Hana, seorang anak yang tertukar pada saat dilahirkan, akhirnya bisa kembali kepada keluarganya. Namun, ia tak pernah menyangka, perasaan bahagia, kehidupan manis dengan orang tua, semuanya hanya harapan palsu semata. Ia diambil hanya untuk reputasi orang tua. Diabaikan, ditindas, bahkan mati pun tidak dipedulikan.
Jiwanya tidak menerima kematian, ia menoreh takdir pada langit, meminjam jiwa yang kuat.
Jiwa seorang Ratu hebat dari kerajaan Amerta, terpanggil untuk membalaskan dendam Hana. Jiwa leluhur yang terusik oleh derita sang penerus. Pewaris kehormatan dari kerajaan agung Amerta.
Nasib semua orang pun berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Hana melangkah di lorong rumah sakit menuju ruangan di mana Ethan dirawat. Mengunjungi sang kakak yang harus dilarikan ke rumah sakit karena luka yang hampir memenuhi sekujur tubuhnya.
Ia berdiri di depan pintu, menatap lewat kaca kecil di sana. Senyum Hana terkembang, melihat sang kakak hanya seorang diri di dalam ruangan. Ia membuka pintu perlahan, langkahnya yang mengetuk lantai membuat Ethan memalingkan pandangannya dari ponsel.
Mata pemuda itu membelalak melihat sosok yang beberapa saat lalu menjelma menjadi Dewi Kematian untuknya.
"K-kau ... untuk apa kau datang ke sini? Apa yang ingin kau lakukan? Kau belum puas melihatku seperti ini?" cecar nya gemetar dan gugup sekaligus ketakutan.
Rasa sakit akibat cambukan tambang Hana masih sangat terasa nyata. Sekujur tubuh terasa sakit, kulit tersayat perih, dan tulang terasa remuk redam karenanya. Tak akan lagi ia berani bersikap sombong di hadapan Hana.
"Kenapa Kakak terlihat ketakutan seperti itu? Apakah aku sangat menakuti Kakak? Aku datang hanya untuk menjenguk Kakak di sini," jawab Hana dengan langkah yang terus mengetuk lantai.
Suara ketukannya bagai pisau-pisau kecil yang berterbangan dan siap diluncurkan ke arahnya. Detak jantung Ethan berpacu lebih cepat dari biasanya, wajahnya berpeluh-peluh, merembes turun hingga ke leher.
Hana tersenyum kecil, dia menyukai wajah pucat ketakutan kakaknya itu. Ia menarik kursi di samping ranjang, duduk dengan elegan di sana. Matanya memindai sekujur tubuh Ethan yang ditutupi selimut. Ada banyak perban yang menempel di sana, juga plester di wajah.
"Bagaimana rasanya, Kakak? Apakah sakit?" tanya Hana seraya menyentuh kaki Ethan yang terdapat luka cambukan dan meremasnya.
Argh!
Ethan menjerit tanpa suara, menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Hentikan! Aku tidak akan berani lagi. Aku bersumpah!" mohonnya sembari menahan tangan Hana yang meremas kakinya.
Hana tersenyum, melepaskan tangannya dengan cepat. Rasa sakit yang mendera membuat dada Ethan sesak, ia mengambil napas pendek-pendek meredakan rasa sakit itu.
"Apa yang kau inginkan? Kenapa kau datang ke sini?" tanya Ethan lagi menatap Hana dengan napas yang berat.
Hana menghendikan bahu, tapi tatapan matanya begitu tajam dan dingin. Sungguh berbeda dengan Hana yang dulu ia jemput di desa.
"Katakan, selain Evan apakah ada lagi milikku yang diambil Shopia?" tanya Hana tanpa basa-basi. Ia akan mengambilnya satu per satu sampai Shopia tidak lagi memiliki pegangan.
Pupil Ethan kembali membesar mendengar pertanyaan Hana.
"Atau aku harus membawamu ke ruang penyiksaan terlebih dahulu agar kau berbicara? Aku akan menyembunyikanmu di sana sehingga tak akan pernah ada orang yang menemukanmu. Aku bisa melakukan itu, tak peduli siapa dirimu? Keluarga atau bukan," kecam Hana, berdesis dari balik gigi yang merapat.
Ethan meneguk saliva, aura yang dipancarkan Hana benar-benar membuat nyalinya menciut. Kesombongan yang dulu sering ia tampakkan di hadapan Hana, kini tak ada lagi. Hanya ada sesosok pengecut yang mencari keuntungan untuk dirinya sendiri.
"I-iya. Jangan lakukan itu, kumohon!" katanya memelas.
Hana tersenyum, menumpuk sebelah kakinya di atas kaki yang lain.
"Bagus. Sekarang katakan, selain villa apakah ada hal lain yang ditinggalkan nenek untukku dan diberikan kepada Shopia?" Hana kembali menekankan setiap kata yang ia ucapkan.
Ethan mengangguk cepat, ia tidak ingin Hana membawanya pergi dan menyiksanya lebih dari pada sebelumnya.
"Perusahaan garmen yang bernama PT. Hamaly, itu dipersiapkan nenek untuk menyambut kedatanganmu, tapi nenek belum sempat memberikannya. Lalu, ayah memberikan perusahaan itu kepada Shopia dan dengan bantuan kak Alan, sampai sekarang masih maju dengan omset miliyaran rupiah setiap bulannya," jawab Ethan, riak di wajahnya menggambarkan rasa iri dari apa yang terjadi.
Dia yang menginginkan perusahaan itu, tapi Shopia yang mendapatkannya. Namun, ia tetap merelakan karena begitu menyayangi Shopia. Titik kesadarannya tersentuh oleh pertanyaan Hana tadi. Setelah menelisik, Hana tahu apa yang sedang terjadi di dalam hati kakak keduanya itu.
"Kau ingin mengambil alih perusahaan itu?" tanya Hana mengunci tatapan pada sepasang manik coklat di hadapannya.
Ada keterkejutan di sana, juga harapan yang memancar. Harapan ia bisa mengambil alih perusahaan garmen yang memiliki beberapa cabang yang tersebar di seluruh negeri. Bahkan, ada perusahaan yang khusus membuat produk untuk dikirim ke luar negeri.
"A-apa maksudmu?" Ethan berpaling, tak ingin Hana melihat wajah bodohnya.
"Tidak ada. Hanya saja aku butuh seseorang untuk dapat memimpin di perusahaan itu. Aku akan mengambil alih perusahaan dari tangan Shopia. Dia tidak layak mendapatkannya. Dia bukan Siapa-siapa meskipun kau terus mengatakan dia adalah adikmu," tutur Hana sembari memperhatikan perubahan di wajah Ethan.
Ethan mencibir, tak yakin Hana mampu melakukan itu.
"Kau tidak akan bisa melakukannya," katanya meremehkan.
"Kita lihat saja! Berhasil atau tidak, aku akan memperlihatkannya kepadamu," ujar Hana tak peduli kata-kata meremehkan Ethan. Semakin diremehkan, semakin Hana ingin membuktikan bahwa dia mampu.
Hana bangkit dan melangkah keluar. Ethan tertegun, memikirkan tawaran Hana.
"Pikirkan baik-baik tawaranku tadi!" pungkas Hana sebelum benar-benar pergi.
****
Hana memutuskan kembali ke kediaman Haysa setelah keluar dari rumah sakit. Untuk merebut apa yang seharusnya menjadi miliknya. Perusahaan garmen yang diberi nama PT. Hamaly itu khusus diperuntukkan bagi pewaris.
Ia melenggang masuk ke halaman, samar-samar telinganya mendengar percakapan dari dalam rumah. Hana berhenti di dekat dinding ruang tamu untuk mendengarkan percakapan mereka.
"Ini undangan lelang. Barang utama yang akan dilelang adalah tusuk konde milik Ratu Amerta. Sudah dapat dipastikan akan menjadi incaran orang-orang kaya di seluruh kota Eldoria," ucap Tuan Haysa menunjukkan undangan tersebut kepada istrinya.
Haena meraihnya dengan pelan, jantungnya berdebar mendengar barang berharga peninggalan sejarah yang akan dilelang. Hana tertegun, dadanya pun ikut berdebar-debar mendengar kabar itu. Tusuk konde miliknya itu memang tidak ikut menyebrang.
"Konon katanya, tusuk konde ini dibuat secara khusus oleh kaisar. Kaisar sendiri yang mendesain dan membuatnya. Tusuk konde ini melambangkan cinta sejati Kaisar dan Ratu Amerta. Jika kau berhasil mendapatkannya maka kau akan menjadi wanita terhormat di seluruh negeri," ujar Tuan Haysa kepada istrinya.
"Tapi lebih baik diberikan kepada Shopia saja. Apa kau suka?" sahut Haena menoleh pada Shopia.
"Suka! Aku sangat suka!"
Tidak akan aku biarkan!
Hana mengepalkan tangan dengan kuat.
hai jalang gk tau diri lo