Karina rela melepaskan identitas dan membuang kemewahan yang dimilikinya sebagai putri tunggal keluarga Wijaya hanya untuk bersama Agus, ia jatuh cinta pada Agus karena kebaikan dan kejujurannya.
Pernikahannya tampak begitu sempurna dan bahagia, hingga Agus pun sudah menjadi pria sukses berkat dukungan dan bantuan Karina. Sayangnya dengan kesuksesannya, Agus justru terlena dan mengkhianati pernikahan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun itu.
Bagaimana kisah selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada pernikahan Karina dan Agus? Apa yang akan dilakukan Karina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Miliar?
Karina menatap pria yang sedang bersimpuh di kakinya itu dengan tatapan yang sangat datar, jika ini terjadi dua puluh tahun lalu, mungkin hati Karina akan hancur melihat pria yang ia cintai memelas seperti ini. Namun sekarang, ia hanya melihat seorang aktor panggung yang sedang mencoba menyelamatkan dirinya dari kehancuran total.
"Sosok Ayah, katamu?" Karina mengulangi kata-kata itu dengan nada yang sangat dingin.
"Agus, anak-anakku tidak butuh sosok Ayah yang menelantarkan ibunya di jalanan, mereka butuh keamanan, harga diri, dan ketenangan. Tiga hal yang justru kamu hancurkan dengan tanganmu sendiri," ucap Karina.
Agus mendongak, matanya berkaca-kaca dan tampak begitu meyakinkan. "Aku tahu, aku berdosa, Karina. Tapi lihatlah aku sekarang, aku sudah kehilangan segalanya. Rumah di Solo pun sudah digadai oleh Ibu tanpa sepengetahuanku untuk menutupi hutang judi lamanya, kami tidak punya tempat tinggal, apakah kamu tega melihat anak-anakmu tahu bahwa Ayah mereka menjadi gelandangan?" ucap Agus yang sengaja berbohong tentang rumahnya yang di Solo, padahal dia sendiri yang menggadaikan rumahnya tanpa sepengetahuan siapapun.
Karina menyilangkan lengannya di dada dan tidak bergeming sedikit pun, "Tega? Bukankah kamu yang lebih dulu menunjukkan apa itu arti kata tega? Saat kamu membawa Sabrina ke rumah kita, saat kamu membiarkan ibumu menghinaku, apakah kamu memikirkan perasaan anak-anak?" tanya Karina.
"Itu karena aku khilaf, Karina! Aku dijebak oleh mereka!" seru Agus dan tangannya mencoba menggapai ujung sepatu Karina.
"Berikan aku pekerjaan, apa saja. Aku akan membuktikan bahwa aku bisa berubah, aku akan mulai dari nol di Grup Wijaya dan menjadi sopirmu, asalkan aku bisa dekat denganmu lagi," lanjut Agus.
Karina tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat bulu kuduk Agus merinding. Karina tahu persis apa yang ada di otak Agus. Pria ini tidak sedang merindukannya, dia sedang merindukan fasilitas mewah dan kekuasaan. Agus sedang mencoba berinvestasi kembali pada wanita yang dulu ia buang, karena ia tahu itulah satu-satunya jalan keluar dari kemiskinannya.
"Agus, berhentilah berakting. Kamu tidak berbakat jadi orang tertindas, kamu ke sini karena kamu tahu Sabrina sudah kabur membawa sisa uangmu, kan? Kamu ke sini karena kamu tahu aku adalah pemilik Grup Wijaya, bukan karena kamu merindukan istri kampungmu ini... salah maksudnya mantan istrimu," ucap Karina.
Wajah Agus menegang sesaat, namun ia cepat-cepat kembali ke mode memelasnya. "Tidak, Karina! Demi Tuhan, aku...," Belum sempat Agus menyelesaikan perkataannya, Karina sudah kembali bersuara.
"Cukup!" bentak Karina.
Suaranya menggelegar di area parkir yang sunyi itu, "Jangan bawa-bawa Tuhan dalam kebohonganmu, aku tidak akan pernah memaafkanmu Agus, sekalipun kamu mati," ucap Karina.
"Karina, aku mohon. Aku masih mencintaimu," ucap Agus.
Karina melangkah mundur dan menjauh dari jangkauan tangan Agus, "Dengarkan baik-baik, Agus. Aku tidak akan pernah memberimu kesempatan kedua, ketiga atau keseribu. Bagiku, kamu hanyalah sebuah kesalahan masa muda yang sudah aku hapus dari catatan hidupku, jika kamu memang ingin memulai dari nol, pergilah ke dinas sosial atau cari kerja di bengkel kecil seperti dulu,bukankah kamu bangga dengan kemampuanmu sendiri," ucap Karina.
Agus mulai kehilangan kesabarannya saat melihat taktik memelasnya tidak berhasil, .atanya yang semula sayu kini mulai menyorotkan amarah yang terpendam.
"Karina! Jangan sombong! Kamu pikir tanpa bantuanku selama dua puluh tahun, kamu bisa tetap terlihat cantik seperti ini? Aku yang memberimu makan! Aku yang memberimu status sebagai istri pengusaha!" ucap Agus.
"Dan aku yang membangunkan tangga agar kamu bisa naik ke atas, Agus. Sayangnya, kamu justru menggunakan tangga itu untuk meludahiku," balas Karina.
Agus bangkit dari posisi berlututnya, namun wajahnya kini tampak kian mengerikan, perpaduan antara keputusasaan dan kegilaan, ia mencoba memblokade jalan Karina menuju pintu mobil.
"Karina, pikirkan lagi! Aku ini Ayah dari anak-anakmu! Darahku mengalir di tubuh Ella dan Aisha! Kamu tidak bisa menghapusku begitu saja hanya karena kamu punya uang sekarang! Apa kata dunia jika mereka tahu putri mahkota Wijaya membiarkan ayah dari anak-anaknya mati kelaparan di jalanan? Reputasimu akan hancur!" seru Agus dengan suara yang menggema kasar.
Karina menghentikan langkahnya dan menatap Agus dengan tatapan yang sangat datar, "Reputasi? Agus, kamu pikir setelah apa yang kamu lakukan padaku dan anak-anak, orang-orang akan membelamu? Percaya diri seklai kamu, jika kamu ingin bicara soal darah, ingatlah bahwa anak-anakku sendiri yang memintaku untuk tidak pernah membawamu kembali ke dalam hidup mereka," ucap Karina tegas.
"Mereka hanya terpengaruh olehmu! Kamu mencuci otak mereka!" teriak Agus dengan suaranya yang mulai serak.
Agus mencoba meraih lengan Karina lagi, namun kali ini dengan gerakan yang lebih agresif, "Berikan aku satu miliar saja! Anggap saja itu pesangon untuk dua puluh tahun aku menjagamu! Setelah itu aku akan pergi dan tidak akan mengganggumu lagi!" ucap Agus.
Karina tertawa, matanya berkilat penuh penghinaan. "Satu miliar? Untuk pria yang merampas seluruh harta bersama dan memberikannya pada selingkuhannya? Kamu tidak akan mendapatkan satu sen pun dariku, Agus. Bahkan debu dari sepatuku pun terlalu berharga untukmu," ucap Karina.
"Karina, jangan paksa aku berbuat kasar!" Agus melangkah maju.
"Oh ya, apa yang akan kau lakukan?" tanya Karina yang semakin menantang Agus.
Namun, sebelum Agus sempat mendekat lebih dari satu meter, dua pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam muncul entah dari mana. Dengan gerakan yang sangat cepat, mereka memelintir tangan Agus ke belakang dan menekannya ke kap mobil yang panas.
"Lepaskan! Lepaskan aku!" ronta Agus.
Karina menatap Agus yang kini terhimpit tidak berdaya, "Agus, ini adalah peringatan terakhirku. Jangan pernah muncul lagi di hadapanku atau anak-anakku, jika aku melihat bayanganmu lagi, maka aku pastikan kamu akan menghabiskan sisa hidupmu di balik jeruji besi atas kasus penggelapan pajak," ancam Karina.
"Kau udah mengungkapkan semuanya Karina, penggelapan pajak itu sudah tersebar!" seru Agus.
"Kau pikir itu sudah semuanya? Belum, terlalu banyak kejahatanmu sampai aku masih memiliki bukti untuk kasus lainnya," ucap Karina.
Karina mengeluarkan kunci mobilnya dan menekan tombol unlock lalu masuk ke dalam kemudi dengan gerakan tenang, ia tidak menoleh sedikit pun saat menyalakan mesin mobilnya yang menderu halus.
"Bawa dia keluar dari sini dan pastikan dia tidak bisa masuk lagi ke gedung mana pun milik Grup Wijaya," perintah Karina pada pengawalnya melalui jendela yang terbuka sedikit.
"Baik, Nona Karina," jawab salah satu pengawal dengan tegas.
Karina menginjak pedal gas dan meninggalkan Agus yang terus berteriak memanggil namanya di tengah kepungan petugas keamanan, Karina melihat sosok pria itu melalui spion, tampak sangat menyedihkan dan tidak berarti.
.
.
.
Bersambung.....