NovelToon NovelToon
GERBANG YANG SAMA

GERBANG YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Semua bermula dari hari pertama menjadi siswa SMK Pariwisata, dimana takdir mempertemukan mereka didepan gerbang yang telah tertutup rapat, mereka terlambat. Mereka berkenalan dan mereka terkejut karena mereka sama-sama jurusan yang sama dan sama-sama dikelas yang sama bahkan karena mereka terlambat, mereka hanya mendapatkan kursi kosong dipaling belakang dan mereka kembali sama-sama duduk di meja kelas yang sama. Seiring berjalannya waktu mereka sudah menjalin pertemanan dan hingga waktunya tiba kegiatan Study Tour yang menjadi program penting sekolah SMK Pariwisata untuk kelas 1 dan dari sanalah sebuah kesepakatan di bawah langit Bali terjalin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 - Selamat Tinggal Bali

Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika mesin bus 4 mulai menderu di pelataran hotel. Suasana pagi itu sangat kontras dengan keriuhan di pantai semalam. Dengan mata yang masih setengah terpejam, para siswa menggeret koper mereka menuju bagasi.

Namun, ada satu pemandangan menarik yang berbeda dari saat keberangkatan tempo hari: formasi kursi telah berubah total.

Dinamika hubungan yang terbentuk di Bali secara otomatis merombak peta duduk di dalam bus. Feri, yang saat berangkat dari sekolah duduk sebangku dengan Gery, kini sudah "pindah takhta" ke kursi Vivi. Ia tampak tidak ingin melewatkan satu menit pun tanpa berada di samping pacar barunya itu.

Begitu juga dengan Vanya. Kursi di samping Nadia yang semula adalah tempat favoritnya, kini ia tinggalkan. Vanya dengan percaya diri meletakkan tasnya di kursi samping Gery.

"Kursi ini sekarang milik gue ya, Ger," ucap Vanya sambil tersenyum tipis, merujuk pada kesepakatan mereka. Gery hanya mengangguk pelan sambil membantunya menaruh tas di bagasi kabin.

Nadia sendiri tetap di posisi kursinya yang lama, namun kini ditemani oleh Yola. Yola terpaksa mengalah karena kursinya "dikudeta" oleh Feri yang ingin duduk dengan Vivi. Meskipun formasi berubah, tidak ada protes yang terdengar; semua tampak memaklumi babak baru dalam pertemanan mereka.

Bus mulai perlahan bergerak meninggalkan hotel berbintang itu, membelah jalanan Bali yang masih sepi menuju Pelabuhan Gilimanuk.

"Ger, gue ngantuk banget..." bisik Vanya, suaranya sudah serak karena sisa tawa semalam.

"Sama, Van. Tidur aja," balas Gery pendek.

Baru sekitar sepuluh menit bus berjalan, suasana yang tadinya masih diwarnai bisik-bisik kecil mendadak senyap. Satu per satu kepala mulai tertunduk atau bersandar pada kaca jendela. Kelelahan setelah tiga hari penuh aktivitas di Bali, ditambah acara begadang di pantai semalam, akhirnya menagih janji.

Vanya sudah lebih dulu terlelap, kepalanya jatuh secara alami ke bahu Gery. Gery sendiri, yang awalnya mencoba bertahan untuk melihat pemandangan terakhir Bali dari balik jendela, akhirnya menyerah. Kepalanya tersandar pada kepala Vanya, dan ia pun hanyut dalam tidur yang sangat pulas.

Di kursi belakang, Reno bahkan sudah mendengkur halus, sementara Dion—yang mungkin paling lelah karena harus mengurus Sherly semalam—tertidur dengan posisi tangan yang masih memeluk tas ranselnya.

Bus 4 kini melaju dalam keheningan, membawa puluhan siswa yang bermimpi tentang kenangan Bali yang baru saja usai, sementara di depan sana, perjalanan panjang melintasi Jawa Timur menuju Yogyakarta siap menanti mereka saat mereka terbangun nanti.

Kapal feri yang membawa mereka kembali ke Pulau Jawa terasa bergoyang pelan saat membelah ombak Selat Bali. Getaran mesin kapal yang kuat rupanya menjadi "alarm" alami bagi penghuni Bus 4. Satu per satu mata mulai terbuka, mengusap kantuk yang masih tersisa, dan segera berhamburan keluar dari bus menuju dek penumpang untuk mencari udara segar.

Angin laut yang kencang langsung menyapa mereka begitu menginjakkan kaki di dek luar. Vanya, yang energinya seolah kembali penuh setelah tidur singkat, langsung menarik lengan Gery menuju pagar pembatas kapal. Pemandangan Pulau Bali yang perlahan menjauh menjadi latar belakang yang terlalu cantik untuk dilewatkan.

"Yola! Yola, sini bentar!" panggil Vanya dengan semangat.

Yola yang baru saja ingin memesan mie instan di kantin pun menoleh. "Apaan, Van?"

"Tolong fotoin gue sama Gery dong, mumpung lighting-nya bagus nih!" Vanya langsung merapat ke samping Gery, berpose dengan senyum kemenangan. Yola hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya itu, namun tetap membidikkan kamera beberapa kali. Cekrek.

Setelah merasa puas dengan hasil fotonya bersama Gery, Vanya tidak lantas berhenti. Ia ingin mengabadikan kekompakan "geng perempuan" Bus 4.

"Sekarang gantian! Ger, lo yang fotoin kita semua ya," perintah Vanya sambil menarik Yola, Rini, Nadia, Vivi, dan bahkan Sherly yang berjalan perlahan dibantu kruk. Keenam gadis itu berjejer rapi, tertawa lepas dengan rambut yang berantakan tertiup angin laut. Gery membidik mereka dengan fokus, menyadari betapa perjalanan ini telah membuat mereka semua menjadi sangat dekat.

Melihat sesi foto para perempuan yang begitu seru, kaum laki-laki pun tak mau kalah. Reno yang sedang asyik mengobrol dengan dua orang dari jurusan Restoran langsung berteriak.

"Woi, jangan cewek-cewek doang! Kita juga butuh foto buat kenang-kenangan!" seru Reno.

Reno kemudian menarik kedua temannya itu untuk bergabung dengan Gery, Dion, dan Feri. Kedua siswa jurusan Restoran itu bernama Sandi dan Johan. Mereka berdua ternyata punya hubungan unik dengan Reno; Sandi adalah tetangga satu blok Reno, sementara Johan adalah teman satu tim futsal Reno di kompleks perumahannya.

"Van, gantian fotoin kita!" pinta Reno sambil menyerahkan kamera digitalnya.

Maka berdirilah mereka berenam—Gery, Reno, Dion, Feri, Sandi, dan Johan—berpose dengan gaya khas laki-laki yang mencoba terlihat keren namun berakhir dengan tawa karena angin laut yang mengacak-acak rambut mereka. Kehadiran Sandi dan Johan menambah keramaian kelompok mereka, memperluas lingkaran pertemanan yang tadinya hanya sebatas kelas PH2.

"Gila ya, baru pindah pulau aja fotonya udah ratusan," celetuk Dion sambil menyandarkan bahunya di pagar kapal, menatap buih laut.

"Nggak apa-apa, Yon. Buat pengingat kalau kita pernah sehebat ini di SMK," balas Gery tulus.

Di atas kapal feri yang terus melaju, kebersamaan mereka terasa semakin solid. Tidak ada lagi sekat antara jurusan perhotelan, busana maupun restoran. Semua melebur dalam tawa di tengah Selat Bali, bersiap untuk menapakkan kaki kembali di tanah Jawa untuk melanjutkan misi mereka menuju Yogyakarta.

Sebagian besar siswa langsung memilih untuk melanjutkan tidur mereka saat kembali ke bus disaat kapal feri telah bersandar di pelabuhan. Di bagian depan, hanya terdengar suara bisik-bisik rendah dari beberapa siswi yang masih asyik bergosip pelan. Sementara di barisan kursi tengah hingga belakang, keheningan total menyelimuti.

Hanya Gery yang masih terjaga. Ia menatap ke arah jendela, melihat pepohonan di pinggir jalan saat bus telan meninggalkan pelabuhan yang tampak seperti bayangan hitam yang melintas cepat. Namun, ketenangannya terusik oleh sebuah suara yang cukup konstan di dekat telinganya.

Zzz... grook... zzz...

Gery menoleh ke samping. Vanya tertidur sangat pulas dengan kepala yang bersandar berat di bahunya. Mulutnya sedikit terbuka, dan dari sanalah muncul suara dengkuran yang—untuk ukuran gadis seanggun Vanya—terasa cukup "bertenaga".

Gery berusaha menahan napas agar tawanya tidak pecah. Bayangkan saja, Vanya yang tadi di kapal sibuk berpose cantik agar terlihat sempurna di foto, sekarang justru "ngorok" tanpa beban di depan laki-laki yang ia sebut sebagai pacarnya. Tubuh Gery mulai berguncang kecil karena menahan tawa yang menggelitik perutnya.

Guncangan itu rupanya mengusik kenyamanan Vanya. Ia mengerjap, mengusap sudut bibirnya, lalu mendongak melihat Gery yang wajahnya sudah memerah menahan tawa.

"Kenapa lo senyam-senyum gitu?" tanya Vanya dengan suara serak khas orang bangun tidur, sangat pelan karena tak enak hati melihat teman-teman lain sudah pulas.

Gery mendekatkan wajahnya ke telinga Vanya, berbisik sambil tetap menahan sisa tawanya. "Gimana nggak mau ketawa... lo tadi tidurnya ngorok kenceng banget kaya mesin bajaj, Van. Sampai Reno di belakang mungkin kedengeran."

Mata Vanya seketika membelalak. Wajahnya berubah merah padam dalam hitungan detik, lebih merah dari matahari terbenam yang baru saja hilang. Rasa malunya memuncak hingga ke ubun-ubun.

"Gery! Ih, bohong ya?!" bisik Vanya gemas.

Refleks, tangan Vanya mendarat di lengan Gery—memberikan cubitan maut yang membuat Gery hampir saja berteriak—lalu disusul dengan pukulan-pukulan kecil di bahunya.

"Aduh, aduh! Sakit, Van! Beneran, tanya aja sama Yola kalau nggak percaya," ucap Gery sambil berusaha menangkis serangan Vanya tanpa membuat suara gaduh.

"Ih, jahat banget sih lo! Harusnya lo tutupin kek, atau bangunin gue kek! Malu tau!" Vanya memalingkan mukanya ke arah jendela, mencoba menyembunyikan wajahnya yang masih terasa panas, sementara Gery masih saja terkekeh pelan.

Momen sederhana itu memberikan warna berbeda di tengah perjalanan panjang menuju Yogyakarta. Di balik kontrak "pacaran" mereka, hal-hal manusiawi seperti ini justru membuat hubungan mereka terasa lebih nyata dan cair. Vanya yang tadinya gengsi, kini sadar bahwa di depan Gery, ia tidak perlu selalu tampil sempurna.

1
Shintara
iya 👍
only siskaa
pertama Thor jngn lupa mmpir ke karya aku juga yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!