Seruni (20 tahun) adalah kembang desa cantik, lugu dan polos yang tinggal di wilayah terpencil daerah Tapal Batas.
Pernah bertunangan dengan salah satu pemuda dari kampung sebelah. Berujung putus dan gagal menikah karena ditikung adik tirinya bernama Rasti.
Suatu hari, Seruni dijodohkan dengan seorang pria dari kota. Musibah datang menerpa, di mana rombongan bus calon pengantin laki-laki mengalami kecelakaan, lalu terbakar hebat. Semua penumpang tewas di TKP termasuk calon suami Seruni.
Kepercayaan masyarakat setempat, jika sampai seorang gadis gagal menikah dua kali maka dianggap pembawa sial. Pastinya tak ada pemuda yang akan sudi menikahi Seruni.
Pak Tono selaku Kades yang berstatus sebagai ayah kandung Seruni, terpaksa menerima laki-laki asing bernama Bastian Fernando Malik yang mendadak bersedia menjadi suami Seruni. Tanpa diketahui semua orang bahwa Bastian tengah lari dan bersembunyi dari kasus pembunuhan yang menjeratnya.
Bagian dari Novel : Maafkan Mama, Pa🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 - Sengaja Membumihanguskan Penonton VVIP
Bastian sengaja meminta kunci rumah Ningsih karena jika mereka berdua pulang ke tempat pengasingan, rasanya tak mungkin.
Jarak yang cukup jauh dan hari sudah cukup larut. Lagi pula rawan jika melakukan perjalanan dari desa ke tempat pengasingan dengan mengendarai motor berdua saja bersama Seruni.
Alhasil Bastian memutuskan untuk menginap di rumah Ningsih malam ini. Esok pagi mereka akan pulang ke tempat pengasingan.
Mengapa Bastian dan Seruni tak menginap di rumah Pak Tono saja ?
Bastian punya beberapa alasan untuk itu. Walaupun mereka tidak dilarang jika berkunjung sejenak ke rumah Pak Tono selaku ayah kandung Seruni.
Alasannya, Bastian sedang malas ke rumah Pak Tono karena moodnya kurang baik usai bertemu Rasti. Ia juga ingin meminimalisir konflik yang terjadi antara Seruni dengan Rasti.
Satu hal penting lagi, Bastian tak ingin Seruni disuruh-suruh oleh Bu Dewi dan Rasti di rumah Pak Tono. Mirip seperti ba_bu. Padahal Seruni adalah anak kandung Pak Tono.
Permintaan Bastian yang tadi dibisikkannya ke telinga Seruni, perlahan mulai terealisasi. Seruni berusaha memberikan yang terbaik untuk suaminya malam ini. Walaupun ia tak tau alur dan caranya seperti apa.
Keduanya saat ini sudah berada di dalam kamar tamu. Pintu dan jendela sudah terkunci sempurna.
Bastian telah duduk di atas tempat tidur dalam kondisi bertelan_jang dada. Kemeja dan celana kain miliknya telah dilepasnya beberapa menit yang lalu. Hanya menyisakan celana dalamnya yang berwarna hitam.
Sedangkan Seruni, kini berdiri di dekat tepi ranjang sembari perlahan membuka pakaiannya.
Seruni sempat bertanya pada Bastian sebelum membuka baju.
"Kenapa abang gak bukain baju ading?"
"Aku lebih suka kamu yang membukanya di depanku," jawab Bastian.
"Apa bedanya, Bang?"
"Jelas beda. Lebih membuatku berde_sir,"
"Ah, Abang..." cicit Seruni semakin malu-malu meong.
Seluruh pakaian dan penutup kepala Seruni telah dilepasnya. Barang-barang tersebut ia letakkan di atas meja kayu berukuran kecil di dalam kamar tamu.
Kini hanya menyisakan br_a dan pan_ty berenda warna merah cabai yang menyala. Begitu kontras dengan kulit putih Seruni. Hal ini semakin membuat Bastian berhas_rat untuk melahap si kembang desa cantik-istrinya itu.
"Naik ke sini," pinta Bastian seraya mengulurkan tangannya ke arah Seruni.
Detik selanjutnya, tanpa ragu Seruni menggapai uluran tangan dari Bastian. Lalu, Bastian mengarahkan Seruni agar duduk di atas pangkuannya.
Bastian menarik selimut lalu meletakkan di belakang tubuh sang istri guna menutupi punggung terbuka Seruni. Bastian tak ingin ada yang melihat kemolekan tubuh Seruni. Walaupun itu hanya sekadar angin malam. Posesif Bastian.
Lampu kamar tamu masih menyala terang. Bastian sengaja belum mematikannya.
Beruntung Bastian dan Seruni tak akan kepanasan malam ini karena di kamar tamu di rumah Ningsih terdapat sebuah kipas angin sederhana yang bisa menyala dengan baik.
☘️☘️
"Kamu cantik sekali, Run." Puji Bastian seraya jari jemarinya merapikan beberapa helai rambut yang berjatuhan ke arah depan wajah Seruni. Lalu, Bastian sematkan rambut tersebut ke arah belakang telinga Seruni.
Hal ini semakin membuat Seruni mere_mang akan sentuhan lembut Bastian padanya. Apalagi menatap da_da Bastian yang begitu ber0tot bentuk kotak-kotak. Amazing mempesona dan menggai_rahkan.
"Coba buka sekarang," pinta Bastian lembut, namun berbalut menuntut.
"Apa yang dibuka, Bang?"
"Itu," jawab Bastian memberi kode dengan matanya ke arah pembungkus mahoni kembar milik Seruni yang sejak tadi menggangu penglihatannya.
Seruni menganggukkan kepalanya kecil. Istri penurut dan patuh, itulah gambaran sosok Seruni. Tanpa membantah sedikit pun, Seruni melakukan perintah serta arahan Bastian.
Hidangan pembuka malam pemersatu bangsa telah disuguhkan secara nyata di depan Bastian oleh Seruni. Bastian menerimanya dengan baik, lalu mengu_lum nya salah satu dan mere_mat yang lain.
Seruni perlahan mulai mende_sah. Bahkan tanpa sadar tangannya membelai, lalu berubah menjam_bak rambut Bastian kala rasa melenakan itu datang menerjangnya.
Nafas Seruni terdengar semakin memburu kala salah satu telapak tangan Bastian menyelinap masuk di bawah sana. Tempat yang hangat dan sudah lembab cenderung basah. Landasan pacu utama malam ini.
Tangan Bastian terus meng0brak-abrik pertahan Seruni di bawah perutnya.
"A_baang..." de_sah Seruni.
Paham Seruni akan mendapatkan pelepasan pertamanya, Bastian semakin gencar hingga sang istri mencapai puncaknya.
☘️☘️
Bastian membiarkan Seruni menarik nafasnya sejenak usai pelepasan pertama tadi. Tubuh Seruni kini sudah merebah telentang di atas ranjang dengan terbalut selimut menutupi tubuh polosnya karena Bastian sudah melucuti kain penutup segitiga berenda milik istrinya itu.
"Abang matikan lampunya ya," ucap Bastian.
"Iya, Bang."
Blammm...
Lampu kamar tamu seketika padam. Lalu, Bastian menyalakan senter miliknya yang dibawa dari rumah. Kebetulan seminggu yang lalu Bastian membeli sebuah lampu senter ukuran sedang di dekat pabrik tempatnya bekerja.
Bastian tersenyum menyeringai sembari ekor matanya melirik sejenak ke arah dinding kayu di sudut kamar tamu. Lalu, Bastian melepas kain terakhir penutup tubuhnya di bawah sana.
Bastian ikut bergabung dan bergelung ke dalam selimut bersama Seruni. Mencari kehangatan cinta berpadu gai_rah ranjang malam ini yang melenakan.
"Malam ini abang yang pimpin ya. Besok-besok kamu, Sayang."
"Iya, Bang."
"Kalau sakit, bilang ke abang."
Seruni menganggukkan kepalanya kecil di depan Bastian.
"Bersiap kita terbang ke bulan, Sayang."
Bastian pun segera melancarkan aksinya untuk memesrai dan menggau_li Seruni. Sebelumnya, Bastian sudah melafalkan doa. Butuh waktu dua minggu sampai akhirnya Bastian hafal doa khusus suami-istri tersebut.
Sedangkan penonton VVIP di luar sana yakni Ardi begitu dongkol melihat Bastian dan Seruni ternyata di rumah Ningsih hendak melakukan adegan ranjang suami-istri.
Sejak di jalan pulang dari pesta rakyat, Bastian sudah tau jika dirinya dan Seruni sedang dibun_tuti oleh seseorang. Saat Bastian hendak menutup pintu utama rumah Ningsih, ia melihat Ardi tengah bersembunyi di belakang pohon besar yang ada di pekarangan.
Bastian semakin tertantang memanas-manasi Ardi. Ia ingin membumihanguskan penonton VVIP pada acara malam pertamanya dengan Seruni. Siasat Bastian berhasil dan menang mutlak.
Penonton VVIP pertama memilih pergi dari sana. Lalu, tak berselang lama penonton VVIP kedua perlahan mendekati rumah Ningsih guna mencari tau akibat didera rasa penasaran.
"Kenapa wajah Kak Ardi kayak ditekuk masam begitu? Memangnya apa yang terjadi di dalam sana?" batin Rasti.
Lalu, Rasti memutuskan untuk mengintip sebuah kamar yang kebetulan itu adalah kamar tamu di mana Bastian dan Seruni berada. Hanya ada gelap dengan sedikit remang dari cahaya lampu senter. Kedua matanya tak mampu melihat apapun dari celah yang sangat kecil itu.
Detik selanjutnya, tiba-tiba tubuh Rasti menegang dengan bulu ku_duk nya ikut mere_mang kala telinganya mendengar suara-suara aneh. Mirip orang mende_sah.
"Abang...ohh..."
"Hah, suara siapa itu?" batin Rasti mendadak bodoh.
Padahal di rumah Ningsih jelas-jelas tak ada orang lain selain Bastian dan Seruni. Dikarenakan ia tau Ningsih masih berada di acara pesta rakyat.
Terlebih Rasti sudah pernah melakukan hubungan in_tim dengan Ardi. Namun mendadak disuguhkan adegan serupa walaupun sebatas suara, otaknya berubah 'lola' alias loading lama.
Rasa kepo nya yang tingkat tinggi, akhirnya membuat Rasti justru menempelkan telinganya ke dinding kayu tersebut untuk berusaha menelaah apa yang terjadi.
"Oh, Bang. Hentikan..."
"Ading mau pi_pis," jerit Seruni yang tak mampu ditahan atas kenikmatan baru yang dialaminya.
"Keluarkan saja, Sayang. Abang tunggu,"
Saat ini kepala Bastian sibuk bekerja di depan landasan pacu utama malam ini. Lidahnya menggelitik mesra hingga membuat Seruni mengalami banjir bandang di bawah sana.
"Kurang ajar!" batin Rasti geram mendengarnya.
"Jadi, suara aneh tadi- suara Seruni dan Bastian lagi melakukan itu!" lanjutnya di hati.
Tiba-tiba hujan turun membasahi tanah desa. Awalnya gerimis, lalu berubah menjadi deras. Rasti tak bisa bertahan lama-lama di sana. Alhasil ia memutuskan pulang dengan kekesalan menggunung di hatinya. Ia terpaksa pulang dalam kondisi basah kuyup karena terlupa membawa payung.
Sedangkan di dalam kamar tamu kediaman Ningsih, sepasang suami-istri yang tengah di ma_buk gai_rah asmara dan gelora ranjang, bersiap melakukan invasi penjelajahan menuju babak inti malam pertama mereka.
Di mana komandan militer malam ini dipegang penuh oleh Bastian dan Seruni sebagai tawanan yang siap dikuasai dari ujung rambut hingga ujung kaki sampai dibuat lemas tak berdaya, tapi melenakan.
Bersambung...
🍁🍁🍁
*Jangan dihujat ya. Part malam pertama di rumah teman adalah pengalaman othor dan suami. Walaupun beda alasan yang mendasari pastinya. 😭
Aku dan suami menikah tanpa pacaran. Kami ta'aruf, lalu menikah. Akad dan resepsi full satu hari dari pagi sampai malam tanpa jeda. Malamnya kita berdua menginap di hotel, tapi karena capek malah ketiduran dan gak ngapa2in. Hehe...
Besok pagi karena sudah terjadwal dinasku yang tak bisa diganggu gugat, paksu mengantar ke daerah yang boleh dibilang cukup melosok. Katanya takut aku diculik, wkwk...
Padahal sebelum nikah, Othor sudah terbiasa bergerak dari satu daerah ke daerah lain sendirian. Kadang-kadang ya bersama team, tergantung surat perintah dinas.
Lokasi yang dituju karena masih lumayan jauh, kita mampir ke rumah teman othor yang kebetulan satu arah dengan tujuan. Apalagi beliau gak bisa datang ke pernikahan kita karena bersamaan ada acara keluarga. Teman othor itu yang nyuruh kita mampir ke rumahnya.
Kita menginap semalam di sana, besok pagi berencana melanjutkan perjalanan. Malamnya pas hawa mendadak dingin padahal tanpa AC karena rumah teman othor di desa, bukan kota. Hanya ditemani kipas angin. Lalu, terjadilah malam pertama kita. Hehe...
Bukan aku yang minta, tapi paksu. Haha...
Karena mau ditinggal cukup lama berdinas, kata beliau minta isi baterai yang banyak dari aku.😭
Beruntunglah kami berdua yang tak menanggung malu dengan tuan rumah karena kamar mandi ada di dalam kamar tamu, bukan tipe kamar mandi luar. Lupa bawa hair dryer, jadinya kipas angin pun jadi buat keringkan rambut kita berdua untuk menghilangkan jejak. Haha...
Jujur kalau ingat hal ini, kita berdua beneran ngakak. Nggak elegan banget ya malam pertama kita. Haha...
Padahal impian malam pertamaku di hotel, ujungnya di rumah teman. Manusia boleh berencana, tapi Tuhan tetap pemegang kuasa penuh. 😭🤭
*Rating bintang lima yess 💋💋