17 Agustus 1996.
Bagi Julian "Lian" Pratama, hari ini seharusnya menjadi titik akhir. Di balik senyum sempurna sang Ketua OSIS, jiwanya telah lama kosong. Ia menaiki rooftop sekolah, siap untuk pergi selamanya.
Namun, alih-alih keheningan, yang terdengar hanya bunyi "KLIK" dari sebuah Walkman tua.
Lian terbangun kembali di pagi yang sama. Upacara yang sama. Kebosanan yang sama. Terjebak dalam loop waktu yang tak berujung, dunia Lian perlahan memudar menjadi hitam-putih. Hingga ia menemukan satu anomali: Kara Anjani.
Gadis pecinta musik grunge itu adalah satu-satunya yang tetap berwarna di mata Lian. Anehnya, setiap kali hari berulang, ada detail kecil pada Kara yang tidak ikut terhapus.
Apa hubungan Kara dengan putaran waktu ini? Dan jika Lian berhasil menekan tombol Stop pada kaset misterius itu, apakah ia akan bebas... atau justru kehilangan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vorlagh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasi Kucing & Preman Pasar
Yogyakarta, Rabu Malam. Pukul 19:00 WIB.
Jalanan Malioboro tidak pernah tidur, tapi uang di saku Lian mulai terlelap selamanya.
Mereka duduk di sebuah angkringan terpal oranye di pinggir jalan, di dekat Stasiun Tugu. Lampu sentir (minyak tanah) berkedip-kedip menerangi wajah mereka.
Di piring mereka masing-masing, ada bungkusan Nasi Kucing seukuran kepalan tangan balita. Isinya nasi, sedikit sambal teri, dan potongan kecil bandeng. Harganya murah, tapi bagi dua remaja yang sedang dalam masa pertumbuhan dan stres tinggi, ini cuma "genganjal perut".
"Nambah gorengan satu lagi, Kak?" tanya Kara pelan, menatap bakwan (bala-bala) dingin di nampan dengan mata berbinar lapar.
Lian menghitung sisa receh di sakunya.
Tinggal tiga ribu perak untuk malam ini. Besok sewa losmen Bu Bariah harus bayar lagi.
"Ambil, Ra. Ambil dua," kata Lian, memaksakan senyum. "Gue kenyang."
Padahal perut Lian melilit perih. Asam lambungnya naik.
Kara mengambil satu bakwan, membelah dua, dan meletakkan separuhnya di piring Lian.
"Nggak ada 'Gue kenyang'. Kita sepiring berdua, ingat?"
Lian menatap potongan bakwan berminyak itu. Rasa bersalah kembali menusuk. Dia laki-laki, dia yang mengajak Kara kabur, tapi dia bahkan nggak bisa beliin sate usus.
"Habisin," Lian berdiri, mengusap kepala Kara. "Gue mau jalan bentar. Cari angin."
"Jangan lama-lama. Jangan berantem," pesan Kara, mulutnya penuh bakwan. Dia sudah hafal tabiat Lian yang sumbu pendek kalau melihat ketidakadilan.
...----------------...
Pasar Kembang (Sarkem). Pukul 20:30.
Lian tidak mencari angin. Dia mencari uang.
Tapi Yogya di malam hari bagi pendatang tanpa KTP adalah benteng yang tertutup rapat.
Lian mencoba melamar jadi tukang cuci piring di warung Padang.
"Penuh, Mas. Udah banyak yang antre."
Lian mencoba menawarkan diri jadi kuli angkut di pasar.
"Badan kremepeng gitu mau angkat beras 50 kilo? Pulang sana, Le, belajar yang bener."
Penolakan demi penolakan. Ijazah rapor SMA-nya yang cemerlang tidak laku di sini. Keahliannya berpidato dan memimpin rapat OSIS tidak ada harganya di aspal.
Akhirnya, Lian berhenti di depan sebuah Lapak Video Game (Sega & Nintendo) yang ramai di pinggir jalan.
Bukan rental resmi. Cuma TV tabung dan konsol yang digelar di atas tikar. Anak-anak kecil berkerumun main Street Fighter.
"Bang, butuh yang jaga lapak nggak? Atau bantuin gulung kabel pas tutup?" tawar Lian putus asa pada Abang pemilik lapak yang bertato.
Abang itu menatap Lian sambil menghisap rokok klobot.
"Bisa benerin stik PS yang analognya rusak?"
Lian mengangguk cepat. "Bisa, Bang. Saya anak... teknik." (Bohong lagi).
"Yaudah. Itu ada tiga stik rusak. Benerin sekarang. Kalau bener, gue kasih 5.000 plus makan malem."
Lima ribu! Itu cukup untuk nambah sewa losmen semalam atau beli nasi rames layak.
Lian duduk di trotoar. Bermodalkan obeng kecil pinjaman, dia membongkar stik konsol itu.
Ini keahliannya. Lian terbiasa membongkar Walkman-nya sendiri. Stik game tidak jauh beda. Membersihkan karet karbon, menyambung kabel serabut yang putus.
Satu jam berlalu.
Lian berhasil memperbaiki dua stik.
Abang pemilik lapak mencobanya. "Wah, lancar. Boleh juga lo."
Lian tersenyum lebar. Akhirnya. Uang halal pertama.
Abang itu menyodorkan selembar uang lima ribuan lusuh dan sebungkus nasi rames.
"Nih. Besok dateng lagi kalau mau."
Lian menerima uang itu dengan tangan gemetar saking senangnya. Dia memasukkan uang itu ke saku dalam jaket denimnya.
"Makasih, Bang! Makasih banget!"
Lian berbalik, berjalan cepat membelah keramaian Malioboro. Dia membayangkan wajah senang Kara saat dia pulang bawa nasi rames utuh pakai telur balado.
Tapi di ujung gang gelap menuju Sosrowijayan, langkah Lian dihadang.
Tiga orang.
Muda, tapi wajahnya tua karena kerasnya jalanan.
Mereka bukan preman bertato sangar seperti di film. Mereka memakai kaos partai longgar, celana jeans cutbray, dan sandal jepit.
Bau alkohol (ciu) menguar tajam.
"Woy, Ganteng," sapa salah satu dari mereka yang berambut gondrong dicat merah (pirang gagal). "Anak baru ya?"
Lian menunduk, mencoba lewat pinggir. "Permisi, Mas."
"Eits," si Rambut Merah menahan dada Lian dengan telapak tangan yang kasar. "Sopan dikit sama akamsi (anak kampung sini)."
Dua temannya mengepung di belakang.
Jantung Lian berdegup kencang. Insting tarungnya menyala. Dia pernah ikut karate ekstrakurikuler. Dia pernah melawan monster kabel.
Masa lawan tiga curut mabuk ini nggak bisa?
"Ada perlu apa, Mas?" tanya Lian, nadanya mulai mengeras. Nada Ketua OSIS-nya keluar. "Saya cuma lewat."
"Lapak Bang Tejo tadi itu wilayah kami," kata si Rambut Merah, menyentil dahi Lian. "Lo kerja di situ, berarti lo harus setor uang keamanan."
"Saya nggak kerja tetap. Cuma bantu-bantu. Itu juga dikasih dikit buat makan," Lian mencoba diplomatis.
"Alah bacot! Siniin duit lo!"
Si Rambut Merah merogoh paksa saku jaket Lian.
"JANGAN!"
Refleks, Lian menepis tangan preman itu kasar. Lalu dia mendorongnya mundur.
BUGH.
Si preman terhuyung menabrak tembok gang.
Suasana hening sedetik.
Si Rambut Merah menyentuh bibirnya yang sedikit berdarah kena sikunya sendiri saat terbentur.
Matanya berkilat marah.
"Berani lo lawan gue?"
Dia mengeluarkan sesuatu dari balik pinggangnya.
Sebuah Sabuk Gir Motor. Sabuk kulit yang ujungnya dipasangi gir besi tajam. Senjata tawuran favorit anak 90-an.
Teman-temannya ikut maju, satu memegang botol beling pecah, satu lagi mengepalkan tangan yang dipasangi cincin akik besar.
Lian mundur. Karate di sekolah mengajarkan formasi kata (jurus). Tapi jalanan mengajarkan keroyokan.
Ini bukan pertarungan seimbang.
"Kasih duitnya, atau muka lo yang buat bayar?" ancam si preman, memutar-mutar sabuk gir itu. Wung... wung...
Lian meremas uang lima ribu di sakunya.
Itu uang makan Kara.
Itu harga dirinya.
Apakah dia akan menyerah begitu saja?
Inget kata Riko... Jangan mati konyol.
Tapi ego Lian lebih besar.
"Ambil kalau bisa!" teriak Lian. Dia memasang kuda-kuda.
Keputusan bodoh.
Preman dengan cincin akik menerjang duluan dari samping, memukul pelipis Lian.
DUAK!
Pandangan Lian langsung berkunang-kunang.
Dia limbung.
Saat dia lengah, si Rambut Merah mengayunkan sabuk gir.
CETAR!
Gir besi itu menghantam punggung Lian.
Rasanya seperti kulitnya disayat api.
"ARGH!" Lian jatuh berlutut di aspal kasar. Nasi rames di tangannya terlempar, tumpah berserakan di tanah bercampur debu.
Telur balado itu hancur terinjak sandal jepit preman.
Tendangan bertubi-tubi mendarat di rusuk Lian.
Dia meringkuk, melindungi kepalanya dengan kedua tangan.
Dunia kembali slow motion. Tapi kali ini bukan karena sihir Time Loop. Tapi karena gegar otak ringan.
"Masih mau jadi jagoan?!"
"Anak manja!"
"Cuih!"
Mereka merogoh saku Lian paksa. Mengambil lembaran lima ribu rupiah itu. Mengambil sisa receh di saku satunya. Bahkan jam tangan digital Lian yang retak dirampas.
"Awas lo lapor polisi. Gue abisin cewek lo yang nunggu di losmen itu," bisik si Rambut Merah di telinga Lian, sebelum menendang perut Lian sekali lagi sebagai salam perpisahan.
Mereka pergi sambil tertawa, meninggalkan Lian tergeletak di gang gelap yang bau pesing.
...----------------...
Kamar 303 Losmen. Pukul 22:00.
Pintu kamar diketuk pelan.
Tok... tok...
Kara, yang sedari tadi mondar-mandir cemas, langsung membuka pintu.
"Kak Lian, kok lama banget s..."
Kalimat Kara terhenti. Tangannya menutup mulut karena kaget.
Lian berdiri di ambang pintu, bersandar lemah di kusen.
Pelipisnya robek mengucurkan darah segar. Matanya lebam membiru satu. Bibirnya pecah. Jaket denimnya kotor bekas jejak sandal dan sobek di punggung.
"Kak Lian!" Kara menarik Lian masuk, lalu buru-buru mengunci pintu.
Lian berjalan terpincang-pincang menuju kasur kapuk, lalu ambruk duduk di sana.
"Maafin gue, Ra," bisik Lian, suaranya serak menahan sakit. "Nasi ramesnya... tumpah."
Kara tidak peduli nasi rames. Air matanya sudah berlinang melihat kondisi Lian.
"Siapa yang lakuin ini? Preman? Polisi?"
"Preman pasar," Lian mencoba tertawa, tapi malah meringis kesakitan memegangi rusuknya. "Duit gue diambil. Lima ribu perak hasil benerin Sega."
Kara segera mengambil handuk kecil, membasahinya dengan air mineral botol.
Dia duduk di samping Lian, mulai membersihkan darah di wajah cowok itu dengan hati-hati.
Setiap kali handuk basah itu menyentuh luka, Lian mendesis.
"Sshhh..."
"Tahan," Kara menangis dalam diam, air matanya jatuh ke tangan Lian. "Kenapa dilawan sih, Kak? Kan aku udah bilang jangan berantem."
Lian menatap Kara.
Wajah gadis ini ketakutan. Ketakutan akan dunia nyata yang brutal.
Lian merasa gagal. Gagal melindungi. Gagal memberi makan.
"Karena itu duit kita, Ra," kata Lian lirih, kepalanya menunduk dalam. "Gue nggak mau jadi pecundang terus. Di sekolah gue diinjak. Di rumah gue ditampar. Masa di sini juga gue kalah sama curut got?"
Kara berhenti mengompres. Dia memegang kedua pipi Lian yang bengkak, memaksa Lian menatapnya.
"Lian, denger."
Tatapan Kara tajam. Tajam dan dewasa.
"Kamu bukan pecundang karena kalah berantem lima lawan satu. Kamu pahlawan karena kamu mau kerja kotor demi aku. Tapi aku nggak butuh pahlawan mati. Aku butuh kamu hidup."
Kara mengambil betadine (yang dia beli pakai uang receh terakhir saat Lian pergi tadi, felling-nya benar).
Dia meneteskan obat merah itu ke luka Lian.
Perihnya bukan main. Tapi sentuhan tangan Kara membuatnya tertahankan.
"Besok..." Kara melanjutkan sambil menempelkan plester. "Besok aku yang cari kerja. Kamu istirahat."
"Nggak bisa, Ra. Di sini cewek lebih bahaya..."
"Aku bisa nulis. Aku bisa jaga toko. Aku nggak selemah itu," potong Kara.
Malam itu, mereka tidur dalam diam lagi. Tapi suasananya lebih berat.
Perut mereka lapar.
Badan Lian remuk redam.
Harga diri Lian hancur.
Di Jogja yang romantis ini, Lian belajar satu hal pahit: Romansa tidak bisa dimakan. Dan idealisme tidak bisa menahan pukulan gir motor.
Sambil memejamkan mata yang bengkak, Lian bersumpah dalam hati:
Gue bakal cari cara lain. Gue nggak bakal ngebiarin Kara kerja. Apapun caranya.
Bahkan kalau dia harus menjadi sesuatu yang lebih buruk dari preman pasar itu sendiri.