Lahir pada malam 1 Suro setelah dikandung dua belas bulan, seorang bayi menjadi incaran para pendekar aliran hitam dan putih. Di tengah pertumpahan darah, ia menghilang dari dunia manusia.
Diasuh oleh makhluk mitos di rimba purba, ia tumbuh dengan ilmu yang tak dikenal perguruan mana pun. Ia belajar dari angin, dari api, dan dari naluri alam.
Saat dewasa, Braja Geni kembali ke dunia persilatan.
Kehadirannya menggemparkan jagat kanuragan. Jurusnya tak berpihak pada putih maupun hitam—ia adalah kekuatan baru yang mengancam keseimbangan.
Namun di balik kesaktiannya, tersembunyi rahasia kelahiran dan takdir besar yang akan menentukan arah dunia persilatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
“Aku memang siluman, Ayah. Aku menyadari kenyataan itu sejak lama. Namun mungkin aku bukan sepenuhnya siluman… mungkin hanya setengahnya saja. Ratu di goa itu sebenarnya adalah seekor kelabang purba, makhluk tua yang telah hidup jauh sebelum manusia membuka hutan ini. Aku dapat memahami bahasa ratuku, dan ia pun memahami isi hatiku. Dialah yang telah menyelamatkanku dan membesarkanku hingga seperti sekarang.”
Sejenak Braja menarik napas panjang, dadanya terasa sesak oleh kenangan yang kembali menyeruak. Ia mendesah dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapannya.
“Ratuku pernah bercerita bahwa ketika aku masih berada di dalam kandungan ibuku, takdirku hampir terputus sebelum sempat melihat dunia. Ibuku telah meninggal saat aku masih berada di dalam perutnya. Tubuhnya telah kaku, namun aku masih hidup di dalamnya. Lalu Ratu datang… dan dengan kekuatannya ia menolongku untuk lahir ke dunia ini. Aku berhasil selamat, tetapi ritual yang digunakannya untuk membangkitkanku membuat darahku menyatu dengan darahnya. Sejak saat itu, aku tak lagi sepenuhnya manusia.”
Braja menundukkan wajahnya, suaranya semakin berat.
“Ratuku juga mengatakan bahwa ibuku bukan mati secara biasa. Ia dibunuh oleh suatu ilmu—ilmu yang keji dan penuh kebencian. Namun siapa pelakunya… bahkan Ratu pun tak mengetahuinya.”
Ia terdiam sejenak, lalu berkata lirih,
“Itulah yang aku ketahui tentang riwayat hidupku, Ayah. Tak lebih, tak kurang.”
Laras yang mendengar penjelasan itu hampir tak mampu mempercayainya. Begitu pilu riwayat hidup Braja. Sejak masih bayi ia telah terdampar di dalam goa yang sunyi dan gelap, lalu diasuh oleh makhluk purba yang bukan dari golongan manusia.
Ki Baraya pun terdiam sesaat. Apa yang terlintas di benak Laras, terpantul pula di pikirannya. Sepanjang hidupnya, baru kali ini ia berhadapan dengan kenyataan yang begitu ganjil, namun terasa begitu nyata dan luar biasa.
“Braja… sungguh tak pernah kusangka. Sejak bayi kau diasuh oleh Ratu Kelabang. Dahulu, ketika aku masih muda, aku pernah mendengar kisah-kisah tahayul tentang kelabang raksasa penguasa goa. Namun setelah melihat dirimu, juga sungut yang kau bawa itu… aku yakin semua itu bukan sekadar dongeng. Lalu… mungkinkah aku dapat bertemu dengannya?” tanya Ki Baraya dengan suara berat, antara ingin tahu dan waswas.
Braja menggeleng perlahan.
“Lebih baik jangan, Ayah. Terlalu berbahaya. Ratu tidak ingin ditemui oleh siapa pun. Ia hanya akan menampakkan diri bila ia sendiri yang berkehendak. Jika Ratu berkenan, dialah yang akan mendatangi orang itu.”
Ki Baraya mengangguk pelan, memahami batas yang tak boleh dilanggar.
“Baiklah. Aku mengerti. Segala keteranganmu akan kurahasiakan dengan seerat-eratnya,” ucapnya mantap.
“Aku juga akan menjaga rahasia ini, Kakang Braja,” sahut Laras dengan sungguh-sungguh.
Braja menatap keduanya dengan sorot mata yang lebih tenang, namun sarat harap.
“Terima kasih… Terimalah aku sebagai manusia seutuhnya, Ayah. Laras. Meski darahku tak sepenuhnya manusia, hatiku ingin hidup sebagai manusia. Aku berjanji akan menjadi manusia yang baik.”
Suaranya tegas, seolah itulah sumpah yang ia tanamkan pada dirinya sendiri.
Akhirnya mereka pun beristirahat malam itu. Namun tidak dengan Jatisangkar. Ia sama sekali tak dapat memejamkan mata. Hatinya dipenuhi kekecewaan. Ia tak habis pikir mengapa ayahnya justru mencari Braja dan membawanya pulang ke rumah ini.
Ada amarah yang membuncah, namun juga ketakutan yang tak mampu ia sangkal. Wajah iblis Braja selalu terbayang di benaknya—sorot mata yang asing, darah siluman yang mengalir dalam tubuhnya. Lebih dari itu, ia tak rela bila Braja dianggap anak oleh ayahnya. Ingin rasanya ia mengusir pemuda itu dari rumah mereka. Namun ia tahu, ia tak akan sanggup melakukannya.
Keesokan harinya, Ki Baraya mulai mengadakan latihan silat seperti biasa. Namun yang mengejutkan adalah Laras. Gadis itu menyatakan ingin turut berlatih.
Hal itu membuat Ki Baraya tersenyum bangga. Jarang sekali seorang gadis mau menekuni bela diri dengan sungguh-sungguh.
“Tapi, Laras,” ujar Ki Baraya lembut namun tegas, “meski Ayah mengizinkanmu berlatih silat, kau harus ingat. Kodratmu tetap seorang wanita. Kelak kau akan menjadi ibu rumah tangga. Kau mengerti?”
“Aku mengerti, Ayah,” jawab Laras mantap.
Pagi itu, di bawah pohon sawo tempat mereka kerap berlatih, Jatisangkar tampak meradang.
“Tapi, Yah… untuk apa Ayah melatih Braja? Bukankah ia sudah sakti?” tanyanya dengan nada ketus yang tak dapat disembunyikan.
Braja yang mendengar itu hanya terdiam, menundukkan kepala tanpa membalas sepatah kata pun.
“Jatisangkar,” jawab Ki Baraya tegas, “semua anak Ayah berhak dilatih silat. Dan Braja tidak sakti. Kau sudah melihat sendiri luka-lukanya kemarin, bukan? Itu tanda ia masih harus ditempa.”
Jatisangkar sebenarnya tahu akan hal itu. Namun yang mengusik hatinya bukanlah soal kesaktian, melainkan rasa tak rela bila ilmu ayahnya diwariskan kepada orang lain.
“Nah, sekarang,” lanjut Ki Baraya, “Ayah akan membangkitkan tenaga dalam kalian. Tapi Ayah punya cara tersendiri. Kalian tak boleh protes. Hehe.”
Belum sempat mereka bertanya lebih jauh—
“Wusss! Tap! Tap! Tap!”
Dalam sekejap Ki Baraya berkelebat ke belakang mereka. Gerakannya secepat kilat. Jarinya melesat menotok titik-titik syaraf di punggung mereka.
Sekejap kemudian tubuh Laras, Braja, dan Jatisangkar mendadak kaku. Tak dapat digerakkan sedikit pun. Namun mereka masih bisa berbicara.
“Ayah! Apa yang Ayah lakukan? Tubuhku kaku!” keluh Jatisangkar panik.
“Sudah Ayah bilang. Ini cara Ayah sendiri untuk membangkitkan tenaga dalam kalian. Cepat dan langsung ke sumbernya. Tapi hasilnya tergantung pada diri kalian masing-masing. Apa yang bangkit dalam tubuh kalian bisa saja berbeda. Nah, sekarang nikmatilah alam ini. Hahaha!”
Ki Baraya lalu berkelebat naik ke atas pohon sawo dan duduk santai di dahan besar, memetik buah dan memakannya sambil mengawasi dari atas.
Tubuh mereka benar-benar tak bisa digerakkan. Bahkan Braja, yang memiliki dasar tenaga dalam, tak mampu melawan. Totokan Ki Baraya memang dahsyat.
“Ayah… sampai kapan kami begini?” tanya Laras mulai gelisah.
“Sampai Ayah bilang selesai.”
“Apakah kita akan bermalam di sini, Yah?” Laras bertanya lagi, suaranya mulai khawatir.
“Jangan banyak tanya. Nikmati saja prosesnya,” jawab Ki Baraya santai.
Dan benar saja. Hingga matahari condong ke barat dan langit mulai menggelap, mereka belum juga dilepaskan. Rasa lapar dan haus mulai menyerang.
Tak lama kemudian Nyi Lestari datang membawa makanan dan minuman. Ia menyuapi anak-anaknya satu per satu dengan sabar.
“Ibu… minta Ayah melepaskan kami. Latihan macam apa ini? Masa kami dibuat kaku begini?” keluh Jatisangkar.
“Jati,” jawab Nyi Lestari tenang, “kau sendiri tadi pagi yang menyatakan ingin berlatih silat. Biasanya kau selalu menolak. Sekarang mengapa mengeluh?”
“Tapi ini gila, Bu! Kalau kami dibiarkan begini, besok kami bisa mati kehabisan darah dikerubuti nyamuk hutan!” ujar Jatisangkar dengan wajah cemas.
“Itulah dirimu, Jati. Belum apa-apa sudah memikirkan yang tidak-tidak. Kau laki-laki. Belajarlah bertahan. Lihat adikmu itu, ia tidak mengeluh,” ucap Nyi Lestari.
“Kakang Jati memang cemen, Bu,” ledek Laras.
“Hey, Laras! Nanti malam kau juga akan habis dikerubuti nyamuk!” balas Jatisangkar kesal.
“Ya, aku tahu. Kau juga, kan?” jawab Laras ringan.
Sejenak Jatisangkar melengos.
“Iya… aku juga. Huhu. Latihan silat macam apa ini…” keluhnya lagi.
“Sudahlah,” ujar Nyi Lestari lembut, “kau sudah memilih ikut latihan ini. Maka bertahanlah. Semua ini demi kebaikanmu juga.”