NovelToon NovelToon
Sebelah Mata

Sebelah Mata

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dunia Masa Depan / Keluarga / Karir / Persahabatan / Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: joekris

Di Desa Oetimu, Nusa Tenggara Timur, hidup adalah perjuangan melawan tanah merah yang retak dan matahari yang membakar. Jonatan, seorang pemuda cerdas namun miskin, tumbuh besar dalam bayang-bayang penghinaan. Di sekolah, ia dijuluki "Anak Tanah" dan dipandang sebelah mata oleh mereka yang berpunya. Namun, di balik seragamnya yang menguning, Jonatan menyimpan mimpi besar: memutus rantai kemiskinan keluarganya.

Kesempatan emas datang ketika ia diterima di sebuah universitas ternama di Jawa. Namun, mimpi itu menuntut harga yang sangat mahal. Demi tiket berangkat, ayahnya, Pak Berto, secara rahasia menggadaikan tanah warisan leluhur kepada rentenir kejam. Kepergian Jonatan pun berubah menjadi sebuah pertaruhan hidup-mati; jika ia gagal, keluarganya akan kehilangan segalanya.

Jakarta ternyata jauh lebih dingin daripada kemarau di NTT. Jonatan harus berjuang melawan diskriminasi dan rasa lapar yang mencekik. Di tengah rasa putus asa saat kiriman uang terhenti karena ayahnya jatuh sakit,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon joekris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: PANGGUNG PENGHAKIMAN DAN SUARA DARI TANAH MERAH

Aula pertemuan di lantai dua gedung dekanat terasa jauh lebih dingin daripada biasanya. Bukan hanya karena pendingin ruangan yang dipasang pada suhu maksimal, tetapi karena tatapan mata lima orang penguji yang duduk di balik meja panjang berlapis kain hijau beludru. Di sana, di tengah ruangan yang megah itu, Jonatan berdiri dengan kemeja putih yang sudah disetrika rapi oleh Sarah semalam, meskipun bekas lipatannya tetap terlihat karena kainnya yang murah.

Di depan Jonatan, sebuah prototipe pompa irigasi tenaga surya berdiri dengan kabel-kabel yang tertata lebih rapi dari sebelumnya. Namun, di sampingnya, berdiri Rendy dengan prototipe sistem irigasi berbasis Internet of Things (IoT) yang tampak jauh lebih futuristik, lengkap dengan sensor-sensor canggih yang terhubung ke sebuah tablet mahal.

"Saudara Jonatan," suara Dekan Teknik yang berat memecah keheningan. "Kami sudah membaca proposalmu. Sistem irigasi untuk wilayah arid di NTT. Ide yang mulia, tapi secara teknis, apakah ini bukan sekadar pompa air biasa yang diberi panel surya? Di mana letak inovasi yang membuatnya layak mendapatkan pendanaan riset universitas?"

Jonatan menarik napas panjang. Ia merasakan telapak tangannya dingin. Saat ia hendak membuka mulut, Rendy menyela dengan nada yang terdengar sopan namun berbisa.

"Izin menambahkan, Pak Dekan. Sebenarnya saya dan Jonatan sudah mendiskusikan ini di lab. Masalah utama dari desain Jonatan adalah material pipanya yang terlalu sederhana. Untuk tanah berbatu di Oetimu, sistem tanpa sensor tekanan seperti milik saya akan sangat berisiko meledak dalam hitungan hari. Bukankah lebih baik kita fokus pada teknologi yang bisa dikontrol jarak jauh seperti desain saya?"

Jonatan menatap Rendy. Ia melihat senyum tipis di bibir pemuda itu—senyum kemenangan yang prematur. Para penguji tampak mengangguk-angguk mendengar argumen Rendy. Jonatan tahu, jika ia hanya bicara soal angka dan teori, ia akan kalah. Orang-orang ini melihat teknologi sebagai kemewahan, bukan sebagai alat bertahan hidup.

Jonatan melangkah maju satu langkah, mendekati mejanya. Ia tidak melihat ke arah tablet Rendy, melainkan ke arah botol air mineral di atas meja penguji.

"Bapak-bapak yang terhormat," suara Jonatan awalnya bergetar, namun perlahan mengeras seiring dengan bayangan ladang Oetimu yang muncul di kepalanya. "Teknologi yang dibuat oleh rekan saya, Rendy, memang luar biasa. Sensor, IoT, kontrol jarak jauh—itu adalah masa depan. Tapi di Oetimu, kami tidak punya masa depan jika kami tidak punya air hari ini."

Ia mematikan lampu di ruangan itu, menyisakan cahaya dari lampu sorot yang ia bawa sendiri untuk menyinari panel suryanya.

"Rendy benar, desain saya sederhana. Tapi kesederhanaan adalah satu-satunya hal yang bisa diperbaiki oleh petani di sana tanpa harus menunggu teknisi dari kota. Pipanya sengaja saya buat dari komposit karet lokal yang fleksibel, bukan PVC keras, justru agar ia bisa menari di antara bebatuan tanpa pecah. Dan soal tekanan..."

Jonatan menekan sebuah sakelar. Mesinnya mulai bergetar halus. Suaranya tidak bising, hanya dengung rendah yang stabil. Air mulai mengalir dari bak bawah ke atas dengan aliran yang tenang namun pasti.

"Sistem saya tidak butuh internet untuk tahu kapan harus berhenti. Saya menggunakan prinsip tekanan hidrolik murni yang dikombinasikan dengan pembatas tegangan manual. Mengapa? Karena di desa saya, sinyal telepon adalah kemewahan yang lebih langka daripada emas. Jika alat ini rusak karena kehilangan sinyal, maka ladang akan mati, dan keluarga saya akan lapar."

Jonatan berhenti sejenak, ia menatap mata Dekan.

"Bapak bertanya di mana inovasinya? Inovasinya bukan pada kecanggihan komponennya, tapi pada ketahanannya terhadap kemiskinan. Alat ini dirancang agar tidak bisa mati oleh keadaan. Ini bukan sekadar pompa air, Bapak. Ini adalah napas untuk ibu saya yang jatuh di ladang karena kehausan. Ini adalah perlawanan terhadap tanah yang ingin membunuh kami dengan kekeringan."

Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Rendy tampak gelisah, ia mencoba mengutak-atik tabletnya, namun perhatian semua orang kini tertuju pada Jonatan. Pak Johan yang duduk di barisan belakang pengamat, tampak melipat tangan di dada dengan senyum tipis yang tak bisa disembunyikan.

"Saudara Rendy," Dekan menoleh ke arah Rendy. "Bagaimana sistem IoT-mu bekerja jika tidak ada pasokan listrik cadangan untuk server?"

"E-eh, itu... bisa menggunakan baterai litium, Pak," jawab Rendy gagap.

"Dan berapa biaya perawatan tahunannya jika satu sensor kelembapan tanahmu rusak?" tanya penguji lain.

Rendy terdiam. Angka yang ia sebutkan kemudian terdengar sangat tidak masuk akal untuk sebuah desa di pedalaman NTT.

Dekan kembali menatap Jonatan. "Jonatan, jika kami memberikan dana ini, berapa lama kau bisa memastikan air pertama mengalir di Oetimu?"

Jonatan tidak butuh waktu untuk berpikir. "Dua minggu setelah komponen tiba di pelabuhan Kupang, Pak. Saya sendiri yang akan merakitnya bersama pemuda desa di sana."

Dekan tersebut berdiri, diikuti oleh penguji lainnya. Mereka berdiskusi sejenak dalam suara berbisik yang menegangkan. Jonatan berdiri mematung, keringat membasahi punggungnya. Ia merasa seolah nyawa ayahnya, ibunya, dan seluruh warga Oetimu sedang ditimbang di atas timbangan emas di depan sana.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, Dekan kembali duduk.

"Sidang memutuskan," suara Dekan bergema di aula. "Proyek irigasi tenaga surya berbasis ketahanan lokal milik Jonatan mendapatkan pendanaan penuh sebagai proyek percontohan universitas. Saudara Rendy, desainmu bagus untuk perkotaan, tapi untuk misi ini, kami memilih desain yang paling mengerti bau tanahnya sendiri."

Jonatan merasa kakinya lemas. Ia hampir jatuh jika tidak berpegangan pada pinggiran meja. Gemuruh tepuk tangan terdengar di ruangan itu, bahkan dari beberapa mahasiswa yang tadi mendukung Rendy. Pak Johan berjalan mendekat, menepuk pundak Jonatan dengan sangat keras hingga Jonatan tersadar dari keterpakuannya.

"Kau melakukannya, Jon," bisik Pak Johan. "Kau bicara bukan dengan mulut, tapi dengan hatimu yang berdebu."

Jonatan keluar dari aula itu dengan perasaan yang campur aduk. Di luar, Sarah sudah menunggu dengan mata yang berkaca-kaca. Gani pun ada di sana, siap untuk memeluk sahabatnya itu.

"Selamat, Jon! Gila, kamu bikin Rendy diam seribu bahasa!" seru Gani.

Namun, di tengah kegembiraan itu, Jonatan melihat Rendy berjalan melewati mereka dengan wajah merah padam. Rendy berhenti sejenak, menatap Jonatan dengan kebencian yang murni. "Jangan senang dulu, Jonatan. Mendapatkan dana itu mudah. Membuktikan alat itu bekerja di lapangan adalah neraka yang sebenarnya. Kita lihat apa kau tetap bisa bicara besar saat alatmu itu macet ditelan pasir."

Jonatan tidak membalas. Ia hanya menggenggam tangan Sarah dan Gani. Ia tahu Rendy benar tentang satu hal: perjuangan sesungguhnya baru saja dimulai. Ia harus kembali ke Oetimu. Ia harus pulang membawa kemenangan yang nyata, bukan sekadar kemenangan di atas kertas dan podium.

Malam itu, Jonatan menelepon ayahnya lewat telepon kantor lab yang dipinjamkan Pak Johan.

"Bapak... siapkan semua orang di desa. Katakan pada mereka, air akan segera pulang."

Di ujung telepon, Jonatan hanya mendengar suara isak tangis tertahan dari ayahnya. Suara yang jauh lebih indah dari musik mana pun di dunia.

1
Kustri
terharu qu😳
tanah outimu menanti perubahan & akan mendukungmu jon, 💪💪💪
Kustri
pa johan, smoga kebaikanmu membuat jon smakin bersemangat
Kustri
ya Allah... sepatu pinjaman, itu tetangga baik hati'a
Kustri
penasaran bawa sepatu gk dr oetimu
Kustri
sumpah, setiap baca sedih bgt😭
smoga keberuntungan sll menyertaimu 💪💪💪
joekris: Amin kak
total 1 replies
Kustri
💪💪💪jon
Kustri
merinding baca'a
kasian
Kustri: insya Allah, thor
total 2 replies
Prabu Hangku
Gila gila asoy bener cerita nya
sendi syam
Keren
🦊 Ara Aurora 🦊
thor gue mampir nih 😅 maaf terlambat mampir yah baru sekarang bisa 🙏
Rizky Rahmat
Alur cerita nya dari kisah nyata kah?
Tarno Hangku
Keren
sendi syam
Semoga bisa bawa nama ntt ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!