancamnya.

"Kamu ancam adik aku. Nggak usah! Ayo sekarang aja!" teriak Xierra tak terima.

Xierra kelas empat SD, tubuhnya tinggi dengan rambut gelombang dikuncir satu. Bukan hanya Xierra yang maju, tapi seluruh saudara Maryam ikut maju.

"Huh, beraninya keroyokan!" sengit Anton.

"Oh, kamu maunya lawan siapa?' tantang Firman.

"Udah kak, biar aku aja yang maju. Dia kan berurusan sama aku!' sahut Maryam lalu maju menghadapi Anton.

Semua murid mengerumuni keduanya. Sorak-sorai terdengar.

"Anton! Anton!" seru pihak satu.

"Maryam!. Maryam!' seru pihak dua.

"Aku nggak lawan perempuan!" sahut Anton enggan.

"Kamu bisa lawan aku. Aku saudara kembarnya!' sahut Al Fatih lalu menarik tangan kakak kembarnya ke belakang tubuhnya.

Al Fatih, bocah bertubuh sedang dengan rambut hitam dan mata abu-abu.

“Kamu bukan anak normal! Mana ada anak matanya abu-abu!”

Suasana kelas mendadak hening. Suara anak-anak yang tadi berisik langsung lenyap.

Maryam berdiri mematung, bola matanya yang abu-abu justru memantulkan cahaya putih dari jendela.

Ia tidak menunduk, tapi juga tidak menatap tajam. Tatapannya datar—namun dalam.

Beberapa anak mulai berbisik.

“Iya ya, matanya beneran abu-abu…”

“Kayak boneka…”

“Atau… bukan manusia?”

"Ada apa ini?" sebuah suara membubarkan kerumunan.

Guru masuk, melihat anak-anak yang masih tegang.

"Pak, apa benar mata saya tidak biasa?" tanya Al Fatih polos.

Guru itu menatap sang murid, bukan hanya Al Fatih yang matanya beda. Tapi, Harun, Fatiyya, Arsh malah bermata biru. Yang ia tau keturunan Dougher Young bermata biru dan coklat terang. Tapi abu-abu milik Maryam, Alfath dan Aisya memang sangat menarik perhatian.

"Kalian tidak beda, semua mata berfungsi sama, yakni untuk melihat!" jawab Pak Guru bijak.

"Duduklah, biar Bapak jelaskan!' suruhnya lalu semua murid duduk dengan rapi.

“Dengar ya, anak-anak,” ucap Pak Guru sambil berjalan pelan di antara barisan meja.

“Warna mata kalian berbeda-beda bukan karena aneh. Tapi karena cara Allah menciptakan kita itu luar biasa unik.”

Anak-anak mulai tenang. Anton pun menunduk, seperti mulai menyesal.

Pak Guru mengambil spidol dan menulis di papan tulis:

‘Pigmen & Cahaya.’

“Warna mata kita ditentukan oleh zat warna yang disebut melanin.

Kalau melanin-nya banyak, matanya jadi hitam atau coklat tua.

Kalau sedikit, bisa jadi coklat muda, hijau, biru, bahkan abu-abu.”

Ia berhenti sejenak, menatap murid-muridnya yang mulai fokus.

“Jadi, bukan karena aneh, bukan karena sihir, bukan juga karena bukan manusia.

Itu cuma perbedaan pigmen — sama seperti kulit, rambut, dan bentuk wajah.”

Beberapa anak tampak berpikir, sementara Maryam menatap papan tulis dengan lega.

Suara guru itu terdengar tenang, tapi sarat makna.

“Dan ada satu lagi yang penting,” lanjutnya.

“Kadang warna mata juga dipengaruhi oleh cahaya.

Mata abu-abu, misalnya, bisa tampak lebih terang kalau di bawah sinar matahari,

karena cahaya memantul di bagian yang disebut iris.

Itulah yang bikin warna itu kelihatan seperti perak atau kabut.”

“Wah…” gumam anak-anak serentak.

“Jadi, yang punya mata abu-abu, biru, atau hijau — jangan malu.

Kalian hanya terlahir dengan pantulan cahaya yang berbeda.”

Guru itu tersenyum, lalu menatap ke arah Maryam, Al Fatih, dan Aisya.

“Dan warna mata bukan penentu siapa yang lebih hebat, lebih baik, atau lebih manusia.

Yang membuat seseorang berharga adalah hatinya — bukan iris matanya.”

Kelas itu hening, tapi hangat.

Anton menatap ke bawah, lalu pelan-pelan mendekat ke meja Maryam.

“Maaf ya…” ucapnya lirih.

Maryam tersenyum kecil, “Nggak apa-apa. Sekarang kamu udah tahu kan, kalau semua orang punya warna yang Allah pilih sendiri?”

Pak Guru mengangguk bangga melihat anak-anak itu belajar sesuatu yang lebih besar daripada sekadar pelajaran hari ini.

Pulang sekolah, Maryam kembali ceria. Ia makan dengan lahap, begitu juga dengan tiga saudara kembarnya.

"Nenek, Allah itu hebat ya!" seru Aisya dengan mata berbinar.

"Tentu saja Allah itu maha hebat!' angguk Terra membenarkan.

"Memang ada apa Baby?" tanya Harun ingin tau.

"Iya, begitu hebatnya sampai warna mata saja bisa berbeda. Seperti aku dan Kak Harun. Padahal kita saudara!' sahut Aisya.

"Jangankan sama Kak Harun. Bahkan dengan Baby Izzat, adik kandung kalian saja matanya beda!' sahut Harun.

Semua menatap mata Izzat, tentu saja. Walau tiga kakak kembarnya memiliki mata abu-abu, sementara matanya mewarisi mata sang ayah, coklat terang.

Bersambung.

Oke deh.

Next?

1
Salma Suku
Setya adalah cucunya Karina,anaknya Raka...
Salma Suku
Setya zatuh sintah sama spasa
Salma Suku
Aamiin🤲
Dee
next kakkkk
Lilo Stitch
kok jadi cicit? Setya bukannya anaknya Raka? Rakan kan anaknya Karina, harusnya cucu bukan cicit
Salma Suku
Kereeen,memang author yg terbaik👍
yonahaku
nah kan jadi pingsan traumanya beda dengan Darren walaupun sama-sama menyakitkan Darren dipukulin sama mamanya sampai babak belur sedangkan kak Karina itu ditinggal pergi sama suami pada saat dia membutuhkan dukungan akibat anaknya terkena penyakit autis waktu masih bayi
yonahaku
lanjut kak Maya
puji indari
memang klo trauma tuh susah obatnya kecuali dari dirinya sendiri dan kelembutan jg cinta kasih dari kluarganya. tapi klo karina menutup hatinya dari yg lain ya itu lain cerita
Salma Suku
Gays puniyah walwah semakin mencekam
Salma Suku
Semangat thor...aku suka karyamu👍
nurry
waduh kenapa tuh Karina
nurry
lanjutkan kak Maya
Atik Marwati
Karina trauma kenapa ya🧐🧐🧐🧐
Nur Lailla
baby iya bantu mama karina baby,semoga setya berjodoh ama renata
Hasna Nursyafah
next part ka
yonahaku
kak maya typo lagi
Dandelion
next ka
Raysah Baper
hiks,, Karina maafkan dirimu, maafkan segala kejadian yang menimpamu.. kekhawatiran mu bisa menjadi boom untuk diri sendiri,,
semua punya niat dan pemikiran yg baik hanya...
Nancy Nurwezia
kenapa karina selalu keras kepala ya..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!